
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Olivia masih menunggu kedatangan Faiz dengan menatap pintu ruangannya dengan penuh harap, berulang kali ia menghela napasnya dengan berat. Olivia tidak bisa berdiam diri seperti ini saja, setelah ia keluar dari rumah sakit Olivia akan tekad pulang ke rumahnya walaupun nanti Faiz akan mengusir dirinya.
Sudah dua hari Olivia di rawat di sini, keadaannya sudah mulai membaik walaupun jika sedang mual Olivia bisa sangat parah sekali hingga membuat Olivia hanya bisa terbaring dan tidak bisa melakukan apapun.
Olivia turun dari brankar dengan perlahan, dan mendorong tiang infusnya dengan pelan. Olivia ingin keluar sebentar untuk mencari udara segar sebelum ayah dan bundanya kembali datang ke ruangannya.
Setelah berhasil keluar dari ruangannya sendiri, entah mengapa Olivia berjalan ke arah ruangan di mana tantenya di rawat, entah apa yang membuat Olivia ingin bertemu dengan tantenya itu.
Cukup lama Olivia berjalan juga dan membuat Olivia lelah, sebelum melihat tantenya Olivia duduk di kursi tunggu sebentar untuk mengatur napasnya yang terlihat kelelahan sekali, mungkin efek muntah membuat Olivia sama sekali tidak mempunyai tenaga.
Setelah merasa sudah tidak terlalu lelah Olivia kembali berjalan ke ruangan tantenya. Olivia menatap Clara dengan pandangan yang tidak bisa di jelaskan. Semua rasa bercampur menjadi satu melihat keadaan tantenya yang di pasung sekarang.
"Tante!" panggil Olivia dengan lirih.
Clara mendongakkan wajahnya menatap ke arah Olivia. "Mau apa kamu ke sini? Mau menertawakan keadaan saya sekarang?" tanya Clara dengan sangat tajam.
Olivia menggelengkan kepalanya dengan pelan. Sorot matanya terlihat penuh luka, karena permasalahan yang ia hadapi saat ini.
"Aku hanya ingin menyampaikan apa yang aku pendam saat ini, Tante!" gumam Olivia dengan lirih.
Mata Olivia berkaca-kaca menatap Clara. "Kenapa Tante tega melakukan ini dengan Olivia dan Cassandra? Sekarang kami menderita, Tante! Sangat menderita hiks... Suamiku sudah sangat membenciku karena perbuatan yang sama sekali aku tidak tahu hiks... Kenapa Tante? Kenapa Tante tidak menyudahi dendam Tante ini? Dendam apa yang Tante tanamkan padahal semua ini kesalahan, Tante! Bukan kesalahan keluarga suamiku hiks... Kenapa, Tante? KENAPA? TANTE TIDAK KASIHAN PADA KAMI? AKIBAT DENDAM TANTE, KAMI MENDERITA! ANAK TANTE SENDIRI MENDERITA!" teriak Olivia dengan mengeluarkan segala emosinya sekarang dengan menangis tersedu-sedu di hadapan Clara yang terlihat diam menatap dirinya.
"SAKIT TANTE! SAKIT BANGET RASANYA DI SINI HIKS..." ujar Olivia memukul dadanya sendiri.
"Apa dengan begini bisa membuat hidup Tante bahagia? Bahkan Tante semakin terluka di sini, kan? Begitupun dengan aku, Tante! Sekarang beritahu aku bagaimana mengembalikan kepercayaan suamiku sendiri, Tante! Jika seumur hidup Tante memang tidak ingin bahagia jangan ajak aku dan Cassandra karena kami berhak bahagia, Tante!" lirih Olivia dengan pelan.
Suaranya semakin pelan dengan mata berkunang-kunang, tubuhnya sangat lelah sekali setelah menumpahkan isi hatinya kepada Clara. Sebelum tubuhnya ambruk Olivia dapat merasakan pelukan suaminya dan merasakan tangan yang di infus sakit. Namun, matanya sangat berat untuk terbuka hingga Olivia kembali pingsan di hadapan Clara.
__ADS_1
"Jika terjadi sesuatu dengan istri dan anak saya maka saya akan membawa kamu pergi dari tempat ini dan mengirim kamu ke tempat seperti neraka. Neraka dunia yang akan saya berikan ke kamu, Clara!" ujar Faiz dengan tajam yang membuat Clara hanya bisa diam menandang kepergian Faiz yang menggendong Olivia dengan tangan yang bercucuran darah karena infus yang terpang di tangan Olivia sudah terlepas.
"Olivia, kenapa? Kenapa dia bisa sama kamu, Faiz?" tanya Anjani dengan panik karena ia sudah mencari keberadaan Olivia tetapi tidak menemukannya.
"Olivia menemui tante Clara, Bun!" jawab Faiz dengan datar.
"Bertemu dengan Clara? Brengsek! Awas saja kamu Clara sudah membuat anak saya seperti ini," ujar Rio dengan emosi.
Tak lama dokter datang bersama dengan suster. Suster membersihkan darah yang mengalir di tangan Olivia dan dengan cepat suster memasang infus itu kembali.
"Gimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Rio dengan lirih.
"Jangan buat anak anda stres yang berlebihan ya, Pak. Karena itu sangat berpengaruh pada kesehatannya apalagi anak Bapak sedang hamil kembar, ibu dan kedua bayinya perlu asupan gizi yang cukup dan yang utama adalah pikiran yang tenang," ujar dokter dengan tegas.
Faiz terlihat sangat terkejut saat dokter mengatakan jika Olivia sedang hamil anak kembar. Ada perasaan yang sangat membuncah yang ia rasakan saat ini. Namun, Faiz mencoba bersikap seperti biasa saja.
"Baik, Dok!"
"Saya, Dok!" sahut Faiz dengan tegas.
"Tuan Faiz. Maaf saya baru sadar jika anda adalah suami ibu Olivia. Saya hanya ingin berpesan saja, Tuan. Buatlah pikiran ibu Olivia tenang karena jika seperti ini terus bukan tidak mungkin jika tuan akan kehilangan kedua calon anak Tuan dan yang paling saya takutnya nyawa ibu Olivia juga akan terancam akibat stress yang berlebihan apalagi istri anda memiliki penyakit lambung sekarang," ujar dokter yang membuat hati Faiz tertohok.
"Iya, Dok!" jawab Faiz dengan pelan.
"Saya permisi kalau ada apa-apa langsung panggil saya," ujar dokter dengan tersenyum yang di angguki oleh Faiz dan kedua mertuanya.
Setelah kepergian dokter dan suster ketiganya menjadi sangat hening menatap wajah Olivia dengan ekspresi sendu mereka.
"Terima kasih sudah mau menjenguk Olivia, Faiz!" ujar Anjani dengan tulus.
"Ini hanya kebetulan saja karena saya ingin menemui tante Clara!" alibi Faiz yang membuat Anjani dan Rio menghela napasnya dengan berat.
"Apapun itu terima kasih karena kamu sudah menyelamatkan anak Bunda dan ayah," ujar Anjani dengan tulus.
__ADS_1
Faiz terdiam, ia tidak lagi menjawab. Namun, Faiz ingin sekali memeluk Olivia sekarang tetapi ia menahannya.
"Kalau begitu saya permisi!" ujar Faiz dengan tegas.
"Tunggu Faiz! Apakah kamu tidak mau menunggu Olivia sadar dulu? Sejak kemarin Olivia sudah menunggu kehadiran kamu, Faiz. Bahkan dia menatap pintu ruangannya terus menerus berharap kamu datang. Tapi Olivia menahan kekecewaannya saat apa yang dia tunggu tidak datang juga," ujar Rio dengan lirih berusaha untuk mencegah kepergian Faiz.
"Saya banyak pekerjaan! Permisi!" ujar Faiz dengan datar dan pergi begitu saja yang membuat Rio dan Anjani menatap kepergian Faiz dengan pandangan sendunya.
"Mas Faiz!" gumam Olivia dengan lirih.
"Sayang kamu sudah sadar, Nak?" tanya Anjani dengan tersenyum.
"Di mana mas Faiz, Bun? Aku merasakan aroma tubuhnya tadi," gumam Olivia dengan lirih.
Anjani menatap suaminya lalu kembali menatap anaknya. "Faiz sudah pulang, Sayang. Dia ada pekerjaan mendadak yang tidak bisa ia tinggalkan," ujar Anjani.
"Berarti benar kan Bun kalau Mas Faiz tadi ada?" tanya Olivia dengan berbinar.
"Iya, Sayang!" jawab Anjani dengan tersenyum.
"Ayah, Bunda. Besok aku mau pulang ke rumahku dan mas Faiz saja ya! Aku sudah sangat merindukannya, Bunda. Mas Faiz pasti sudah memaafkan aku kan, Yah? Pokoknya aku mau pulang besok," ujar Olivia dengan bersemangat.
"Tapi...."
"Aku mau pulang, Yah! Aku sudah baik-baik saja!" ujar Olivia dengan tersenyum meyakinkan kedua orang tuanya.
"Kita minta izin sama dokter dulu ya kalau kamu di kasih pulang kita akan pulang!" ujar Rio dengan tegas.
"Iya, Ayah!"
Betapa bahagianya Olivia sekarang karena suaminya sudah mau menemuinya, ia sangat yakin jika Faiz akan memaafkannya makanya ia ingin segera pulang ke rumahnya dengan Faiz.
"Mas tunggu aku ya! Aku merindukan kamu!" gumam Olivia di dalam hati dengan tersenyum yang membuat kedua orang tuanya tidak tega.
__ADS_1