Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 21 (Kedekatan)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


***


Heera memperhatikan sang menantu yang mengeluarkan banyak oleh-oleh dari dalam koper. Rania tampak semangat sekali mengeluarkan barang-barang dari dalam koper miliknya.


"Kamu beli sebanyak ini untuk Ibu, Nak?" tanya Heera dengan bingung.


"Iya, Bu. Ini semua untuk Ibu! Aku ada melihat syal yang sangat cantik untuk Ibu, ada baju dan masih banyak lagi. Ibu cobain semuanya," ujar Rania dengan bersemangat.


Entah mengapa setiap melihat wajah mertuanya Rania jadi teringat dengan mamanya, sehingga rasa sayangnya untuk samg mertua tidak dibuat-buat, semuanya datang dalam hatinya. Rania ingin sang mertua kembali sehat dan sembuh dari penyakit yang di deritanya, ia tidak ingin kehilangan Heera. Wajarkan Rania bersikap seperti itu walaupun nantinya ia dan Ferdians akan berpisah Rania akan tetap menganggap Heera sebagai ibunya.


"Ibu coba sekarang ya!" ucap Rania dengan tersenyum.


Heera tersenyum saat melihat semangat dari Rania. Tak mau membuat hati Rania sedih akhirnya Heera mengangguk setuju, ia mencoba baju dan syal yang Rania berikan.


"Bagaimana? Tapi bajunya terlihat besar di badan Ibu! Padahal ini ukuran Ibu sepertinya Iibu bertambah kurus," ujar Heera dengan tersenyum tanpa memperlihatkan kesedihannya di depan Rania.


"Tidak masalah, Bu! Nanti baju-baju ini akan di kecilkan di tempat penjahit terbaik," ujar Rania dengan tersenyum walaupun di dalam hati ia miris dengan keadaan mertuanya yang semakin hari terlihat semakin kurus.


Heera mengambil tangan Rania. "Terima kasih sudah mau menerima Ibu di rumah ini, Nak. Ibu tidak tahu kebaikan apa yang Ibu lakukan hingga mendapatkan menantu sebaik kamu. Maafkan Ibu yang bisa memberikanmu sesuatu, tapi Ibu punya satu barang yang sangat berharga. Ibu akan memberikannya ke kamu, tapi bolehkah kamu berjanji untuk menjaganya dengan baik walaupun nantinya Ibu sudah tiada?" tanya Heera dengan pelan.


"Apa itu, Bu? Rania janji akan menjaga barang pemberian Ibu dengan baik," sahut Rania dengan pelan.


"Sebentar Ibu ambil dulu ya!"


"Iya, Bu!"


Rania memperhatikan ibu mertuanya dengan mata berkaca-kaca, seandainya mamanya masih hidup mungkin Rania tidak akan seperti ini. Tapi nyatanya kepergian mamanya sangat mengubah sosok Rania.


Heera kembali mendekati Rania, ia membawa sebuah kotak tua seperti tempat untuk menyimpan sebuah perhiasan. Heera membuka kotak itu dengan perlahan dan memperlihatkan ke Rania.


"Kalung? Ini untuk Rania?" tanya Rania kepada mertuanya.


"Iya ini untuk kamu, Nak. Ini adalah peninggalan Ibu satu-satunya karena Ibu tidak mempunyai anak perempuan maka kalung ini ke menantu kesayangan Ibu. Kamu jaga kalung ini ya, Rania. Mungkin nanti kamu akan mempunyai anak perempuan maka kamu bisa memberikan ini kepadanya setelah dia dewasa," ujar Heera dengan tersenyum.


Rania melihat kalung itu dengan pandangan yang tidak bisa di artikan antara terharu dan juga sesak.


"Terima kasih, Bu!" ujar Rania dengan tersenyum tipis.


"Sama-sama. Sini Ibu pakaikan!" ucap Heera yang di angguki oleh Rania.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari Ferdians mengintip dari balik pintu kamar ibunya dengan tersenyum bahagia. Kedekatan Rania dengan ibunya membuat Ferdians optimis jika Rania akan luluh kepadanya seiring berjalannya waktu, kelembutan ibunya dan kelembutan dirinya perlahan akan mengikis batu yang ada di hati Rania.


"Cantik sekali!" gumam Heera dengan tersenyum.


Rania memandang kalung pemberian ibu mertuanya yang sudah terpasang di lehernya dengan sangat indah.


"Aku suka, Bu. Ini perhiasan yang paling aku suka!" gumam Rania.


"Jaga baik-baik ya, Nak!"


Rania memeluk ibu mertuanya dengan erat. "Iya, Bu. Ibu harus sembuh juga ya!" pinta Rania dengan tulus.


"Ibu akan berjuang, Nak! Ibu ingin melihat kamu dan Ferdians bahagia," sahut Heera dengan tulus yang membuat Rania tersenyum tipis.


Keduanya berpelukan dengan erat yang membuat hati Ferdians menghangat dan perlahan menutup pintu agar tidak ketahuan oleh istri dan ibunya, melihat kedekatan keduanya sudah membuat Ferdians sangat lega sekali. Ferdians yakin jika istrinya menyayangi ibunya dengan sangat tulus.


***


Rania masuk ke kamarnya dengan perasaan yang sedikit lega dan bahagia, ia terus menggenggam kalung pemberian ibu mertuanya dengan erat.


"Tunggu! Sepertinya ada yang berbeda setelah kamu kembali dari kamar ibu? Tapi apa ya?" tanya Ferdians berpura-pura tidak tahu dan seakan ia sedang berpikir keras perbedaan apa yang terjadi pada istrinya.


Rania mendekati Ferdians dan memperlihatkan kalung yang sudah tersemat di lehernya dengan sangat indah.


Ferdians terkekeh mendengar ucapan Rania yang terkesan cemburu. Benarkah itu? Jika benar maka Ferdians sangat bahagia sekali.


"Kenapa kamu tidak mau memberikan kalung itu ke istriku nanti? Kan kamu bukan lagi menantu ibu," ujar Ferdians memancing Rania.


"Karena ibu memberikannya kepada saya bukan istri baru kamu," ujar Rania dengan tajam.


"Sesayang itu kamu dengan Ibu? Jika aku hanya ingin menjadikan kamu istri satu-satunya bagaimana? Kalung itu akan tetap tersemat di leher indah kamu, Sayang!" ujar Ferdians dengan tersenyum dan mendekati Rania lalu memeluk Rania dari belakang dan mencium tengkuk Rania dengan lembut.


"Aku melihat api kecemburuan di matamu. Apakah kamu sudah mulai menyukaiku hmm?" tanya Ferdians dengan berbisik di telinga Rania.


"Cih... Saya tidak mungkin menyukaimu! Saya hanya menghargai Ibu dan benar saya menyayangi Ibu bukan berarti saya cemburu jika nanti saat kita berpisah kamu akan menikah lagi," ujar Rania dengan dingin.


"Yakin?" tanya Ferdians dengan pelan.


"Ck... Kamu memang sangat menyebalkan sekali! Jika tidak ada ibu di rumah ini saya sudah memberikan hukuman untukmu!" ujar Rania dengan ketus.


Ferdians terkekeh. "Galak sekali. Bagaimana jika aku pergi dari hidupmu? Kamu merindukan aku tidak ya?" tanya Ferdians yang meletakkan dagunya di bahu Rania.


"Saya tidak akan merindukanmu!" jawab Rania dengan dingin.

__ADS_1


"Jangan terlalu dingin kepadaku, Nona. Suatu saat jika kamu merindukanku maka kamu akan menjilat air liurmu kembali," ujar Ferdians dengan terkekeh.


"Itu tidak akan terjadi, Ferdians!" ujar Rania dengan datar.


"Kita lihat saja nanti istriku sayang!" gumam Ferdians dengan tersenyum.


"Kedekatan kamu bersama ibu membuat aku bisa menyimpulkan jika istriku ini adalah orang yang sangat baik sekali," ujar Ferdians menuntun Rania ke sofa hingga Rania duduk di atas pangkuannya.


"Jangan menyimpulkan sesuatu yang belum benar adanya!" jawab Rania dengan datar.


"Tapi aku merasa jika istriku ini benar-benar baik."


Ferdians dan Rania merebahkan dirii di sofa dengan Ferdians yang memeluk Rania bahkan mengelus perut Rania. Berharap jika anaknya sudah hadir di rahim Rania.


"Jika nanti kamu hamil dan yang lahir bukanlah anak lelaki. Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Ferdians dengan pelan.


Rania terdiam sejenak. Pertanyaan Ferdians benar juga karena mereka tidak bisa menduganya. "Kamu bisa membawanya pergi. Karena dengan bersamamu dia mendapatkan kasih sayang," jawab Rania dengan tercekat.


"Kamu tidak mau memperjuangkannya bersamaku?" tanya Ferdians berusaha tenang.


Rania menghela napasnya dengan pelan. "Jangan sampai keluargaku yang membuangnya duluan!"


"Itu artinya kamu menyayanginya bukan?"


Rania memejamkan matanya. "Setiap ibu pasti akan menyayangi anaknya. Tapi dia akan lebih bahagia jika bersamamu!"


Ferdians semakin memeluk Rania. "Aku tidak akan membuat kamu menjadi ibu yang kejam, Rania. Aku juga berdo'a jika anak pertama kita adalah lelaki setelah itu baru anak perempuan," ujar Ferdians dengan lembut.


"Hmmm..."


"Saya ada urusan di kantor!" ujar Rania bangkit dari berbaringnya bersama Ferdians.


"Sekarang? Kita baru saja sampai dan kamu belum istirahat sepenuhnya!"


"Iya!"


"Sastra mengatakan jika tidak ada pekerjaan hari ini, Rania. Semua sudah di selesaikan oleh Sastra!"


"Besok saja ya! Kali ini perhatikan kesehatan kamu jangan sampai sakit! Besok kita akan bertemu dengan papa untuk membicarakan tentang pemindahan kursi CEO. Aku sedang berusaha membuat kamu bahagia, agar kamu bisa membeli apapun dengan uang yang aku berikan! Sekarang istirahat saja. Terserah kamu mau istirahat bersamaku atau ibu yang terpenting hari ini kamu libur dulu," ujar Ferdians dengan tegas.


"Ahhh sudahlah..."


Rania berjalan ke arah ranjangnya dengan perasaan sedih yang tidak bisa ia jabarkan. Ia menutup wajahnya dengan selimut. Bagaimana jika nanti anak yang lahir dari rahimnya bukanlah anak lelaki? Apa yang akan di lakukan papa dan kakeknya? Apakah mereka akan membuang anaknya? Memikirkan itu membuat perasaan Rania tidak karuan dan benar-benar membuat moodnya buruk seketika. Dan semua ini gara-gara pertanyaan Ferdians!

__ADS_1


__ADS_2