Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 140 (Wajah Sedih Olivia)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini seperti biasa ya!...


...Happy reading...


****


Olivia meletakkan ponselnya setelah selesai menelepon Rejendra untuk mengabarkan jika besok adiknya akan ikut wawancara di perusahaan Danuarta untuk menjadi sekretaris Rajendra.


Olivia merasa senang ketika adiknya mempunyai kesempatan untuk bekerja karena selama ini Cassandra sama sekali tidak mau bekerja setelah lulus kuliah. Ia berharap setelah ini Cassandra tidak akan mengambil barang-barangnya lagi.


Olivia memijat pelipisnya yang terasa berat, ia masih merasa sedih karena baju yang sudah sangat ia impikan kembali dikuasai oleh Cassandra. Tanpa Olivia sadari Faiz sedang memperhatikan Olivia yang terlihat bersedih. Bahkan Faiz bertanya-tanya ada apa dengan Olivia karena tak biasanya Olivia berwajah murung seperti ini.


"Olivia!" panggil Faiz yang membuat Olivia langsung mengubah raut wajahnya, ia tersenyum tipis ke arah Faiz saat ini.


"Iya ada apa, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Olivia dengan lembut.


"Buatkan saya kopi ya dan antarkan ke ruangan saya," ujar Faiz dengan tegas.


"Baik, Tuan! Tunggu sebentar, Tuan!" sahut Olivia dengan tersenyum.


"Ooo iya dan satu lagi buatkan lemon tea," ujar Faiz.


"Lemon tea buat siapa, Tuan? Apakah ada tamu yang datang?" tanya Olivia dengan penasaran sekaligus bingung karena Faiz tidak pernah meminta lemon tea.


"Buatkan saja jangan banyak bertanya saya tunggu di ruangan saya," ucap Faiz dengan tegas.


"Baik, Tuan!" sahut Olivia tak banyak berbicara lagi, ia segera menuju pantry di perusahaan ini untuk membuatkan kopi dan lemon tea yang Faiz inginkan sedangkan Faiz sudah kembali ke ruangannya.


Faiz bersandar di sandaran kursi kerjanya, ia sedang memikirkan tentang Olivia yang tiba-tiba murung tidak seperti biasanya dan entah mengapa itu semua mengganggu hatinya, entah mengapa ia tidak bisa melihat Olivia bersedih seperti ini.


Ting....

__ADS_1


Faiz mengambil ponselnya karena ia mendapatkan notifikasi pesan. Faiz segera membuka pesan dari Rajendra dan membacanya.


[Tadi Olivia meneleponku dan mengatakan jika adiknya ingin ikut wawancara untuk menjadi sekretaris di perusahaan. Bagaimana pendapatmu?]


Faiz segera membalas pesan dari Rajendra. [Yang aku tahu Cassandra berbeda dengan mamanya. Ia terlihat baik dan pintar juga seperti Olivia, Om bisa menimbangkan itu semua. Dan jika kakek juga mengizinkan jika Cassandra bekerja di perusahaan]


[Ya, Papa ada di sini. Dia sedikit ragu dengan Cassandra. Tapi mungkin Cassandra tidak jauh berbeda dengan Olivia, mungkin aku bisa menerimanya menjadi sekretarisku. Jika pekerjaannya baik maka aku akan melanjutkan dia sebagai sekretarisku dan jika tidak aku akan memecatnya]


[Terserah Om saja. Keputusan ada di tangan Om!]


Faiz membalas pesan untuk Rajendra dan tidak lama Olivia datang dengan membawa kopi dan lemon tea yang Faiz inginkan.


"Ini kopi dan lemon tea yang anda inginkan, Tuan!" ujar Olivia dengan tersenyum dan meletakkan tampan dengan gelas kopi dsn lemon tea yang ada di atasnya.


"Kalau begitu saya permisi, Tuan!"


"Duduk!" ucap Faiz dengan tegas.


"Duduk! Temani saya minum!" ujar Faiz dengan tegas.


"Tunggu apa lagi? Kenapa masih berdiri di hadapan saya? Silahkan duduk!" ujar Faiz dengan dingin.


"B-baik, Tuan!" ucap Olivia dengan terbata.


Olivia duduk di hadapan Faiz dengan perlahan karena ia masih bingung dengan apa yang Faiz lakukan sekarang karena tak biasanya pria yang menjadi bosnya seperti ini.


"Minum!" ujar Faiz dengan tegas.


Olivia masih terdiam, ia memperhatikan Faiz yang sedang menyesap kopi buatannya dengan perlahan.


"Minum, Olivia!" ujar Faiz dengan dingin yang membuat Olivia langsung mengambil gelas berisi lemon tea yang ia buat dan meminumnya dengan sedikit, Olivia memejamkan matanya dengan sejenak karena jujur saja lemon tea adalah minum kesukaannya. Apakah Faiz menyuruhnya untuk membuat lemon tea karena pria itu mengajak dirinya untuk minum bersama? Kenapa ia jadi percaya diri sekali sekarang?

__ADS_1


Faiz menatap Olivia dengan dalam. "Tadi om Rajendra mengirimkan pesan kepada saya jika kamu menelepon dirinya dan mengatakan Cassandra ingin melamar bekerja di perusahaan Danuarta. Apakah itu benar?" tanya Faiz dengan tegas.


"Benar, Tuan. Cassandra sangat ingin bekerja seperti saya mungkin dengan bekerja di perusahaan Danuarta dia bisa memiliki pengalaman," jawab Olivia dengan tersenyum.


"Lalu jika adikmu ingin melamar bekerja di perusahaan Danuarta kenapa wajah kamu terlihat murung? Saya perhatikan kamu tidak fokus bekerja hari ini!" tanya Faiz dengan dingin.


Olivia terlihat terkejut apakah ekspresi wajahnya begitu terlihat sekali hingga Faiz saja menyadari akan kesedihan yang ia rasakan?


"Saya tidak apa-apa, Tuan. Hanya sedikit kelelahan saja!" jawab Olivia dengan tersenyum karena ia tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya kepada Faiz tentang kesedihannya yang ia rasakan saat ini.


"Tapi mengapa saya tidak yakin ya?" tanya Faiz dengan curiga.


Olivia tersenyum. Ia menatap Faiz dengan dalam. "Saya tahu anda khawatir terhadap saya, Tuan. Tapi benar saya tidak apa-apa," ujar Olivia dengan tersenyum manis yang membuat Faiz terdiam menatap Olivia dengan dalam. Ada apa sebenarnya dengan dirinya sendiri? Faiz benar-benar tidak paham dengan dirinya!


Olivia tersenyum dengan meminum lemon tea buatannya. "Saya paham sekarang kenapa anda menyuruh saya untuk membuat lemon tea karena Tuan ingin mengajak saya minum untuk menghilangkan rasa lelah saya! Terima kasih, Tuan. Anda sangat baik sekali," ujar Olivia dengan tersenyum manis.


"Tidak salah jika saya mengagumi, Tuan!" Olivia langsung menutup mulutnya sendiri karena keceplosan dalam berbicara.


"S-saya permisi, Tuan!" ucap Olivia dengan terbata karena takut Faiz akan marah kepada dirinya. Namun, ini adalah salah satu rencananya untuk mendekati Faiz.


Faiz yang masih terkejut dengan ucapan Olivia langsung menarik tangan Olivia hingga gadis itu tidak bisa pergi.


"Jelaskan ucapan kamu yang terakhir!" ujar Faiz dengan tegas.


"T-tidak ada yang perlu dijelaskan, Tuan!" ujar Olivia dengan terbata karena jujur saja ia merasa gugup sekarang dengan tatapan Faiz yang begitu sangat tajam.


"Tentu saja sangat perlu dijelaskan, Olivia!" jawab Faiz dengan tegas.


"Saya rasa anda sudah mengerti ucapan saya, Tuan. Saya permisi! Saya akan menghabiskan lemon tea ini di meja kerja saya," ujar Olivia langsung berjalan cepat menuju pintu keluar, ia tidak bisa berlama-lama di ruangan Faiz karena menurutnya sangat bahaya untuk jantungnya sendiri.


Olivia menutup pintu dengan sedikit keras yang membuat Faiz terkejut tetapi pria itu sama sekali tidak protes, karena Faiz masih mencerna ucapan Olivia kepadanya.

__ADS_1


Sedangkan Olivia ia memegang dadanya sendiri saat sudah berhasil keluar dari ruangan Faiz. "Padahal ini salah satu rencanaku untuk mendekati tuan Faiz tapi kenapa rasanya sangat deg-degan dan malu sekali. Olivia apa yang sudah kamu lakukan? Cassandra sudah berulang kali membuat kamu bersedih tetapi kenapa kamu masih saja tidak bisa menolak permintaannya?" ucap Olivia di dalam hati merutuki dirinya sendiri yang terlihat seperti gadis bodoh mengejar seorang pria yang sama sekali tidak ia cintai dan begitupun sebaliknya hanya karena ingin melihat Cassandra bahagia.


__ADS_2