Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 186 (Meminta Restu)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


...****...


Ben, Ana dan juga Rajendra sedang duduk di ruang makan bersama dengan Rania dan juga Ferdians. Rania dan Ferdians meninggalkan kedua anaknya, karena pasti Faiz sedang bermesraan dengan Olivia sedangkan Frisa mengatakan ingin menyusul ke rumah kakeknya dan tentunya bersama dengan Gavin nantinya.


"Pa, Ma, Kak, aku ingin melamar Cassandra hari ini!" ujar Rajendra setelah selesai mereka makan bersama.


"Uhuk...uhuk...." Ana terbatuk mendengar ucapan anaknya.


"Minum dulu, Sayang!" ucap Ben memberikan air putih kepada istrinya.


Ana menerimanya, dengan pelan ia minum air pemberian suaminya. Ana masih terkejut dengan ucapan Rajendra walaupun ia sudah tahu rencana anaknya tersebut. Namun, sebagai seorang mama Ana terlihat berat dengan rencana tersebut.


"Ma, Mama masih berat merestui aku untuk menikah dengan Cassandra?" tanya Rajendra dengan menatap mamanya.


Ana memejamkan matanya, ia tidak mau nantinya Rajendra menyesal. Tapi jika dibiarkan Cassandra akan berbuat nekad dan bisa saja melukai keluarganya.


"Ma!" panggil Rania dengan pelan menyentuh tangan mama tirinya yang sudah ia anggap sebagai mama kandungnya sendiri itu dengan lembut.


Ana menatap Rania dengan pandangan sayunya. "Mama tidak tahu harus apa!" jawab Ana dengan lirih.


Rajendra ikut memegang tangan mamanya. "Mama tenang saja, aku akan melakukan apa saja untuk melindungi keluarga kita. Aku tidak mau Cassandra semakin menjadi gadis yang begitu jahat! Aku ingin dia sadar, Ma!" ujar Rajendra dengan tegas.


"Sayang, apa yang dilakukan Rajendra itu demi melindungi keluarga kita. Kita dukung saja Rajendra ya," bujuk Ben dengan lembut.


Ana memejamkan matanya, hatinya begitu sangat gundah. "Mama tidak mau kamu menyesal nantinya, Nak. Mama tidak mau anak Mama hidup dalam penyesalan. Mama pernah menyaksikan kakak kamu dan papa kamu bersiteru selama bertahun-tahun lamanya karena keluarga Cassandra. Dan ini kamu juga melakukan sesuatu yang bisa saja membahayakan nyawa kamu, Nak!" jawab Ana dengan pelan yang membuat yang lainnya saling menatap satu sama lain.


"Ma, aku janji akan baik-baik saja!" ujar Rajendra dengan lembut.


Ana memijat pelipisnya dengan pelan. Kepalanya terasa pusing memikirkan ini semua.


"Nenek!"


Ana terkejut saat Frisa memeluknya dengan erat dan mencium pipinya dengan lembut. "Kapan kamu datang, Sayang? Nenek kok tidak dengar?" tanya Ana mengelus tangan cucunya dengan lembut.


"Baru saja. Nenek kenapa hmm? Nenek tidak boleh sedih ya! Om Rajendra kan mau melindungi keluarga kita dari kejahatan Cassandra dan mamanya," ucap Frisa dengan lembut.


Ana tersenyum. "Dulu papa kamu dan papanya Gavin juga melindungi mama kamu dari kejahatan Clara dan Agni. Tapi apa? Mama dan papa kamu kecelakaan bahkan hampir menghilangkan nyawa mereka," ujar Ana dengan lirih.

__ADS_1


"Ma itu sudah berlalu. Biar itu menjadi pengalaman untuk memperketat keadaan agar mereka tak bisa melukai keluarga kita lagi," ujar Rania dengan tegas.


"Iya, Nek. Boleh ya om Rajendra menikah dengan Cassandra. Gadis itu harus diberi pelajaran tahu!" ujar Frisa berusaha membujuk neneknya


Ana menghela napasnya dengan pelan. Ia menatap Rajendra dengan serius. "Oke... Mama akan setuju kamu menikah dengan Cassandra. Tapi Mama tidak mau melihat kamu menyiksa Cassandra di hadapan Mama! Kalian harus mempunyai rumah sendiri karena Mama tidak sanggup melihat kamu bersikap kejam dengan seorang wanita, bahkan wanita itu istri kamu sendiri nantinya," ujar Ana dengan tegas yang membuat Rajendra menghela napasnya dengan lega sekaligus ia merasa sesak karena terlihat sekali mamanya adalah wanita yang sangat baik hatinya, bahkan sudah tahu Cassandra jahat Mamanya masih tidak sanggup melihat Cassandra di siksa oleh dirinya.


"Iya, Ma. Rajendra sudah menyiapkan rumah untuk kami tinggal berdua nantinya," ujar Rajendra dengan tersenyum.


"Frisa, Gavin, kalian kalau mau sarapan. Sarapan saja ya Nenek mau ke kamar dulu," ujar Ana dengan pelan.


"Iya, Nek! Nenek tenang saja Frisa akan sarapan nanti," ujar Frisa dengan tersenyum.


Ana tersenyum melihat ke arah Frisa. Semua tampak lega karena akhirnya Ana sudah merestui hubungan Rajendra dengan Cassandra, ya walaupun pernikahan itu nantinya tidak seperti pernikahan pada umumnya.


"Faiz sama Olivia mana? Tidak ke sini?" tanya Ana tidak melihat kedatangan cucu pertamanya.


"Biasalah, Nek. Pengantin baru di kamar terus," ujar Frisa dengan terkekeh.


Ana juga ikut terkekeh. Ia bangun dari duduknya. "Nenek ke kamar ya!" ucap Ana dengan pelan


Frisa mengangguk, semua orang menatap Ana yang berjalan ke arah kamar hingga mereka berteriak saat tubuh Ana terhuyung dan hampir jatuh jika Ferdians tidak memegang mama mertuanya dengan cepat.


"Mama tidak apa-apa?" tanya Ferdians dengan khawatir.


Ben menghampiri istrinya. Ia melihat wajah istrinya yang pucat. "Rania telepon dokter untuk ke rumah sekarang!" ujar Ben dengan khawatir.


"Iya, Pa!"


"Biar aku gendong Mama ke kamar ya!" ujar Rajendra dengan khawatir.


Mereka tahu Ana seperti ini pasti karena terlalu memikirkan hubungan Rajendra dengan Cassandra. Wanita itu selalu memakai perasaan dalam hal apapun, karena Ana mempunyai hati yang begitu sangat lembut. Bukan itu saja yang Ana pikirkan tetapi ia mengingat masa lalunya di mana mantan suaminya yang selalu bertindak kasar kepadanya hingga beberapa kali ia keguguran. Dan apakah anaknya sekarang akan menjadi lelaki kasar seperti itu? Rasanya Ana tidak sanggup melihatnya, ia seakan memilih buta nantinya agar ia tidak melihat perlakuan kasar Rajendra kepada Cassandra.


****


Rajendra sudah berada di depan gerbang rumah Rio dan Anjani, ia belum masuk ke rumah ini karena ia masih meredamkan amarah yang ingin meledak sekarang. Mungkin jika Cassandra seperti Olivia, bisa saja Rajendra membuka hatinya untuk Cassandra karena memang Cassandra tak kalah cantik seperti Olivia. Namun, rasa simpati itu sudah tidak ada lagi digantikan dengan rasa amarah yang sangat luar biasa untuk Cassandra.


[Mas sudah ada di depan, Sayang!]


Rajendra mengirimkan pesan untuk Cassandra tak butuh waktu lama pesan tersebut sudah di balas oleh Cassandra.


[Sebentar Mas aku bukain gerbangnya☺] Balas Cassandra dengan emoji senyum yang membuat Rajendra muak.

__ADS_1


Rajendra tak lagi membalas pesan Cassandra, ia menunggu di mobil hingga ia melihat Cassandra berlari pelan menuju ke arahnya.


Rajendra menjalankan mobilnya kembali setelah gerbang itu di buka oleh Cassandra. Sebenarnya Rajendra ingin mengurungkan niatnya ke sini hari ini karena mamanya terkena darah tinggi sekarang akibat terlalu mengkhawatirkan dirinya tetapi Rajendra harus menjelankan rencana ini segera, ia tidak mau mamanya semakin terluka.


"Mas!" ujar Cassandra dengan sangat senang.


Ia merangkul lengan Rajendra dengan mesra saat Rajendra keluar dari mobil. "Aku senang banget akhirnya kamu datang, Mas!" ujar Cassandra dengan berbinar.


"Iya, Sayang. Dimana kedua orang tua kamu?" tanya Rajendra tak ingin berlama-lama.


"Ada di dalam, Mas. Ayah baru saja pulang dari cafe," sahut Cassandra dengan tersenyum. "Ayo kita masuk, Mas!" ajak Cassandra dengan tersenyum.


Rajendra berjalan beriringan bersama dengan Cassandra masuk ke rumah Rio dan Anjani.


"Ayah, Bunda!" ucap Cassandra dengan tersenyum.


Rio dan Anjani langsung melihat ke arah Cassandra, keduanya langsung terkejut saat melihat Rajendra datang ke rumah mereka.


"Tuan Rajendra," ujar Rio dengan terbata.


"Selamat siang, Om, Tante. Maaf menganggap waktunya, kedatangan saya ke sini ada yang mau saya bicarakan serius dengan Om dan Tante," ujar Rajendra dengan tersenyum sopan.


"Silahkan duduk Tuan Rajendra!" ujar Anjani dengan tersenyum.


"Tidak usah memanggil saya dengan sebutan tuan, Om, Tante. Panggil saja Rajendra," ujar Rajendra.


"Baiklah, Rajendra. Hal serius apa yang ingin kamu bicarakan kepada kami berdua?" tanya Rio dengan penasaran.


"Begini, Om. Saya langsung ke intinya saja, saya ingin melamar Cassandra untuk menjadi istri saya. Jika Om dan Tante merestui maka dalam minggu ini saya akan membawa keluarga besar saya ke rumah ini untuk melamar Cassandra secara resmi kepada Om dan Tante," ujar Rajendra dengan tegas.


Rio dan Anjani terdiam, mereka masih tak menyangka jika kedua anaknya menikah dalam jarak waktu yang sangat dekat. Bahkan Rio maupun Anjani tidak mengetahui jika Cassandra dan Rajendra memiliki hubungan khusus.


"Pernikahan bukan sesuatu hal yang bisa dimainkan, Rajendra. Kamu serius ingin melamar anak, Om? Sejak kapan kalian memiliki hubungan?" tanya Rio dengan amat serius.


"Keseriusan sebuah hubungan yaitu berani menikah, jujur saya dan Cassandra belum lama ini menjalin hubungan tetapi saya sudah sangat serius dengan Cassandra. Saya ingin menikahi Cassandra secepatnya, Om!" sahut Rajendra dengan tegas.


Rio dan Anjani saling menatap satu sama lain. Keduanya tak lagi bisa melarang. Namun, kenapa kedua anak mereka bisa berhubungan dengan keluarga Danuarta? Apakah ini sebuah kebetulan atau takdir yang tak bisa dihindari?


"Om dan Tante terserah Cassandra saja," ujar Rio pada akhirnya karena sekeras apapun ia melarang jika Cassandra mencintai Rajendra, ia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Bagaimana Cassandra? Kamu mau menikah dengan Rajendra?" tanya Anjani dengan serius.

__ADS_1


"Iya Bun, aku mau!" ucap Cassandra dengan tersenyum.


"Karena dengan menikah dengan Rajendra semua rencanaku akan berjalan dengan baik!" gumam Cassandra di dalam hati.


__ADS_2