Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 102 (Amukan Sastra)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


***


Sastra menaikan kedua alisnya ketika melihat mobil Alex yang sudah terparkir di halaman rumah Citra. Tangannya terkepal dengan erat, membayangkan kedekatan Citra dengan Alex membuat kedua tangan Sastra terkepal dengan erat karena cemburu yang sangat besar di hatinya.


Sastra tidak bisa membiarkan Citra semakin dekat dengan Alex. Dengan wajah yang begitu datar Sastra keluar dari mobilnya. Sastra berjalan dengan tegas ke arah pintu utama milik Citra. Samar-samar Sastra mendengar suara Citra yang ketakutan bahkan wanita itu terdengar meminta tolong.


Sampai terjadi sesuatu dengan Citra maka Sastra tidak akan melepaskan Alex begitu saja, ia akan menghajar Alex saat itu juga.


"T-tolong..."


"Citra!" gumam Sastra dengan panik.


Sastra berusaha mendobrak pintu tetapi sialnya pintu itu sudah di kunci dan Sastra semakin panik mendengar suara rintihan Citra yang terus meminta tolong. Sastra yakin Citra sudah sangat ketakutan, ia tak pantang menyerah Sastra terus mendobrak pintu rumah Citra dengan kuat tetapi belum juga terbuka.


Sastra berlari ke arah mobilnya mengambil sesuatu yang bisa untuk membuka pintu. Untung saja ia membawa beberapa kunci peralatan bengkel untuk jaga-jaga jika mobilnya mogok di jalan.


Setelah mengambil kunci tersebut Sastra berlari ke arah pintu kembali. "Sayang, sabar ya! Aku akan menghajar Alex setelah ini," ujar Sastra dengan lirih bahkan keringat sudah keluar dari keningnya karena sangking paniknya.


Sastra tampak sedikit lega karena ia berhasil membobol pintu rumah Citra. Sastra menendang pintu tersebut hingga menimbulkan bunyi yang sangat nyaring sekali.


Brak....


Pintu rumah Citra sudah rusak. Sastra menatap penuh amarah kepada Alex yang sudah menindih tubuh Citra yang ketakutan.


Dengan berlari Sastra menghampiri Alex dan Sastra. Sastra langsung cepat menarik Alex hingga menjauh dari tubuh Citra.


"Brengsek!" umpat Sastra yang langsung memukul Alex dengan kuat.


Bukk...


Bukk...


"Bajingan lo!" teriak Sastra dengan keras.


Alex yang tak siap akhirnya terkens pukulan Sastra yang sangat keras.


"Jangan ikut campur!" ujar Alex yang berusaha membalikkan keadaan tetapi Sastra tidak memberikan cela untuk Alex menyakiti dirinya.


Bak seorang yang sedang kesurupan Sastra terus menghajar Alex hingga babak belur.


"Apapun yang menyangkut dengan Citra kamu akan berurusan dengan saya, Alex. Lelaki seperti kamu tidak akan saya biarkan hidup!" ujar Sastra dengan bengis.


Alex berusaha memukul Sastra dan berhasil mengenai wajahnya tetapi Sastra tidak bergeming wajahnya begitu tampak datar.

__ADS_1


"Citra milik saya. Anda jangan ikut campur!" ujar Alex yang sudah babak belur.


Sastra menyeringai. "Milik anda? Citra adalah milik saya sejak dulu! Walaupun kami sudah bercerai, tetapi saya akan rujuk dengan Citra jadi jangan macam-macam dengan saya!" ujar Sastra dengan tajam.


"Ooo jadi kamu masa lalu Citra yang membuat dia tidak mau menerima saya karena trauma. Saya pastikan jika Citra akan tetap menjadi milik saya," ujar Alex dengan menyeringai.


Sastra semakin tersulut emosi mendengar ucapan Alex, tidak ada ampun Sastra memukul Alex hingga Alex memuntahkan darah tetapi bukan meringis kesakitan Alex malah terkekeh yang membuat Sastra semakin geram.


"Gila!"


Buk...


Alex kehilangan kesadarannya setelah Sastra memukulnya dengan keras repat di hidung lelaki itu.


Sastra menyeringai dengan menyeka darah di sudut bibirnya. Ia langsung teringat dengan Citra, ia langsung berlari menghampiri Citra yang beringsut di sofa dengan tubuh yang gemetar.


"Citra!" panggil Sastra dengan pelan.


Citra sama sekali tidak merespon. Wajah wanita itu bersembunyi di balik kedua lututnya yang membuat Sastra sangat khawatir, ia berusaha menyentuh Citra tetapi wanita itu langsung ketakutan.


Sastra langsung memeluk Citra dengan erat, ia berusaha melihat wajah Citra. "Lihat saya, Citra!" ujar Sastra dengan lembut.


"T-takut!" gumam Citra dengan suara gemetar.


"T-tolong!"


Hati Sastra merasa sakit saat melihat wajah Citra yang sangat berantakan bahkan tatapan wanita benar-benar kosong.


"Citra ini saya, Sastra!" ujar Sastra dengan menangkup wajah Citra tetapi wanita utu seakan tidak mengenalinya.


"CITRA!" teriak Sastra dengan khawatir saat perlahan mata wanita yang ia cintai menutup dengan rapat.


Tanpa berpikir panjang lagi Sastra langsung menggendong Citra dan membawa Citra ke mobilnya. Sungguh Sastra sangat khawatir dengan keadaan Citra, dengan pikiran yang sangat kacau Sastra menutupi tubuh Citra dengan jas miliknya dan Sastra langsung mengemudikan mobilnya dengan cepat tak peduli dengan Alex yang terkapar tak sadarkan diri di rumah Citra.


"Bangun, Sayang. Ini salahku! Seharusnya aku tidak meninggalkan dirimu lagi!" ujar Sastra yang menyalahkan dirinya sendiri.


Sastra memeluk Citra dari samping dan sayu tangannya lagi ia gunakan untuk mengemudi.


"Sastra kamu bodoh!" teriak Sastra dengan penyesalan yang sangat mendalam di hatinya.


Bahkan Sastra sampai menangis merutuki kebodohannya, melihat wajah pucat Citra membuat dada Sastra begitu sangat sesak.


****


"Dok, tolong calon istri saya!" teriak Sastra dengan panik saat ia sudah sampai di rumah sakit.


Suster langsung membantu Sastra untuk meletakkan Citra di brankar, dengan cepat beberapa suster mendorong brankar Citra yang diikuti oleh Sastra.

__ADS_1


"Pak tolong anda tunggu di luar biar dokter akan segera memeriksa pasien!" ujar suster menahan Sastra yang ingin ikut mssuk.


"Saya harus memastikan calon istri saya baik-baik saya, Sus!" ucap Sastra dengan cemas.


"Sebaiknya anda tunggu di luar, Pak. Dokter akan segera memeriksa pasien!" ujar Suster yang membuat Sastra menghela napasnya dengan kasar setelah pintu UGD di tutup Sastra meninju tembok dengan sangat keras.


Ia benci dengan dirinya sendiri yang selalu gagal membuat Citra bahagia. "Arghhh...." teriak Sastra dengan keras yang membuat orang-orang di rumah sakit menatap dirinya dengan aneh.


Sastra duduk di ruang tunggu dengan perasaan yang tak menentu, ia mengusap wajahnya dengan kasar. "Maaf!" gumam Sastra dengan terisak lirih.


Waktu terus berlalu dan Sastra merasa dokter sangat lama memeriksa Citra hingga Sastra berdiri dari duduknya berjalan dengan gelisah di depan pintu. Hingga pintu terbuka tetapi belum bisa membuat Sastra lega.


"Bagaimana keadaan calon istri saya, Dok?" tanya Sastra dengan tak sabaran.


"Sebaiknya kita bicarakan saja di ruangan saya, Pak. Ada hal yang sangat serius yang akan saya bicarakan kepada anda," ujar dokter yang membuat Sastra was-was tetapi tetap mengangguk dan mengikuti dokter.


Sesampainya di ruangan dokter Sastra langsung duduk di hadapan dokter dengan perasaan yang tidak menentu.


"Apa yang akan anda bicarakan, Dok? Calon istri saya baik-baik saja, kan?" tanya Sastra dengan gusar.


Dokter menghela napasnya dengan berat. "Trauma yang di alami ibu Citra terlihat semakin memburuk, Pak. Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) yang di alami ibu Citra membuat keadaan ibu Citra sangat memprihatinkan. Ibu Citra tak lagi merespon saat saya panggil, pandangannya sangat kosong dan ini sangat membahayakan dirinya sendiri ketika ibu Citra di tinggal seorang diri. Bisa saja dia mencelakai dirinya sendiri atau yang paling parah dia bisa bunuh diri. Saya sarankan anda selalu menemaninya agar dia tidak merasa kesepian yang membuat emosinya semakin tersulut. Saya boleh bertanya? Apa penyebab ibu Citra terlihat semakin memburuk? Karena yang saya tahu, keadaannya sudah membaik sewaktu anda menemaninya terapi," ujar dokter yang membuat Sastra semakin menyalahkan dirinya sendiri.


"Ini salah saya, Dok. Saya meninggalkan Citra seorang diri di rumah karena pekerjaan hingga bos-nya datang dan hampir memperk*sa Citra jika saya telat datang tadi," ujar Sastra dengan berat.


"Pantas saja keadaan ibu Citra terlihat memburuk kembali. Saya harap anda jangan meninggalkannya ibu Citra sedetik pun ya, Pak. Karena saya khawatir ibu Citra akan melukai dirinya sendiri karena sangking cemas dan takutnya mengingat kejadian itu," ujar dokter yang membuat Sastra mengangguk paham.


"Saya sudah bisa bertemu dengan Citra, Dok?" tanya Sastra.


"Sudah, Pak. Ingat pesan saya tadi ya, Pak. Dan cobalah ajak dia bicara yang membuat hati ibu Citra senang," ujar dokter yang di angguki oleh Sastra.


"Baik, Dok. Saya permisi!"


****


Sastra menatap Citra dengan pandangan sendunya. Citra sudah sadar dan wanita itu membuka mata tetapi yang membuat Sastra sakit adalah pandangan Citra yang terlihat sangat kosong.


"Hei..." sapa Sastra dengan serak.


"Katanya kamu mau sembuh tapi kok seperti ini lagi hmm? Mana Citra yang selalu ceria?" tanya Sastra dengan sendu.


Sastra menempelkan tangan Citra di pipinya. "Mas janji akan selalu ada untuk kamu, Sayang. Sembuh ya! Kita akan bersama kembali biar kamu tidak kesepian. Kamu mau apa? Jalan-jalan, barang-barang bagus, atau kita liburan ke luar negeri? Bagaimana kalau kita ke pantai? Mau tidak hmm?"


Sastra terus mengajak Citra berbicara tetapi Citra sama sekali tak merespon yang membuat Sastra tersenyum kecut. Mungkin saatnya dia mengambil keputusan untuk keluar dari pekerjaannya dan bertekad untuk menjaga Citra.


"Kamu capek ya? Mau istirahat? Mas temani ya! Mas boleh tidur di sebelah kamu tidak?"


Sastra tahu Citra tak akan merespon dengan perlahan ia naik ke atas brankar di mana Citra berbaring. Sastra membawa Citra ke pelukannya.

__ADS_1


"Mas mohon bicaralah Citra! Lebih baik kamu marah sama Mas dari pada kamu diam seperti ini," gumam Sastra dengan lirih. bahkan Sastra kembali menangis dengan mengecup puncak kepala Citra dengan sayang.


__ADS_2