
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Agni menatap foto dirinya bersama dengan Clara sewaktu anaknya masih gadis, Clara yang ceria dan penuh ambisi membuat dirinya dan Clara sangat dekat. Namun, semuanya sudah berubah ketika mereka sangat berambisi untuk menghancurkan keluarga Danuarta dan ingin memiliki hartanya. Clara-nya menjadi depresi dan akhirnya gila sampai sekarang. Namun, Agni merasa ada yang berbeda tadi saat mengunjungi Clara, ia melihat Clara berteriak dan menyumpahi Rajendra seperti bukan orang yang terkena gangguan jiwa. Agni curiga jika anaknya sudah sembuh, tetapi Agni tidak mau berpikir buruk dulu tentang Clara. Karena bagaimanapun Clara adalah anaknya.
"Ma, aku masuk ya!" ucap Rio meminta izin dari balik pintu.
Agni yang sejak tadi melamun akhirnya tersentak mendengar suara anaknya. "Iya, Rio!" ucap Agni memberikan izin kepada Rio.
Ceklek....
Pintu terbuka dan terlihatlah Rio yang menatap mamanya dengan khawatir. "Mama tidak apa-apa, kan?" tanya Rio dengan khawatir.
Agni tersenyum. "Mama tidak apa-apa, Rio. Hanya saja Mama merasa kasihan dengan Clara. Mama tidak tega Rio, tetapi Mama merasa ada yang janggal dengan adik kamu," gumam Agni dengan lirih.
"Janggal gimana, Ma?" tanya Rio dengan penasaran.
"Tatapan Clara dan ucapannya bukan seperti orang gila. Clara terlihat sudah seperti orang normal pada umumnya bahkan Clara tahu nama Rajendra, adik kamu terus mengumpat nama Rajendra dan akan membuat Rajendra mati di tangannya. Mama tidak ingin percaya namun ucapan Clara benar-benar membuat Mama berpikir keras," gumam Agni dengan menghela napasnya dengan berat menatap anaknya yang terlihat berpikir.
"Masa sih, Ma?" tanya Rio yang belum percaya.
Agni mengangguk dengan pelan. "Iya, Rio. Tapi mungkin ini perasaan Mama saja karena bisa jadi Cassandra sudah mengenalkan Rajendra kepada Clara sebagai suaminya dan anak dari Ben. Mungkin dari situ Clara sedikit emosi ia mendengar nama Ben dan Rajendra," ujar Agni berusaha untuk berpikir positif.
"Tapi apa mungkin, Ma? Biar aku nanti yang bertanya dengan dokter ya. Mama tidak boleh berpikir terlalu keras, pikirkan saja kesehatan Mama dulu," ujar Rio dengan tegas dan tak mau mamanya jatuh sakit.
__ADS_1
"Terima kasih ya, Nak. Masih mau menerima Mama di rumah ini. Padahal Mama banyak kesalahan sama kamu dan Anjani," ujar Agni dengan sendu.
"Mama ngomong apa sih? Sebanyak apapun kesalahan Mama, Mama tetap menjadi Mama terbaik untuk Rio karena tidak ada namanya mantan anak dan orang tua di dunia ini," ujar Rio dengan sangat tulus yang membuat Agni berkaca-kaca.
"Yang terpenting Mama mau berubah karena harta itu bisa di cari, Ma. Bukan merampas milik orang lain," ujar Rio dengan tegas.
Agni memeluk Rio dengan erat. Sesedih apapun ia saat ini karena memikirkan keadaan Clara tetapi ia masih mempunyai Rio dan Anjani yang juga menyayangi dirinya. Agni menghapus air matanya dengan cepat karena tak ingin terlihat menangis di depan Rio saat ini. Sedangkan Rio mengelus punggung mamanya dengan lembut, karena Rio tahu mamanya sedang sedih memikirkan Clara. Dan Rio tak bisa berhenti memikirkan Clara saat ini akibat perkataan mamanya tadi. Apa benar Clara sudah sembuh? Tapi kenapa adiknya itu tidak meminta pulang bahkan di mata Rio, Clara masih terlihat depresi karena setiap ia mengunjungi Clara, adiknya itu akan hanya diam dan tiba-tiba tertawa sendiri.
Agni meringis karena tiba-tiba kepalanya terasa pusing.
"Kenapa, Ma?" tanya Rio dengan cemas.
"Tiba-tiba kepala Mama pusing, Rio!" jawab Agni dengan lirih.
"Kita ke rumah sakit ya, Ma!" ujar Rio.
"Mama yakin?" tanya Rio dengan cemas.
"Iya, Rio. Jangan khawatir!" ucap Agni dengan tersenyum menatap wajah tampan anaknya.
Kenapa tidak dari dulu ia mendengarkan ucapan Rio? Pasti hidupnya tidak akan ia habiskan di penjara, kebahagiaan pasti menghampiri dirinya. Tapi semua sudah terjadi dan Agni masih bisa bersyukur karena ia sudah menghirup udara luar dengan bebas sekarang. Bahkan ia di sayangi oleh anak, menantu, dan cucunya sekarang.
****
Cassandra benar-benar ketakutan sekarang melihat orang-orang suruhan Rajendra yang berada di rumah ini. Kenapa Rajendra belum pulang sampai sekarang yang membuat Cassandra ketakutan melihat banyaknya lekaki di rumah ini yang terus mengawasi dirinya.
Cassandra tidak bisa keluar dari rumah ini, bahkan pengawasannya sangat begitu ketat.
__ADS_1
"Mau kemana Nona? Tuan Rajendra sudah menyuruh kami untuk terus menjaga anda agar tidak kabur dari sini Bukankah ini adalah rumah impian, Nona?" ujar lelaki yang sejak tadi menatapnya dengan pandangan yang sangat aneh.
"Hahaha... Terlalu bermain-main dengan tuan Rajendra hingga Nona mengantarkan neraka Nona sendiri du rumah ini," ujar salah satu penjaga dengan tertawa yang membuat Cassandra mundur ketakutan ketika dua orang terus mendekatinya.
"Kalian berjagalah di depan dan jangan sampai ada yang memberitahu soal ini," ujar lelaki itu kepada teman-temannya.
"Siap!"
Lelaki tersebut seperti mengetahui setiap sudut yang ada CCTV di rumah ini, ia terus mengawasi CCTV itu merancang sesuatu di otaknya agar Rajendra tidak mengetahui kelakuannya.
"Jangan sentuh saya!" teriak Cassandra dengan histeris saat dua penjaga menarik tangannya menjauh dari rumah utama dan menuju belakang rumah yang tidak terlihat oleh CCTV.
"hahaha... Nona-nona, jangan terlalu jual mahal. Padahal tuan Rajendra sangat jijik dengan tubuh Nona hanya kami yang mau. Ayolah Nona kita bersenang-senang di rumah ini sebelum tuan Rajendra pulang," ujar penjaga itu dengan tatapan nakalnya kepada Cassandra.
Cassandra mundur ke belakang untuk menghindari dua pria yang menatapnya dengan lapar. Tetapi tenaganya kalah dengan kedua penjaga tersebut hingga akhirnya Cassandra jatuh di rerumputan.
"Menjauh sekarang!" ujar Cassandra dengan ketakutan bahkan ia masih berusaha untuk kabur tetapi kakinya di tahan dengan kuat yang membuat Cassandra akhirnya menangis sekarang karena ia tidak bisa berbuat apa-apa ketika dua penjaga itu terus memaksa dirinya.
"Tolong!" teriak Cassandra dengan menangis tetapi tidak ada yang menolongnya sama sekali.
Dua penjaga itu tertawa bahagia melihat Cassandra sekarang yang ketakutan. Dua lelaki itu dengan kasar menarik baju Cassandra hingga robek, Cassandra berusaha untuk lepas dari kejahatan kedua pria yang menjadi orang-orang Rajendra itu tetapi tenaganya benar-benar kalah dengan dua pria itu. Cassandra meraung, menangis, dan memohon tetapi semua teriakannya sama sekali tidak di dengar hingga kembali terulang pemerkosaan itu, bedanya hati Cassandra jauh lebih sakit daripada sewaktu Rajendra mengambil mahkotanya secara paksa karena bagaimanapun Rajendra adalah suaminya. Namun, sekarang yang sedang menggagahi tubuhnya adalah dua pria penjaga di rumah ini bahkan dua pria itu menggilir tubuhnya secara paksa. Sakit? Tentu saja Cassandra merasakan kesakitan itu karena bagaimanapun Cassandra masih mempunyai hati.
"Kenapa hidupku jadi seperti ini?" gumam Cassandra dengan tatapan yang begitu sangat kosong.
Hidupnya sudah begitu hancur sekarang. Ia seperti wanita jal*ng yang melayani banyak pria, saat ini yang hanya bisa ia lakukan hanya menangis dan menangis saat tubuhnya di gag*hi dengan begitu kasar.
"Mas Rajendra pasti sangat senang kan melihat kehancuranku sekarang?" gumam Cassandra dengan terkekeh menertawakan dirinya sendiri yang sudah tidak ada harga diri sama sekali.
__ADS_1