
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Sudah 5 hari Olivia tak melihat suaminya, sejak 5 hari pula Olivia terus menangisi nasibnya sekarang. Rasa rindunya tak lagi bisa terbendung, matanya begitu bengkak karena terus menangis ingin bertemu dengan Faiz tetapi setiap kali ia menelepon Faiz, suaminya itu selalu mematikan telepon darinya yang membuat Olivia takut menemui suaminya. Takut ia tidak di terima oleh suaminya yang menambah kesakitan pada hatinya nanti tapi sungguh Olivia sangat merindukan suaminya.
Anjani datang ke kamar anaknya dengan membawakan sarapan untuk Olivia. Sungguh Anjani sangat miris sekarang karena melihat keadaan anaknya yang sangat kacau. Lingkaran mata yang menghitam, bibir yang begitu kering dan pucat, mata bengkak karena terus menerus menangis membuat hati Anjani sesak tetapi ia juga harus kuat untuk menguatkan anaknya yang sedang diberikan cobaan begitu berat.
"Sayang, ayo makan dulu ya!" ujar Anjani dengan lembut.
Olivia menggelengkan kepalanya dengan pelan, ia sama sekali tidak berselera makan sama sekali. Ia masih merasa kenyang dan tidak merasakan lapar lagi.
"Aku tidak mau makan, Bun!" gumam Olivia dengan lirih.
"Se-suap saja ya, Sayang. Kamu juga perlu energi untuk meminta maaf dengan Faiz. Emang kamu tidak mau bertemu dengan Faiz, Sayang?" ujar Anjani menyemangati anaknya.
"Bunda benar aku harus bertemu dengan Mas Faiz," gumam Olivia dengan tersenyum tipis penuh luka.
"Makan ya Bunda suapi," ujar Anjani dengan tersenyum.
"Iya, Bun!" sahut Olivia dengan lirih.
Anjani menyuapi anaknya dengan tersenyum, Anjani senang jika Olivia sudah mau makan sekarang.
Olivia menutup mulutnya dengan tangannya saat perutnya terasa mual ketika nasi masuk ke dalam mulutnya. Olivia langsung bangkit dari kasurnya dan berlari ke kamar mandi yang membuat Anjani panik dan langsung menyusul anaknya.
Olivia memuntahkan seluruh isi perutnya yang membuat Anjani sangat khawatir. "Kamu kenapa, Sayang? Ya Allah... Kamu pucat sekali, Nak!" ujar Anjani dengan khawatir.
"Uwekkk... Hiks... hiks... S-sakit, Bun!" ujar Olivia dengan lirih.
Olivia memegang perutnya dengan kuat saat rasa sakit itu menyerangnya, kepalanya juga berdenyut sakit yang membuat pandangannya berkunang-kunang. Olivia masih bisa mendengar suara bundanya yang memanggil dirinya tetapi setelah itu badannya sangat lemas hingga teriak Anjani tak lagi Olivia dengar.
"OLIVIA BANGUN, SAYANG!" teriak Anjani dengan menangis menepuk pipi anaknya dengan pelan yang sudah tergeletak di lantai kamar mandi dengan Anjani yang menopang tubuh anaknya.
"MAS RIO!" teriak Anjani begitu keras.
__ADS_1
"MAS RIO SINI CEPAT HIKS..." teriak Anjani yang begitu sangat khawatir dengan keadaan anaknya yang sudah tidak sadarkan diri dengan wajah yang sangat begitu pucat.
Rio yang sedang membantu mamanya untuk berjalan ke dalam kamar langsung panik. "Mama sini dulu ya! Aku ke kamar Olivia dulu," ujar Rio dengan cemas.
"Iya, Nak. Mama sudah tidak apa-apa," ujar Agni dengan pelan walaupun sejujurnya ia masih sangat lemas sekali setelah pulang dari rumah sakit kemarin.
Rio langsung berlari ke kamar anaknya, mendengar suara tangisan istrinya membuat jantung Rio berdetak dengan cepat, pikirannya sudah sangat buruk tentang Olivia sekarang.
Tak melihat Anjani dan Olivia di kasur Rio langsung berjalan ke kamar mandi dan betapa terkejutnya Rio saat melihat anaknya sudah pingsan di pangkuan istrinya.
"Kenapa Olivia, Sayang?" tanya Rio dengan cemas.
"Aku tidak tahu, Mas! Tiba-tiba saat Olivia aku suapi, dia mengeluh mual dan berlari ke kamar mandi, Olivia bilang sakit, Mas. Setelah itu dia pingsan hiks... Ayo kita ke rumah sakit, Mas!" ujar Anjani dengan menangis.
Rio langsung membopong anaknya, hati Rio begitu sakit melihat wajah anaknya yang begitu sangat pucat sekali. "Ayo, Sayang!" ajak Rio dengan bibir yang gemetar karena ia merasakan tangan anaknya sangat dingin seperti tidak ada aliran darah di tubuh anaknya.
Anjani mengangguk, walaupun kakinya sudah lemas karena melihat keadaan anaknya sekarang, ia harus tetap kuat untuk anaknya.
"Olivia kenapa?" tanya Agni dengan cemas.
"Mama ikut! Mama harus ikut!" ujar Agni dengan tegas.
Anjani melihat ke arah suaminya, melihat suaminya mengangguk akhirnya Anjani menuntun mertuanya.
****
Rio dan Anjani menghela napasnya dengan berat melihat infus yang sudah di pasang di tangan anaknya. Ada rasa bahagia ketika mengetahui kini anaknya sedang mengandung, tetapi juga merasa sedih karena keadaannya sangat berbeda sekarang. Selain mengandung Olivia terkena penyakit lambung karena selama di rumah bersama mereka Olivia jarang sekali makan.
"Gimana ini Mas kita kabari Faiz sekarang atau tidak?" tanya Anjani dengan bingung.
"Sekarang saja mungkin saat mengetahui Olivia hamil Faiz mau menemui Olivia," ujar Rio dengan lirih.
"Cepat hubungi Faiz sekarang! Mama tidak tega melihat keadaan Olivia sekarang," ujar Agni dengan lirih.
Rio mengambil ponselnya dan menghubungi Faiz tetapi teleponnya sama sekali tidak mengangkat teleponnya. Berulang kali Rio menelepon Faiz tetapi sama sekali tidak di angkat oleh Faiz bahkan teleponnya di matikan begitu saja yang membuat Rio frustasi.
"Tidak di angkat, Sayang. Apa Mas telepon tuan Ferdians saja?" tanya Rio meminta persetujuan.
__ADS_1
"Iya, Mas! Telepon tuan Ferdians saja!" ujar Anjani dengan pelan.
Rio mengangguk, ia mencoba menelepon Ferdians walaupun sebenarnya Rio masih canggung dengan Ferdians.
"Halo, Tuan Ferdians. Tolong dengarkan saya dulu ya jangan di matikan teleponnya," ujar Rio dengan cepat.
[Ada apa? Saya tidak punya waktu jika kamu hanya berbasa-basi saja] ujar Ferdians dengan datar.
"Tolong katakan pada Faiz jika sekarang Olivia masuk rumah sakit. Olivia pingsan dan ternyata terkena lambung dan juga sedang mengandung anak Faiz. Tolong katakan pada Faiz, saya mohon. Anak saya benar-benar sangat tersiksa sekarang," ujar Rio dengan lirih.
Ferdians terdiam, ia sangat syok mendengar kabar ini. [Nanti saya katakan pada Faiz] ujar Ferdians dengan tegas.
"Terima kasih, Tuan!" ujar Rio dengan lega.
Telepon sudah di matikan. Rio menatap istrinya dengan sedikit lega. "Tuan Ferdians akan mengatakannya pada Faiz. Mudah-mudahan Faiz mau ke sini ya!" ujar Rio yang di angguki oleh Anjani dengan mata berkaca-kaca.
Olivia mengerjapkan matanya dengan perlahan, Olivia merasa begitu sangat pusing dengan perut seperti di aduk-aduk yang membuat Olivia sangat tersiksa.
"Uwekkk...Uwekkk..."
Anjani langsung sigap memberikan kantong kresek untuk anaknya. Anjani sampai menangis melihat keadaan anaknya sekarang. Sedangkan Rio mengurut tengkuk anaknya dengan pelan, melihat Olivia sampai mengeluarkan air matanya saat muntah membuat Rio, Anjani, dan Agni tidak tega.
Olivia sampai terlihat begitu sangat lemas sekali. Anjani memberikan air hangat untuk anaknya. "Hiks...hiks...sakit, Bun!" lirih Olivia dengan menangis dengan badan yang begitu sangat lemas.
"Sabar ya, Sayang. Kamu harus kuat karena di dalam perut kamu sekarang ada dua anak kamu yang juga butuh nutrisi," ujar Anjani yang membuat Olivia menatap Anjani dengan pandangan sendu dan bahagianya.
"Aku hamil kembar, Bun?" tanya Olivia dengan lirih.
"Iya, Sayang. Kamu hamil anak kembar. Itu kan keturunan dari suami kamu," ujar Rio dengan mencium kening anaknya dengan penuh kasih sayang.
Olivia menangis, ia mengelus perutnya dengan lembut. "Terima kasih ya kalian sudah mau hadir di perut Bunda. Bunda sangat bahagia sekali, Sayang. Kalian sudah Bunda tunggu dari lama," ujar Olivia dengan tersenyum tipis.
"Ayah pasti sangat senang mendengar kalian sudah hadir di perut Bunda!" gumam Olivia dengan sambil menangis membuat kedua orang tua dan neneknya merasakan sesak di hati mereka masing-masing.
Kapan ini berakhir? Mereka sudah tidak tega dengan keadaan Olivia sekarang. Penderitaan ini sungguh membuat mereka sangat tersiksa, andai saja Cassandra dan Clara tidak melakukan kejahatan mungkin sekarang hidup mereka akan damai tanpa ada perseteruan seperti ini.
"Kasihan sekali kamu, Nak!" gumam Rio, Anjani, dan Agni di dalam hati menatap Olivia yang sedang menangis lalu tersenyum bahagia mengelus perutnya, ketiganya tahu beban yang di pikul oleh Olivia sekarang.
__ADS_1