Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 184 (Berusaha Membujuk Frisa)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


...***...


Gavin mengikuti Frisa dengan cepat. Saat Frisa memasuki kamar hotelnya Gavin juga ikut masuk karena pintu tidak di kunci oleh Frisa. Gavin menunggu Frisa dengan sabar karena saat ini gadis itu sedang berada di kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Hufff... Kenapa aku tidak bisa melihat nona Frisa ngambek seperti ini?" gumam Gavin dengan lirih.


Gavin memijat pelipisnya, setelah ia mendengar pintu kamar mandi terbuka membuat Gavin langsung berdiri dan menghampiri Frisa yang tampak terdiam di depan pintu kamar mandi.


"Tadi saya hanya bercanda, Nona. Jangan anggap serius ucapan saya," ujar Gavin dengan pelan menatap Frisa yang tampak diam.


"Kapan seorang Gavin bisa bercanda?" tanya Frisa dengan sengit. "Kalau kamu mau nikah, nikah saja sana. Nanti saya akan menyuruh Agam, Melvin atau Cakra yang akan menggantikan posisi kamu. Kamu mau minta kado apa untuk calon istri kamu pada saya, saya akan memberikannya," ujar Frisa dengan dingin.


Gavin tidak bisa berbicara, entah mengapa ia melihat Frisa seakan sedang cemburu kepada calon istri yang entah siapa itu karena Gavin benar-benar bercanda tadi. Bolehlah Gavin berbangga diri sekarang karena Frisa mulai tidak bisa jauh dari dirinya?


"Saya hanya bercanda, Nona. Saya belum memiliki calon istri sama sekali," ucap Gavin dengan tersenyum tipis.


Frisa tampak diam, ia merutuki dirinya sendiri yang tak bisa berjauhan dari Gavin. Semua tentang dirinya sudah Gavin yang mengurus sejak dulu, walaupun ia dekat dengan kedua orang tuanya Frisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan Gavin sampai sekarang.


Frisa memegang perutnya yang terasa nyeri. Gavin tanggap, ia mengingat tanggal hari ini. "Kenapa, Nona? Anda datang bulan?" tanya Gavin dengan pelan.


Frisa mengangguk dengan pelan. Frisa berjalan membungkuk untuk menghilangkan rasa nyeri pada perutnya, walaupun sudah sering ia rasakan setiap bulannya tetapi tetap saja saat tamu bulanan itu datang membuat Frisa sama sekali tidak berdaya.


Dan Gavin yang sudah sering menghadapi situasi seperti ini tetap saja ia sangat khawatir karena jika sudah seperti ini Frisa akan terus kesakitan sampai 3 hari ke depan. Setelah melewati 3 hari tersebut barulah Frisa sudah tidak merasakan nyeri pada perutnya walaupun haidnya masih keluar.


"Tiduran saja dulu, Nona. Saya akan membelikan minuman pereda nyeri sebentar," ucap Gavin dengan lembut.


"Pembalut juga!" gumam Frisa dengan meringis.

__ADS_1


"Iya pembalut juga, Nona!" ujar Gavin dengan pelan. Gavin sudah menghilangkan urat malunya sejak ia sudah terbiasa membeli pembalut untuk Frisa setiap bulannya walaupun ia sering kali dilihat oleh orang-orang yang juga berbelanja. Bahkan Gavin sudah sangat hapal pembalut seperti apa yang Frisa pakai, tentang Frisa semuanya Gavin tahu dan sangat paham. Mungkin ini alasan mengapa juga Frisa tak mau Gavin keluar dari pekerjaannya.


Frisa meringkuk dengan memegang perutnya, Gavin mengusap kepala Frisa dengan lembut, setelah itu barulah ia keluar dari kamar Frisa.


"Mau kemana Gavin? Gimana anak saya?" tanya Rania yang menghampiri Gavin karena Rania ingin bertemu dengan Frisa.


"I-itu, Nyonya. Saya mau beli pereda nyeri dan pembalut," ucap Gavin dengan gugup sekaligus malu.


Rania terkekeh. "Sudah saya duga. Ini sudah saya beli di luar kamu tinggal berikan saja dengan Frisa ya," ujar Rania memberikan plastik berisi pembalut dan obat nyeri untuk Frisa.


"Terima kasih, Nyonya. Nyonya tidak mau masuk?" tanya Gavin.


"Saya rasa kalian butuh berbicara. Saya kembali ke sana ya. Nanti kalau keadaan Frisa belum membaik segera hubungi saya saja," ujar Rania dengan tegas.


"Baik, Nyonya. Sekali lagi terima kasih," ucap Gavin dengan tulus.


"Tak masalah itu juga untuk anak kesayangan saya. Gavin tawaran saya untuk kamu menjadi menantu saya masih berlaku, kamu boleh pikirkan itu dengan matang," ujar Rania yang membuat Gavin terdiam setelahnya ia tersenyum kepada Rania.


"Ya sudah kalau begitu saya ke sana dulu. Saya harap jawaban kamu nantinya membuat saya bahagia," ujar Rania menepuk lengan Gavin dengan pelan.


Gavin menghela napasnya dengan pelan, sebaiknya keputusan ini ia pikirkan dengan matang karena ini menyangkut dua hati. Dan Hati Frisa lah yang lebih utama. Gavin kembali masuk ke kamar Frisa, sebenarnya ia memiliki akses untuk masuk ke kamar ini dengan mudahnya tetapi tadi Gavin memilih menunggu Frisa tenang dulu. Dan sekarang Gavin merasa Frisa sudah terlihat agak tenang.


"Nona, minum dulu pereda nyerinya!" ujar Gavin dengan pelan.


Frisa berusaha bangun walaupun perutnya sangat terasa nyeri bahkan bibirnya terlihat sangat pucat sekarang. Gavin membuka tutup botol tersebut dan memberikannya kepada Frisa, gadis itu meminumnya dengan perlahan. Setelah selesai ia kembali memberikan botol itu kepada Gavin.


"Anda juga belum sarapan, Nona. Mau saya ambilkan?" tawar Gavin menyeka keringat Frisa dengan tisu.


Frisa menggelengkan kepalanya, dengan memejamkan matanya. Rasanya sangat nyeri sekali dan Frisa merasa kasur yang ia duduki basah. Frisa takut tembus di sprei putih ini. Frisa membuka matanya, ia mencoba untuk bangun dengan pelan dan ternyata benar haidnya sudah tembus.


"Kamu keluar dulu, Gavin!" ucap Frisa dengan malu.

__ADS_1


Gavin juga melihatnya dan itu membuat Frisa bertambah malu. "Tidak apa-apa biar saya yang bersihkan. Ini anda ganti pembalut dulu, Nona!" ujar Gavin dengan sabar.


"Tidak mau! Biar saya saja, kamu keluar sana!" ujar Frisa sedikit kesal karena tak mungkin ia membiarkan Gavin membersihkan darahnya.


"Keadaan Nona masih seperti ini. Biarkan saya saja yang membersihkannya. Anda ganti pembalut dulu ke dalam kamar mandi, biar nyaman!" ucap Gavin dengan tegas. "Kali ini tolong jangan membantah ucapan saya, Nona!" ucap Gavin dengan tegas.


Akhirnya setelah Gavin berhasil membujuk Frisa, gadis itu mau juga walaupun Frisa terlihat sangat malu dengan Gavin.


"Ini ganti pakaian Nona juga," ujar Gavin dengan sabar. Bukankah Gavin terlihat sebagai seorang suami yang sangat pengertian sekali?


Frisa mengangguk, ia masuk ke dalam kamar mandi dengan perasaan yang tak menentu. Sedangkan Gavin dengan tanpa rasa jijik membersihkan darah Frisa, setelah itu ia membuka sprei tersebut dan menggantikan sprei yang baru, Gavin memintanya dengan karyawan hotel dan langsung di antar oleh karyawan hotel tersebut.


Setelah beres Gavin kembali duduk di sofa menunggu Frisa yang tak kunjung keluar. "Nona, anda baik-baik saja? Kenapa lama sekali?" tanya Gavin dengan cemas.


"Sebentar!"ujar Frisa dengan lirih.


Frisa keluar dari kamar mandi dengan sangat lemas. Ia berjalan ke arah Gavin namun belum sampai Frisa hampir saja limbung menimpa tubuh Gavin. Wajah keduanya sangat dekat sekali hingga Gavin dan Frisa menahan napas.


Frisa yang sadar langsung berusaha bangun. Gavin juga membenarkan letak tubuhnya karena ia juga merasa gugup, Gavin juga teringat dengan ucapan Rania tadi. Entahlah akhir-akhir ini Gavin juga merasa dirinya berbeda ketika dekat dengan Frisa.


"Gavin!" panggil Frisa dengan lirih.


"Iya, Nona!" sahut Gavin dengan lembut.


Frisa duduk di samping Gavin dan merebahkan kepalanya dii paha Gavin. Frisa tidak ingin apapun selain tidur saat ini, karena perutnya masih sangat terasa nyeri. Dengan perlahan Gavin mengusap perut Frisa untuk menghilangkan nyeri tersebut.


"Nona, tentang ucapan saya tadi. Saya hanya bercanda. Maafkan saya ya, Nona!" gumam Gavin dengan pelan.


Frisa mengangguk dengan perlahan. Usahanya membujuk Frisa ternyata tidak sia-sia, mungkin karena mood Frisa gampang sekali berubah ketika datang bulan.


Usapan tangan Gavin di perutnya membuat Frisa sedikit tenang dan akhirnya memejamkan matanya. Gavin tersenyum melihat Frisa yang tertidur di pahanya, ia berusaha mendekat ke arah wajah Frisa dan akhirnya satu kecupan mendarat di kening Frisa dengan lembut. Jika seperti ini Gavin juga tidak akan mau di gantikan dengan siapa pun termasuk dengan ketiga sahabatnya, ia terus akan membuat Frisa bergantung dengan dirinya. Dan mungkin setelah itu ia bisa menikahi Frisa karena dirinya sudah mengantongi restu dari keluarga besar Frisa.

__ADS_1


__ADS_2