Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 72 (Memalukan)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


***


"Pernikahan kamu dengan Anjani dilaksanakan besok sebelum ulang tahun Danuarta Grup! Pernikahan insiden ini harus ditutupi dari awak media jika tidak kita semua akan menanggung malu atas perbuatan kamu, Rio!" ujar Ben dengan dingin.


Wajah Rio sudah babak belur karena Doni dan Ben menghajarnya. Rania sangat puas melihat wajah Rio yang sekarang, yang membuat Agni dan Clara tidak terima. Keduanya semakin membenci Rania bahkan kebencian itu semakin menggunung. Agni ingin sekali membunuh Rania saat ini tetapi semua keinginan itu ia tahan karena tak mungkin ia mencelakai Rania di tempat ini.


"Brengsek! Awas saja kamu Rania! Kamu sudah mempermalukan diri saya di hadapan Ben dan juga Doni," umpat Agni di dalam hati.


Agni merasa kasihan dengan anak sulungnya tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Ia hanya bisa pasrah dan menerima perlakukan Ben dan juga Doni terhadap Rio, kemarahannya semakin menjadi saat Rio meringis kesakitan saat Doni memukul pinggang anaknya dengan tongkat yang selalu di pegang oleh Ben.


"Kalau begitu saya permisi dulu! Saya tunggu pertanggungjawaban Rio terhadap Anjani," ujar Rania berdiri dari duduknya dengan tatapan angkuhnya.


Ia menyeringai menatap Agni dan juga Clara, lalu ia mengajak Ferdians dan Sastra keluar dari rumah utama.


"Kami permisi," ujar Ferdians mewakili istrinya.


Sedangkan Roby menatap takjub pada kakak iparnya yang sangat berani. "Ternyata Rania tidak selemah yang aku kira. Rania lebih terlihat keren sekarang," ujar Roby di dalam hati.


***


Rania terlihat tersenyum saat sudah keluar dari rumah utama milik papanya. Ferdians menatap istrinya yang terlihat sangat bahagia.


"Kenapa kamu terlihat sangat senang sekali, Sayang?" tanya Ferdians dengan terkekeh.


"Kamu sudah tahu jawabannya, Mas!" jawab Rania yang membuat Ferdians tertawa kecil mengusap rambut istrinya dengan lembut.


"Mas cukup senang jika Rio menikah dengan Anjani karena itu artinya Rio tidak akan pernah mendekati kamu lagi," ujar Ferdians mengungkapkan isi hatinya saat ini.


Rania menatap manik mata Ferdians dengan dalam. Ternyata Ferdians memang sangat cemburu dengan Rio karena masa lalu mereka.


"Saya tidak mungkin kembali pada pria pengecut itu," ujar Rania yang membuat Ferdians tersenyum senang.


Ferdians menggenggam tangan istrinya. Keduanya masuk ke dalam mobil bersama meninggalkan Sastra yang terlihat tertekan dengan kebucinan keduanya, Sastra semakin merindukan Citra. Sastra harus mencari tahu di mana rumah Citra mulai sekarang. Hubungan keduanya harus di perbaiki dengan cepat sebelum Alex merebut Citra dari dirinya.


"Apa susahnya nona Rania mengatakan perasaannya kepada tuan Ferdians?" gumam Sastra dengan pelan.

__ADS_1


Sastra juga mulai masuk ke dalam mobilnya, mengikuti mobil Ferdians yang ada di hadapannya, sebelum ia bergegas mencari rumah Citra.


***


Plak....


Anjani memegang pipinya yang di tampar oleh mamanya sendiri, matanya berkaca-kaca menatap penuh luka ke arah mamanya.


"Ma..."


"Kurang ajar kamu! Kenapa kamu bisa hamil sekarang?" ujar mama Anjani dengan tajam.


Air mata Anjani tidak kembali jatuh di hadapan mamanya, ia sudah terbiasa dengan perlakuan kasar mamanya terhadap dirinya.


"Apa peduli Mama?" tanya Anjani mulai berani.


"Berani kamu melawan Mama?" tanya Ria, mama Anjani.


"Anjani capek, Ma! Kenapa Mama seperti ini kepada Anjani? Anjani sebenarnya anak kandung mama atau bukan sih?" tanya Anjani dengan tajam.


"Ini semua gara-gara, Mama. Coba pekerjaan Mama itu halal. Pekerjaan Mama itu sangat memalukan hingga karma datang pada Anjani," ujar Anjani dengan berteriak.


Plak....


Plak....


Anjani hanya menatap mamanya dengan perasaan yang tak bisa ia jabarkan, seseorang yang seharusnya bisa menenangkan hatinya ternyata malah membuat perasaannya semakin terluka. Wanita yang ia anggap sebagai pelipur laranya ternyata adalah seseorang yang terus memberikan luka kepada dirinya.


"Rio Danuarta," gumam Anjani yang membuat Ria terdiam dan akhirnya tersenyum senang.


"Rio Danuarta? Kenapa kamu tidak mengatakannya dari tadi. Benar-benar keberuntungan yang tak terduga, pokoknya kamu harus menikah dengannya, kita bisa kaya setelah ini karena kamu menikah dengan anak tiri dari Ben Danuarta yang terkenal dengan kekayaannya. Ini sangat luar biasa, Anjani!" ujar Ria dengan tersenyum senang yang membuat Anjani menatap datar mamanya ternyata hanya uang yang ada di kepala mamanya sampai saat ini, bahkan dengan rela menukarkan kebahagiannya demi uang agar mamanya bisa bersenang-senang.


"Kita pulang sekarang! Kita harus menemui keluarga Danuarta," ujar Ria dengan tersenyum.


"Tidak perlu, Ma. Sebentar lagi aku dan tuan Rio akan segera menikah," ujar Anjani dengan datar tanpa melihat ke arah mamanya.


"Benarkah? Kapan kalian akan menikah?" tanya Ria dengan mata yang berbinar.


"Secepatnya!" jawab Anjani dengan datar yang semakin membuat Ria senang.

__ADS_1


"Ayo kita pulang sekarang kamu tidak boleh berlama-lama di rumah sakit," ujar Ria yang membuat Anjani menghela napasnya dengan pelan.


Seandainya ia bisa memilih maka Anjani akan lebih memilih mati bersama dengan anaknya.


***


Agni menatap kesal ke arah Rio setelah semua orang bubar. Kali ini ia dan Clara berada di kamar Rio.


"Kenapa kamu bisa seceroboh ini, Rio? Kamu mikir tidak sih?" ujar Agni dengan kesal.


"Apa yang Kakak lakukan bisa membahayakan posisi kita sekarang, Kak. Clara sudah senang berada di sini dan Clara tidak mau menjadi glandangan," ujar Clara yang membuat Rio semakin tertekan.


"Kalian pikir aku mau seperti ini? Aku juga tidak mau, Ma, Clara. Aku sudah mengancam Anjani untuk tidak membocorkan siapa lelaki yang telah menghamilinya tetapi tiba-tiba saja Rania dan yang lainnya datang hingga mereka mengetahui semuanya. Pernikahan ini akan tetap terjadi tapi jangan harap aku mengakui Anjani dan anak itu," ujar Rio dengan tangan terkepal dengan erat.


"Apa Mama bilang. Rania tidak pantas untuk kamu, tapi kamu tetap ngeyel. Sekarang sudah tahu kan jika Rania sudah melupakan kamu? Sekarang fokus saja dengan rencana Mama untuk mengusai harta Danuarta dan menyingkirkan Rania juga Ben dan Doni," ujar Agni mengompori Rio.


"Kamu bisa menceraikan Anjani setelahnya dan mencari wanita yang memang sebanding dengan kamu," ujar Agni.


"Benar kata Mama, Kak. Kita bisa bekerja sama dengan baik sekarang. Kakak harus menuruti perintah Mama," ujar Clara dengan serius.


Rio mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menatap mama dan adiknya dengan bergantian.


"Kalian bisa keluar dulu?! Aku ingin beristirahat," ujar Rio merasa lelah dengan semua yang telah terjadi di kehidupannya.


Tentang mamanya yang menikah dengan papanya Rania. Tentang hubungannya dengan Rania yang kandas dan tentang hari ini di mana ia akan menikah dengan wanita yang sama sekali tidak ia cintai membuat kepalanya seakan ingin pecah.


"Rio..."


"Ma, keluar!" ujar Rio dengan tegas.


"Oke... Tapi kamu pikirkan semuanya dengan baik. Kamu tidak mau kan jatuh miskin? Jadi, kamu harus bekerjasama dengan mama dan Clara untuk menyingkirkan Rania," ujar Agni dengan serius.


Setelah berkata seperti itu kepada anaknya Agni mengajak Clara keluar dari kamar Rio setelah mereka mengobati Rio dan membicarakan hal penting bagi mereka yaitu menyingkirkan Rania, Ben, dan juga Doni dengan segera.


"Arghhh..." Rio mengacak rambutnya dengan kasar.


Rio sangat frustasi sekarang. "Kenapa aku harus menikah dengan Anjani?" teriak Rio dengan begitu marah.


Rio berjalan ke arah lemari kaca miliknya, ia meninju lemari itu hingga pecah bahkan darah mengalir dari tangannya tetapi tak membuat Rio kesakitan. Ia perlu melampiaskan emosinya untuk mengurangi rasa kesalnya sekarang tak peduli tangannya berdarah karena terkena kaca dan tak peduli kamarnya yang sudah berantakan karena ulahnya sendiri.

__ADS_1


"KENAPA RANIA? KENAPA KAMU MEMILIH FERDIANS? KENAPA KAMU SEPERTI INI KEPADAKU? KENAPA KAMU MENYURUHKU UNTUK MENIKAH DENGAN ANJANI? AKU HANYA MENCINTAI KAMU, RANIA! AGGRHHH..."


__ADS_2