Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 68 (Anjani Pingsan)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


****


"Kenapa kepalaku sakit sekali?" gumam Anjani dengan lirih.


Anjani menggelengkan kepalanya yang terasa semakin sakit, ia menahannya agar meeting dengan Alexander Grup berjalan dengan lancar.


"Ayolah Anjani jangan lambat!" ujar Sastra dengan tegas dan sedikit kesal kepada Anjani.


"Iya, Tuan!" sahut Anjani dengan lirih.


Anjani menghela napasnya dengan perlahan, ia berjalan dengan tegas dan mengabaikan rasa sakit pada kepalanya.


Anjani dan Sastra sudah sampai di ruangan Rania, keduanya langsung mendapatkan tatapan tajam dari Rania.


"Bagaimana? Kamu bisa menemukannya?" tanya Rania dengan dingin.


"Ini, Bu. Sekali lagi maafkan keteledoran saya, Bu!" ucap Anjani dengan lirih.


Rania tidak menjawab, wanita hamil itu mengambil berkas dari tangan Anjani. "Oke kita bahas sekarang!" ujar Rania dengan tegas yang di angguki oleh Alex dan Citra.


Anjani dan Sastra duduk di samping Rania, mereka sudah terlihat sangat serius sekali. Anjani mencoba fokus tetapi rasa sakit di kepalanya semakin terasa yang membuat Anjani tidak bisa fokus sama sekali.


"Bertahan sebentar lagi, please!" gumam Anjani di dalam hati.


Rania melihat ke arah Anjani, ia terlihat memendam kekesalannya kelada Anjani yang sama sekali tidak fokus. Lihat saja apa yang ia akan lakukan pada Anjani setelah meeting selesai nanti.


"Baiklah saya sangat suka dengan persentasi nona Rania kali ini. Kerjasama kita pasti akan berhasil dan mendapatkan keuntungan yang besar," ujar Alex menjabat tangan Rania, Sastra, dan juga Anjani.


Alex mengerutkan kedua alisnya saat Sastra menggenggam tangannya dengan erat. Dari sorot mata Sastra terlihat sangat cemburu. Apakah Sastra cemburu dengan kedekatan dirinya dan juga Citra? Apakah Sastra menyukai Citra? Ini tidak bisa dibiarkan, Sastra tidak boleh mengambil miliknya seperti yang sudah-sudah. Alex membalas genggaman tangan Sastra tak kalah eratnya, sorot mata keduanya terlihat penuh dendam.


Citra menatap Alex dan Sastra bergantian. Kenapa sampai sekarang Alex dan Sastra terlihat seperti musuh bebuyutan? Ahh... Sudahlah Citra tak ingin mencampuri urusan keduanya,


"Terima kasih!" ujar Rania dengan wajah yang begitu datar karena sebenarnya ia tidak suka dengan Alex tetapi demi kerjasama ini Rania harus tetap profesional.


"Baiklah kalau begitu saya dan Citra kembali ke kantor dulu," ujar Alex dengan tegas.


"Dan saya harap tidak ada kejadian seperti tadi lagi," ujar Alex yang di angguki oleh Rania.


"Saya pastikan ini yang terakhir Pak Alex," ujar Rania dengan tegas.


"Oke saya pegang ucapan anda, Nona!" ucap Alex dengan tegas.


"Ayo, Cit!" ujar Alex menggenggam tangan Citra yang membuat wanita itu tersentak.

__ADS_1


Sastra mengepalkan kedua tangannya saat Alex menggenggam tangan Citra begitu mesra. Apakah mereka sudah menjalin hubungan? Tidak! Sastra tidak bisa melihat Citra menjadi milik pria lain, apapun caranya Sastra harus menjadikan Citra miliknya kembali.


"Permisi!" ujar Citra dengan tersenyum tipis.


Setelah kepergian Alex dan juga Citra, Rania mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menatap Anjani dengan tajam.


"Dua kali kamu sudah membuat kesalahan, Anjani! Kamu lebih memilih mengundurkan diri atau saya pecat sekarang? Saya tidak mungkin mempertahankan kamu lagi! Bisa-bisa perusahaan ini bangkrut gara-gara kamu," ujar Rania dengan dingin.


"Bu, maafkan saya! Saya masih membutuhkan pekerjaan ini, Bu!" ucap Anjani dengan memohon.


"Apa yang harus saya pertahankan dari kamu Anjani? Saya sudah benar-benar kecewa dengan kamu! Silahkan angkat kaki dari perusahaan ini sekarang juga!" ujar Rania dengan dingin.


Anjani berlutut di kaki Rania. "Bu, saya mohon jangan pecat saya, Bu! Saya masih sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk memenuhi kebutuhan saya dan mama saya, Bu!" ujar Anjani dengan memohon.


Rania memijat pelipisnya dengan perlahan. "Kemasi barang-barang kamu Anjani sebelum saya semakin marah kepada kamu," ujar Rania dengan dingin.


"Sastra urus Anjani!" ujar Rania dengan tegas.


"Baik, Nona!" ujar Sastra dengan tegas.


Sebenarnya Sastra iba dengan Anjani tetapi ketika Rania sudah mengambil keputusan maka tidak bisa di ganggu gugat oleh siapa pun, keputusannya tidak bisa di ubah kecuali Rania sendiri yang mau mengubahnya.


"Bu..."


"Keluar dari ruangan saya!" ujar Rania dengan tegas.


Air mata Anjani sudah mengalir di kedua pipinya. Bagaimana ia akan melanjutkan hidup setelah ini jika Rania memecatnya?


"KELUAR!" teriak Rania dengan keras.


Anjani terisak dengan pedih, ia mencoba bangun tetapi rasa sakit kepalanya semakin menjadi. Anjani memegang kepalanya hingga matanya berkunang-kunang,penglihatannya menjadi buram dan pada akhirnya tubuhnya limbung.


Brukkk...


"Anjani!" panggil Sastra dengan syoksyok saat melihat Anjani pingsan di hadapannya dan Sastra tidak sempat menolongnya.


Rania terlihat mematung. "Bawa Anjani ke rumah sakit sekarang!" ujar Rania dengan tegas.


"Iya, Nona!" ujar Sastra yang langsung membopong Anjani dan berjalan ke luar ruangan diikuti oleh Rania yang juga merasa lelah.


***


Ferdians terburu-buru keluar dari kantor setelah mendapatkan kabar jika Rania berada di rumah sakit. Padahal Rania ingin mengatakan jika dirinya sedang membawa Anjani yang pingsan ke rumah sakit tetapi Ferdians langsung memutuskan sambungan teleponnya karena lelaki itu terlalu kalit bahkan Ben dan juga Rio juga ikut panik karena mendengar kabar jika Rania berada di rumah sakit.


"Ap yang terjadi? Kenapa Rania bisa di rumah sakit?" tanya Ben dengan khawatir.


"Saya tidak tahu, Pa. Saya sudah terlalu panik sekarang," ujar Ferdians dengan jantung yang memompa lebih kencang.

__ADS_1


"Semoga saja tidak terjadi sesuatu dengan Rania dan kandungannya," ujar Ben dengan cemas.


"Aamiin!" ucap Ferdians dengan penuh harap.


"Aku menginginkan Rania baik-baik saja tetapi tidak dengan bayinya. Semoga saja Rania keguguran," gumam Rio di dalam hati.


Ferdians langsung masuk ke dalam mobilnya sendirian. Ketiga orang yang mengkhawatirkan Rania itu membawa mobil mereka masing-masing. Bahkan sangking kalutnya Ferdians tidak hati-hati dalam msngendari mobilnya, hampir saja ia menabrak orang yang sedang mengendarai sepeda motor.


"Sayang, sebentar lagi Mas sampai ya!" ujar Ferdians dengan cemas.


Ferdians mengacak rambutnya dengan frustasi karena perjalanan ke rumah sakit kali ini menurutnya sangat lama sekali.


"Ya Tuhan selamatkan istri dan kedua anak hamba," ujar Ferdians berdo'a.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama akhirnya mobil Ferdians, Ben dan juga Rio sampai di rumah sakit yang sudah diberitahukan oleh Rania. Ketiga lelaki tersebut berjalan dengan cepat karena ingin segera mengetahui kondisi Rania.


"Sayang!" panggil Ferdians dengan sedikit keras.


Ferdians berlari menghampiri istrinya dan langsung memeluk Rania dengan erat. "Kamu kenapa? Ada yang sakit?" tanya Ferdians dengan begitu cemas.


"Mas kenapa lari-lari?" tanya Rania dengan bingung.


"Mas mengkhawatirkan kamu, Sayang!" jawab Ferdians mengecup puncak kepala Rania dengan sayang.


"Apa yang terjadi?" tanya Ben dengan khawatir.


"Tunggu-tunggu kalian salah paham Bukan aku yang sakit tapi Anjani! Anjani pingsan dan sekarang masih di tangani oleh dokter di dalam," ujar Rania karena ia merasa aneh dengan suami, papa, dan saudara tirinya yang terlihat begitu khawatir dengan dirinya.


Ketiganya tampak begitu lega dengan penjelasan Rania tetapi tidak dengan Rio yang mematung di tempatnya. Anjani pingsan? Jangat sampai Anjani... Tidak! Itu tidak mungkin terjadi karena mereka hanya melakukannya satu kali.


Dokter keluar dari ruangan IGD setelah selesai memeriksa Anjani. "Suami ibu Anjani?!"


Semua orang tampat bingung dengan perkataan dokter. "Anjani belum menikah, Dok!" ucap Rania dengan tegas.


Dokter tersebut tampak terkejut tetapi ia mencoba biasa saja. "Kalau begitu keluarganya ada?" tanya Dokter tersebut.


"Keluarganya belum datang, Dok. Saya atasannya bisa berbicara dengan saya saja?" tanya Rania dengan tegas.


"Baiklah kalau begitu. Kita bicara di sini saja. Begini, Bu. Setelah saya memeriksa ibu Anjani, beliau baik-baik saja hanya saja dari hasil pemeriksaan yang saya lakukan, ibu Anjani..."


"Anjani kenapa, Dok?" tanya Rania dengan tak sabaran.


Sedangkan Rio terlihat pucat di tempatnya. Jantungnya bekerja dengan cepat karena rasa takut yang ia rasakan saat ini. Ia begitu takut jika Anjani hamil.


"Ibu Anjani sedang hamil muda, Bu!"


"A-APA?"

__ADS_1


Bagaikan ke sambar petir tubuh Rio menjadi lemas tidak berdaya.


"T-tidak mungkin!"


__ADS_2