Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 54 (Perhatian)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


****


Rania, Ferdians, dan Liam sudah sampai di rumah. Terlihat sekali Rania khawatir dengan keadaan Ferdians.


"Sudah saya tidak apa-apa, Liam. Kamu kembali bekerja saja," ujar Ferdians saat Liam mau membantunya berjalan.


Liam melihat ke arah Rania untuk melihat bagaimana reaksi Rania. Anggukkan dari Rania membuat Liam mengerti.


"Saya permisi, Nona, Tuan!" ujar Liam.


"Iya!" jawab Rania dan Ferdians secara bersamaan.


"Kamu yakin kamu baik-baik saja?" tanya Rania dengan cemas.


"Iya, Sayang. Aku baik-baik saja," sahut Ferdians dengan tersenyum.


Ada rasa senang saat Rania mengkhawatirkan keadaan dirinya. Bahagia sekali rasanya melihat Rania perhatian sekali seperti ini dengannya. Ferdians menggenggam tangan Rania dengan erat.


"Setelah istirahat keadaanku akan membaik, Sayang!" ujar Ferdians yang di angguki oleh Rania.


Rania menatap Ferdians saat mereka berjalan ke arah kamar. Sepertinya ada yang terjadi dengan Ferdians sewaktu jam istirahat tadi. Biasanya Ferdians akan berkata jujur dengannya tetapi ini mengapa Ferdians seakan menyembunyikan sesuatu dirinya.


Rania membuka pintu kamar mereka dengan perlahan. Rania membantu Ferdians untuk beristirahat di kasur dengan nyaman.


"Apa yang terjadi? Kata sekretaris kamu tadi, kamu pergi waktu jam makan siang dan kembali dengan ekspresi wajah yang sudah kacau," ujar Rania dengan tajam.


Ferdians yang sudah memejamkan mata kembali membuka matanya dengan perlahan, melihat wajah istrinya membuat Ferdians tak kuasa untuk membohongi istrinya.


"Aku pulang ke rumah, Sayang. Aku menanyakan soal kemiripan aku dengan orang bernama Eric itu kepada ibu," jawab Ferdians dengan lirih.


Deg....


Jantung Rania berdetak dengan sangat cepat mendengar ucapan Ferdians. "T-terus apa kata Ibu?" tanya Rania dengan terbata.


"Ibu tidak mengenal orang itu, Sayang. Tapi aku merasa ada yang di tutupi dari ibu," ujar Ferdians dengan pelan.


Ferdians memperbaiki posisi tidurnya. "Sayang, aku ingin bertanya sesuatu. Apakah benar orang yang bernama Eric itu adalah orang yang membunuh mama?" tanya Ferdians dengan hati-hati.

__ADS_1


"Ya dia adalah orang yang membunuh Mama! Dia dalang dari pembunuhan berencana tersebut," ujar Rania dengan sangat dingin dan kedua tangannya terkepal dengan sangat erat.


"Kamu sudah mendapatkan bukti jika dia adalah pembunuh mama?" tanya Ferdians dengan penasaran.


"Semua bukti sudah mengarah ke dia," jawab Rania dengan datar.


"Kenapa bertanya seperti itu? Kamu meragukan jika dia adalah pembunuh mama?" tanya Rania dengan tajam.


"Bukan begitu, Sayang. Aku sudah membaca tentang Eric dan dia bersahabat dengan papa tapi kenapa mereka bisa bermusuhan?" tanya Ferdians dengan bingung.


"Ceritanya panjang!" ujar Rania dengan menghela napasnya dengan pelan.


"Kalau kamu tidak mau cerita tidak apa-apa," ucap Ferdians dengan lirih.


"Kamu istirahat dulu! Setelah kamu sembuh saya akan cerita semuanya," ujar Rania.


Ferdians tersenyum melihat perhatian Rania saat ini. Dan entah mengapa Rania juga ingin menceritakan semuanya kepada Ferdians setelah sekian lama semuanya sudah terlupakan atau sengaja di lupakan.


Tokk...tokk...


"Masuk!" perintah Rania dengan tegas.


"Ini obatnya, Nona!" ujar pelayan dengan pelan.


"Letakkan di meja dan segera kembali ke dapur!" perintah Rania yang di angguki oleh pelayan dengan patuh.


"Permisi, Nona, Tuan!" ujar pelayan dengan sopan.


"Hmmm..."


Setelah pelayan pergi Rania mengambil nampan yang berisi bubur dan obat untuk Ferdians. "Makan dulu baru minum obat," ujar Rania dengan perhatian yang membuat Ferdians tersenyum.


"Terima kasih, istriku!" gumam Ferdians dengan tersenyum.


"Boleh suapi tidak? Aku lemas banget, Sayang!" ujar Ferdians dengan memelas yang membuat Rania menatap tajam ke arah Ferdians.


"Modus!" ucap Rania dengan ketus tetapi hanya di tanggapi senyuman oleh Ferdians.


Walaupun begitu Rania tetap menyuapi Ferdians dengan perlahan hingga bubur yang ada di mangkuk habis. Setelah selesai makan Rania langsung memberikan obat kepada Ferdians dan lelaki itu meminumnya dengan perlahan.


Ferdians membawa Rania ke dalam pelukannya, ia tersenyum saat merasakan perut Rania semakin hari semakin membesar. Tetapi Ferdians harus menjaga istrinya dengan ketat agar tidak ada orang yang mencelakai istrinya kembali. Jika waktu itu Sastra tidak menyelamatkan istrinya mungkin mereka sudah kehilangan kedua janin di dalam kandungan Rania.

__ADS_1


"Mereka sudah sebesar apa ya?" tanya Ferdians dengan mengusap perut Rania.


"Tidak tahu!" jawab Rania yang ikut mengelus perutnya sendiri.


"Jadwal USG dua hari lagi kan, Sayang? Jadi tidak sabar melihat perkembangan keduanya," ujar Ferdians dengan tersenyum.


"Hmmm..."


Rania membalikkan tubuhnya menjadi menghadap Ferdians. Rania merasakan kepala Ferdians tak sepanas tadi yang membuatnya sedikit lega. Pasti karena memikirkan kemiripannya dengan Eric membuat Ferdians jadi seperti ini.


"Jangan sampai kamu dan pembunuh itu memiliki hubungan!" ujar Rania dengan tiba-tiba yang membuat Ferdians tersenyum.


"Tidak akan, Sayang! Karena ibu juga tidak mengenalnya," ujar Ferdians dengan ragu.


"Jika iya maka saya juga akan membenci kamu!" ujar Rania dengan datar yang membuat Ferdians menghela napasnya, ia jadi kepikiran sekarang. Bagaimana jika iya dia memiliki hubungan dengan Eric? Tidak hanya Rania yang akan membencinya tetapi semua keluarga Danuarta. Tapi rasanya tidak mungkin! Ia dan juga Eric tidak memiliki hubungan apapun! Ferdians yakin itu!


****


Rio memasuki club malam dengan perasaan yang sangat kacau, hidup di keluarga yang menurutnya sangat berantakan membuat Rio semakin tertekan, ia butuh hiburan yang bisa membuat perasaannya tenang. Apalagi hubungannya dengan Rania semakin terasa sangat jauh, Rania sudah menjadi milik Ferdians dan itu semakin membuat Rio benci dengan keadaan yang seakan mempermainkan dirinya.


Padahal dulu dirinya dan Rania sangat dekat sekali tetapi karena mamanya membuat mereka semakin jauh, Rania ikut membenci dirinya.


Rio memesan minuman keras untuk menghilangkan rasa suntuknya malam ini. Malam ini ia tidak akan pulang ke rumah agar papa dan kakeknya tidak tahu jika dirinya sedang mabuk nanti, karena itu sangat bahaya baginya, hidup di tengah-tengah keluarga Danuarta dirinya harus di tuntut sempurna padahal mereka tidak tahu bagaimana tertekannya seorang Rio.


Rio sudah dua gelas meminum minuman kerasnya, rasa terbakar pada tenggorokannya membuat Rio tidak jerah, ia ingin meminumnya lagi.


"Ma, ayo kita pulang. Kenapa Mama membawaku ke tempat ini?"


Samar-samar Rio mendengar suara wanita yang meminta kepada mamanya untuk segera pulang. Keadaan Rio sudah setengah sadar, ia sudah mulai mabuk tetapi Rio masih bisa mendengar perdebatan antara ibu dan anak itu.


"Ma, aku sudah memberikan Mama uang. Aku sudah bekerja juga, Ma!" ujar gadis itu dengan memohon.


"Hutang yang di tinggalkan ayah kamu cukup banyak! Kamu harus membayarnya kepada seseorang yang telah menyewa kamu malam ini," ujar ibu dari gadis tersebut tanpa belas kasih.


Rio terkekeh. Tenyata tidak hanya mamanya yang mengorbankan kebahagiaan dirinya demi sebuah uang yang sangat berharga bagi mamanya, di luar sana dan termasuk di dalam ini juga ada seorang ibu yang rela menjual anaknya demi mendapat uang.


"Ternyata seorang ibu tidak selamanya memiliki rasa sayang untuk anaknya," gumam Rio dengan terkekeh.


Keadaan Rio sudah mulai mabuk berat. Kepalanya benar-benar pusing tetapi matanya tetap mengawasi gadis yang tengah membujuk mamanya agar mereka pulang, gadis itu terlihat tidak nyaman berada di tempat ini.


"Hahaha.... Ternyata dunia sekejam itu," ujar Rio yang mulai meracau tidak jelas dengan keadaan yang sudah mabuk berat. Mungkin jika Rio perempuan Rio sudah melakukan aksi bunuh diri karena tidak sanggup hidup dunia ini di bawah tekanan mamanya. Dia lelaki tetapi dia tidak bisa melakukan apa-apa jika mamanya sudah mengancam dirinya. Rio terlalu lemah bukan?

__ADS_1


__ADS_2