
Untuk beberapa saat Maharani membiarkan sang putra memeluknya erat, ia tahu hati Joy saat ini sedang rapuh, sebagai seorang ibu, ia hanya bisa memberikan pelukan tulus dan do'a yang selalu ia panjatkan dalam hati untuk kebahagiaan putra satu-satunya itu.
"Aku mau tidur mom" Andra mengurai pelukannya lalu melangkah menuju kamar.
"Joy, kalau kau membutuhkan bahu mommy untukmu bersandar, mommy selalu ada untukmu nak" ucap Maharani lembut.
"Terima kasih mom."
"Dari mana kau baru pulang nak?" tanya Maharani saat Andra hendak ke kamarnya.
"Dari rumah sakit mom, Zara kecelakaan."
"Ya ampun, lalu bagaimana keadaannya sekarang?kenapa kau tak bilang pada mommy?."
Tanya Maharani dengan wajah cemas.
"Tidak mom, dia sudah sadar, tinggal menunggu masa pemulihan."
"Ah syukurlah, kalau begitu besok kau antar mommy jenguk dia."
Mata Andra berbinar terang, ia kini mempunyai alasan kuat untuk datang menjenguk Zara, namun ia sedikit bingung, bagaimana jika Fitri datang ke mansion, pikirnya.
Ah masa bodo dengan Fitri, toh ia akan bilang kalau Mommy pergi ke rumah sakit.
"Baik Mom, besok kita jenguk Zara."
Pagi menjelang, Andra bangun tanpa bantuan alarm dari ponsel maupun panggilan Mommy Maharani.
Bergegas ia ke kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu mengganti baju dengan se bagus mungkin, ia ingin terlihat menawan di depan Zara.
Maharani sudah duduk manis di ruang makan, majalah bisnis dan mode ada di depannya.
"Bi, tolong siapain sarapan, sop ayam, sama buah-buahan, aku mau ke rumah sakit, jenguk calon mantu."
Bibi mengerutkan alisnya.
"Memangnya Non Zara kenapa Nyonya?"
"Dia kecelakaan Bi, sekarang di rawat di rumah sakit, tapi untunglah kata Andra sakitnya tidak terlalu parah."
"Oh syukurlah, baik Nyonya, saya akan segera menyiapkan yang Nyonya minta."
Bibi pun bergegas ke dapur untuk mentiapkan makanan yang Nyonya mereka minta.
Ceklek.
Andra keluar dari kamar lalu menuju ke ruang makan.
__ADS_1
"Makan dulu nak, baru kita berangkat."
"Nggak usah Mom, nanti saja beli di jalan" Andra sungguh tak sabar ingin segera bertemu Zara.
"Sabar dulu sebentar, mommy sudah pesan pada Bibi untuk buatin sop untuk Zara, dan buah-buahan, sambil menunggu Bibi menyiapkannya, kamu juga harus isi perut kamu dulu biar tidak masuk angin" terang Maharani sabar.
Wanita paruh baya itu juga merasakan bagaimana bersemangatnya Joy karena hendak bertemu sang pujaan hati.
sementar di mansion lain, Revan duduk menikmati sarapan bersama sang ibu, keduanya masih membisu, Revan belum berani menyapa Ibunya, ia tak ingin mengusik kegundahan sang ibu.
Meski sebagai seorang putra satu-satunya ia sebenarnya ingin ibunya selalu berbagi cerita apaun itu dengannya, namun ia tak bisa memaksakan jika ternyata sang ibu merasa belum nyaman berbagi kisah dengannya.
"Bu, aku berangkat dulu" pamit Revan lalu mencium punggung tangan Reni.
"Van.." panggil Reni dengan suara tertahan.
"Ada apa Bu?"
"Maafkan ibu nak, atas semua kesalahan ibu di masa lalu, maafkanlah ibu" kalimat Reni lirih penuh penyesalan.
Revan tertegun di tempatnya, ia masih bingung dengan apa yang Reni katakan.
Kesalahan apa yang telah membuat ibunya begitu bersedih, batin Revan.
"Ah b berangkatlah, kita bicarakan nanti setelah kau pulang dari kantor."
"Baik Bu, aku akan langsung pulang, Ibu istirahat lah."
Meski hatinya masih mengganjal namun Revan akhirnya berangkat, ia ingin segera ke Rumah Sakit untuk menjenguk Zara.
Sepeninggal Revan, Reni menghubungi anak buah kepercayaannya, beberapa panggilan tak terjawab membuat Reni gusar.
Dan informasi yang di sampaikan anak buahnya membuat wajahnya berubah pucat.
Rupanya Zara putri Gunawan mengalami kecelakaan, dan tak mungkin Revan tak mengetahuinya, apa mungkin ia sengaja merahasiakan hal itu darinya, pikir Reni dalam hati.
Namun ia bisa bernafas lega karena Zara tak mengalami luka serius.
Reni lalu bergegas untuk membersihkan diri ia berniat untuk berangkat menuju Rumah Sakit, ia ingin melihat keadaan gadis yang di cintai putra semata wayangnya.
Dengan dandanan tidak terlalu mencolok Reni keluar menuju lokasi Rumah sakit tempat Zara di rawat.
Ia pun tersenyum senang saat anak buahnya mengatakan bahwa Revan lah yang memilihkan ruang VIP untuk Zara, dan mobil Zara yang mengalami kerusakan pun sudah di ganti dengan yang baru oleh Revan.
Namun niat Reni terpaksa ia urungkan, saat mobilnya hendak memasuki area parkir, Reni melihat Revan yang berjalan menuju lantai atas Rumah sakit.
Akhirnya Reni membatalkan niatnya, ia pun melangkah kembali ke mobilnya.
__ADS_1
Untuk saat ini biarlah anak buahnya yang akan terus memantau kondisi Zara.
Jika sudah waktunya, Reni akan menjumpai Zara dan menjelaskan semuanya, juga permintaan maafnya karena sudah menghancurkan kebahagiaan gadis itu.
Meski mungkin Zara tak akan memaafkannya, namun Reni akan tetap berusaha untuk mendapatkan maaf dari Zara.
Selurih sisa umurnya Reni tak akan pernah bisa tenang jika belum menjelaskan semua dan meminta maaf padanya.
Reni pun masih di landa rasa bingung, kenapa Revan masih sangat memperhatikan Zara, dari mana ia mendapat foto Gunawan, seberapa banyak putranya itu mengetahui kisahnya di masa lalu.
Berbagai pertanyaan berkecamuk di hati Reni.
Wanita paruh baya itu pun meminta anak buahnya untuk menyelidiki sosok Gunawan, mantan suaminya yang telah menghilang tanpa kabar.
Reni sangat ingin bertemu dengan mantan suaminya itu, bukan untuk merajut kembali kisah yang telah terputus, namun Reni ingin mengetahui cerita sebenarnya, kenapa Gunawan menghilang tanoa kabar berita.
Dari kabar yang masih simpang siur yang di peroleh dari anak buah kepercayaannya, Zara hidup sebatang kara sejak remaja, ibunya meninggal sedangkan sang Ayah pergi meninggalkannya.
Jika benar Zara hidup sebatang kara karena ulahnya, sungguh Reni merasa sangat berdosa pada gadis itu.
Reni melajukan mobil kembali ke mansion, tubuhnya masih terasa lemas, banyak fikiran dan kurangnya istirahat membuat imunitas tubuhnya melemah.
Bibi senior menyambut kedatangan Reni dengan wajah Cemas, tak biasanya sang Nyonya terlihat lesu dan berjalan sempoyongan.
"Bi tolong antar aku ke kamar" ucap Reni lirih sambil tangannya berpegangan pada Bibi senior.
"Mari Nyonya" jawab Bibi dengan lembut.
Dengan nafas lega Reni membaringkan tubuhnya di atas kasur.
Minuman jahe madu hangat yang di sodorkan oleh Bibi, ia teguk hingga habis.
Kedua matanya terpejam rapat.
"Nyonya silahkan istirahat kalau ada apa-apa segera panggil saya."
"Iya Bi, terima kasih" Reni mengangguk lemah pada Bibi.
Di raihnya ponsel saat terdengar suara panggilan.
Kedua matanya lekat menatap layar ponsel.
Foto yang di ambil anak buahanya membuat keningnya mengerut.
Ia melhat Maharani sahabatnya dengan sang putra menuju kamar Zara.
Ia kini hanya bisa senyum masam.
__ADS_1
Tenanglah nak, ibu akan selalu berada di sampingmu, kita akan berjuang mendapatkan cintamu kembali, ucapnya lirih sambil memandang foto Maharani dan Andra.