
Di sebuah umah besar dan luas kini mobil Andra terparkir, beberapa kali dulu ia sempat mampir ke rumah itu, membuat pelayan pun tampak menyambut dengan hangat.
""Duduk dulu Ndra, aku mau ganti baju dulu."
"Tapi Fit.."
Andra meremas rambutnya kesal, ia sebenarnya ingin langsung pamit, namun Fitri menahannya.
Pelayan datang dengan segelas minuman.
"Silahkan di minum Den."
"Baik bi, terima kasih."
Ceklek, pintu kamar Fitri yang terletak di lantai atas terbuka.
Dengan anggun ia melangkah menuruni tangga.
Dress payung sebatas paha berwarna pink dan bando bertengger cantik di puncak kepalanya.
Glek.
Andra menelan saliva saat Paha putih mulus Fitri ter ekspos sempurna.
Sungguh indah di pandang mata, Fitri begitu ahli dalam berdandan, hanya dalam waktu beberapa menit ia merias wajahnya namun hasilnya sungguh sempurna, batin Andra.
Fitri dengan anggun melangkah dengan membawa totebag kecil.
"Ini hadiah kecil buat kamu" ujarnya lalu menyerahkan totebag pada Andra.
"Apa ini?" Andra penasaran.
"Buka lah" senyum manis selalu tersungging dari wajah cantik Fitri.
Andra pun membuka bungkusan dengan cepat.
Sebuah jam tangan mewah berwarna hitam, membuat Andra terdiam.
Ia tahu harga jam tangan tersebut sangat lah fantastis, berat rasanya ia menerima pemberian Fitri, sedangkan ia bukanlah siapa-siapa.
"Maaf Fit, aku nggak bisa menerima pemberianmu" ujar Andra lirih lalu memasukan kembali jam tangan mewah tersebut ke dalam kotaknya.
"Tapi ini sengaja aku pesan untuk kamu Ndra, aku memesan jam ini pasangan, agar kita bisa memakainya bersamaan" ucap Fitri.
Andra menghela nafas kasar.
"Sungguh, aku tidak bisa menerima pemberianmu, kau simpan lah baik-baik dan berikan pada orang yang tepat" ucap Andra dengan netra tajam menatap Fitri.
__ADS_1
Ia tak ingin memberi harapan pada gadis itu, ia bukan lelaki bodoh yang tidak mengetahui tanda-tanda bahwa Fitri sudah menyukainya lebih dari sahabat.
Sebelum terlalu dalam menyimpan rasa, lebih baik ia memberi batasan agar nantinya tak menjadi masalah besar, ujar Andra dalam hati.
Wajah Fitri menunduk lesu, semangat yang menggebu kini padam, sakit rasa hatinya mendapat penolakan dari pria yang di sukainya.
"Maaf Fit, aku harus segera pulang."
Fitri memandang kepergian Andra dengan kedua mata ber embun.
Dengan kecepatan tinggi, Andra melajukan mobil menuju rumah sakit, sekarang pukul tiga dan sebentar lagi Zara akan kembali pulang dari rumah sakit.
Hanya satu yang menjadi ganjalan hatinya, pastilah Revan mengetahui kepulangan Zara, bukan tak mungkin ia akan datang menjemputnya, pikir Andra dalam hati.
Jika Andra sedang menuju rumah sakit maka seorang pemuda tampan berwajah bule sedang duduk di area parkir rumah sakit, kacamata bertengger di hidung mancungnya.
Majalah bisnis yang terlihat sedang di bacanya tak mampu membuat perhatiannya teralihkan.
Sudut matanya sesekali melirik ke arah pintu lorong rumah sakit, dan jam di pergelangan tangannya pun sering ia tengok.
Gunawan sudah mewanti padanya agar terus mengawasi putrinya yang akan pulang sore ini dari rumah sakit, dan setelah makan siang tadi Manu berangkat ke rumah sakit langsung dari kantor.
Drrt drrt.
Panggilan telepon membuat ponselnya bergetar di saku celananya.
"Belum Tuan" jawab Manu lirih.
"Kenapa suaramu pelan Nu?" tanya Gunawan penuh selidik.
"Tidak apa-apa Tuan, hanya ada beberapa perawat dan pengunjung yang selalu melirik ke arah saya, entah apa yang mereka perhatikan" ujarnya polos, tentu saja wajah tampan setengah bule nya itu menjadi perhatian orang di sekitarnya, para suster pun tampak saling mencuri pandang ke Manu, membuat pemuda dingin itu tampak jengah.
Gunawan terkekeh ringan, putra angkatnya itu memang terkadang tak sadar akan ketampanan wajahnya sendiri.
"Kau pakailah masker atau topeng agar wajahmu tak terlihat, buat apa wajah tampan rupawan kalau selalu kau tutupi" rutukan Gunawan sebelum menutup ponselnya.
Sementara Manu pun kini bergegas kembali ke dalam mobil untuk mengambil masker, seperti yang di sarankan oleh atasannya.
Dan langkah panjangnya pun ia tujukan kembali memasuki lorong rumah sakit, sedikit lega saat ini, karena wajahnya tak lagi menjadi pusat perhatian para perawat ataupun pengunjung lain.
Tok tok tok.
Ceklek.
Untuk sesaat Manu terpaku saat netranya bertemu tatap dengan mata bening dan wajah manis Zara, wajah yang selama ini ia lihat dan perhatikan dari jarak jauh, kini berada hanya beberapa langkah darinya.
Debaran jantungnya sungguh membuat Manu menjadi salah tingkah, berada di dekat gadis berwajah spek bidadari sangat tak aman untuk jantungnya.
__ADS_1
"Anda siapa?" tanya Zara penuh selidik.
"Maaf, saya sopir yang akan mengantar Nona Zara untuk pulang" meski debaran jantungnya tak karuan namun Manu masih bisa menguasainya.
Zara menatap Manu penuh selidik, tubuh tinggi tegap dengan badan atletis, masa iya ia adalah seorang sopir, pikir Zara dalam hati.
"Ehm saya orang yang Tuan Andra suruh Nona" ucap Manu yang mulai panik saat Zara terlihat ragu padanya.
"Kak Andra?" sambung Zara masih bingung, karena yang ia tahu, Andra tak pernah menggunakan jasa seorang sopir, hanya ada sopir yang akan selalu mengantar Mommynya.
"Iya, Tuan Andra saat ini sedang ada urusan di bandara dengan pak Menteri" jelas Manu, tentu saja ia sudah menyebar anak buahnya untuk memberinya informasi terbaru yang akurat tentang pria yang sedang dekat dengan putri atasannya itu.
"Kalau Nona Zara tak percaya, silahkan lihat di berita terbaru online" sambung Manu.
Zara segera melakukan apa yang pria misterius di depannya katakan, dan benar saja, dadanya kini berdebar kencang, matanya pun memanas.
Berita terbaru tentang keluarga Menteri yang viral.
"Calon Menantu Tampan Pak Menteri"
"Tampannya kekasih putri Pak Menteri"
"Melepas Orang Tua ke Bandara, Fitri Membawa Calon Suami"
Dan masih banyak lagi judul berita tentang Pak Menteri di berita online.
Dan yang menjadi pusat perhatian Zara adalah sosok 'calon menantu'Pak Menteri tersebut adalah Andra.
"Nona, apa kita bisa berangkat sekarang?" tanya Manu.
Zara mengangguk pasti.
Rupanya alasan tadi dia ada urusan adalah ke bandara mengantar keluarga orang tua Fitri, ucap Zara dalam hati, tapi kenapa dia tak mengatakannya terus terang, kembali hatinya teriak kesal.
Sesak dadanya melihat ke akraban Andra dan putri pak Menteri tersebut.
Fitri tampak tak pernah lepas memeluk Andra, bahkan kedua orang tuanya pun sudah dekat dengan adanya Andra di tengah mereka.
Manu sesekali melihat Zara tampak membuang pandangan keluar jendela, ia sengaja melajukan mobil dengan kecepatan sedang, ia ingin menikmati kecantikan wajah yang selama ini ia kagumi.
Manu adalah salah satu follower setia Zara, dan semua hal tentang idolanya itu, Manu tahu.
"Maaf, a ..."
"Manu, panggil saya Manu Non" ucap Manu.
Panggil namaku di setiap detak jantungmu, harapan Manu, yang hanya bisa ia ucapkan dalam hati.
__ADS_1