
Andra melempar kunci mobil ke atas meja apartemennya.
Tiba-tiba hatinya di hantui rasa sesal, kenapa ia mengajak Zara untuk menemui Revan mantannya.
"Sialan gara-gara cecunguk br****** itu, Revan kini memiliki celah untuk mendekati Zara lagi" Andra bermonolog kesal.
Meski Zara masih dapat menguasai dirinya namun sorot matanya tak dapat membohongi Andra bahwa gadis itu masih menyimpan luka yang dalam.
Malam yang kian larut, tak juga membuat kekalutan hati Andra terkikis.
Di tatapnya langir kamar berwarna putih polos.
Matanya pun sulit terpejam.
Mungkinkah saat ini gadis itu tengah hanyut dalam tangisan pilu, atau mungkin sedang menumpahkan rasa amarah di dadanya, tanya batin Rangga.
Haiiisshh, kenapa malah gue yang sibuk mikirin dia, rutuk Andra dalam hati.
Di rubahnya posisi tidurnya menghadap kiri berharap segera di hampiri rasa kantuk, namun bayangan wajah penuh kesedihan Zara masih jelas bermain di pelupuk matanya.
Sedang apa dia saat ini?
Jam dinding menunjukan angka dua belas tepat.
Apa dia sudah tidur?
Ke samping kanan kini tubuhnya menghadap.
Helaan nafas pun keluar dari hidung mancung bak perosotan anak TK itu.
Di ambilnya ponsel yang sudah di taruhnya di atas nakas, dan mulai berselancar dengan jempol putihnya.
Ah dia masih online, mata Andra berbinar seketika.
Ternyata viewers sudah cukup banyak, meski baru upload beberapa menit yang lalu.
Senyum puas terbit dari bibir Andra.
"Waahhh, si ganteng muncul lageee"
Andra tersenyum sinis" dari mana mereka tahu gue ganteng", geramnya.
"Ciee cieee sama bambang lagi"
Sialan nama gue bukan Bambang ..semprul.
"Kak, kenapa di tutupin wajahnya"
"Ya iya lah di tutupin kalau di sejajarin sama kak Zara pasti kebanting tuh ππ"
Ada saja komentar netizen yang bikin dada Andra bergemuruh kesal.
Sabar Ndra, jangan kepancing esmosi, kagak ada faedahnya, batin Andra berusaha tetap tenang.
"Tenang kak aku mendukung kalian semoga lanjut sampai pelaminan...ππ"
__ADS_1
Aamiin, Andra berucap tak sadar.
"Aku juga setuju kak, semangatπͺπͺπͺ"
Kembali senyum Andra terbit.
"Halaahh paling tampangnya di bawah standar, kagak pantes di ajak ke kondangan"
Eh sialan mulut lemes amat, belum pernah di kutuk jadi arca dia, umpat Andra.
"Kak Zara jangan duakan cintaku"
"Aku akan tetap menunggu sampai kau kembali padaku β€β€ππππ"
"Ciee cieee ada sang mantan lagi mantau nih"
Mata Andra sontak membulat.
Mantan????
Rupanya di antara komentar para netizen ada pula mantan Zara yang ikut berkomentar hingga semakin ramailah konten tersebut.
Pukul dua dini hari Andra baru menyudahi keasikannya di dunia maya setelah rasa kantuk yang akhirnya datang.
Namun indahnya dunia mimpi terpaksa Andra sudahi saat ponselnya berbunyi nyaring membangunkan tiΔurnya.
Di raihnya ponsel dan matanya menyipit saat nama di layar ponsel masih tampak buram.
"Haisshhh" Andra mengucek kedua matanya berharap kabut di matanya menghilang.
"Heum" suara Andra masih jelas terdengar berat.
"Sialan, ngapain lu kalo nggak ada yang penting gue tutup.." ucap Andra datar.
"Ya elah, napa pagi-pagi sensi amat lu bro, lagi PMS ya" ujar Juned sambil terdengar tawa ringan penuh ledekan.
"Cepetan lu mau apa, gue pingin bok** .." ucap Andra kesal.
"Bhua ha ha ha...dah lu buang dulu sono tar gue balik lagi, urusan kita panjang butuh lebih dari tiga jam, lu mau dengerin sampe ampas lu keluar" ucapan sarkas Juned lalu mengakhiri panggilannya.
"Dasar semprul, gue do'a in lu bisulan tujuh pucuk di pantat lu."
Andra segera melempar ponselnya kesal ke atas ranjang saat terdengar tawa puas dari Juned, lalu segera berlari ke kamar mandi karena panggilan alam yang terasa sudah sampai ujung.
Karena memang tak ada acara hari ini Andra pun melajukan mobilnya menuju cafe Juned.
Tak berselang lama akhirnya kereta besinya sudah sampai di pelataran cafe yang tak seberapa luas itu.
Andra menelisik cafe yang masih terlihat lengang, ruangan pribadi sang pemilik pun masih kosong.
Apa si kadal buntung itu jangan-jangan masih ada di rumahnya? Kampret, umpat hati Andra.
"Juned mana Sep?"
"Ehm belum datang bang, katanya pagi ini dia datang agak siangan, mau menemui temannya katanya."
__ADS_1
Andra menatap Asep salah satu karyawan cafe dengan intens.
Asep yang di tatap begitu tajam pun jadi grogi.
Untung gue cowok tulen, jadi kagak ngaruh wajah tampan paripurna itu menatap gue.
"Emang temannya siapa lagi selain gue sama Diego Sep?"
Asep menggaruk kepalanya yang tak gatal, memang bos nya itu lebih banyak menghabiskan waktu dengan kedua sahabat akrabnya itu, tak ada yang lain, pikir Asep.
Mereka bertiga yang terdeklarasi dengan nama ijomara sudah berteman sejak masa sekolah menengah.
Ikatan Jomblo Masa Depan Cerah, singkatan yang Juned sematkan dengan penuh percaya diri saat itu.
Andra masih di landa kebingungan setelah menghubungi Juned yang ternyata ponselnya tak aktif.
"Oke Sep, gue cabut dulu, bilang sama Juned, suruh hubungi gue se segera mungkin." pesan Andra sebelum meninggalkan cafe.
Asep pun mengangguk patuh, sementara di dapur cafe terdengar bisik-bisik para karyawan yang masih histeris tiap kali Andra mendatangi cafe itu.
Wajah tampan Andra merupakan moodbooster terbaik bagi mereka.
Andra melajukan kereta besi dengan tujuan tak menentu, apa mungkin Juned pergi ke bengkel Diego? Batin Andra.
Di depan sebuah ruko kosong Andra memutar balikan mobilnya dan kini ia lajukan ke arah bengkel.
Sementara itu Juned yang kelimpungan dengan ponselnya yang lowbat kini dapat bernafas lega, carger ponsel Diego ternyata cocok dengan ponsel miliknya.
"Wah gawat...gawat..putri ngamuk." Juned berucap dengan tangan yang tak sadar mengusap tengkuknya.
Tak terbayang jika Andra akan marah besar padanya setelah merusak paginya dengan panggilan yang menggantung.
Diego menatap Juned bingung.
"Ngamuk, emang ku habis ngapain dia?"
"Gue janji hubungi dia tapi malah hp lowbat, dan lu liat ..ada tiga belas panggilan dan dua puluh pesan yang isinya binatang semua" terang Juned dengan senyum masam.
"Lu hubungi dia gih" titah Juned ke Diego, karena hati kecilnya pun terbersit sedikit rasa takut dengan amukan amarah yang pasti ia dapat dari Andra karena keteledorannya.
"Dih elu yang makan nangka, gue yang kena getahnya, ogah, lu tahu ngamuknya mahluk itu kayak apa" timpal Diego jengah.
"Ya bilang aja hp gue lowbat, ini baru di isi daya nya" mohon juned dengan wajah melas.
"Hadeuuhhh, semprul, ogah ah ...ngamuknya ngeri" elak Diego sungguh-sungguh.
Juned menatap layar ponselnya lagi.
Matanya iba melihat ponselnya jadi sasaran amukan sahabatnya, hingga semua binatang masuk lewat pesan yang di kirim.
Klik.
Tiba-tiba Juned menjentikan jarinya dan senyum terbit dari bibirnya.
"Untuk mengatasi singa yang sedang marah, kita harus menenangkan dengan menggunakan sang pawang" ucap Juned sambil mengedikan alisnya.
__ADS_1
π¦π¦π¦π¦π¦π¦
Terima kasih sudah mampir di novel receh othor ini.mohon untuk sudi tinggalkan jejak like koment dan vote jangan lupaπππ