Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU *59


__ADS_3

Andra mengantar Zara sampai ke area parkir rumah sakit, beberapa kali gadis itu menolak untuk di antarkan, namun Andra bersikeras karena mommypun menyuruhnya untuk mengantarkan.


Area parkir tampak sepi karena jam besuk belum mulai.


"Ra.." panggil Andra lembut.


"Heum" sahut Zara tanpa menoleh ke arah Andra karena tangannya sibuk memasukan kunci mobil.


"Lihat aku Ra.." rengek Andra.


" Ada apa kak?"


"Nah gitung dong enak, kalau ngomong tuh matanya liat muka orang yang sedang ngajak bicara."


Andra protes sikap cuek Zara.


Zara pun membalikan tubuhnya dan kini keduanya saling berhadapan.


Netra bening Andra menatap Zara tajam, muncul desir aneh yang tak pernah ia rasakan selama ini.


"Ada apa kak?"


"Kita kawin yuk?"


"Uhukk uhukk" Zara terbatuk kecil.


Ini orang ngajak kawin kaya ngajak bocah pergi ke pasar aja, geram hatinya gemas.


"Maksudnya paan si kak, ngajak kawin? apaan kawin, emangnya kambing?" jawab Zara kesal.


"Maksudnya nikah Ra, kita nikah yuk."


Zara menatap Andra, raut wajah penuh ketulusan, jelas terlihat dari pancaran kedua matanya, perlahan Zara menundukan kepalanya.


"Ehm sudahlah, jangan kau pikirkan, aku akan kembali ke kamar mommy dulu takut mommy mencariku."


Andra lalu mengusap puncak kepala Zara dengan lembut.


"Hati-hati di jalan Ra."

__ADS_1


Gadis itu mengangguk haru, bagaimana caranya agar aku tak membuat hatimu luka kak, sedangkan rasa itu belum hadir di dada ini, Zara membatin, tatapannya lurus ke arah punggung Andra yang menghilang di balik panel lif yang tertutup.


Maharani tersenyum melihat kedatangan sang putra.


"Joy kita sebaiknya pulang saja, mommy tak betah tidur di rumah sakit."


Andra menatap sang mommy lembut.


"Mom, kata dokter kita harus tunggu sampai kondisi mommy stabil, jika pulang sekarang, takutnya nanti mommy mengalami gejala yang sama karena akibat jatuh kemarin."


Jelas Andra sabar.


Maharani merasa kesepian berada kamar rumah sakit mewah itu, meski baru dua hari ia menginap.


"Baiklah mom, nanti akan Joy coba untuk bicara dengan dokternya, apa mommy bisa pulang hari ini."


Maharani seketika tersenyum lebar, bahagia tersirat di raut wajahnya yang mulai keriput.


Sementara di mobil yang di kemudikannya, Zara masih memikirkan permintaan Andra.


Ia hidup sebatang kara, melihat Maharani yang begitu menyayanginya seakan Zara mendapatkan lagi kasih sayang ibunya yang telah hilang.


Sesampainya di apartement Zara segera membereskan kamarnya yang berantakan karena baru sempat ia lakukan.


Segelas minuman sari buah di ambilnya dari lemari pendingin.


Menikmati minuman dengan bersantai di samping jendela membuat Zara sedikit mengantuk.


Di biarkannya jendela apartemen terbuka agar semilirnya angin masuk ke kamarnya.


Tak terasa matanya pun mulai terpejam.


Dua jam lebih ia tertidur dengan pintu jendela di biarkannya terbuka, membuat banyak nyamuk memasuki kamar dan beberapa gigitan di sebagian tubuh membuatnya bangun.


Plak.


"Akhh ssshhh, duh ya Tuhan sudah sore ternyata" Zara bermonolog sendiri lalu menutup jendela kamarnya dan bergegas untuk mandi, setelah bergantu baju dan menaburkan bedak tipis di wajah halusnya Zara keluar kamar.


Di ruang tengah langkahnya terhenti, rupanya Dewi sudah pulang dari restoran tempatnya bekerja.

__ADS_1


"Nggak lembur Wi?"


"Ehm nggak."


Dewi menjawab lesu, penat tubuhnya setelah bekerja seharian, hari ini pengunjung lumayan banyak, namun berimbas pada pekerjaannya yang meningkat lebih berat berkali-kali lipat.


Entah sampai kapan ia harus bekerja paruh waktu dengan upah yang pas-pas an.


"Mau kemana Ra?" tanya Dewi yang melihat Zara sudah terlihat rapi.


"Ehm aku mau ke rumah sakit Wi, mau jenguk mommynya kak Andra."


"Ohh, sampein salamku untuk tante Maharani Ra."


Ucap Dewi antusias, Zara menatap Dewi intens.


"Bagaimana kalau kapan-kapan kita main ke butiknya."


Dewi membelalak dengan mulut terbuka.


"Sungguh, ah aku tak berani datang ke butik tante Maharani, aku takut." Dewi berucap dengan mengerutkan tubuhnya.


"Takut sama siapa Wi, tante Maharani orangnya ramah dan lembut" bela Zara.


"Bukannya takut sama dia Ra, tapi gue takut kalau gue masuk ke butik itu gue akan merusak baju-baju di sana" tukas Dewi.


Zara tersenyum gemas, sahabatnya memang polos, hidup dalam kesederhanaan membuatnya tak percaya diri jika memasuki lingkungan yang jauh di atasnya.


"Tenang lah, gue yang akan tanggung jawab kalau sampai ada baju mahalnya yang rusak" Zara berucap dengan percaya diri agar sahabatnya tenang.


"Baiklah, aku harus mempersiapkan diri dulu lahir batin Ra."


Zara mengangguk setuju, lalu keluar dari apartementnya.


Namun Zara menghentikan laju mobilnya saat pesan Andra muncul di layar ponsel.


Rupanya Maharani sudah di perbolehkan pulang dan saat ini mereka sudah ada di mansion.


Mobil hitam kesayangan Zara pun berputar balik arah.

__ADS_1


Senyum Andra mengembang menyambut kedatangan sang pujaan, Andra meraih tangan Zara dan menuntunnya ke kamar sang mommy.


"Mom...mommy, lihatlah aku bawa calon menantu kesayanganmu ini mom."


__ADS_2