
Fitri memeluk Sandy yang tertidur lelap, sahabat sekaligus partner ranjangnya itu begitu perkasa saat bermain di atasnya, malam ini Fitri sungguh menikmati permainan Sandy, pria tampan berharta melimpah yang tergila-gila padanya.
Andai kau adalah dia, Fitri membatin lalu melangkah ke kamar mandi.
Sandy terbangun saat mendengar rintihan dengan isak tangis lirih berasal dari sampingnya.
"Hiks jangan tinggalin aku Ndra...Andraaa" teriakan nyaring dan tangan yang menggapai di udara, rupanya Fitri tengah bermimpi.
"Honey bangun lah ..."bisik Sandy.
Namun tangan Fitri terus menggapai bahkan isak tangisnya semakin nyaring.
Sandy mengusap puncak kepala Fitri dengan lembut.
Gerakan berulang-ulang itu akhirnya mampu membuat Fitri kembali tenang dan kembali lelap dalam tidurnya.
Sandy bangkit lalu keluar dengan langkah panjang.
Pagi ini ia harus menyelesaikan urusannya dengan Andra, jika memang harus mengorbankan pertemanannya ia pun rela, demi Fitri.
Sandy meninggalkan kamar hotel Fitri setelah terlebih dulu meninggalkan secarik kertas di atas meja ruang tengah.
Dua jam perjalanan akhirnya sampailah ia di sebuah resto besar milik Andra, sahabat sekaligus pria yang telah menghancurkan hati Fitri.
Anggukan pelayan Sandy menyambut dengan ramah.
Resto itu telah mengalami kemajuan pesat, tiga tahun silam ia pernah datang saat bangunan resto masih belum semegah saat ini.
Pagi hari resto mulai ramai oleh para pengunjung yang menikmati sarapan, membuat suasana terlihat sibuk.
Sandy mengedarkan pandangan mencari sosok yang di carinya.
"Bang..."panggilnya melambaikan tangan ke arah salah satu pelayan.
"Ya ada yang bisa saya bantu Tuan?"tanya pelayan ramah.
"Ehm apa bisa saya bertemu pemilik resto ini?"
"Maaf Tuan, Nyonya Maharani sedang tidak berada di resto ini, mungkin sekarang beliau sedang di butiknya."
"Bukan...maksud saya, putra pemikik resto ini?"
"Oh, Den Andra ...dia sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya Tuan, kalau Tuan ada urusan penting, mungkin sebaiknya Tuan membuat janji ketemu dulu dengan Den Andra."
"Ohh ...gitu ya, oke terima kasih bang."
"Sama-sama Tuan."
Sandy membuka ponselnya dan melihat kontak Andra, lama mereka tak saling tegur sapa meski lewat dunia maya.
Tak ingin paginya terbuang sia-sia, Sandy pun melajukan kendaraanya menuju ke sebuah mall besar, setelah berhasil menghubungi sahabat lamanya, akhirnya Andra mengajak untuk bertemu di sebuah mall besar.
__ADS_1
Andra dan Zara yang memang bermaksud menemui Dewi, merasa heran setelah lama baru kali ini kabar Sandy terdengar.
Tak pernah sekalipun Sandy menghubunginya beberapa tahun setelah mereka lulus kuliah, dan entah apa gerangan yang membuat pria itu ingin bertemu dengannya.
"Sayang apa kita makan siang dulu, sekalian aku tunggu Sandy, dia sahabat lamaku yang ingin bertemu."
"Heum baiklah, kita tunggu di sana" Zara menunjuk ke deretan meja kosong di foodcourt mall tersebut.
"Babe pria itu sejak tadi melihat ke arah kita, apa kau mengenalnya?" tanya Zara, rupanya Sandy sedikit ragu apakah sosok di hadapannya adalah Andra.
"Hai .."Andra melambai kan tangannya ke arah Sandy, membuat pria itu tersenyum lega.
Keduanya saling beradu kepalan tangan dan berpeluk erat, kedetakan selama masa kuliah membuat keduanya melepas kangen penuh rasa haru.
"Bagaimana kabarmu bro?."
"Ah tak pernah sebaik ini, ku lihat kalian sedang menikmati waktu berdua,maaf kalau kedatanganku mengganggu kalian" ucap Sandy bijak.
"Tidak, sama sekali tidak, dan kenalkan dia calon istriku" ucap Andra sambil memandang Zara.
Zara tersenyum hangat sambil mengulurkan tangan.
"Sandy.."
"Zara."
Pantas saja Fitri tak bisa mendapatkanmu, bidadari cantik ini begitu hangat dan manis, Sandy membatin.
"Baiklah sayang, nanti aku hubungi kau saat kami selesai" jawab Andra hangat.
Zara pun mengangguk ke Sandy sebelum meninggalkan foodcourt tersebut.
Bahkan, hatinya pegitu peka dan perhatian, beruntung sekali kau mendapatkannya bro.
"Dari mana Lu dapatkan bidadari itu bro?" tanya Sandy dalam.
Andra tersenyum masam, Sandy yang ia tahu begitu menaruh hati pada Fitri, sedangkan Fitri terang-terangan mengatakan suka padanya.
"Hmm, takdir yang membawanya padaku" jawaban klise Andra membuat Sandy mencebikan bibirnya.
"Aku tak heran jika kau tak percaya apa yang ku katakan, apalagi dia lah yang pertama menembaku" sambungnya lagi tanpa memperjelas kejadian saat pertama ia bertemu dengan Zara.
Sandy membulatkan matanya tak percaya.
"Belajar semar mesem di mana Lu?" tanyanya spontan.
"Sialan Lu..."Andra terkekeh kesal.
Memang tak akan ada yang percaya jika Zara lah yang lertama me mintanya untuk menjadi pacarnya, meski itu adalah trik untuk menghindar dari si buaya Irfan.
"Tumben, ada angin apa Lu tiba-tiba kangen Gue?"tanya Andra akhirnya.
__ADS_1
"Ogah amat Gue kangen sama Elu.., Fitri hubungi Gue Kemarin, apa yang telah Lu perbuat hingga dia bisa se hancur itu?"
Andra menatap Sandi tajam, dari ucapannya mungkin Fitri sudah men cekokinya dengan cerita palsunya.
"Andai Gue bermaksud menghancurkannya kenapa tak Gue lakuin dari dulu, dan Lu tahu Gue seperti apa, tak pernah sekalipun gue mempermainkan hati seorang wanita, apalagi dia teman Gue sendiri."
"Apa tak bisa kau berlembut sedikit padanya?" ujar Sandy, ia percaya Andra memang mengatakan yang sejujurnya.
"Fitri bukan gadis yang bisa di ajak main-main, apalagi dengan perasaan, gue udah jujur padanya, hati gue nggak akan berubah, Gue hanya menganggapnya sebagai seorang teman...tak lebih."
Tiga puluh menit keduanya saling bertukar cerita, Sandy sudah mengetahui titik terang kisah Fitri dari penuturan Andra, dan ia pun sudah banyak memahami sifat Fitri.
Andra mulai gelisah, Gunawan sudah beberapa kali memanggilnya lewat pesan agar mereka datang ke tempat Gunawan.
"Wi, apa kau belum selesai?" tanya Andra lewat panggilan telepon.
Raut muka Andra seketika berubah panik dan matanya menyisir ruangan foodcourt.
"Ada apa Ndra?" tanya Sandy.
Andra bangkit dan sedikit berlari menuju area parkir, ia meremat benda persegi panjang itu saat mengetahui ponsel Zara tak aktif.
"Bro katakan ada apa?" Sandy pun ikut panik dan terus mengikuti langkah Andra.
"Dia nggak ada, tadi temannya bilang dia sudah keluar dua puluh menit yang lalu."
Sandy mengerutkan alisnya, baru dua puluh menit saja nggak bertemu, membuat Andra begitu cemas, ia membatin.
"Shitt.." umpat Andra saat melihat pesan di ponselnya.
Sandy bertanya lewat isyarat tangan dan mulutnya.
"Zara di culik.."
Sepersekian detik Sandy membeku, telinganya tak salah dengar, namun ia masih belum percaya jika kekasih Andra telah di culik.
"Mana mobil Lu?" tanya Andra, Sandy yang panik spontan ikut masuk ke mobilnya.
"Gue iku Lu aja."
Andra melaju mobilnya dengan kecepatan kencang membelah jalanan kota.
"Lu tahu siapa yang nyulik calon bini Lu?"
Andra menggeleng kepalanya, dalam otaknya sama sekali tak ada bayangan siapa yang telah tega menculik Zara.
Apakah ini ada hubungan dengan dirinya atau salah satu rival bisnis Gunawan.
Drrt drrt.
"Halo Ayah, Zara tak bersama denganku saat ini...Zara di culik Yah" kalimat panik Andra terdengar lirih.
__ADS_1