
Andra terpaksa pulang dari apartement Gunawan setelah Zara memintanya untuk segera pulang.
"Kenapa kau ingin cepat pulang sayang, apa ada sesuatu yang akan kau lakukan?"
Zara menggeleng pelan, "Aku hanya kesal sama Ayah" ucapnya jujur.
Andra hanya melirik sekilas sang istri, raut muka nya melukiskan bahwa mood sang istri memang sedang buruk.
"Apa kau ingin jalan-jalan ke mall, makan atau nonton sayang?" Andra mencoba memperbaikai suasana hati Zara.
Zara menggelengkan kepalanya.
"Apa kau mau makan jajanan dulu di warung tenda di persimpangan?" kembali Andra mencoba usahanya.
"Aku sedang tak semangat Babe, aku hanya ingin pulang" Zara ber ucap dengan wajah datar.
Tak lagi ingin mengusik sang istri Andra pun mengunci mulutnya.
Sesampainya di mansion Zara menghempaskan tubuhnya di atas sofa panjang tanpa melepas dahulu sandal yang di pakainya.
Dengan sabar Andra melepas sandal di kaki sang istri dan menaruhnya di rak sepatu.
"Babe...aku lapar, tapi aku ingin makan di luar" ucap Zara lirih.
"Ya salam Babe...kenapa tidak kau bilang tadi bahwa kalau kau lapar, kita bisa sekalian mampir di restoran atau di mall yang kau mau" jawab Andra dengan suara tertahan.
"Jadi kau keberatan kalau kita makan di luar? Ya udah, nggak usah."
Zara segera beranjak dari sofa menuju kamarnya dengan tatapan sinis ke arah sang suami bahkan langkahnya pun ia hentakan dengan keras ke lantai.
"Bukan begitu sayang, aku bukan nggak mau...ayo kita sekarang berangkat, makan apa saja yang kau ingin."
Andra berlari cepat mengejar sang istri namun langkahnya terhenti karena pintu kamar sudah lebih dulu tertutup dengan bunyi menggelegar.
Brakk.
Andra tertegun di tempatnya berdiri, tak biasanya sang istri bersikap kasar seperti itu, entah kenapa emosinya beberapa hari ini sangat cepat berubah.
Tok tok tok.
Ceklek, Andra masih bernafas lega karena Zara ternyata tak mengunci pintu.
Perlahan pria tampan itu duduk di samping ranjang, Zara tidur dengan tubuh mene
elungkup di atas bantal tangan Andra bergerak menjulur untuk mengusap punggung Zara namun seketika terhenti saat Zara bersuara.
"Jangan ganggu aku, aku mau tidur."
Glek.
Andra menelan ludah kasar lalu melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sambil berharap sang istri kembali melembut padanya nanti.
Namun hatinya mencelos, keluarnya dari kamar mandi Andra mendapati Zara sudah terlelap.
"Mandi pun belum tapi kau sudah tidur sayang" Andra ber ucap lirih sambil membetulkan posisi tidur sang istri.
Merasa belum kantuk Andra pun melihat ponselnya dan mulai berselancar di dunia maya.
***********
"Bos, wanita ular itu menghubungi kita Bos" Manu melapor pada Gunawan bahwa Fitri menghubunginya.
"Apa yang dia miliki hingga berani memohon bertemu dengan putriku" ucap Gunawan sinis.
__ADS_1
"Dia ingin bertemu dengan Nona Zara untuk me minta maaf Bos" jawab manu jujur.
"Tidak, sampai kapan pun aku tak akan mengijinkan wanita itu bertemu muka dengan putriku, meski jarak se pelemparan batu ia berani mendekati putriku, maka ia akan tahu akibatnya" ancam Gunawan sungguh-sungguh.
"Katakan padanya semua yang aku ucapkan" titah Gunawan lagi.
"Baik bos."
Drrt drrt.
Gunawan membuka ponsel dan seketika matanya membulat penuh.
Malam-malam putrinya meminta Andra untuk makan masakan Nardy, sungguh sangat aneh, batin Gunawan.
"Ada apa Bos?" tanya Manu yang merasa Gunawan terlihat bingung.
"Ehm kita ke rumah Nardy sekarang " ucap Gunawan.
"Sekarang Bos?"
"Iya sekarang ..."
Manu mengikuti langkah Gunawan dengan hati di liputi tanda tanya.
"Tunggu.." tiba-tiba Gunawan berhenti dan memberi aba-aba agar Manu menghentikan langkahnya.
"Kita tidak jadi berangkat."
Gunawan pun menatap Manu, otaknya bagai kosong saat Andra melarangnya untuk datang ke kediaman Nardy.
"Kenapa kau melarang kami untuk datang ke situ?" pesan yang di kirim Gunawan pada Andra.
"Putrimu hanya ingin makan berdua denganku, terpaksa kau ku larang datang ke sini Yah, Zara sedang tudak baik suasana hatinya dan aku tak mau lagi memperburuknya" terang andra jujur.
Glek.
Manu kini ganya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal, baru kali ini Gunawan tak berkutik karena putrinya.
Sementara di kediaman Nardy, Zara tampak begitu lahap makan menu sederhana yang Nardy buat.
Bangun tidur Zara masih merasakan lapar di perutnya, bukan di restoran mewah atau mall tapi rumah Nardy lah yang ia tuju.
Waktu yang sudah malam tentu saja Nardy tak bisa membuatkan makanan istimewa untuk Zara karena di dapurnya tak ada persediaan bahan makanan banyak.
Hanya satu makanan yang bisa Nardy buat dengan cepat tanpa banyak memakai bahan.
Makanan darurat kesukaan Zara.
Nasi goreng kampung sederhana dengan bumbu racikan yang Nardy buat sungguh pas di lidah Zara, bahkan Andra tertegun saat istrinya menghabiskan se porsi nasi goreng miliknya dengan cepat.
"Babe apa kau tak akan memghabiskan nasi goreng milikmu?" mata Zara bersinar melihat nasi goreng Andra masih banyak tersisa.
"A ehm tidak perutku sudah kenyang sayang."
"Kalau begitu boleh aku habiskan?"
Andra mengangguk dengan wajah bingung, bagaimana bisa perutnya yang rata menampung nasi sebanyak itu.
Begitu pun Nardy yang juga terheran-heran dengan nafsu makan Zara sekarang.
Dalam waktu singkat nasi milik Andra pun berpindah ke perut Zara.
"Terima kasih Pak Nar, nasi goreng buatanmu sangat lezat" Zara berucap sambil menundukan kepalanya berterima kasih.
__ADS_1
"Maaf hanya itu yang bisa ku buat, lain kali datanglah siang hari, pasti akan aku buatkan makanan istimewa untukmu" ujar Nardy.
"Benarkah?" tanya Zara antusias.
Nardy mengangguk.
"Kami mohon pamit Pak, maaf kalau sudah merepotkan" bisik Andra lirih saat Zara sudah keluar.
Nardy mengangguk dengan telunjuk menutup bibirnya isyarat agar Andra diam.
Kedua pasangan suami istri muda itu melambai kan tangan ke arah Nardy sebelum kereta besi membawa mereka pulang ke mansion.
Dan tak berapa lama sebuah mobil datang memasuki pekarangan rumah Nardy.
"Bagaimana ke adaannya, apa dia sakit, kenapa dia datang malam-malam begini ke sini?" berondongan pertanyaan membuat Nardy mengerutkan alisnya.
Dan setelah Gunawan menceritakan sikap putrinya yang berubah aneh membuat Nardy tersenyum smirk.
Semoga dugaanku benar, ia membatin.
Andra menghentikan mobil di depan pintu mansion, Zara sudah terlelap beberapa saat yang lalu.
Dengan gerakan lembut Andra membopong tubuh Zara ke kamarnya dan merebahkan dengan pelan.
Andra menggerakan bahunya memutar dan otot lengan bahunya pun berbunyi bergemeletak, entah kenapa tubuh sang istri terasa bertambah berat berkali-kali lipat.
Ia menghempaskan tubuhnya di samping sang istri.
"Sayang ...kau tak mandi dulu?" tanya nya lirih di samping telinga Zara.
Namun Zara tetap diam.
"Sstt sayang, kau belum membersihkan tubuhmu."
Andra menepuk pipi sang istri lembut.
"Ahhh jangan ganggu aku, aku mau tidur" ucapnya dengan suara berat.
"Tapi kau belum mandi sayang."
"Ah malas" jawaban singkat membuat Andra terhenyak.
Dalam sejarah yang ia tahu, Zara adalah seorang yang penggila kebersihan, ia akan selalu menjaga tubuhnya tetap segar dan wangi, jika kali ini bahkan untuk mandi saja ia bilang malas, sungguh hal yang sangat di luar ke wajar an.
💙💙💙💙💙💙💙💙
Bentar lagi end yaa......
Jangan lupa tinggalin jejaknya, like koment dan vote ..
Mampir juga di novel ngothor yang lain
Nona Mudaku Separuh Nafasku (tamat)
2.Cinta Di Ujung Jalan ( up sambil nabung eps biar banyak)
Terima kasih untuk para readers yang sudah mau menyempatkan waktu membaca novel receh ini, atas semua like, koment, dan suportnya ngothor ucapin banyak-banyak terima kasih.
Semoga karya receh ini bisa menemani hari-hari para readers, syukur-syukur bisa menghibur hati di kala sepi.
__ADS_1
Bye bye 😘😘😘😘😘🤗🤗🤗🤗🤗