
"Ra, bagaimana rencana pestanya, apa kau juga akan mengundang teman-teman model mu?."
"Ehm ku kira tidak Wi, aku hanya akan mengundang keluarga om ku juga keluargamu saja, karena kau tahu sndiri, aku tidak banyak mempunyai teman."
"Tapi berita bahagia ini harus kau sebarkan Ra, biar mereka tahu bahwa kau pun bisa hidup bahagia tanpa mereka."
Zara menggeleng pelan.
"Sejak pertama kali aku menekuni dunia modeling, aku selalu di keliingi teman yang bermuka dua, di depan mereka memujaku tali di belakang mereka mencibir dan bersorak menertawakan kemiskinanku, aku gadis sebatang kara yang berjuang untuk sesuap nasi dan hidup layak, tak seperti mereka yang hidup berkecukupan dengan harta melimpah warisan kedua orang tua mereka, aku selalu tersisih Wi, pastilah mereka pun akan mencibir jika melihat kebahagiaanku, biarlah hanya kalian yang tulus menyayangiku, karena hanya do'a kalian lah yang aku harapkan..."
Dewi memeluk sahabatnya erat, kisah hidup Zara begitu pahit.
Bahkan sahabat karib mereka sendiri, Ismi kini terang-terangan membenci Zara setelah maksud baik Zara untuk memisahkannya dari jeratan lelaki buaya seperti Irfan ia sangsikan.
"Tenanglah, jangan takut ...aku selalu di sisimu dengan semua do'a ku, kau tak perlu merasa sepi atau sendiri, aku akan selalu mendukungmu Ra"
Keduanya kini saling memeluk erat, Dewi adalah sahabat melebihi saudara yang Zara punya, hanya dia lah yang selalu setia bersamanya dalam suka dan duka.
Zara melangkah ke kamar, ia hanya bisa berdo'a semoga sampai hari H nanti, semuanya berjalan dengan mulus tanpa halangan.
Jam dinding menunjukan pukul lima pagi, Zara bangun lebih awal karena pagi ini Andra akan menjemputnya.
Susana pagi yang dingin, masih terasa saat Andra melirik jam di dinding kamarnya.
Bergegas ia bangun dan membuka pintu kamar, di dapati sang Mommy sudah tampak fokus dengan ipadnya, beserta green tea hangat minuman kesukannya.
Namun raut wajahnya terlihat tegang membuat Andra mengerutkan alisnya.
"Pagi Mom.." sapanya.
Namun Maharani tak menggubris sapa annya dan tetap fokus pada kegiatannya.
"Ada apa Mom?" tanya Andra.
Maharani mengalihkan tatapannya ke sang putra dengan tajam.
"Lihatlah..." ujarnya seraya menyodorkan gadgetnya.
Andra memandang layar ipad, artikel salah satu berita online memberitakan tentang hubungannya dengan Fitri yang kandas karena seorang Wanita Idaman Lain.
Rupanya Fitri belum juga jera, ia bahkan mengatakan bahwa sang kekasih di rebut pelakor, dengan ciri-ciri yang menyudut ke sosok Zara.
Bahkan fakta-fakta yang yang ia beberkan semua bohong, berita yang begitu menyudutkan Zara membuat mata Andra me merah, darahnya pun seakan mendidih.
Andra meremat tangannya keras.
"Bagaimana ini nak, apa yang harus kita lakukan?" Maharani tak menduga gadis manis yang sering datang ke mansion yang merupakan sahabat Andra sendiri, akan berbuat se nekad itu hanya untuk mendapatkan hati putranya.
Andra bergegas masuk kembali ke kamar untuk membersihkan diri.
Ceklek.
Langkah Andra panjang menuju pintu luar mansion.
__ADS_1
Tak tok tak.
Seorang penjaga muncul dari pintu.
"Maaf Den, ada tamu ingin bertemu dengan Den Andra...penting katanya."
Andra dan Maharani saling pandang.
"Apa dia seorang gadis?" tanya Andra karena mengira yang datang adalah Fitri.
"Bukan Den, dia Bule" jawab penjaga sedikit ragu.
"Ehm suruh dia masuk."
Penjaga mengangguk lalu kembali untuk memanggil tamu tersebut.
"Siapa Joy?"
"Asisten Ayah Zara Mom."
Maharani membulatkan matanya tak percaya saat Manu memasuki ruangan, wajah se tampan itu menjadi seorang asisten? Pikirnya.
Bahkan umurnya mungkin sama dengan umur Andra putranya.
"Jadi Zara sudah bertemu dengan Ayahnya?" bisiknya antusias.
Andra mengangguk jujur.
"Lalu siapa dia Joy? Siapa Ayah Zara?"
"Maaf, saya datang ke sini untuk memanggil Tuan Andra ke apartemen Tuan Gunawan."
Andra membuang matanya jengah, kaku sekali Manu saat menggunakan bahasa formal padanya bahkan wajahnya pun tampak tertekan, batin Andra.
"Ada apa?" bisik Andra.
Manu menggeleng pelan, melihat kecanggungan itu Maharani pun pergi meninggalkan dua pemuda itu agar mereka tak terganggu dengan keberadaan dirinya.
"Saya hanya di perintah untuk memanggil Anda untuk datang secepatnya ke kediaman Bos."
"Sst udah Elu nggak usah formal gitu, geli gue dengernya" bisik Andra.
"Bos marah, panggilannya nggak di angkat olehmu, mungkin panggilan ini adalah pemecatan untukmu sebagai calon menantu" jawab Manu santai.
Glek.
Andra sontak berlari ke kamarnya mengambil ponsel, dan benar saja, ada sembilan panggilan dari Gunawan yang tak ter angkat olehnya.
"****...!!" umpatnya kesal, ia memang men senyapkan ponsel jika malam hari, dan sialnya, sejak bangun tadi ia belum sempat memeriksanya.
"Ayo .." Andra menepuk bahu Manu.
Keduanya melangkah panjang menuju parkir mansion.
__ADS_1
"Kita langsung ke apartement?."
"Calon istrimu juga harus ikut."
"Hah, ngapain Zara juga harus ikut?"
"Nanti kalian akan tahu."
Manu mengemudikan kereta besinya dengan kecepatan tinggi menuju gedung apartement Zara.
Andra hanya melirik sesekali ke Manu yang fokus pada kemudinya.
Hal penting apa yang membuat Gunawan begitu tergesa menyuruhnya datang, batin Andra.
Tiba-tiba ingatan Andra tertuju pada berita terbaru yang ia baca tadi pagi.
Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang, apakah karena berita hoak tentang Fitri yang membuat Gunawan memanggilnya.
Zara yang ternyata sudah di hubungi Manu lewat pesan singkat, sudah menunggunya di depan pintu lobi sambil melambaikan tangannya.
"Cepatlah naik, Ayah sudah menunggu kita" ucap Andra seraya membuka pintu penumpang untuk Zara.
"Ada apa kita di panggil Ayah Babe?"
"Entahlah aku pun tak tahu" jawab Andra sambil mengedikan bahunya.
Tak butuh waktu lama akhirnya mobil pun sampai, karena memang sekarang bukan jam sibuk
Ting.
Pintu apartement terbuka, wajah Gunawan yang sedang dalam mode serius hanya menyunggingkan senyum tipis ke Zara.
"Duduklah, ada hal penting yang akan kita lakukan, khususnya kalian berdua."
Zara dan Andra saling pandang penuh tanda tanya.
"Ada apa Yah?"
Gunawan menghela nafas panjang lalu memandang Andra tajam.
"Kau sudah baca berita hati ini?" tanya nya.
Andra mengerutkan alisnya lalu mengangguk, rupanya memang hal ini ada hubungan dengan berita yang sudah beredar tentangnya dengan Fitri.
"Aku tidak mau berita itu terus menyebar luas, dan orang akan memandang putriku sebagai seorang pelakor, tak akan ku biarkan issu berita itu kembali menghancurkan nama baiknya."
Glek.
Gunawan memang begitu melindungi Zara, apalagi saat ini nama baiknya telah di pertaruhkan, apapun akan pria itu lakukan untuk putri satu-satunya, ia akan memasang badan walau seribu tombak akan menerjangnya.
Gunawan tak ingin kembali melihat Zara hancur untuk kedua kalinya, tak akan ada yang boleh melukai hatinya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan Yah?"
__ADS_1
Gunawan mendekat ke arah Zara lalu meraih tangannya dan menggenggamnya erat, mata indah yang begitu mirip dengan Nita mendiang istrinya.
"Kalian harus menikah hari ini juga."