
"Jadi pelaku sudah mereka dapatkan Nu?" tanya Gunawan antusias.
Andra menghubunginya dan memberitahukan bahwa otak pelaku selama ini sudah di temukan.
"Sudah Bos, bukti dan saksi juga sudah lengkap di tangan kita."
Manu pun menceritakan bahwa otak dari pelaku kejadian yang menimpa Zara adalah Fitri, putri pak Menteri.
"Bagus, segera kau urus agar pelaku di hukum se berat-beratnya" Gunawan tampak sangat kesal dengan pelaku.
"Kita memang bisa memasukan nya ke penjara Bos tapi...."
"Tapi Apa Nu?."
"Tapi putrimu tak mengijinkannya Bos, ia ingin membebaskan pelaku karena ternyata pelaku sedang hamil."
Gunawan terdiam, sudah berapa kali putri nya lepas dari akal licik Fitri, apakah dengan mudahnya Zara memaafkan hanya karena wanita itu tengah berbadan dua.
Gunawan menggelengkan kepalanya ia tak mau lagi terperdaya oleh tipu muslihat Fitri, gadis licik itu harus di beri pelajaran.
"Tidak Nu, biar bagaimana pun kita harus bisa membuatnya jera, aku tak ingin nyawa putriku kembali ter ancam, jika wanita ular itu masih bebas di luar sana maka aku tak akan pernah bisa bernafas dengan tenang" Gunawan berucap dengan tangan mengepal.
"Tapi Non Zara tak ingin melanjutkan masalah ini Bos, bahkan dia dengan ikhlas memaafkan wanita itu" jawab Manu yang juga tampak ikut kesal
"Huff....lalu bagaimana menurutmu Nu, apa kita akan menuruti permintaan putriku, apa kita harus melepas wanita ular itu? tidak...aku tak akan rela melepasnya begitu saja" nafas Gunawan memburu, rupanya kebangkrutan orang tuanya tak membuat Fitri jera.
Bahkan setelah di tolak Ayah dan Ibu nya pun wanita itu tetap masih berbuat licik.
Gunawan meremas rambutnya, baru kali ini ia merutuki kebaikan se seorang, Nita memang berhati lembut dan pemaaf, dan itu lah sifat yang kini me nurun pada putrinya, tapi Gunawan malah kesal dengan situasi saat ini.
"Panggil putri dan menantuku sekarang juga, masalah ini harus kita selesaikan dengan perjanjian hitam di atas putih" titah Gunawan tegas.
Andra pun tak menghiraukan rasa lelah tubuh dan kantuk yang ia rasakan, perintah Ayah mertua harus ia laksanakan saat itu juga.
__ADS_1
"Kita ke mana Babe?" tanya Zara kesal karena mereka berangkat dengan tergesa-gesa tanpa Andra mengatakan ke mana tujuan mereka.
"Ayah Gunawan memanggil kita."
Mendengar nama Gunawan, Zara langsung membungkam mulutnya, pastilah pe manggilan itu karena Fitri.
Andra melirik ke samping, senyum smirknya terbit, ia tahu watak keras Ayah mertuanya, pasti pria itu tak akan membiarkan Fitri bebas begitu saja tanpa tersentuh tangan hukum.
Entah apa itu yang pasti Gunawan akan melakukan yang terbaik dan pastilah membuat para musuhnya jera.
Maafkan aku sayang, kali ini aku tak bisa mendukungmu, ucap batin Andra.
Siapa yang menabur benih maka ia pun harus menuainya, setiap kesalahan harus mendapat imbalan yang setimpal, batinnya.
Jika Andra hatinya sedang merasa senang maka sebaliknya, Manu tampak diam dengan mata tajam menatap Fitri di depannya, Gunawan memerintahkan Manu untuk membuat Fitri menanda tangani persyaratan yang telah ia buat.
Di sebuah club kecil, Manu berhasil mengecoh Sandy agar menjauh dari Fitri, bagai perangko yang terus menempel, Sandy tak membiarkan Fitri jauh dari jangkauan matanya, pria itu begitu posesif apalagi setelah di ketahui Fitri kini tengah mengandung anaknya.
"Jika kau berbuat yang mengundang perhatian pengunjung maka jangan salahkan jika anak dalam perutmu akan lahir tanpa ayah" ancam Manu lirih namun tegas.
Tak ada kata terucap dari bibir Fitri yang terkatup rapat dan bergetar.
jika biasanya ia akan bersikap cuek dan tak perduli dengan yang ada di sekitarnya maka kali ini berbeda, ada janin yang harus ia lindungi bahkan sebagai calon seorang ibu, ia pun memiliki mimpi untuk membangun keluarga bahagia dan hidup tenang dengan suami dan anak nya kelak.
"Turuti perintahku maka kalia akan selamat" kembali manu mengatakan ancaman membuat Fitri semakin pucat.
Perlahan Manu mengambil sebuah map dari dalam tas jinjiingannya.
"Cepat kau tanda tangan."
"A apa ini?" tanya Fitri curiga.
"Ini adalah surat perjanjian agar kau tak lagi bisa berbuat se enaknya pada Nona Zara, karena kau pasti sudah tahu akibatnya, Tuan Gunawan tak akan membiarkan hidupmu tenang, beliau bisa dengan mudah membuat Ayah mu hancur, maka begitu pula terhadap calon Ayah dalam perutmu, semua hotel dan bisnis pria itu bisa lumpuh dalam sekejap dan kalian akan hidup dalam ke miskinan, bahkan Tuan Gunawan bisa membuat kalian hidup sengsara di jalanan."
__ADS_1
Fitri menggeleng panik, kedua orang tuanya sudah di buat bangkrut oleh Gunawan dengan mudah, ia tak mau jika Sandy mengalami hal yang sama, apa jadinya nanti jika Sandy mengalami ke bangkrutan di semua bisnisnya, tentu saja itu akan ber imbas pada hidupnya nanti.
"Jangan Tuan, aku mohon kasihanilah kami, hanya dia sekarang yang mau menerimaku, kedua orang tua ku sudah menolakku tolong, jangan buat Sandy menanggung akibat karena kesalahanku Tuan, biarkan aku yang menanggungnya" kedua mata Fitri tampak berkaca-kaca, tak ada lagi tambatan hidupnya selain Sandy.
"Tuan Gunawan tak akan mengusikmu jika kau menuruti semua perintahnya" ucap Manu dengan nada suara tegas.
Fitri mengangguk pasrah, apa pun akan ia lakukan bersujud di kakinya pun ia mau, kini Fitri menyadari kesalahannya yang begitu besar dan tak akan bisa ter ampuni, jika benar Zara tak menuntutnya maka itu karena kemurahan hatinya, dan Fitri tak akan bisa menebusnya sampai kapanpun.
Manu menyodorkan selembar kertas yang sudah ia tulis semua persyaratan yang Gunawan ajukan.
Fitri menghela nafas pasrah, apapun ia terima, bahkan hidup di luar ngeri asal jauh dari Zara, adalah syarat utama yang Gunawan ajukan, dan syarat lain adalah jaminan jika sampai ia mengusik lagi kehidupan Zara, maka Gunawan akan langsung menyerednya ke penjara, dan bisnis Sandy akan ia buat lumpuh total.
Manu tersenyum sinis, wanita sombong dan angkuh itu kini tak bisa berkutik, hilang sudah arogansi yang selalu lekat pada dirinya.
Setelah lembar perjanjian sudah di tanda tangani Fitri, Manu pun pergi dengan senyum puas.
Sementara di apartement, Gunawan menatap sang putri dengan dada naik turun, hatinya begitu kesal saat Zara tetap kekeuh untuk tak melanjutkan kasus tersebut ke pihak berwajib, sedangkan Gunawan yang sependapat dengan Andra, merasa Fitri harus di beri pelajaran agar tak lagi berbuat se enak hatinya yang akan merugikan orang lain.
"Apa sudah kau pikirkan matang-matang nak, dia sangat licik dan Ayah tak bisa tenang membiarkan dia bebas di luar sana."
"Aku yakin Ayah, Fitri saat ini sedang mengandung, pastilah ia tak akan berbuat seperti itu lagi." Zara berucap pasti dengan penuh emosi, bibirnya tampak bergetar menahan tangis yang hampir tumpah.
Gunawan dan Andra hanya bisa saling melempar pandang, keras kepalanya tentu saja menurun dari dirinya.
"Iya sayang ..iya, kita tak akan membawa masalah ini lebih lanjut, apapun asal kau bahagia" Andra memeluk sang istri erat, Zara terlohat begitu emosi saat Gunawan terus menyudutkannya.
"Aku nggak bisa membayangkan nanti Babe, bagaimana nanti jika anak itu lahir dan banyak yang akan mencemoohnya sebagai anak seorang tahanan, aku tak bisa membayangkan itu Babe hiks" Zara berucap lirih dalam dekapan Andra.
Dadanya berguncang dengan suara isak tangis yang tertahan.
Dengan lembut Andra terus mengusap punggung sang istri.
Kau memang malaikat tak bersayap miliku sayang, ia membatin haru.
__ADS_1