
Senyum lega terbit dari sudut bibir Revan, dokter membolehkannya untuk pulang sore ini.
Roya dengan sabar, membereskan semua baju ke dalam tas, mereka pun pulang menuju mansion.
Sebenarnya banyak yang ingin Revan tanyakan pada asistennya, namun tubuhnya begitu letih, beberapa malam di rumah sakit sungguh membuat tidurnya tak lelap.
Roy pun pamit setelah melihat atasannya mulai berbaring di ranjang dan memejamkan mata.
Sementara Reni menuju ke kamarnya untuk sedikit mengistirahatkan pikiran dan tubuhnya.
Setelah di rasa sang ibu sudah benar-benar istirahat di kamarnya,Revan pun kembali membuka mata karena teringat urusan yang masih menggantung dengan Roy.
Ia mengambil ponsel dan menghubungi sang asisten.
Decakan kesal keluar dari mulutnya saat panggilannya tak ada respon.
Asisten sialan, benar-benar aku harus mulai memikirkan pengganti untuknya, Revan membatin.
Di lihatnya jarum jam di pergelangan tangan.
"Baru jam delapan" ucapnya lirih.
"Masa iya jam segini sudah tidur tu orang" kembali Revan bermonolog pelan.
Di waktu yang sama di tempat berbeda, Zara masih duduk termenung di ruang tengah apartemennya.
Dewi yang masih fokus mengedit rekaman yang baru mereka kerjakan sore tadi.
"Udah Ra jangan ngelamun terus, kesambet wewe gombel nanti" ucap Dewi, meski wajah ke arah laptop namun matanya melirik ke arah Zara yang masih termenung.
"Gue masih mikir, apa yang akan Revan lakuin setelah mengetahui kalau kami ternyata satu ayah yang sama."
"Tapi apa elu benar-benar yakin bahwa perempuan yang membawa ayahmu itu adalah nyonya Reni, ibunya Revan?" tanya Dewi penuh selidik.
"Aku yakin Wi, aku masih mengingat dengan jelas, wanita itu memiliki luka di keningnya dan ibunya Revan memiliki luka itu dan wajahnya pun masih aku ingat Wi, hanya saja aku tidak mengenali Revan, karena sangat berbeda dengan wajahnya kala masih kecil."
"Lalu kenapa kau dulu menerima Revan saat dia nembak elu?"
"Ya waktu itu gue nggak tahu bahwa Revan adalah anak dari wanita itu Wi, baru gue lihat waktu Revan ingin mengajak gue ketemuan sama ibunya, dan dari tempat tersembunyi tidak sengaja saat itulah gue lihat wajah ibu Revan yang ternyata adalah nenek sihir itu."
"Lalu kenapa kau tak langsung memutuskannya?"
"Beberapa hari aku masih syok dengan kenyataan itu Wi, baru kurang lebih satu minggu gue minta putus dari Revan, namun dia bersikeras menolak untuk mutusin gue, dia minta alasan yang tepat kenapa gue mutusin dia, saat itu gue masih takut untuk kembali membuka kenangan menyakitkan itu Wi."
Dewi menghela nafas panjang, lalu menutup laptopnya setelah meng upload di sosial media Zara.
"Gue tidur duluan Wi, pusing gue."
"Ya lu minum obat dulu kalau pusing Ra."
"Heum" Zara pun melangkah menuju kamar, berharap esok hari ia bisa memiliki kekuatan lebih untuk melalui hari-harinya yang berat.
__ADS_1
Setelah pindahnya ke resto, Zara merasa lebih tenang, kerja juga tidak terlalu menguras tenaganya, kerja sama tim di restoran juga sangat kompak bahkan mereka sudah saling dekat seperti keluarga sendiri.
Zara meski seorang model namun mereka tidak membeda-beda kan dalam berteman.
"Makan neng, sudah waktunya istirahat" ajak seorang karyawan resto pada Zara.
"Iya bu, terima kasih" ucap Zara lalu melangkah menuju dapur mengambil makan siangnya, karena wajahnya sudah lembali normal ia pun tak perlu lagi makan terpisah dari karyawan lain untuk menyembunyikan wajah anehnya.
Karena istirahat rolling Zara pun segera menyudahi makan siang lalu bergegas kembali ke ruang kerja nya.
Keningnya mengerut saat di atas meja sudah tersedia jus alpokat.
Zara mengedarkan pandangannya, tak ada orang di sekitar ruangan, semua sibuk dengan tugas masing-masing, karena saat jam istirahat siang banyak pengunjung datang untuk makan siang.
Drtt drrt.
"Nggak usah nyari aku, aku lagi sibuk, habiskan jusnya."
Senyum tipis Zara mengembang, rupanya Andra yang sudah menyiapkan jus itu untuknya.
"Terima kasih kak" pesan Zara di akhiri emot kecupan cinta dari bibirnya.
Andra menatap layar ponselnya, hatinya tiba-tiba menghangat.
Andai itu bukan hanya sebuah pesan, batinnya lirih.
Zara sibuk di meja kasir dan belum sempat menikmati jus buatan Andra, membuat pemuda itu geram, dari kejauhan ia mengamati gadis itu masih mengacuhkan minuman yang ia buat.
"Kenapa jus nya belum di minum babe?" pesan singkat yang Andra kirim pun tak langsung di buka Zara.
Apakah perhatianku sebegitu tak berartinya bagimu Ra?.
"Den melamun aja dari tadi, bahaya tau, ayam tetangga mati gara-gara melamun" bisik Wanto.
"Halahh mana ada ayam mati gara-gara melamun, lu kalau ngarang cerita yang logis dong To.." kening Andra langsung mengerut dan telunjuk tangannya menoyor Wanto.
"Ish Den, saya nggak bohong, sumpah berani kaya raya deh."
Bibir Andra mencebik tak percaya.
"Den ayam itu mati gara-gara melamun saat di tengah jalan, lalu ketabrak mobil deh" ucap Wanto polos sambil melangkah pergi.
"Heh Samsul....itu bukan mati karena melamun ...semprul."
"He hee, karena ketabrak ya Den."
"Bukan!!!"
"Lalu kenapa mati Den."
"Karena TAKDIR...puas lu" rutuk Andra sambil melangkah pergi menjauh dari karyawan songongnya.
__ADS_1
Zara membereskan catatan transaksi para pembelinya, setelah memeriksa bahwa tak ada satu lembarpun terlewat ia bergegas keluar ruang kasir.
Ia pengangguk ramah pada wanita yang bertugas rolling dengannya di bagian kasir.
********
Drrr drrtt.
"Sialaaaann...." umpat Revan saat untuk keberapa kali panggilannya tak di angkat oleh sang asisten.
Sedangkan jam kerja sudah selesai beberapa menit yang lalu, apa mungkin tugas kantornya begitu banyak hingga Roy tak sempat melihat gawai nya, batin Revan.
"Huff."
Meski kesehatannya sudah pulih tapi sang ibu belum mengijinkannya untuk masuk bekerja.
Dan hanya lewat ponsel lah Revan bisa terhubung dengan asistennya itu.
Oh Tuhan, sedang apa kau sebenarnya R o y , geram Revan dalam hati.
Tok tok tok.
"Van, makanlah dulu, hari sudah sore nak, kau belum makan dari siang."
Suara Reni dari balik pintu kamar.
Terpaksa makan siang Ia lewatkan karena tak ingin mengganggu istirahat putranya.
Ceklek.
Revan berjalan ke luar kamar dengan langkah gontai.
Reni tersenyum senang melihat sang putra akhirnya membuka pintu kamar.
Di ambilnya piring kosong dan menyiukan nasi dan lauk kesukaan sang putra.
"Ayo makanlah, biar tubuhmu cepat pulih."
Revan tak menanggapi ucapan sang ibu lalu menyantap hidangan dengan fokus.
Drrt drrtt.
Tangan kiri Revan meraih ponsel di saku baju nya.
Sialan, tadi di telepon nggak di angkat, giliran gue lagi nggak bisa nerima, malah nelepon, Geram Revan lalu mematikan ponsel dan menyimpannya kembali.
Drrtt drrtt.
Geraham Revan mengembung keras, ingin rasanya ia mencekik leher asisten yang kerap menguji kesabarannya itu.
"Tunggu dulu gue lagi makan, telepon tiga puluh menit lagi" pesan yang di kirimnya pada Roy.
__ADS_1
"Siapa Van? kalau memang penting, kamu angkat saja dulu" ucap Reni bijak.
Memang sangat penting Bu, karena itu menyangkut kehidupan masa depanku.