Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*186


__ADS_3

Dan dengan rasa sayang dan cintanya yang begitu dalam, Sandy membawa Fitri ke mana pun yang gadis itu inginkan.


Di sebuah vila yang terletak di sebuah pedesaan nan asri kini mereka berada.


"Hmm segar sekali udara di sini, tidak seperti jakarta, panas, gerah dan brisik" ujar Fitri sambil berdiri di balkon kamar lantai atas.


"Apa kau akan betah di sini honey, jangan harap kau akan mendengar tukang somay keliling atau baso bang kumis yang lewat tiap malan, kau pun akan susah mendapatkan jajanan kesukaanmu."


Fitri menghela nafas panjang, ia memang menyukai jajanan receh yang sering lewat pinggir jalan.


Di vila ini mana ada ia akan menemukan makanan tersebut.


Suasana pedesaan di sekitar vila masih sangat asri, daerah persawahan yang di kelilingi dengan pohon rindang membuat mata terasa sejuk dan paru-paru pun terasa lega karena udara kotor sudah terganti dengan udara bersih nan segar.


Fitri menghirup oksigen dengan nafas panjang seakan ingin mengganti semua udara kotor yang bersarang di paru-paru nya.


Sandy mrmeluknya erat dari belakang, ia begitu mencintai gadis itu, apapun akan ia lakukan untuknya.


"Apa kau tak rindu Ayah dan Ibu mu honey?" tanya Sandy sambil melirik pergelangan tangan Fitri yang kini mulai mengering lukanya.


Fitri menggeleng pasti.


"Mereka sudah mem benci ku, mereka tak mengharapkan aku kembali, mungkin mereka sudah menganggap aku tak ada lagi di dunia ini" Fitri ber ucap lirih dengan pandangan mata kosong menerawang jauh.


Memang itu semua karena kesalahannya, mereka membenci karena akibat dari semua yang telah Fitri perbuat.


"Sudahlah, jangan lagi kau memikirkan yang akan merusak moodmu, sekarang kita harus nenatap masa depan, esok hari akan lebih cerah, jika mereka tak lagi mengharapkanmu, ada aku yang selalu setia di mana pun kau berada honey" Sandy berucap lirih dengan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Fitri.


"Ayo kita jalan pagi, kita lihat pemandangan pedesaan indah ini" ajak Sandy semangat.


Namun hati Sandy mencelos, fitri menolak dengan menggelengkan kepalanya.


"Aku ingin istirahat dulu San, tubuhku rasanya sangat letih" ujar Fitri.


***********


Dua minggu telah berlalu.


Andra masih uring-uringan karena hatinya dilema, apakah membiarkan istrinya memakai perhiasan pemberian Reni atau kah ia akan melarangnya.


Di sebuah toko perhiasan terkemuka dan ternama, beberapa hari yang lalu Andra telah me mesan perhiasan khusus untuk sang istri.


Dengan mudah Andra me minta sebuah kalung dengan desain limited edition yang di rancang oleh desainer perhiasan ternama.

__ADS_1


Karena embel-embel nama Maharani lah Desainer itu dengan mudah menyanggupi permintaan Andra.


Tak hanya kalung dan perhiasan lain, Andra juga memanjakan sang istri dengan membelikan nya tas branded limited edition berharga ratusan juga.


Tas mahal yang ia pesan saat sahabat Maharani pergi ke Z di mana negara yang terkenal dengan penghasil karya tas berharga fantastis, di samping tas mahal juga sepatu tak ketinggalan Andra pesan juga untuk sang Istri.


Dan pagi ini Maharani dengan senyum merekah datang membawa pesanan Andra, setelah sahabatanya pulang dari negara w tadi malam.


"Sayang kemari lah" panggil Andra penuh semangat.


Ceklek.


Zara yang baru mandi tampak segar dengan warna lipstik natural di bibirnya yang tipis, dress sebatas lutut dengan model lengan pendek terlihat manis di tubuhnya yang ramping.


"Ada apa Beb?"


"Hm aku ada hadiah buat kamu sayang, lihatlah."


Zara mengambil tote bag dari tangan Andra dan mulutnya membulat lalu menaruh kembali tote bag tersebut sambil menatap ke sang suami.


Apakah penglihatannya tak salah, pikirnya.


"Kenapa kau taruh kembali sayang?" tanya Andra.


Barang yang ada di tote bag itu adalah barang mahal berharga ratusan juta yang dulu pernah ia impikan namun hanya sebatas angan.


"Zara itu semua untuk kamu nak, Joy pesen sama Mommy untuk membelikan tas dan sepatu itu untuk kamu."


"T tapi Mom, ini terlalu bagus dan mahal Mom, sayang uangnya" ucap Zara polos.


"Ck, sayang untuk kamu apa pun akan aku lakukan, ini semua tak seberapa di banding bahagiaku mendapatkanmu akhirnya" Andra merangkul sang istri meyakinkan bahwa semua itu memang ia beli untuknya.


"T tapi..." Zara masih berucap ragu, sangat sayang rasanya menghabiskan uang banyak hanya untuk sebuah tas dan sepatu.


"Sayang kalau sekali-kali tak apa lah, toh aku tidak membelikannya setiap bulan, aku hanya ingin membahagiakan istriku" Andra berucap dengan wajah sungguh-sungguh.


Zara menarik bibirnya dan memeluk Andra erat.


"Terima kasih Babe, asal kau tahu, apa pun yang kau beri aku akan menerimanya dengan senang, karena ketulusan hatimu lah yang membuatku selalu bahagia."


"Bagaimana Ra, apa kau suka dengan yang mommy pilih untukmu?"


"Suka Mom, suka sekali, warna ini selalu pas di padukan dengan warna baju yang aku punya."

__ADS_1


Maharani tersenyum bahagia, rona wajah Zara tak bisa menyembunyikan rasa di hatinya.


Andra mengambil ponselnya dari saku celana setelah ia merasakan getaran pesan yang datang.


"Sayang hari ini aku pergi dulu, ada urusan dengan anak buahku" ujar Andra sambil mengurai pelukannya.


"Apa itu tentang kado misterius itu Babe?"


Andra mengangguk namun ia pun masih ragu apakah anak buahnya sudah menemukan identitas pelaku.


Kali ini Andra menuju apartement dengan motor sport miliknya, ia tak ingin di tengah cuaca terik ini dirinya terjebak kemacetan yang bisa mengakibatkan tubuhnya menghitam.


"Bagaimana Do perkembangan tugas yang Gue kasih? Apa kalian sudah menemukan pelaku?"


Do mengambil map besar berisi foto yang di ambilnya setelah perburuan yang cukup lama.


Pria berjaket hitam dengan topi dan kaca mata sungguh kostum yang sangat misterius jika di gunakan hanya untuk sekedar membeli jajanan.


Pria itu lah yang memerintahkan penjual jajanan untuk membawa kado ke mansion.


Dan setelah mereka telusuri pria berjaket misterius itu datang dari sebuah hotel milik Sandy.


Tangan Andra mengepal keras, selama ini ia mengerahkan sekuat tenaga dan pikiran untuk mencari pelaku pengirim kado misterius dan tak pernah ia duga ternyata pelaku adalah Fitri.


"Brengsek kurang ajar, kali ini tak akan ku biarkan kau lolos ****** sialan.....!!" pekik Andra sambil meremas lembaran foto dari map.


"Tapi bos..." ucapan Do menggantung, ia takut kalau kemarahan bos nya semakin mendalam karena mengetahui sang buruan sudah pergi dari hotel tersebut.


"Tapi kenapa lagi?" tatapan Andra membuat nyali Do menciut.


"Setelah pria berjaket tersebut kami introgasi ternyata bos nya sudah pergi dari hotel tersebut bos" nada suara Do terdengar lirih bahkan ia menundukan wajahnya.


"Tenanglah, kalian tunggu kabar dariku."


"Jadi Bos tahu di mana sekarang otak pelaku berada."


Andra menghela nafas panjang, jika dugaannya benar, selama ini Fitri ternyata masih bersama Sandy.


Tak membuang waktu lama, Andra segera membuka akun sosial media milik Sandy dan benar saja, postingan beberapa waktu lalu ia masih berada di hotel miliknya namun sekarang ia sudah berada di pulau bali.


Dari akun miliknya, saat ini Sandy berada di salah satu vila miliknya di pulau dengan julukan seribu pura tersebut.


"Do, siapakan keperluan untuk perjalanan kita ke Bali, hari ini juga."

__ADS_1


__ADS_2