Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*127


__ADS_3

Manu tersenyum meninggalkan lobi apartement dengan hati puas, senyum tipis selalu tersungging di bibir tipis sexy nya.


"Sudah kau selesaikan perintahku Nu?" tanya Gunawan di ruang tengah apartementnya.


"Sudah Bos, dia terlihat sangat bahagia menerimanya."


Mata Gunawan menerawang jauh, andai hubungan mereka membaik seperti semula, akan sangat bahagia hidupnya, menikmati hari tua dengan putri tercinta.


"Bos, kapan rencana bertemu langsung dengannya?."


"Entahlah Nu, mungkin dia tak akan sudi bertatap muka dengan Ayah yang tak tahu diri ini, seorang Ayah dan Suami yang paling jahat di muka bumi ini."


"Bos, Non Zara tidak seperti apa yang anda duga, hatinya sangat lembut dan rasanya ia tak akan tega membiarkan Ayahnya selalu tersiksa dengan dosa-dosa nya, ia pasti akan memaafkan jika anda benar-benar tulus mengakui kesalahan yang telah anda perbuat "


Manu berucap lirih dan sedikit ragu, bukan hal yang mudah meluluhkan hati Gunawan yang terkenal keras kepala.


Namun hati Manu mencelos saat ternyata Gunawan bahkan tersenyum tipis.


"Dia memang berhati lembut seperti Nita, begitu lembut hingga membiarkan hatinya terluka dan memilih diam saat melihatku pergi bersama wanita lain, aku memang manusia tak punya hati, aku pantas menerima karma dan kutukan dari mereka, cinta dan kasih sayang tulus, aku balas dengan penghianatan yang kejam" nada bicara Gunawan berat dan bergetar.


"Dia memang mirip seperti dirimu Nit, hatinya hangat dan lembut, penuh kasih dan tulus, bahkan aku pun rasanya tak pantas untuk mendapatkan maaf darinya" ucapnya lirih.


Gunawan menghela nafas panjang, di pandanginya topi hitam Zara yang tergeletak di atas mejanya.


Topi yang tak pernah jauh darinya, bahkan tidur pun Gunawan selalu memeluk dan mencium topi hitam itu.


Ia berharap semua rasa rindu dan penyesalannya di dadanya dapat sedikit terobati.


Drrt drrt.


Ponsel Gunawan bergetar, pria itu menatap Manu tajam.


"Apa ini" tanyanya saat notifikasi pesan dari asistennya muncul di layar gadget miliknya.


"Saya berhasil mengambil gambar Non Zara? mungkin bisa sedikit mengobati rasa rindu anda padanya" jawab Manu dalam.


Gunawan tertegun melihat hasil bidikan ponsel Manu yang di lakukan secara sembunyi-sembunyi.


Kedua matanya tampak berembun, rona bahagia bercampur haru terlihat jelas di wajah keriputnya.


"Cepat kau Cetak semua poto ini berukuran besar, dan aku minta selesai secepatnya."


"S semuanya Bos?" tanya Manu ragu, ia mengirimkan sebanyak lebih dari tiga puluh poto.


"Iya kau cetaklah semuanya cepat" hardik Gunawan tak sabar.


"B baik Bos" Manu bergegas pergi untuk menyelesaikan misi sang atasan yang terkadang tak masuk akal.


Bidikan Manu tidak terlalu fokus, ada beberapa poto yang sedikit blur, bahkan beberapa angle yang di ambilnya kurang tepat hingga tampak hanya rambut Zara, atau mukanya yang tampak sebelah, bahkan ada yang hanya tampak kedua kakinya saja, lalu apa fungsinya jika nanti ia cetak itu semua.

__ADS_1


Manu hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Hari beranjak siang, Andra yang baru membuka matanya merasa perutnya keroncongan.


Pukul tiga dini hari ia baru memejamkan matanya setelah selesai pencarian tentang siapa Tuan Awan sebenarnya.


Di bukanya kulkas besar miliknya.


Hanya tersedia berbagai macam minuman, mana mungkin perut lapar di isi hanya air, ia membatin.


Tak ingin keluar apartement, ia akhirnya memesan makanan lewat online.


Di lihatnya layar ponsel dengan senyum puas.


Tak sia-sia pencariannya hingga membuat mata panda terlihat jelas di wajah tampannya, bahkan setelah mandi pun mata panda masih terlihat meski sedikit samar.


"Nak kamu di mana?" tanya Maharani lewat pesan yang belum sempat ia jawab dari pagi.


"Aku di apartement mom."


"Dengan siapa kau di situ?" tanya Maharani penuh selidik.


"Aku sendiri mooom, ish kenapa sekarang kau selalu meragukan putramu ini?."


"Aku hanya takut kau tergoda bisikan setan nak."


"Tenanglah Mom, aku masih anakmu yang dulu, aku tak akan berubah."


"Baiklah mommy percaya kamu nak, lalu kapan kau pulang ke mansion?"


"Mungkin besok mom, urusanku belum selesai."


"Oke Mommy tunggu di mansion, jangan lupa makan, jaga kesehatanmu nak."


"Oke mom muaach" Andra menaruh ponselnya di atas nakas saat bel pintu berbunyi, seorang satpam mengantarkan pesannya.


Hanya dalam hitungan menit, makanan itu pun habis tak tersisa, Andra mengusap perutnya yang sixpack, lalu membereskan sisa peralatan makannya.


Drrt drrt.


"Ada apa Do?" tanya Andra.


"Bos kenapa tak buka pesan dariku" tanya Do dengan nada sedikit kesal, susah payah ia memcari informasi untuk bosnya itu tapi pesannya bahkan tak ia buka.


"Sorry Do, baru bangun Gue" ucap Andra jujur, ia tadi hanya melihat notifikasi pesan dari anak buahnya namun brlum sempat ia buka, sang mommy lebih dulu memanggil akhirnya pesan Do pun terlupakan olehnya.


Do hanya menghela nafas panjang.


Hargailah kerja kerasku Bos, batinnya lirih.

__ADS_1


Andra membuka pesan dari Do, dan kedua sudut bibirnya terangkat.


"Sudah ku kirim ke nomor rekeningmu" kalimat Andra membuat Do kini tersenyum lebar.


"Terima kasih Bos."


Siang ini Andra ingin menghabiskan waktu di apartement, tak ada rencana hiling meski saat ini akhir minggu karena pastilah anak buah dan reporter bayaran Fitri berkeliaran di luar sana menunggu kemunculannya.


Dan beberapa panggilan Fitri pun ia acuhkan.


"Sayang kau merindukanku?" pesan yang ia kirim pada Zara.


"Maksudnya?" balas Zara cepat.


Andra tersenyum senang, begitu mudah memancing Zara lewat kalimat anehnya.


"Bulu mataku jatuh pagi ini, kata pepatah bilang, jika bulu mata jatuh maka seseorang sedang merindukanmu" jalas Andra santai.


"Ah jangan suka percaya tahayul Kak."


Kalimat Zara membuat hati Andra mencelos.


Drrt drrt.


Andra tersenyum gemas saat Zara mengiriminya poto selfi dirinya sedang menikmati makanan berearna coklat.


"Aku sedang menikmati coklat yang sangat lembut, ini adalah coklat terbaik yang pernah aku makan sepanjang hidupku."


"O ya, bagiku semua coklat sama saja" jawab Andra.


"Tentu saja tidak, ini adalah coklat import terbaik dari negara B yang terkenal dengan penghasil coklat tebaiknya."


"Dari mana kau dapat coklat itu?"


"Dari Bos nya Manu, dia habis jalan-jalan dari sana dan beli coklat banyak, kebetulan Manu tidak terlalu suka coklat jadi ia berikan padaku."


Deg.


Manu, Bosnya?, Andra terhenyak dari duduk santainya.


Jika benar coklat itu dari atasan Manu, maka kemungkinan besar Tuan Awan sengaja memberi pada Zara dengan alasan yang logis hingga Zara tak mengetahui jika coklat itu berasal dari Ayahnya sendiri.


Andra menatap tajam galeri yang kini bertambah setelah semalam pencariannya berhasil.


Tuan Awan alias Tuan Gunawan yang tak lain adalah Ayah dari Zara kekasihnya.


Pengusaha ekport impor yang tak pernah memamerkan wajahnya ke dunia luar, yang ternyata adalah atasan dari Manu, pria yang beberapa minggu ini dekat dengan Zara.


Bisa di pastikan Jika Manu adalah utusan yang Gunawan suruh untuk mendekati Zara, tapi apa maksudnya seorang Ayah memata-matai putrinya?.

__ADS_1


Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam otak Andra.


__ADS_2