Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU * 53


__ADS_3

Sikap Andra yang dingin dan cuek sepanjang rapat, membuat Juned gemas.


Baru kali ini ia melihat sahabatnya begitu bucin pada seorang gadis setelah dua tahun ia menghilang dari keramaian karena cinta pertamanya bertepuk sebelah tangan.


Juned hanya bisa menyimak apa yang Diego katakan, dan menerima keputusan sahabatnya itu dengan lapang dada.


Begitupun Revan, semua bukti berupa foto darinya dan rekaman sudah di pegang Diego, dan keputusan mutlak ada di tangannya.


Andra pun meski hatinya bergemuruh, namun ia tak bisa berbuat apa -apa, jika memang Diego meng ikhlaskan semuanya tanpa akan menuntut Anto, Andra harus menerimanya dengan lapang dada.


Diego tak akan menuntut Anto namun ia juga meminta Anto untuk menyetujui perjanjian di atas kertas.


Merasa tak ada lagi kepentingan lain Andra mengajak Zara untuk pamit.


Zara pun mengikuti Andra, dua porsi seblak di jinjing Andra setelah layanan delivery mengantarnya tadi urung di makan Zara.


Selera makan yang tadi tampak menggebu, kini lenyap.


Kedatangan Revan sungguh berpengaruh besar pada mood Zara.


Tak ingin lagi kecolongan oleh Revan, Andra melajukan mobil Zara dengan cepat.


Tak ada tempat ter aman selain apartemennya, ucap Andra dalam hati.


"Kita ke mana kak?" tanya Zara.


"Ke apartemen ku."


"Untuk apa?" Zara mulai panik, bagaimana mungkin Andra mengajaknya ke apartemennya sedangan tak ada siapapun di sana.


"Ya makan seblak lah, tempatku paling dekat jaraknya dari bengkel Diego, jadi sebelum makanan kesukaanmu ini menjadi dingin maka kita harus cepat me makannya."


Zara tak mengeluarkan sepatah kata pun saat keduanya berada di lift yang menuju apartemen Andra.


Ceklek.


Apartemen luas yang tertata rapi dengan furnitur serba premium, menjadi tempat tinggal Andra meski mungkin lebih layak di sebut tempat singgah, karena jarang Andra tempati.


Zara melangkah perlahan memasuki ruangan benuansa maskulin nan elegan.


"Duduklah, aku akan mengambil piring" ucap Andra.


"Terima kasih" Zara mengangguk pelan, aroma khas masakan seblak menyeruak hidungnya.


Senyum Zara mengembang.


"Masih hangat kan?" tanya Andra yang sedikit paham bahwa makanan itu lebih nikmat jika di makan saat masih panas.


Zara mengangguk, lalu menuangkan makanan pedas berkuah itu ke atas mangkok, di hirupnya aroma wangi masakan berasal dari daerah dataran tinggi itu.


Dengan lahap Zara memakannya.


Andra tersenyum puas mengamati Zara yang tampak menikmati seblak yang di pesannya, tentu saja Andra secara exclusive meminta pada sang pedagang untuk mengantarkannya ke bengkel karena telah membayar tiga kali lipat dari harga yang di tetapkan.


"Kak kenapa kau tak makan seblakmu?" tanya Zara.


Andra tergagap karena terlalu fokus pada asiknya melihat Zara dengan bibir mungil dan kedua pipi mengembung saat mengunyah seblak, bagai se ekor kelinci sedang makan rumput, begitu lucu dan menggemaskan.


"Ahh hmm, nanti tunggu dingin dulu" ucap Andra yang tak ingin melewatkan moment indah itu.


Saking merasa enaknya seblak itu Zara tak memperdulikan lagi keringat yang mengalir ke pelipisnya, Andra yang melihatnya pun merasa risih dan mulai mengelapnya dengan tisu.


Dengan lembut Andra mengusap air keringat di dahi Zara, membuat gadis itu tampak tersenyum malu.


Zara membereskan meja sisa makannya, lalu mencuci piring di wastafel.

__ADS_1


"Ra kenapa di cuci, biar saja di situ, nanti ada bibi yang membersihkannya."


"Ehm tak apa kak, hanya satu piring."


Andra pun tak lagi protes, kini ia asik melihat layar ponselnya.


Tampak pesan dari Juned tak membuat Andra ingin membalasnya.


Tak biasanya Juned kepo tentang keberadaannya jika bukan karena Revan yang menyuruh bertanya padanya.


Dasar licik, batin Andra lalu menaruh ponsel di atas meja tanpa membalasnya lebih dulu.


Setelah selesai membersihkan piring, Zara ikut bergabung dengan Andra di sofa.


"Kak, kenapa seblaknya tidak di ma..." kalimat Zara terputus saat ponselnya berdering.


Zara menatap Andra saat melihat nama yang sedang memanggilnya.


"Apa?" tanya Andra.


"Kak Juned" jawab Zara masih belum menggeser tombol hijau.


"Jangan angkat" Andra berucap cepat, pastilah temannya itu juga akan bertanya di mana posisinya saat ini.


Zara mengerjapkan matanya kebingungan, apakah ia angkat panggilan dari Juned atau membiarkan saja seperti perintah Andra.


Panggilan itu masih berdering nyaring beberapa kali, dan akhirnya berhenti setelah Zara sama sekali tak mengangkatnya.


"Kak kenapa aku tak boleh mengangkat panggilan kak Juned bukannya dia sahabatmu?" Andra memutar matanya, kesal hatinya masih terasa saat Juned yang bagai menghianatinya.


"Kak sebenarnya ada apa kau dengan kak Juned?"


"Pasti dia menelfonmu untuk menanyakan di mana saat ini kau berada" Zara masih tak mengerti arah pembicaraan pria di hadapannya itu.


"Ishh kau ini kenapa bisa lemot gini Ra, makanya jangan banyak-banyak makan micin jadi lama loadingnya kan" ucap Andra asal.


"Pasti saat ini Revan mencarimu Raa.."


Zara terdiam.


"Ra, apa kau masih menyimpan rasa padanya?"


Zara menggeleng pasti, membuat Andra mengulas senyum lega.


Suasana berubah hening, inilah yang di cemaskan Zara.


"Ra..."


"Heum."


"Ish kenapa mendesah Ra?" ucap Andra gemas, ******* Zara begitu lembut dan suaranya membuat pikiran Andra traveling liar.


"Hah."


"Bagaimana Ra, bagaimana atas jawaban perasaanku? Apa kau sudah bisa menjawabnya sekarang?" Andra menatap Zara penuh harap.


Zara sungguh belum siap untuk menjalin suatu hubungan serius, selama ini ia selalu bermain dengan perasaan lawan jenisnya tanpa mereka ketahui.


Tak pernah Zara menaruh sedikitpun rasa dengan para mantannya, karena memang di hatinya tak ada rasa cinta sedikit pun.


Kini Andra dengan tulus mengungkapkan perasaannya.


Zara menggeleng pelan, ia tak ingin mengecewakan Andra dengan berpura-pura memiliki perasaan yang sama dengannya.


Andra menatap Zara menghiba.

__ADS_1


"Kenapa Ra, apa tak ada sedikitpun rasa untukku di hatimu, aku akan sabar menunggu rasa itu tumbuh subur, dan akhirnya kaupun datang dengan cinta tulus untuku, Ra, beri aku kesempatan." Zara menatap Andra intens.


Kuliahnya belum selesai, Cita-citanya pun belum terwujud, Zara tak ingin kehidupan percintaannya menghalangi semua impiannya.


"Maaf kak, aku tak bisa memberi harapan yang akhirnya membuat kita terluka, aku masih ingin menggapai impian dan cita-citaku."


Zara menunduk tak berani ia melihat rona wajah kecewa Andra.


Namun bukan Andra namanya jika harus menyerah sebelum semua senjatanya ia keluarkan.


"Baiklah jika memang sekarang kau belum bisa menerimaku, tapi hanya satu yang aku mohon padamu, sebelum kau gapai semua impianmu..."


Andra menatap Zara intens.


"Jangan beri hatimu pada orang lain."


Zara tersenyum tulus, dan menatap Andra.


"Jika takdir mengharuskan kita bersatu, maka tak ada yang dapat memisahkan kita, tapi sebaliknya, jika kita memang tak berjodoh, aku akan menerima dengan ikhlas siapa yang kelak menjadi pendampingmu, dan ku harap kaupun menerima jika aku ternyata berjodoh dengan pria lain."


"Ish Ra, jangan berkata seperti itu, ucapan adalah do'a Ra, percayalah, aku akan sabar menunggumu dan kau juga harus setia, ingat...jangan berikan hatimu untuk orang lain titik."


"He um" Zara mengangguk pelan.


"Untuk saat ini, biarlah seperti ini."


"Maksudnya?" Zara tak paham.


"Mommy sebenarnya ingin segera melihat kita menikah, ingin nimang cucu dari kamu katanya."


"Uhuukk uhukk."


Andra tersenyum, wajah Zara berubah merah muda, mendengar keinginan mommy Andra.


"Tenanglah, aku akan mencari alasan agar mommy sabar dan menunggu calon menantunya hingga siap" ucap Andra santai.


Zara melihat ponselnya yang bergetar.


Andra menatap Zara tajam.


"Siapa?"


"Revan" jawab Zara pelan.


"Ngapain lagi dia," tanya Andra sewot.


Zara menggeleng," Dia hanya nanya aku lagi di mana."


Andra menghela nafas berat, hatinya gusar, Revan masih saja berharap bisa kembali pada Zara, dan itu membuat Andra tak tenang.


Meski Zara berulangkali berkata bahwa ia tak mungkin lembali pada Revan, tapi selama janur kuning belum melengkung, maka Zara masih sah untuk di perjuangkan, pikir Andra.


"Kak, aku pulang dulu, sudah sore."


Andra menatap Zara lekat, berat rasanya melepas Zara pergi, apalagi Revan pasti masih mencarinya.


"Ehm, aku antar."


"Nggak usah kak, aku mau mampir dulu ke satu tempat."


"Nggak apa-apa, aku pengangguran, siap mengantarmu ke mana pun."


Andra tersenyum smirk.


Langkah pertama untuk mendapatkan seorang gadis adalah, membuatnya berada sejauh mungkin dengan masa lalunya.

__ADS_1


__ADS_2