
"Bang mingiran dikit takut nanti pacarnya dateng, murka dia" protes Amir yang belum menyadari status Andra dan Zara.
Ia hanya menduga Andra adalah salah satu penggemar Zara, sama seperti dirinya.
"Bang, lepasin dih nanti bangun ntar Mbak Zara nya" Amir berusaha mengurai tangan Andra yang terus menggenggam erat tangan Zara, namun di tepis olehnya dengan kuat.
Amir hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Sayang bangunlah" ucap Andra lembut.
Amir hanya mencebik melihat ke haluan tamu baru nya, lalu meletakan telunjuknya horizontal di depan kening ke arah Dewi.
"Maklum ya Mbak" ucapnya dengan nada melas.
Dewi hanya tersenyum tipis.
"Shhh..." desisan lirih keluar dari mulut Zara.
"Sayang kau sudah bangun?" Andra bertanya panik.
"K kak Andra...ada di sini" tanya Zara lirih begitu membuka mata dan melihat wajah tampan sang kekasih.
Meski sedikit kesal karena Zara masih memanggilnya 'Kakak' tapi Andra tetap mengangguk.
"Kapan Kakak datang?" sambungnya.
"Tadi pagi."
Amir hanya cengo, keakraban keduanya tampak tak biasa, hatinya mulai ketar-ketir, jangan-jangan Andra bukan hanya kenal biasa, mungkinkah mereka ada hubungan lebih dekat, pikir Amir.
Jika Amir sedang di penuhi tanda tanya di otaknya namun di sebuah apartement Gunawan sedang mengamuk dan membanting ponselnya.
Brakk.
Ponsel canggih keluaran terbaru sudah menjadi korban kemarahan Gunawan pagi ini.
Niat hendak berangkat ke kantor namun urung karena mendengar berita sang putri mengalami kecelakaan saat pemotretan karena mengalami hipotermia.
Kemurkaan Gunawan membuat klien yang menyewa jasa Zara menjadi bulan-bulanan sasaran kemarahannya.
Berbagai peringatan keras, ganti rugi, bahkan terancam batalnya kerja sama dengan perusahaan Gunawan sudah di depan mata mereka.
Meski sudah memberikan layanan VVIP pada Zara namun tak mengurangi amarah Gunawan.
Keteledoran para kru dan respon lambat pun menjadi sorotan utama alasan kemarahan Gunawan memuncak.
Manu hanya bisa menunduk penuh sesal.
Begitupun Gunawan, ia sangat merasa bersalah telah membuat Zara akhirnya memperpanjang waktu pemotretan padahal itu di lakukan pagi hari di suasana yang sangat dingin.
Untung saja Andra datang di waktu yang tepat, entah takdir apa yang membuat pemuda itu datang ke pulau kecil tersebut.
"Bagaimana keadaannya Nu, apa kata Dokter?."
"Sudah lebih baik Bos, Nona hanya hipotermia dan kurang istirahat."
__ADS_1
"Kapan bisa pulang?"
"Mungkin besok juga sudah di perbolehkan pulang."
"Aku nggak mau lagi ada hal seperti ini terjadi, mulai sekarang, beri pengawalan ketat dua puluh empat jam dengan cara sembunyi-sembunyi dan jangan sampai Zara atau temannya tahu tentang ini."
"Baik Bos."
Gunawan terus mengamati CCTV yang sengaja dipasang di ruangan di mana Zara di rawat.
Andra tampak sabar selalu di sampingnya, tak pernah ia beranjak menjauh selangkah pun dari ranjang pasien.
"Sayang apa kau masih pusing?" tanya Andra lembut.
Zara menggeleng kecil dia memang hanya terkena hipotermia dan sekarang sudah jauh lebih baik, bersyukur ia di tempatkan di ruangan VVIP jadi segera di tangani dengan cepat.
"Kita pulang kapan Wi, apa kita harus nenginap di pulau ini lagi? pemotretan kan belum selesai" Dewi tersenyum mendengar berondongan pertanyaan Zara.
Memang ia di kenal sangat profesional dalam bidangnya, bahkan dalam kondisi yang tak begitu baik pun ia masih sempat memikirkan pekerjaannya.
"Tenang Ra, pemotretan sudah selesai, dan kita bisa pulang besok pagi setelah Dokter ijinin kamu pulang."
"Tapi kan sesi poto nya belum semua Wi, yang di ujung jembatan belum, juga di bawah pohon dekat air terjun juga belum" tanya Zara.
"Mereka sudah menyetujui pengambilan gambar hari kemarin untuk di ambil sebagai ganti, karena poto kemarin bahkan banyak yang lebih bagus dari yang di ambil pagi ini" terang Dewi.
Zara terdiam, hatinya merasa tak enak, jika pekerjaannya kali ini membuat kecewa kliennya.
"Ehmm hmm" deheman berat keluar dari mulut Amir.
"Oh ehm kenalin temanku Sayang, Amir" Andra menunjuk Amir dengan matanya.
Amir tersenyum dan menjabat erat tangan Zara.
"Saya Amir Mbak" ucapnya dengan memamerkan senyum paling mempesona, menurutnya sendiri.
"Udah" Andra mengurai jabatan tangan Amir.
"Ish Abang poses banged....kayak pacarnya aja" Amir mencebik kesal.
"Lha emang dia pacar Gue" jawab Andra sewot.
"Dih ngareep" Balas Amir tak kalah sinis.
"Jiaa nggak percaya ni bocah" ucap Andra semakin panas.
"Tanya noh sama orangnya" Andra melirik Zara.
"Beneran Mbak pacaran sama Abang yang gantengnya sedengan ini?" tanya Amir polos.
"Sialan, ngelunjak Lu" ucap Andra kesal.
Dewi dan Zara hanya terkekeh melihat interaksi lucu kedua pri beda generasi tersebut.
"Bukan nggak percaya Bang, jaman sekarang banyak yang modus, masih banyak banget di luar sana pria tampan gagah perkasa, napa malah milih Elu Bang"jawab Amir jujur.
__ADS_1
"Trus biar Elu percaya Gue harus bilang apa."
Amir memajukan wajahnya ke dekat Andra dan membisikan sesuatu.
Andra membulatkan matanya ke Amir, remaja di dekatnya itu emang rese, batinnya.
"Ayo Bang kalau berani, berarti kalian memang pacaran."
"Ogah, kasihan dia lagi sakit, nanti marah."
"Halahhh, bokis Lu bang" Amir semakin membuat Andra kesal hingga ke ubun-ubun.
Sementara Zara dan Dewi sedang asik ngobrol hingga tak mendengar tema yang sedang di bicarakan kedua pria itu.
"Ayo lah Bang" bisik Amir sambil menyenggol bahu Andra.
Andra berdiri ragu dan melangkah perlahan ke dekat Ranjang.
Panas kupingnya mendengar perkataan Amir.
"Sayang..."
"Heum"
Cupp.Zara membulatkan matanya, begitu juga Dewi.
Sedang Amir diam bagai patung dengan mata dan mulut terbuka lebar.
Andra mengecup bibir Zara dengan lembut di depan matanya.
"Maaf, bocah gila ini harus di kasih pembuktian agar mulut pedasnya diam."
Andra berbisik lirih di telinga Zara.
Wajah cantik itu kini tampak berwarna merah muda menahan malu, namun ia tak bisa berbuat apa-apa karena bisikan sang kekasih.
Glek.
"Bagaimana? Apalagi yang harus Gue lakuin biar Elu percaya heum?" bisik Andra sinis.
"Gila Lu Bang, sudah buat hatiku hancur minahh..."jawab Amir dengan wajah melas.
"Sialan Lu, jangan coba-coba berfikiran macam-macam sama pacar Gue."
Amir hanya mencebik kesal, sadar diri akan wajahnya yang standar, jika di bandingkan dengan Andra, bagaikan bumi dan langit.
Tengah hari, setelah makan siang Dewi akhirnya tidur di sofa, dan Amir pamit pulang sebentar untuk membersihkan diri, membuat suasana ruangan menjadi hening.
Andra pun tampak tertidur menyandarkan kepalanya di sisi ranjang, ia sungguh tak ingin jauh dari Zara.
Dengan lembut Zara mengusap rambut sang kekasih, rupanya ia berangkat dini hari menyusulnya, perasaan tak enak hati dan rasa rindu yang tak terbendung yang membawanya kemari.
Di balik semua perhatiannya, lalu bagaimana berita itu bisa beredar, juga vidio pelukan mesranya dengan Fitri di kediamannya.
Jika memang dia bukan jodohku, jauhkanlah ya Tuhan, dan jika memang dia lah yang kelak berjodoh denganku, maka dekatkanlah padaku dengan caraMu, ucap batin Zara.
__ADS_1