Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*92


__ADS_3

Kesal hati Revan pagi ini, setiap kali ia menanyakan perihal ayah kandungnya pada sang Ibu, saat itu pula drama di mulai.


Reni selalu mengeluarkan jurus jitu dengan cara mengeluarkan tangisan pilu, dengan harap putranya tak mengungkit sang ayah yang telah tiada.


Entah tangisan ibunya sungguh-sungguh atau pun hanya kebohongan belaka, namun terap saja membuat hati pria itu luluh, lalu seperti biasa, Revan akan mengalihkan pembicaraan dan tak lagi menanyakan sesuatu yang akan membuat ibu yang sangat di sayanginya itu menangis sedih.


Dengan langkah lesu Revan melangkah menuju gedung perusahaan miliknya.


Roy yang memahami raut muka sang bos pun tak banyak tanya.


Hanya sapaan selamat pagi dan berkas yang harus di tanda tangan Revan pun ia tata di atas meja kerjanya.


"Roy, Lu tahu gue lulusan sekolah mana?" tanya Revan tiba-tiba.


"Tahu bos."


"Cari semua data kedua orang tua gue di data lengkap yang tertera di data dasar semua sekolah gue, cari sampai dapat" perintah tegas dari Revan membuat Roy termenung.


"Baik bos."


Roy pun melangkah keluar untuk menemui anak buah kepercayannya.


Di tengah kesibukan mengurusi perusahaan Revan masih saja gundah gulana tentang bagaimana kelanjutan kisah cintanya.


Jika di mansion ia merasa tak tega karena melihat sang ibu yang selalu saja menangis jika ingatan pahitnya kembali di ungkit.


Namun kali ini ia tak mau tinggal diam, ia akan terus mencari siapa sebenarnya sosok sang ayah.


Dengan cepat semua berkas ia tanda tangan tanpa banyak periksa, karena memang semua sudah Roy periksa dengan cermat sebelum ia menaruh berkas di atas mejanya.


Jam makan siang sudah lewat tiga puluh menit, namun pria gagah itu tak bernafsu sama sekali untuk mengisi perutnya.


"Bos mau saya pesankan makanan?" tanya Roy, ia tahu bos nya itu memang sering telat makan, apalagi jika pikirannya sedang terganggu maka nasfu makannya akan hilang.


Revan menggeleng kepalanya dengan mata terpejam.


"Aku akan tidur dulu Roy" ucapnya sambil melangkah ke ruang pribadinya.


Roy hanya bisa menarik nafas panjang, tak ada yang bisa memaska pria itu saat ini, jika dulu Zara sering di mintainya tolong agar mau membujuk Revan jika sedang tak nafsu makan, dan Revan pun akan menurut semua permintaan gadis cantik itu, sekarang tak ada lagi yang bisa di mintai tolong oleh Roy, sejak keduanya putus, Roy tak pernah bertemu dengan mantan kekasih bosnya itu.


Hanya do'a tulus yang Roy panjatkan, agar bos nya selalu baik-baik saja.


Pukul dua lebih, Revan baru keluar dari ruang pribadinya, kedua matanya terlihat merah.

__ADS_1


"Bos, makan dulu" Roy yang sedari tadi setia menunggu kemunculan Revan, segera menyodorkan sebungkus nasi rawon kesukaanya.


"Gue lagi nggak selera Roy."


"Tapi tetap bos harus makan, nanti lambung bos sakit lagi, dan pencarian kita pasti akan terhambat" ujar Roy.


Revan sontak memandang sang asisten dengan tatapan kesal, bagaimana mungkin sekarang Roy bisa mengendlikannya hanya dengan kalimat bernada ancaman.


Kau memang paham aku luar dalam, pikir Revan dalam hati.


"Bos coba lihat ini" Roy menyerahkan selembar kertas, bergambar lelaki dengan setelan jas rapi, di kawal beberapa bodyguard.


"Apa ini?" tanya Revan.


"Selesaikan dulu makan mu bos."


Revan menghela nafas berat, kenapa hari ini Roy terkadang sangat asik dan terkadang berubah menjengkelkan.


Dengan bersemangat, Revan menghabiskan satu porsi nasi rawon yang di beli oleh Roy.


Roy tersenyum lega dan segera membereskan peralatan makan.


Revan mengamati gambar hasil cetakan anak buah Roy dengan seksama, meski sedikit gelap tapi ia masih bisa melihat raut muka pria berjas itu.


Alis Revan mengerut lalu menggelengkan kepalanya.


"Coba amati lagi bos?" titah sang asisten dengan santai.


"Tapi gue nggak kenal Roy, apalagi cetakan hitam putih model gini, lu yang bener aja, emang nggak ada tinta berwarna di tukang foto copynya" hardik Revan kesal.


"Sorry bos, mereka terburu-buru, jadi asal cetak dan langsung di kirim ke sini" jawab Roy lirih.


"Kata anak buah saya, pria ber jas itu adalah pria yang pernah berkunjung ke makam ibu Non Zara bos."


"Hah, masa" pekik Revan sambil mendekatkan wajahnya, berharap ia mengingat raut muka pria tersebut.


Jika ia adalah ayah dari Zara maka kemungkinan besar pria itu pun ayahnya, di mana dulu Zara mengatakan dengan penuh amarah bahwa mereka adalah saudara satu ayah.


Revan pernah berjumpa dengan lelaki yang sering datang ke mansion, namun saat itu umurnya masih sangat kecil, dan sekarang ingatannya seakan kabur tentang pria itu.


Jika memang dia adalah ayahnya, tapi kenapa ibu Reni mengatakan bahwa ayahnya sudah meninggal.


Revan memijit pelipisnya, kepalanya tiba-tiba berdenyut nyeri.

__ADS_1


"Kenapa bos?" Roy panik saat Revan menundukan kepalanya dan terus memijit pelipisnya.


"Mungkin otakku terlalu berat berfikir Roy, pusing" ucap Revan lirih.


Roy bergegas mengambil segelas air dan obat pereda nyeri dan di serahkan pada Revan.


"Jika benar itu adalah ayah Zara, maka kemungkinan besar dia juga ayahku, tapi kenapa ibu mengatakan bahwa ayah sudah meninggal" ucap Revan masih berusaha memecahkan masalah di kepalanya.


"Sudah bos, istirahat dulu, jangan terlalu di paksakan, nanti semakin membuat pusing, saya takut bos akan pi.." Roy tak meneruskan kalimatnya saat Revan menatap tajam padanya.


"Berani kau menyumpahiku Roy??"


Roy hanya diam membeku di tempatnya, dan merutuki kecerobohannya.


Perlahan ia meninggalkan ruangan, ia tak ingin dirinya terus di jadikan pelampiasan kekesalan sang bos.


"Huh" Roy menghembuskan nafas kasar.


Di ruang pantry kini dirinya berada, sebatang rokok ia nikmati dengan penuh perasaan, kepulan asap pekat keluar dari mulutnya.


Tatapannya kosong ke arah deretan mobil yang terparkir di area parkir gedung.


Jika ibu Reni mengatakan bahwa ayah Bos Roy telah meninggal, lalu kenapa Non Zara menganggap mereka memiliki hubungan darah, sedangkan lelaki yang di curigai ayah kandung Non Zara masih hidup, Roy berfikir keras.


"Apa jangan-jangan.." Roy kini bermonolog sendiri.


Ia pun melangkah dengan cepat menuju ruang CEO.


Tok tok tok.


"Bos, bos jangan-jangan...." hati Roy mencelos saat ternyata ruangan telah kosong.


Netranya memindai ruangan, dan kamar mandi pun tak terdengar suara gemericik air.


Roy menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Sementara itu Revan melangkah ke ruang produksi, untuk melihat hasil jalannya produksi mesin yang baru mereka beli dengan harga yang cukup tinggi.


"Gimana hasilnya dengan mesin terdahulu?" tanyannya pada salah satu karyawan produksi.


"Hah, apa Pak" tanya balik sang karyawan yang memakai pelindung telinga.


Merasa suaranya tak mampu bersaing dengan kerasnya suara mesin, Revan pun menggerakan tangannya tanda agar karyawan tersebut kembali fokus pada kerjaannya.

__ADS_1


Ia lalu pergi dari ruangan produksi.


Bisa budeg lama-lama di ruangan bising itu, batinnya.


__ADS_2