
Ibu Fitri terus menangis di samping ranjang pasien, dadanya begitu sesak melihat tubuh Fitri lemah tak berdaya dengan mata rapat terpejam.
Terpaksa dokter menyuntikan obat penenang agar gadis itu menghentikan amukannya, bekas darah yang mengalir deras dari pergelangan tangannya pun masih terlihat merah di perban yang membalutnya.
Andai saja mereka telat sedikit saja, niscaya Fitri akan kehabisan darah setelah berusaha memotong urat nadi dengan pecahan kaca di kamarnya.
"Sudahlah Bu, biarkan anak kita tidur, bersyukur akhirnya dia sudah melewati masa kritisnya."
"Tapi Pak, aku takut dia akan berbuat nekad lagi, aku tak mau terjadi hal yang sangat menakutkan seperti tadi hiks..."
"Tidak akan Bu, aku sudah menyuruh penjagaan ketat dua puluh empat jam, Fitri tak bisa lagi berbuat konyol yang akan membahayakan nyawanya lagi."
"CCTV jangan lupa di pantau terus Pak...huu huu."
"Iya bu, semua sudah aku siapkan, kau jangan kuatir lagi."
"Lalu apa kau sudah menghubungi Andra Pak? Anak kita terus saja memanggil namanya."
"Bu, Andra sudah memiliki calon istri bahkan sebentar lagi mereka akan menikah, jadi kita tak pantas menghubunginya lagi, kita harus menghargai perasaan calon istri dan keluarganya Bu."
"Pak, kita hanya ingin agar Fitri kembali bersemangat biarlah sebentar saja Andra ke sini, agar hati sedikit Fitri terhibur Pak, lagian ku dengar calon istrinya adalah gadis yatim piatu, dia sebatang kara Pak,jadi tak perlu kita mengkhawatirkan tentang keluarganya."
Pak Menteri itu hanya bisa menghela nafas panjang, jika benar Zara adalah seorang yatim piatu apakah mereka berhak untuk berbuat se enaknya saja tanpa menghiraukan perasaan gadis itu, batin Pak Menteri.
"Baiklah Bu, aku akan coba menghubungi Andra tapi akupun tak bisa berbuat apa-apa jika dia menolak keinginan kita" ucapnya bijak.
"Usahakan lah Pak.." rengek istrinya.
Pak Menteri hanya bisa menghela nafas berat, akhirnya iameminta anak buahnya untuk menjemput Andra agar mau menemui Fitri.
sementara itu Gunawan tampak meremas selembar kertas penting di tangannya tanpa sadar.
"Bos, i itu berkas klien kita Bos" Manu berucap panik.
Setengah hari Gunawan menghabiskan waktunya di kantor, lalu menuju rumah Nardi, untuk pekerjaan di perusahaan ia serahkan pada tim nnya.
Meski sang asisten ijin pun ada tim lain yang selalu dapat Gunawan andalkan untuk meng handle tugas-tugas pentingnya.
Dan di rumah Nardi ke tiga pria itu tampak kesal dengan berita yang anak buah Gunawan kirimkan.
Pak Menteri menyuruh anak buahnya untuk meminta Andra datang ke rumah sakit karena Fitri telah mencoba bunuh diri.
"Sialan apa anak itu tetap juga mau datang ke rumah sakit?" tanya Gunawan pada anak buahnya lewat ponsel.
"Mereka sedang dalam perjalanan ke rumah sakit Tuan."
__ADS_1
"Mereka? Maksudmu putriku pun ikut ke rumah sakit?"
"B benar Tuan."
"Bos jangan banting ....itu ponsel baru" teriakan Manu menyadarkan Gunawan saat tangannya hendak mengayun untuk membanting benda tipis persegi panjang miliknya.
Manu bernafas lega, meski harta Gunawan berlimpah dan tak habis tujuh turunan, tapi sayang rasanya jika ponsel berharga satu unit motor hanya bisa berumur sampai dua hari.
Gunawan menatap Manu gusar, apakah ini saatnya ia harus menampakan dirinya agar Menteri itu tak bersikap arogan dan memandang rendah orang lain, apalagi saat ini kebahagiaan putrinya sedang di pertaruhkan.
"Nu ayo kita berangkat"ujar Gunawan dengan suara berat.
"K kemana Bos?"
"Aku harus membuat dunia tahu bahwa tak ada yang akan bisa menyentuh putriku, apalagi melukai hatinya, aku ingin memberi pelajaran pada keluarga itu, berani-beraninya mengusik putri kesayanganku."
Glek.
Manu dan Nardi saling pandang.
Jika singa turun gunung untuk meng obrak abrik lawannya, maka sulit rasanya untuk sang musuh menyelamatkan diri, pikir Nardi.
Manu bergegas menyiapkan mobil.
"Apa saja yang di miliki Menteri itu hingga ia berani bermain api denganku" tanya Gunawan di samping Manu yang sedang memegang kemudi.
Ternyata untuk menyembunyikan hartanya semua perusahaan yang di miliki menteri itu menggunakan nama orang lain yang kebetulan saham Gunawan pun ia tanam di beberapa perusahaan tersebut dan jika Gunawan menarik seluruh sahamnya maka bisa di pastikan, semua bisnis pejabat itu akan lumpuh.
Gunawan hanya menyeringai puas.
"Kalian siapkan seluruh berkas kerja sama kita dengan perusahaan Menteri itu dan tunggu perintahku" kalimat Gunawan terdengar sangat mengerikan.
Manu menatap jalan di depannya tanpa berkedip, bulu halus di tengkuknya pun meremang karena belum pernah ia lihat Gunawan se marah ini pada lawannya.
"Lambat sekali kau membawa mobil ini Nu, apa perlu aku ganti asisten heum?"
Glek.
"Maaf Bos, sekaramg sedang jam sibuk jadi kita terjebak macet."
Wajah Manu terlihat memucat, ia breum siap untuk pensiun dan hidup kembali ke jalanan, pulang pun sama saja bunuh diri, ucapnya dalam hati.
Jika Gunawan sedang terjebak dalam kemacetan, Andra kini sedang dilema di sebuah ruang tunggu di rumah sakit.
Fitri yang sudah sadar namun masih lemah, dengan suara serak selalu memanggil Andra.
__ADS_1
"Andra...mana Andra Bu? Mana Andra ku" ucapnya lirih.
"Sebentar lagi dia datang nak, sabarlah."
"Cepat panggil dia Bu, aku ingin dia di sini."
"Iya Fitri, sabarlah dulu, Ayah sudah menyuruh pengawal untuk menjemputnya sebentar lagi mereka akan datang" ucap Pak Menteri.
Dua pengwaal yang bertugas menjemput Andra masih susah payah membujuk pemuda tampan itu untuk memasuki ruangan di mana Fitri terbaring lemah.
"Mohon Den Andra cepat masuk? Bapak dan Ibu sudah menunggu."
Andra masih diam di tempatnya, Zara berkali-kali menyikut lengannya agar memasuki ruangan.
"Aku mau masuk tapi dia pun harus ikut dengan ku" jawab Andra sambil melirik ke arah Zara yang berdiri di sampingnya.
Dua pengawal itu saling pandang, mereka mendapat perintah untuk hanya membawa Andra seorang yang boleh masuk ke kamar pasien.
"Tidak apa-apa Babe aku akan tunggu di sini" bisik Zara.
"Tanpa kamu, aku tidak akan masuk, ayo kita pulang saja" ujar Andra seraya membalikan badannya.
"Tunggu Den, jangan pergi kami mohon Den Andra sudi menjenguk non Fitri, kalau tidak, kami akan di pecat Den" ujar salah satu penjaga dengan wajah memelas.
Andra mengerutkan alisnya, yang ia tahu Pak Menteri orang ramah dan hangat, ia tak akan tega berbuat seperti itu pada anak buahnya.
"Bilang pada Pak Menteri, aku akan masuk bersama calon istriku, jika kalian melarangnya maka itu berarti aku pun tak akan sudi memasuki ruangan itu" ucap Andra tegas.
Keduanya kembali saling pandang.
"Baiklah Nona pun boleh masuk" ucap keduanya dengan wajah menunduk.
Tok tok tok.
"Silahkan masuk" perintah satu suara dari dalam ruangan.
Andra memasuki ruangan dengan tangan masih berpegangan erat dengan Zara.
Namun tatapan mata sinis menghadang keduanya, tepatnya ke arah sosok di samping Andra.
"Andra hiks hiks..akhirnya kau datang" isak tangis Fitri terdengar dramatis.
Ibu Menteri pun sigap membangunkan tubuh Fitri.
"K kenapa ada dia Bu?" tanyanya sinis dengan mata menatap Zara tajam.
__ADS_1
Jika Zara menundukan wajahnya maka sebaliknya dengan Andra yang semakin memper erat genggaman tangannya.