
Revan menatap netra bening Zara lekat, tatapan lembut yang kini berubah dingin jika bertatap dengannya.
"Katakan sebenarnya, apa alasanmu meminta hubungan kita putus" kalimat Revan singkat namun membuat debaran hati Zara menjadi kencang.
Zara menatap tajam netra Revan keduanya saling tatap untuk sepersekian detik.
Terbayang kembali dalam memorinya, saat di mana Zara melihat wanita yang menuntun seorang anak laki-laki kecil yang membawa ayahnya pergi, dan saat itulah semua kebencian bertumpu pada ayah dan wanita perebut kebahagiaan keluarganya itu.
Wanita yang kini sudah di ketahuinya adalah Reni, ibu dari Revan dan anak laki-laki yang bersamanya tak lain adalah Revan, maka tak ada alasan lain untuk meneruskan kisah cinta mereka.
"Kau ingin tahu kenapa kita tak akan pernah bisa bersatu? kau dan ibumu adalah penghancur keluargaku, ibumu adalah wanita yang telah merebut ayahku dan kau... meskipun ada darah yang sama yang mengalir di tubuh kita , tapi aku sangat membencimu bahkan hingga langit runtuh kebencianku tak akan pernah hilang untuk kalian, aku benci kau dan ibumu Revan."
Jederrr.
Laksana guntur yang berbunyi menggelegar di sebelah telinganya tak akan sekaget itu Revan rasakan.
Matanya nanar menatap Zara.
"A apa maksudmu Ra" Revan maju beberapa langkah, memastikan bahwa pendengarannya tak terganggu.
"Ketahuilah Revan, kita tidak akan pernah bersatu karena kita satu darah, ayahmu adalah lelaki yang ibumu rampas dari kami, pergi kau Revan aku tak sudi lagi bertemu denganmu, pergi kau hiks hiks.." tumpah sudah air mata yang selama ini Zara tahan sekuat mungkin.
Luka hati yang hampir mengering kini kembali basah dan berdarah, bahkan rasanya ada kucuran asam yang membasahi nya, hingga perih sampai ke ulu hati yang ia rasakan, kebahagiaanya di renggut oleh wanita yang tak punya perasaan.
Zara pun begitu menggunung rasa bencinya pada sang ayah, hanya demi wanita kaya tersebut ia rela meninggalkan keluarganya.
Dengan derai air mata yang bercucur deras, Zara berlari kencang memasuki panel lift yang hampir menutup.
Sementara Revan masih diam terpaku di tempatnya berdiri.
Benarkah apa yang di katakan Zara itu, apa ini jawaban kenapa ibunya selama ini menyembunyikan jati diri sang ayah padanya, batin Revan lirih.
Dadanya terasa sesak, jantungnya seakan berhenti berdetak, dunia kini terasa gelap, tanah tempatnya berpijak pun bagai retak, separuh nyawanya bagai terbang melayang.
Dugg dugg.
Revan memukul dada dengan kepalan tangannya, bagai himpitan batu besar menindih tubuhnya, nafasnya mulai tersengal, tubuhnya pun limbung.
__ADS_1
"Tuan, tuan kenapa tuan" seorang satpam panik melihat tubuh Revan tampak terhuyun dengan tangan memukul dadanya dengan kencang.
Brugg.
"Tuan.."
Lobi apartemen yang lengang kini berubah menjadi mencekam, tubuh Revan yang terkulai lemah di bopong satpam menuju ke sebuah mobil untuk segera di larikan ke rumah sakit.
Wajah sembab Reni masih terlihat jelas, sudah beberapa jam Revan tak sadar di ruang UGD.
Reni yang tak tahu penyebab Revan terkena serangan jantung terlihat sungguh panik.
Bagaiman mungkin sang putra yang begitu rajin menjaga pola makan dan kebugaran tubuh kini mendadak mendapat Heart attack.
Punggung tangan Revan berkali-kali ia usap dengan lembut berharap sang putra segera siuman.
Tiba-tiba Reni merasakan gerakan jemari Revan, meski lemah namun masih bisa ia rasakan.
Segera ia memencet tombol darurat beberapa kali karena panik.
Beberapa dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan.
"Bagaimana putra saya Dok?" tanya Reni.
"Syukurlah putra ibu sudah mulai membaik, detak jantungpun sudah mulai normal, jika kondisinya sudah stabil maka kami akan memindahkannya ke ruang rawat."
Reni bernafas lega, melihat tubuh sang putra terkulai lemah dengan mata tertutup rapat, sungguh bagai runtuh dunia Reni.
Jika pagi hari ia melepas kepergian sang putra dengan senyum bahagia kini berganti tangis sedih setelah mendapat kabar yang menimpa putra kesayangannya.
Reni menatap Revan intens, kedua matanya masih terpejam rapat dan nafas yang teratur menandakan ia sedang terlelap, batinnya.
Sementara itu Dewi masih terus membujuk Zara yang tak henti menangis terisak.
"Minumlah, tenangkan dirimu" Dewi menepuk bahu Zara.
"Aku sudah tak tahan Wi, hatiku sakit, apa aku salah jika aku mengatakan yang sesungguhnya hiks, aku tak mampu jika harus menghadapinya seorang diri Wi hiks"
__ADS_1
Dewi merengkuh Zara dan mengusap punggungnya lembut.
Getaran tubuh kencang, menahan tangis membuat dada Zara sesak.
Dewi membiarkan Zara larut dalam tangisnya, luapan kesedihan yang ia tahan bak air bah yang menghantam pembatasnya, menerjang apapun yang menghalangi lajunya.
Zara yang menyimpan rapat luka hati bertahun-tahun, menahan kesedihan seorang diri, tanpa ada tempat untuk berbagi, kini di pundak sahabatnya ia tumpahkan semua tangis air mata, saksi bisu nestapa yang sejak kecil mengiringinya.
Dewi memahami jika suatu saat Zara memang akan mengungkap semua penyebab luka hati yang di deritanya.
Revan dan ibunya yang ternyata adalah wanita yang merebut ayah Zara, merebut kebahagiaan Zara, sumber mala petaka dan kesedihan yang menimpa keluargannya.
Dewi mengurai pelukan Zara, mata sembab dan hidung berwarna merah karena banyak mengeluarkan cairan dari hidungnya membuat wajah Zara sembab dan bintit kedua matanya terlihat jelas.
"Baru kali ini gue lihat elu jelek Ra" ucap Dewi polos.
Plakk.
"Auuuwh, sakit markonah isshhh" Dewi mengusap bahu yang jadi pelampiasan tangan Zara.
Kebas rasanya, pukulan dari tangan kecil namun mampu membuat bahunya merasa panas.
"Noh minum, coklat hangat bisa bikin mood elu kembali naik" Dewi mengedikan dagu je arah meja di mana segelas coklat hangat sengaja ia siapkan untuk sahabatnya.
"Ish, ini kan minuman elu, ogah gue minum coklat manis ini malam-malam." Zara menolak halus, karena memang dia tak pernah minum minuman manis apalagi tengah malam.
"Sesekali aja Ra, beneran deh gue kalau lagi marah, sedih, dan bingung pasti minum coklat hangat, akan banyak membantu menenangkan suasana hati yang hancur"
Zara menelisik wajah sahabatnya, tak ada keraguan di pancaran matanya.
Perlahan di teguknya sedikit, rasa hangat menjalar masuk ke tenggorkan, sesapan demi sesapan manis Zara nikmati.
"Lu habisin semua, tenang aja nggak bakalan buat badan elu gemuk kalau di minum sekali doang, gue ke kamar ya, ngantuk" Dewi menepuk ringan pundak Zara lalu melangkah menuju kamar, matanya masih terasa sepat saat isak tangis Zara membangunkan tidurnya.
"Wi, terima kasih..."
"Heum.... itulah gunanya sahabat" Dewi mengedikan bahu dan mengerlingkan satu matanya.
__ADS_1
Zara menghela nafas panjang, sesak dadanya perlahan berkurang, bahkan hatinya kini berangsur menghangat.