Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*106


__ADS_3

Dewi menggelengkan kepalanya perlahan, mulutnya seakan terkunci, tak ada kata keluar dari bibirnya.


Revan meraba dahi Zara, ia mengusap keringat dengan sapu tangan miliknya.


Tatapan matanya kini beralih ke sahabat gadis yang amat di cintainya.


"Apa ini perbuatan ibuku Wi?" tanya Revan penuh selidik.


Rupanya sang Ibu sudah mengetahui semuanya, Zara adalah putri dari lelaki yang ia rebut dari keluarganya.


Zara, kekasih yang memutuskan cinta tulusnya karena telah mengira bahwa mereka memiliki ikatan tali sedarah.


Dari informasi yang di dapat dari Wisnu sahabatnya, Revan sudah mengira, bahwa ibunya telah datang ke Rumah Sakit untuk menemui Zara, dan entah apa yang di katakannya hingga membuat Zara shock.


Revan menghela nafas panjang, kisah pelik hidup cintanya dengan Zara sungguh rumit.


Di lihatnya nafas Zara mulai teratur, pucuk tangan dan kakinya pun mulai menghangat, wajahnya tak se pias tadi, bibir yang memucat kini kembali segar dan ranum.


Revan mengalihkan pandangan ke arah Dewi lalu mulai menceritakan sepenggal kisah hidupnya dengan Zara, cerita yang mungkin saja tak lengkap karena yang memegang kunci sebenarnya adalah Tuan Gunawan sendiri dan ibunya Reni.


Kini Dewi mulai berusaha merangkai puzle yang masih membuatnya pusing.


Dari cerita Reni yang di dengarnya, juga penuturan Revan, sudah di pastikan antara Zara dan Revan tak memiliki ikatan darah sama sekali.


Zara yang mengira mereka adalah kakak dan adik satu ayah namun ternyata itu semua salah.


Tuan Gunawan menikahi Reni setelah Memiliki Revan.


Jadi Tuan Gunawan bukanlah Ayah biologis Revan.


"Lalu apa yang akan kau lakukan? Apa masih mengharap Zara akan menerimamu? Setelah apa yang telah ibumu perbuat pada mereka, tak tahukah kau Van, betapa hancur hatinya saat pertama kali melihat bahwa ibumu lah wanita yang telah merebut Ayahnya."


Revan menatap Dewi tajam.


"Kapan Zara mengetahuinya Wi? Kapan Zara bertemu dengan ibuku dan menyadari bahwa Ibu lah yang telah membuat Ayahnya pergi meninggalakannya?" tanya Revan terkejut.


"Saat Zara membatalkan janji untuk bertemu dengam ibumu, Dia membatalkan bertemu dengan kalian, sebetulnya ia sudah datang dan melihat ibumu dari tempat tersembunyi."


Revan menatap Dewi lekat, tak ada kebohongan di sana.


Jadi selama ini Zara mengenal Ibunya sudah lama, batin Revan bergetar.


Pukul sebelas lebih tiga puluh menit, Dewi tampak sudah mengantuk.


"Aku pulang dulu Wi, kabari aku sesegera mungkin saat terjadi apa-apa pada Zara."


Dewi mengangguk pelan, rasa sepat matanya sungguh tak tertahan.


Revan keluar ruangan lalu menuju mobilnya, sopir yang ia suruh tunggu di ruang parkir tampak sedang bermain catur dengan sesama supir di tempak duduk petugas satpam.

__ADS_1


"Pak ayo kita pulang."


Sopir pun bergegas menyudahi permainanya.


Revan memejamkan matanya di kursi belakang supir.


Zara pastilah sangat marah pada Ibunya, iapun jika berada di posisi Zara, tentu akan bersikap sama, bahkan mungkin akan berbuat lebih dari yang Zara lakukan pada Ibunya.


Jalanan yang memang lancar membuat perjalanan hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit.


Revan memasuki mansion yang memang sebagian besar penghuni sudah terlelap.


Ia membaringkan tubuhnya, untung saja ia sudah mandi sepulang dari kantor hingga ia tak perlu lagi membersihkan tubuhnya.


Sekali lagi ia melihat ponselnya takut jika Dewi atau Wisnu mengabarinya informasi terbaru tentang kondisi Zara.


Pagi menjelang, Dewi terbangun saat terdengar ketukan pintu rumah sakit, jam setengah satu baru Dewi bisa memejamkan matanya setelah memastikan Zara tidur lelap.


Ceklek.


Andra muncul dari balik pintu dengan kedua alis mengerut, tak biasanya ia melihat kedua gadis itu bangun siang, bahkan ia lihat Zara masih lelap tidur.


"Baru bangun Wi?" sapanya hangat sambil melangkah ke sisi ranjang Zara bermaksud membangunkan sang pujaan yang masih terlelap.


"Ra...sayang ba.."


"Sstt, Kak, jangan bangunin dulu" bisik Dewi panik.


"Nanti aku ceritain, aku mau ke kamar mandi, sudah telat aku" ucapnya lalu bergegas ke kamar mandi karena ia harus segera berangkat kerja.


Andra menaruh bungkusan bubur ayam di atas meja.


Mulutnya tersenyum, begitu damai ia memandang wajah gadis yang semalam menghampirinya dalam mimpi.


Perlahan ia duduk di samping Zara.


Wajah manis yang terpejam dengan bibir sedikit terbuka, sangat menggemaskan, ingin rasanya ia bisa menikmati pemandangan indah itu setiap hari.


Tangannya terangkat ke atas wajah Zara, di usapnya pipi halus tanpa noda, puncak hidungnya yang mancung serta bibir tipis bergelombang, berwarna merah mesti tanpa polesan lifstick.


Ceklek, cepat-cepat Andra menyingkirkan tangannya sebelum Dewi memergoki apa yang di lakukannya.


"Kak, aku berangkat dulu, biarkan Zara bangun sendiri, jangan ganggu tidurnya, mumgkin tanpa obat penenang ia tak akan bisa tidur tadi malan" terang Dewi lirih.


"Hah, kenapa dengan dia Wi? Bukannya hari ini ia sudah boleh pulang? Tanya Andra bingung.


Dewi kini dilema, untuk menceritakan kejadian tadi malam, ia pasti akan ketinggalan masuk kerja.


"Nanti sore saja Kak, sepulang kerja aku ceritain" Dewi bergegas keluar untuk berangkat meninggalkan Andra yang kini gundah, apa yang terjadi pada Zara saat ia tak di sini, dan hanya Dewi lah yang bisa ia mintai penjelasan.

__ADS_1


Drrt drrt.


Andra bergegas melihat ponselnya yang bergetar lalu keluar ruangan agar tak mengganggu tidur Zara.


Setelah lebih dari sepuluh menit ia pun kembali masuk ke ruangan.


Diego memintanya untuk bertemu sore nanti di Cafe Juned.


Ceklek.


Andra tertegun saat di lihatnya Zara sudah duduk di tepi ranjang.


"Sudah bangun Ra?" Zara hanya mengangguk pelan lalu menggeser tubuhnya hendak turun.


"Mau apa minum? Makan? Ini aku bawa in bubur."


Andra bertanya antusias.


"Aku mau ke kamar kecil" jawab Zara santai.


Andra berjalan mengekor di blaakang Zara.


"Kak mau ngapain?" tanya Zara penuh selidik.


"Mau jaga kamu takutnya terpeleset kan licin sayang."


"Nggak usah, tunggu aja di situ, jangan ikutin" hardik Zara, mana mungkin ia membiarkan ada orang lain ikut masuk kamar mandi.


Dengan setia Andra berdiri di samping pintu kamar mandi yang kini tertutup rapat.


Dari raut wajah dan sikap Zara, semua tampak normal tak ada yang aneh yang menandakan telah terjadi sesuatu tadi malam.


Ceklek.


Zara keluar dengan wajah terlihat lebih segar karena satu tangannya tertancap jarum infus membuatnya sedikit kesulitan mengeringkan mukanya hingga anak rambutnya pun ikut basah.


Dengan telaten Andra menuntun Zara agar duduk di sisi ranjang, lalu mengelap wajah dan anak rabut yang terjuntai tak beraturan yang akhirnya terkena cipratan air.


Rambut panjang Zara pun ia sisir dengan rapi tanpa Zara minta.


"Mana kuncir rambutnya sayang?."


"Di laci meja."


Bagai seorang Kakak yang dengan penuh kasih menguncir rambut sang adik.


Andra mengambil bungkusan bubur ayam yang di bawa lalu menyuapi sang kekasih dengan lembut, berkali-kali tatapan netra keduanya bertemu tanpa kata.


Benak Andra masih di liputi banyak pertanyaan, namun ia tak mau jika nantinya malah akan memperkeruh suasana hati Zara, maka untuk saat ini yang ia lakukan hanya memberikan layanan terbaik untuknya.

__ADS_1


"Sudah Kak, kenyang."


Zara yang terbiasa makan pedas, merasa tak berselera makan saat Andra melarangnya memakai sambal, perutnya masih belum boleh me makan makanan berasa pedas itu katanya.


__ADS_2