Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*131


__ADS_3

Melihat banyaknya tatapan mata yang mengharap jawabannya, Andra menjadi gugup.


"Mas gimana jawabannya, calon mertua sudah kasih lampu hijau, lalu kapan Mas Andra akan melamar Mbak Fitri?."


Kerongkongan Andra bagai tersedak, sepatah kata pun ia tak sanggung menjawab pertanyaan para waryawan itu.


Wajahnya tampak pias dengan keringat dingin mulai keluar dari pori-pori keningnya.


"Sudahlah, mungkin dia masih menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya, lain kali akan aku sampaikan pada kalian saat tiba kesiapan hatinya untuk melamar putriku."


"Tapi Pak apa Bapak akan langsung menetima jika Mas Andra melamar Mbak Fitri?"


Pak Menteri tersenyum pasti dan mengangguk.


"Pasti akan aku jawab 'Iya' hanya dia lah yang bisa membuat putriku bahagia."


Kembali suara tepuk tangan riuh memenuhi ruangan.


Suasana baru kembali tenang saat Pak Menteri menyudahi sesi tanya jawab dengan para awak media.


Senyum puaspun terbit dari wajah Fitri.


"Fit, Gue pulang sekarang, mungkin kau ingin melepas kangen dengan Ayah Ibumu."


Fitri mengerucutkan bibirnya, untuk kesekian kali Andra minta pamit.


"Apa kau tidak betah di sini Ndra?."


"Tidak Fit, aku masih banyak pekerjaan, Mommy ku tak mungkin bisa meng handle butik dan resto sekaligus, kasihan kesehatannya pun sudah menurun."


"Baiklah Ndra, sampaikan salamku untuk mommy mu."


Andra mengangguk lalu melangkah ke dalam ruang tengah untuk berpamitan pada kedua orang tua Fitri.


"Hati-hati Ndra, kami tunggu kedatanganmu secara resmi" ucapan Pak Menteri membuat langkah Andra tertahan, kalimat yang menyiratkan bahwa mereka menunggu kedatangan Andra untuk meminang Fitri secara resmi.


Dengan senyum masam Andra menjalankan mobilnya menuju mansion, mungkin sang mommy sudah menunggunya dengan berbagai pertanyaan yang akan ia lontar untuknya.


Sesampainya di mansion Andra langsung menuju ke kamar Maharami setelah pelayan memberitahukan bahwa mommynya shock dengan berita yang sudah beredar.


Shitt, bagaimana berita itu langsung tersebar, umpatnya dalam hati.


Ceklek.


Pandangan Andra tertuju pada Mommy nya yang duduk dengan wajah murung menghadap jendela kamarnya.

__ADS_1


"Mom..." panggil Andra lirih.


Wanita paruh baya itu memalingkan wajahnya sekilas lalu kembali memandang ke luar jendela.


Raut wajah yang menyiratkan kekecewaan yang dalam.


"Kita makan mom? Bukankah Mommy belum makan siang?" tanya Andra lirih, pelayan dengan cemas memberitahukan bahwa Maharani belum makan siang.


Maharani menggeleng lirih.


"Ayolah Mom, nanti mommy sakit" bujuk Andra lembut sambil mengusap pundak Maharani.


"Tak apa tubuh Mommy sakit, asal jangan hati mommy yang kau buat hancur" kalimat sinis keluar dari mulutnya yang bergetar.


"Apa maksud mommy?"


"Kau masih bertanya pada mommy, setelah begitu jelasnya berita yang beredar tentang pertunanganmu, kau sama sekali tidak menghargai mommy mu ini, kau juga sudah melukai hati Zara, kasihan dia."


"Mom dengar dulu, berita itu semua bohong , aku dan fitri tidak ada hubungan apa-apa, apalagi tunangan, memikirkannya pun aku tak pernah mom."


"Lalu bagaimana berita ini bisa sampai beredar, bahkan Pak Menteri pun meng iya kan jika kau akan melamar putrinya nanti" cerca Maharani sinis.


"Ehm i itu kan dia yang bilang bukan aku Mom, saat itu banyak oara awak media, mana mungkin aku mengatakan penolakan, mau di taruh di mana muka Pak Menteri nanti."


"Bodo amat, mau di taruh di rumah kek, di jual kek, mommy nggak peduli sama Pak Menteri itu, yang mommy pikirin bagaimana jika Zara tahu berita ini nak...ia pasti akan sangat kecewa padamu, ia akan menganggap kau telah menghianatinya."


"Ah bagaimana sekarang nasib Zara, aku sangat kasihan pada gadis itu hiks" isak Maharani terdengar lirih.


"Aku harus ke resto sekarang dan menemuinya Mom" Andra bergegas keluar mansion.


"Jelaskan padanya semuanya, bawa dia ke sini, Mommy ingin memeluknya."


"Baik Mom, keinginanmu adalah perintah untuku" jawab Andra lantang sambil berlari ke mobilnya.


Maharani tersenyum puas.


Tak ada yang akan menggantikan posisi Zara sebagai calon menantunya, sekaya apa Menteri itu, tetap restunya hanya untuk Zara, batin Maharani.


Beberapa menit lagi waktu kerja usai, Andra melajuakn kereta besinya berpacu dengan waktu.


Tangannya mengepal kemudi keras saat panggilannya tak di angkat oleh Zara.


"To, kalau jam kerja udah selesai, tolong jaga Zara, jangan biarkan ia pulang meninggalkan resto" perintah Andra pada anak buahnya.


"K kenapa Den?" tanya pria itu polos.

__ADS_1


"Aahh udah Lu jaga aja dia, bilangin jangan pulang dulu, kalau dia maksa , Lu harus tetap di dekatnya kalau perlu sandra tasnya" titah Andra tegas.


"B baik Den, akan saya usahakan" jawab wanto ragu.


"Hei kalau sampai Zara pergi, Lu gue pecat.." teriakan Andra di ujung telepon membuat Wanto menjauhkan wajahnya.


"Bos lagi kesurupan kali?"Ia bermonolog sendiri terheran-heran pada sikap Andra.


"Siapa yang kesurupan Bang?" tanya Zara yang berada tak jauh darinya dan mendengar ucapan pria lugu itu.


"Ini Non, Den Andra marah-marah nggak jelas."


"Marah nggak jelas gimana Bang?"


"Dia nyuruh saya untuk jaga Non Zara jangan sampai pulang? Katanya Non harus tunggu dia datang dulu."


"Mau ngapain?" tanya Zara dengan kedua alis menyatu.


Di lihatnya ponsel yang ada dalam tasnya dan mulutnya membuka saat ada lima panggilan dari Andra yang tak terangkat olehnya.


"Ada apa ya Bang, dia juga tadi hubungi aku?"


"Nggak tahu Non, pokoknya Non nggak boleh pulang sebelum Den Andra datang" pinta Wanto mulai panik.


"Tapi aku ada urusan mendesak Bang."


"Aduh Non, tolongin saya, saya akan di pecat kalau sampai Non pergi sebelum Den datang."


Zara menghela nafas berat, karyawan yang satu sift dengannya sudah pulang semua, tinggal sift yang berlawanan yang ada di resto.


Untung lah taman yang berada di belakang resto cukup sejuk dan hening, dan hembusan angin sepoy yang menerpa wajahnya membuat mata Zara terasa berat.


Dan di kursi taman akhirnya matanya terpejam, Wanto merasa lega melihat bidadari yang harus di jaganya sudah terlelap dengan posisi duduk bersandar


Ia yang juga merasa lelah pun ikut terpejam di kursi sebelah Zara.


Keduanya tertidur tanpa ada yang berani mengganggu.


"Wan gimana apa di..." nafas Andra tersengal setelah berlari memasuki resto, cemas hatinya tak terkira saat tak mendapati Zara di ruangannya.


Namun kepanikan hilang seketika berganti hati yang sendu, wajah tenang dengan mata terpejam rapat dengan posisi tubuh bersandar di kursi di taman resto.


"Haahh di sini kau rupanya" ucap Andra lirih.


Dan ia sekilas melihat ke wanto yang ikut berbaring di kursi sebelah Zara.

__ADS_1


Perlahan ia dekati wajah cantik yang tenang dalam tidurnya.


Andai aku bisa menikmati wajah lembutmu setiap hari seperti ini, bahagianya aku Ra, batinnya lirih.


__ADS_2