Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*114


__ADS_3

Fitri membuka matanya setelah cahaya mentari sudah terang menerobos kaca jendela kamarnya.


Bergegas ia bangkit dari tidurnya, di lihatnya jam dinding yang sudah di angka delapan.


Fitri merutuk panjang pendek, pagi ini ia berniat untuk ke salon, ia ingin berpenampilan semenarik mungkin, dari keterangan anak buahnya, Andra akan mengajak Zara ke taman kota sore nanti.


Sementara itu di apartement, Zara masih di depan kaca mengamati bekas luka di pelipisnya.


Entah kenapa Dewi sepanik itu saat luka di pelipis Zara terlihat jelas.


"Ish Ra kenapa bekas luka nya tidak hilang? Kan muka Lu jadi ada bopengnya" ujar dewi sambil mengusap pelipis Zara.


"Ah nanti juga ilang Wi, lagian emang kenapa jalau di wajahku ada bekas luka toh tak terlalu berbahaya" jawab Zara santai.


"Iya tidak bahaya buat nyawa Lu, tapi bahaya buat karir elu taplaaak."


"Auuch, kenapa mala Lu pencet, ntar jidat Gue tambah penyok donk" ucap Zara kesal.


"Weii dodol ... emang pala Elu panci, yang ke bentur dikit aja bisa penyok."


"Iya maka itu Wi, karena tubuh kita buatan Tuhan, ya pasti tahan banting lah, kalau luka kecil gini mah enteeeng, di usap pake dempul juga bakal ilang" ujar Zara jujur.


"Ish Elu tuh kalau di bilangin suka ngeyel" Dewi mentoyor sahabatnya gemas.


"Dah Gue berangkat, semoga kencan Elu nanti sore sukses bye" Zara membalas lambaian Dewi.


Waktu berjalan cepat, dan akhirnya sore pun tiba.


"Ra, aku sudah di lobi bawah" ucap Andra lewat pesan singkat.


"Oke."


Dengan langkah panjang, Zara melangkah menyongsong sang pujaan hati.


Suasan sore yang cerah, secerah kedua insan yang sedang di mabuk cinta.


Tangan kiri Andra selalu memegang erat tangan Zara sementara tangan kanan memegang kemudi, meski hal itu mengundang bahaya ia tak perduli, andai sekarang malaikat maut mau silaturahmi pun ia rela, asal selalu bersama Zara, batinnya.


Suasana yang bukan akhir minggu membuat Taman Kota tampak sepi, beberapa pedagang yang mangkal pun sepi pembeli.


Banyaknya pepohonan membuat taman menjadi rindang dan sejuk, danau kecil yang terletak dekat batas jalan pun menambah suasana menjadi syahdu.


Kursi taman berjejer kosong, hanya ada beberapa pengunjung yang sedang menikmati sore dengan pasangannya.


"Kita duduk di sana Ra" ucap Andra sambil menunjuk kursi kosong di sudut taman.


Zara pun mengangguk.


Kebetulan tak jauh dari kursi tersebut ada pedagang rujak buah.

__ADS_1


"Mau ke mana Ra" tanya Andra yang melihat Zara beranjak dari kursinya.


"Aku mau beli itu Kak, sepertinya segar di cuaca cerah seperti ini menikmati buah" jawab Zara.


"Duduklah, biar aku yang akan membelinya untukmu" Andra menuntun Zara untuk kembali duduk lalu ia melangkah ke penjual buah untuk membelinya.


Zara memandang gerbang masuk pintu taman kota, beberapa pria dengan kamera siap membidik, berjalan memasuki taman.


Mungkin kah ada shooting iklan, itulah yang ada dalam pikiran Zara, lalu ia menurunkan topi agar wajahnya lehlbih tertutup.


Rupanya bukan hanya beberapa pria yang datang, namun kini di belakangnya menyudul lebih banyak para reporter yang sedang mengikuti jalan seorang gadis cantik nan anggun.


Dada Zara berdesir saat mengenali gadis tersebut.


Tak lain dan tak bukan, gadis yang sedang berjalan menuju ke penjual buah itu adalah Fitri, putri Pak Menteri.


Kini semakin banyak pengunjung berdatangan memenuhi Taman Kota itu, Fitri rupanya sengaja memberi informasi pada wartawan bahwa ia akan bertemu dengan calon suaminya di Taman Kota.


Para pemburu berita yang mendapat informasi bagus, tentu saja tak mau kehilangan kesempatan emas.


Suasana Taman Kota yang tadinya lengang, kini berubah ricuh.


Mereka berbondong-bondong mendekati penjual buah di mana Andra berada.


Fitri yang penuh semangat melangkah menuju si pencuri hatinya.


"F Fitri, ngapain kamu ke sini, dan kenapa ada mereka" bisik Andra yang tampak Shock.


"Aku kebetulan lewat dan melihatmu di sini, dan mereka juga kebetulan habis pulang meliput acara pembagian donasi untuk anak yatim di panti asuhan milik Ayahku."


Andra tertegun sesaat, lalu ia teringat bahwa Zara masih berada di kursi.


Ia pun menyisir pandangan ke arah di mana tadi Zara duduk, namun bangku itu sudah kosong.


"Ayo Ndra antar aku untuk beli jajanan itu" ucap Fitri menunjuk sebuah tenda warung sosis bakar.


"T tapi Fit, aku tidak bisa aku.."


"Aah bentar aja kok."


Andra tak berkutik saat Fitri menarik tangannya.


Dimana kamu Ra, teriak Andra dalam hati sambil sesekali ia memalingkahn wajahmya mencari keberadaan Zara.


Sementara di tempat lain, Zara berhasil keluar dari kericuhan para wartawan tersebut dan langakahnya cepat menuju pintu keluar Taman.


"Non Zara, ayo cepat masuk" teriakan seseorang membuat Zara mengalihkan pandangan ke arah sebuah mobil sedan hitam yang terparkir di sisi jalan.


"Manu...?" ucap Zara.

__ADS_1


"Ayo cepat masuk" ujar pemuda setengah bule tersebut dengan wajah gusar.


Zara tampak ragu lalu melihat ke arah kerumunan di mana Andra dan Fitri kini berada.


"Non Zara, ayo cepat ..sebelum para wartawan itu tahu Nona ada di sini."


Zara bagai terbangun dari lamunan lalu ia pun bergegas menuju ke mobil Manu dengan berlari kecil.


"Huuhh haahh" Zara memegang dadanya, nafasnya memburu, ia tak lagi berfikir siapa Manu sebenarnya, yang ia fikir saat ini ia harus segera pergi dari Taman Kota itu.


Manu menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi.


Empat puluh lima menit akhirnya mereka sampai, Manu memarkirkan mobilnya di samping rumah Nardi.


"Di mana ini?" tanya Zara,ragu untuk turun.


"Ini rumah Ayah saya, maaf Non saya kebelet mau ke belakang, Nona bisa turun dulu dan menunggu di dalam atau di mobil saja" ujar pemuda itu tenang.


Aihh, ada-ada saja, suasana genting begini pake kebelet segala, pikir Zara.


Melihat suasana rumah sederhana yang tampak asri, Zara pun akhirnya turun.


Ia berjalan mengitari rumah dan berhenti di pekarangan samping di mana hamparan sayuran hijau menyejukan mata.


Di kursi rotan sederhana ia pun duduk.


Suasana angin sepoy-sepoy membuat matanya terasa berat, dan ia pun tertidur.


Manu tersenyum melihat hal tersebut dari balik jendela di belakang Zara.


Rupanya alasan kebelet ke kamar kecil hanyalah tak-tiknya saja.


Manu pun diam-diam duduk di belakang, mereka hanya terpisah dengan sekat jendela kaca jadi Zara tak akan mengetahui jika Manu ada di belakangnya.


"Hei kamu ngapa..."


"Sstt..." Nardi menutup mulut dengan tangannya saat Manu mengisyaratkan agar ia jangan bersuara.


Nardi melongok mendekati jendela.


Wajah cantik nan ayu tengah terlelap dalam tidurnya, wajahnya begitu halus, dengan hidung mancung dan bibir tipis bergelombang.


Raut wajahnya mengingatkan ia pada Gunawan.


"Apa dia putri Gunawan?" tanya Nardi dengan suara begitu pelan.


Manu mengangguk dengan tatapan masih tertuju pada Zara.


Bagai sedang menikmati pemandangan dari surga saat ini, Manu ingin memandang sepuasnya wajah gadis pemikat hatinya itu.

__ADS_1


__ADS_2