
"Manu, kita langsung ke apartemenku saja" ucap Zara tanpa memanggil dengan embel-embel Pak, karena meski wajahnya tertutup masker.
Zara tahu, Manu masih terlihat muda mungkin umurnya tak jauh berbeda dengannya, pikir Zara.
Manu pun mengangguk, beberapa menit perjalanan akhirnya sampailah mereka di area parkir apartement Zara.
"Manu kamu tahu di mana aku tinggal?" tanya Zara.
"Ah a anu saya tahu dari Bos" ucap Manu gugup.
Meski sedikit ragu, Zara sedikit lega karena Manu sudah mengantarnya sampai apartement.
Ia pun mengambil tas yang berisi baju selama di rumah sakit.
"Biar saya yang bawa Nona."
Manu bergegas mengambil tas dari mobil, mereka pun berjalan beriringan, Zara yang masih asik dengan gadget tak menyadari mereka sudah berada di depan pintu lift.
Zara memencet bel pintu apartementnya.
Sesekali Manu melirik ke Zara, wajahnya putih alami, meski habis sakit dan masih sedikit pucat namun tak mengurangi pesonanya sama sekali.
Ting.
"Maaf Non, saya hanya bisa mengantar sampai di sini" ucap Manu menunduk hormat.
"Ah oiya, terima kasih banyak Manu" Zara pun menundukan kepalanya dan tersenyum manis saat melambaikan tangan ke Manu.
Jangan perlihatkan pesonamu padaku Non, jika aku terlanjur menyukaimu, maka kau tak akan bisa lepas dariku, gumam hati Manu dalam.
Zara merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang, beberapa hari meninggalkan ruangan itu membuatnya sangat rindu.
Drrt drrt.
Zara melihat layar ponselnya muncul nama Andra, memanggil.
Matanya menatap jengah, namun hati kecilnya berteriak agar segera ia angkat panggilan itu.
"Halo Kak" sapa nya datar.
"Ra, diman kamu? Aku di ruangan kamu, tapi sudah kosong, kata suster kamu udah pulang?" tanya Andra panik.
Zara diam membeku, bukannya Manu adalah anak buahnya, tapi kenapa malah Kak Andra masih bertanya kepulangannya.
Lalu siapa Manu sebenarnya?, benak Zara sungguh di liputi berbagai pertanyaan.
"A aku pulang naik taxi Kak, aku ingin cepat-cepat pulang, kalau tunggu Kakak takutnya lama."
"Iya, tapi se enggaknya kasih kabar dong Ra" protes Andra sedikit kesal.
"Maaf Kak."
__ADS_1
"Ya sudah, aku akan ke sana, tunggu aku."
"Tapi Kak..." panggilan terputus.
Sebenarnya Zara merasa malas bertemu Andra, ia masih kesal karena Andra tak jujur padanya.
"Manu, Manu, Manu, siapa kamu sebenarnya?" Zara bergumam sendiri.
Manu melajukan kereta besi nya menuju sebuah rumah sederhana milik Nardi, karena Gunawan memintanya untuk menunggu di situ.
Tok tok tok.
"Masuklah Nu" perintah Nardi dari dapur.
Manu pun masuk lalu duduk di kursi rotan sederhana di ruang tengah, tatapannya jauh ke luar jendela menatap hamparan tanaman hijau sayuran milik Nardi.
Ahh damainya hidupku, jika menikmati hari tua di tengah suasana hijau seperti ini, Manu membatin.
Senyum tipis mengembang sekilas, wajah manis dengan mata indah Zara membuat dadanya berdebar.
Wajahnya jauh lebih cantik dari yang selama ini di lihatnya lewat sosmed.
"Nu, kita makan dulu, mumpung masih hangat, jangan tunggu bos mu, bisa mati lelaparan kita" teriak Nardi dari ruang dapur.
"Baik Pak" Manu pun dengan semangat menuju dapur, menolak tawaran makan dari Nardi, adalah satu kerugian besar, bukan karena tak akan mengeluarkan uang, tapi menikmati kelezatan makanan dari seorang Nardi adalah suatu keberuntungan besar.
Nardi menyiukan nasi dan lauk ke piring Manu, ia selalu senang melihat nafsu makan pemuda tampan itu, apapun yang ia masak pasti ia akan makan dengan lahap.
Pepes ikan mas, sayur asem dan sambel plus lalapan dedaunan segar sungguh nikmat di mulut.
Nardi tersenyum puas "Bagaimana keadaan putri Gunawan Nu?" tanyanya setelah mereka menyelesaikan makan.
"Ehm sudah baik Pak, wajahnya pun tampak segar dan bersemangat" jawab Manu singkat.
"Apa kau mengantarnya sampai ke apartement?."
Manu mengangguk dan senyumnya terbit.
Zara tanpa sadar mengajaknya ke lantai di mana tempat apartemenya berada, meski Manu tak masuk namun ia sudah merasa senang.
"Apa kekasihnya tak menjemputnya?" pertanyaan Nardi membuat senyum Manu hilang.
Manu sengaja mempercepat gerakannya, ia lebih awal menjemput Zara karena jika beberapa menit lagi terlambat maka sudah pasti putra Desainer itu sudah menjemputnya.
"Demi berdekatan dengan kekasih orang lain caramu licik nu" sindir Nardi denagn senyum smirk.
Glek.
Manu menatap tajam pria paruh baya di depannya, apakah pria itu tahu isi hatinya selama ini.
"Tidak usah menyembunyikannya dariku, aku tahu semua isi kepala dan hatimu?" ucap Nardi dengan seringai mengerikan, mungkin serigala pun akan berlutut karen seringainya kalah mengerikan dari seringai pria tua tersebut.
__ADS_1
Dari tingkah Manu, jelas terlihat jika pemuda setengah bule itu menyukai Zara.
Matanya selalu bersinar jika mengucapkan nama gadis itu, bahkan saat Guanwan menyuruhnya memata-matai putrinya, Manu dengan sigap menyetujuinya.
Manu menatap Nardi, jika pria paruh baya yang adalah sahabat atasannya itu mengetahui perasan hatinya maka ia hanya bisa pasrah.
Hukuman apa pun akan ia terima, jika Tuannya tak terima sang asisten malah menyukai putrinya sendiri.
Nardi tersenyum lalu menepuk pundak Manu lembut.
"Jika memang kau benar menyukainya, maka berusahalah untuk mendapatkannya" kalimat Nardi membuat Manu tertegun.
Senyumnya terbit, secercah harapan dan sinar semangat dari kedua matanya kini kembali menyala.
"Terima kasih" ucap Manu tulus.
Kini ia akan memantapkan langkahnya, ia tak mau menyerah sebelum berjuang.
Jika Manu sedang bersemangat karena mendapat dukungan dari Nardi maka berbeda dengan Reni, wanita itu sedang duduk sendiri di sebuah ruang privat sebuah Vila yang terletak di pinggiran kota.
Gunawan menyuruh anak buahnya untuk membawa Reni mantan istrinya untuk menemuinya.
Setelah sekian lama, menyimpan rahasia kelam kisah hidupnya, juga penyamaran jati diri yang selalu ia tutupi, kini sudah waktunya Gunawan melepas itu semua.
Gunawan ingin menyingkirkan awan hitam yang selalu menaunginya demi kebahagiaan putrinya tercinta.
Di sebuah Vila tersembunyi di sudut kota, kini Reni berada.
Anak buah Gunawan sudah menyiapkannya dengan matang, Reni datang di bawa oleh sang supir, tanpa tahu kenapa, siapa dan kemana tujuan mereka.
Reni hanya bisa memasrahkan dirinya saat dari belakang terdengar suara memerintah untuk mengikutinya.
Tak bisa menolak karena anak buah Gunawan bergerak dengan cara halus, meski saat itu di sebuah mall besar namun Reni tak berkutik.
Takut keselamatannya terancam, Reni pun mengikuti apa yang di perintah anak buah Gunawan.
Kini Reni di buat bingung dengan tamu misterius yang tak juga muncul, minuman di gelasnya hampir habis, dan malam pun kian larut, sedangkan suasana Vila sangatlah sepi, Reni hanya bisa berdo'a dalam hati agar ia masih di beri kesempatan menghirup udara pagi esok hari.
Ceklek.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka.
Pria berjas hitam dengan masker menutup sebagian wajahnya, hanya terlhat sepasang mata yang kini menatapnya tajam.
Mata yang ia kenal, tatapan yang pernah ia rindukan, meski sebagian rambutnya memutih namun Remi kenal sorot mata tajam itu.
Untuk sesaat dadanya berdebar kencang, pria ber jas menarik kursi di hadapannya dengan tenang.
"Selamat malam Ren."
Suara itu, suara berat dan dalam yang dulu Reni rindukan di kala tak bertemu, seakan tak percaya hati Reni saat ini, benarkah pria ber jas hitam yang kini duduk di depannya adalah mantan suaminya.
__ADS_1