
Zara keluar dari pintu kamar tamu dengan langkah ragu, dres sebatas betis bermode payung berwarna merah muda sangat pas di tubuhnya, dress bermotif bunga sakura yang di pilih Maharani untuknya sangat pas.
Tak tok tak.
Maharani dan Andra memandang zara dengan tatapan takjub apalagi Andra, matanya yang terfokus pada leher jenjang Zara yang terkspos membuat jakunnya bergerak naik turun.
"Mom, kenapa kau berikan baju berkerah leher pendek seperti itu" bisik Andra lirih, ia tak mau gadisnya akan menjadi korban fantasi liar para lelaki buaya yang melihatnya.
"Kenapa, dress itu sangat cantik di tubuhnya dan mommy sangat suka" ucap Maharani puas dan bangga.
Prok prok prok.
"Kamu memang terlahir sebagai seorang bidadari Ra, kamu sangat cantik" sanjung Maharani membuat Zara merona merah wajahnya.
"Bukan saya yang cantik, tapi dress ini yang cantik Tante" ujar Zara jujur, ia merasa baju mahal itu terlalu indah dan sayang ia pakai, andai ia memiliki baju seperti itu, pasti akan ia pajang di lemari pakaiannya dan tak sembarang waktu ia gunakan.
"Sepotong baju akan terlihat menyatu dengan tubuh yang memakainya dan akan memancarkan keindahan yang akan membuat takjub mata yang memandang, iya kan Joy...Joy.."
Andra tergagap dari rasa terpesoannya pada sosok gadis yang kini di depannya.
"Ah ayo kita makan, ususku sudah saling menempel rasanya" ucap Andra menutupi kegugupannya.
Maharani tersenyum senang lalu merangkul Zara menuju ruang makan.
Andra beberapa kali mancuri pandamg saat Zara fokus makan, tatap penuh rasa kagum terpancar jelas dari sorot matanya.
Pun tak henti Joy terus menatap Zara secara sembunyi hingga makan usai bahkan saat mereka mulai memasuki mobil.
"Hati-hatilah kau mengemudi Joy" pesan Maharani saat melepas keduanya.
Seperti biasa, Andra selalu tak mambiarkan tangan kirinya mengangggur, menggenggam tangan Zara dengan erat adalah satu kebiasaan baru yang kini bagai candu baginya.
"Kak kalau nyetir liat jalan Kaak" rengek Zara yang merasa jengah dengan sikap Andra yang terus mengalihkan mata ke arahnya.
"Tenanglah aku sudah handal menyupir"jawab Andra santai.
Ingin rasanya Andra ber d'o a agar jalanan macet hingga ia bisa berlama berdua dengan Zara, namun ternyata keberuntungan sedang berpihak pada Zara karena jalanan ternyata lancar hingga mereka bisa sampai dengan cepat ke apartement.
"Kak, sudah sampai" ucap Zara menyadarkan Andra saat ia mengurai tautan jemari pria tampan di sisinya itu.
__ADS_1
Andra menghela nafas berat seakan tak rela melepas genggaman tangannya.
"Kamu sudah ngantuk sayang?" tanya Andra sambil menatap gadis cantik yang tak rela ia melepasnya.
Zara mengangguk pasti karena memang matanya sudah terasa sepat.
"Hmm baiklah, cepatlah tidur sampai jumpa lagi besok."
"Terima kasih Kak, hati-hati di jalan" Zara lalu membuka pintu lalu turun ke lobi.
Tangannya melambai ke arah mobil Andra, bukannya membalas lambaian tangan, Andra tiba-tiba membuka pintu mobil dan berlari memeluk Zara dengan erat.
Zara sontak mengerjapkan kedua matanya merasa aneh dengan sikap pria tampan yang kini memeluknya.
"Jadilah milikku seutuhnya terciptalah hanya untukku" bisiknya lirih dan dalam.
Beberapa saat keduanya saling memeluk erat, debaran jantung pun terasa cepat berpacu.
"Kak, kita di liatin banyak orang" bisik Zara.
Meski berat Andra akhitnya melepas pelukannya, dan memandang netra bening Zara.
Zara mengangguk lalu melangkah ke dalam lift yang kebetulan panelnya membuka.
"Bisa kita bicara?" tanya Andra datar, saat sosok yang ia ketahui adalah Manu, hendak menuju mobilnya.
Manu menghentikan langkahnya lalu menoleh ke Andra.
Baru pertama kali ia bertemu langsung dengan pria tampan pemilik hati Zara.
Sebagai sesama lelaki, ia pun merasa kagum dengan pesona yang di miliki Andra, paras tampan berhidung mancung dengan rahang tegas, membuat Andra terlihat macho, apalagi tatapan mata indahnya yang berbulu mata lebat yang jarang para pria miliki.
Manu menelan saliva kasar.
"Apa kita saling mengenal?" tanya balik Manu.
"Kita memang belum secara langsung berkenalan tapi kurasa kau sudah tahu tentangku, begitupun sebaliknya, semua tentangmu sudah ku ketahui."
Manu menaikan alisnya, ucapan pria yang ia tahu bernama Andra itu tak terlihat sedang berbohong.
__ADS_1
"Kenapa kau mendekati kekasihku" kalimat intimifasi yang Andra lontarkan membuat Manu tersenyum masam.
"Kau panggil dia kekasihmu, tapi beberapa kali ku lihat, kau telah mengabaikannya demi gadis lain, apa itu yang di namakan seorang kekasih?" tanya Manu sinis.
"Sudah sejauh mana kau mengikuti hubunganku dengannya, dan apa sebenarnya yang kau inginkan?"
Manu tersenyum sinis.
"Jika memang kau tak bisa memberi kepastian padanya maka dengan senang aku yang akan bersikap tegas, aku akan mengambilnya dari sisimu."
Meski darahnya panas mendidih, tapi Andra masih bisa mengausai hatinya, ia masih membutuhkan Manu kelak, untuk mendekati Gunawan calon mertuanya.
"Lakukanla jika memang kau mempunyai keberanian mendekatinya, tapi mungkin kau akan menelan pil kecewa, karena tak akan ada yang bisa memisahkan cinta kami."
"Akan ku buktikan, cintanya tak sedalam itu padamu, dan akan ku pastikan hatinya akan goyah dan berpindah padaku" ucap Manu pasti.
Sialan percaya diri sekali bocah ingusan ini, umpat Andra dalam hati.
"Sudahlah, kau harus hati-hati mulai sekarang, jika lengah sedikit saja, maka ucapkan selamat tinggal padanya dan biar ia rasakan, dalamnya cintaku melebihi cintamu padanya" Manu berucap dalam, lalu meninggalkan Andra seorang diri.
Andra melajukan kendaraannya menuju mansion, pukul dua belas lebih lima belas menit dengan cuaca gerimis membuat jalanan sudah tampak lengang.
Suasana mansion sudah hening saat Andra melangkah menuju kamarnya.
Malam yang telah larut dengan cuaca mendung, se nada dengan suasana hati Manu.
Majahnya muram dengan langkah gontai memasuki apartement, di hempaskan tubuh tegapnya ke kasur yang lebar, jika biasanya kasur itu terasa lembut dan nyaman, kali ini tubuhnya seakan menolak.
Lebih dari satu jam ia tak jua bisa memejamkan matanya, lelah tubuh dan penat pikiran tak bisa membuatnya jatuh terlelap.
Hatinya masih terusik dengan Zara, dadanya begitu sedak kala ia melihat putra desainer itu memeluknya begitu erat.
Manu bukanlah pria bodoh, ia bisa melihat tatapan Zara penuh cinta memandang pria itu.
Kenapa sesakit ini kau buat hancur hatiku Ra, apa arti sikap lembutmu selama ini padaku, seluruh perhatian dan kasih tulusku padamu tak bisa mengalihkan hatimu darinya.
Manu menatap lukisan Zara di dinding kamarnya, baru kali ini hatinya begitu dalam mencintai seorang gadis, setelah selama ini ia begitu rapat menjaga hatinya sebelum dendamnya terbalas.
Kehadiran Zara begitu membuat hatinya porak poranda, benarkah cintanya harus layu bahkan sebelum tumbuh.
__ADS_1
Manu meremat ponsel di tangannya, galeri yang beberapa minggu ini penuh dengan poto Zara.