
Tak ingin membuat pria di hadapannya kecewa, Zara pun diam duduk di samping kemudi, sementara Andra melajukan mobil dengan senyum manis terus tersungging di bibirnya.
Peped teroozzz.
Di tepi jalan sebuah tanah kosong kini Andra menghentikan mobil.
"Ra, ini benar tempat yang ingin kau lihat?"
Zara mengangguk lalu turun dari mobil.
Tanah kosong yang di beli dari seorang warga budiman, karena mau melepas tanahnya dengan harga yang cukup murah di banding dengan harga tanah lain.
Andra turun dari mobil mengikuti Zara, pandangannya memindai hamparan tanah kosong tersebut.
"Ini sebidang tanah yang aku beli dari hasil keringatku selama ini" terang Zara saat melihat rona wajah penuh tanda tanya Andra.
"Hemm pastilah mahal harganya" ujar Andra.
Lokasi tak jauh dari pusat kota dan cukup strategis, tentu harnyanya tak murah.
Zara menggeleng dengan senyum bahagia.
"Aku membelinya dengan harga yang cukup murah kak, dan aku membelinya dari seorang warga yang ingin menjualnya untuk modal di kampung" jelas Zara.
"Lalu apa yang akan kau bangun di tanah yang cukup luas ini?."
"Aku ingin membnagun sebuah sekolah modeling bagi para remaja yang berbakat namun hanya mempunyai dana terbatas, aku ingin bakat mereka masih bisa ter asah tanpa mengeluarkan biaya yang banyak."
Tatapan Zara menerawang kosong, kepingan memori kembali berputar dalam ingatannya,beruntung ia bisa mencapai posisi seperti sekarang ini, mungkin karena postur tubuh yang di wariskan oleh kedua orang tuanya.
Tubuh proposrsional dengan wajah cantik alami namun menyimpan ke unikan tersendiri hingga itu menjadi ciri khasnya.
Mata indah dengan iris coklat warisan dari sang ibu membuat Zara begitu mempesona dan di kenal dengan mata indahnya.
Banyak teman modelnya yang terpaksa mengubur impian karena tak lulus dalam tahap seleksi, juga keterbatasan dana, membuat mereka tak mampu meneruskan ke sekoalah modeling yang cukup mahal hingga tak mampu lagi meneruskan impian di bidang permodelan.
Andra cukup terkejut mendengar rencana masa depan Zara yang hampir ter realisasikan.
Kekaguman semakin terpancar dari tatapannya.
Gadis cantik yang penuh semangat membangun cita-citanya seorang diri.
"Aku sedang bekerja keras untuk menabung agar bisa secepatnya membangun gedung ini, rencananya setelah wisuda nanti, aku akan mulai fokus untuk mulai membangun sekolah tersebut."
Zara memeriksa patok yang terletak di beberapa sudut, memastikan bahwa itu tetap di tempatnya dan bergeser sedikitpun.
Keduanya lalu pulang karena senja sudah mulai memancarkan semburat merah di cakrawala, ingin Andra menikmati kebersamaan hanya dengan Zara lebih lama lagi, tapi iapun tak ingin memaksa kehendak hatinya pada gadis itu.
__ADS_1
Mobil melaju perlahan.
"Kita ke mana tuan putri?" tanya Andra laksana sang pengawal yang sedang mengiringi seorang putri raja.
Zara menatap Andra sambil mencebik kesal.
"Ck, apaan si kak, kaya drama kolosal jaman majapahit aja."
"Apa salahnya Ra, kau memang cantik jelita bagai seorang putri keraton, aku jadi ingin melihat poto kedua orang tuamu, pastilah mereka pasangan suami istri yang gagah dan tampan."
Zara menatap Andra tajam, semua poto-poto keluarganya sudah ia hancurkan semua,
Bahkan foto saat kebersamaannya dengan sang ibu dan ayah untuk terakhir kali pun sudah di robeknya.
Zara hanya menyisakan foto dirinya dan sang ibu yang di simpannya bak harta harun di kamarnya di apartemen.
"Aku tak punya foto keluarga, semua sudah aku hancurkan, tak ada yang tersisa, aku tak ingin mengenang lagi kisah ku yang menyedihkan aku hanya memiliki foto ibuku, dan ku simpan di kamar." Zara tampak bergetar nada suaranya, bahkan kedua matanya pun ber embun.
Haisss aku rupanya salah ucap, mulut sialan, Andra membatin geram.
Andra menepuk bibirnya sendiri yang telah berucap lancang hingga Zara kembali mengingat masa sedihnya.
"Maaf, bukan maksudku untuk membuatmu kembali teringat kesedihanmu" sesal Andra.
Zara menggeleng dan mengerjapkan matanya agar kabut yang ada di matanya menghilang.
"Kita kemana kak?" Zara merasa jalan yang di laluinya bukan ke arah apartemen miliknya.
"Kita ke butik mommy sebentar, beliau kangen ingin melihat calon menantunya" jawab Andra santai.
"Ish Kak, apaan sii."
Zara mengerucutkan bibirnya, Andra melirik dengan gemas, bibir mungil yang begitu menggoda, ucap batinnya.
"Tapi aku tak membawa apapun buat tante Kak, nggak enak rasanya ketemu dengan tangan kosong" Zara protes, sungguh tak berbudi rasanya jika Maharani yang menjamu nya dengan hidangan yang di buatnya sendiri, tapi Zara menemuinya dengan tangan kosong.
"Tidak usah, banyak makanan di rumahku, kau tak perlu pusing memikirkannya, cukup adanya hadirmu, sudah membuat mommy bahagia."
Zara menelisik wajah Andra, dan ada kejujuran dalam ucapannya.
Kali ini Andra menjenguk sang mommy di butik cabangnya, namun ternyata ia sudah pergi beberapa menit yang lalu, informasi yang di dapat dari karyawannya.
Kembali Andra mengarahkan mobil ke salah satu restoran miliknya.
"Kak, ngapain kita ke sini?."
"Mommy di sini."
__ADS_1
Zara terdiam, berfikir mungkin saja tante Maharani sedang berkumpul dengan teman sosialitanya di restoran ini.
Anggukan dan sapaan ramah dari para karyawan membuat kikuk Zara.
Apalagi mereka tahu nama Andra.
Zara berusaha tetap tenang saat Andra menggenggam erat tangannya kala melangkah memasuki restoran mewah itu.
"Den, di tunggu Nyonya di ruang biasa" ucap salah satu karyawan.
Zara sontak membulat tak percaya.
Restoran mewah berbintang lima itu ternyata adalah Milik Andra.
Pantas saja seblak yang kemarin di beli, tak di makan oleh Andra, tentu saja ia bisa dengan mudah makan hidangan mewah di restoran miliknya tanpa harus mengantri di warung tenda yang biasanya menyediakan jajanan receh.
Zara menghela nafas berat, entah apa lagi yang masih tersembunyi di balik sosok yang tengah menuntun tangannya itu.
Zara terpaksa menundukan wajahnya saat beberapa pengunjung sempat meliriknya, bahkan dengan sembunyi mereka berhasil mengabadikan keberadaan Zara dengan ponsel.
Para karyawan pun memandang dengan senyum antusias.
"Kak, aku malu" bisik Zara.
"Kenapa?"
"Bajuku kayak gembel, mana cocok masuk ke restoran mewah ini."
Andra melotot ke arah Zara.
Bagaimana mungkin ia masih tidak percaya diri dengan wajah dan tubuh yang membuat iri kaum hawa lain, Andra merutuki ke polosan gadis dalam genggamannya.
"Sstt jangan berisik, seorang bidadari cantik memakai baju seperti gembel apapun akan tetap indah di pandang" jelas Andra datar.
"Hah jadi aku beneran kayak gembel?"
Zara semakin kesal karena Andra semakin memperjelas kalimat hingga membuatnya semakin tak percaya diri.
"Hah, b bukan begitu, maksudku kau tetap cantik memakai baju sejelek apapun" jelas Andra dengan kalimat asal, tak menyadari jika Zara semakin di buat frustasi dan bertambah insecure.
"Kak, beneran ya bajuku jelek banget???"
Zara mengurai genggaman Andra dan memandang pria di depannya dengan tatapan tajam.
"Hah!!."
Ya salam, salah lagi ini mulut ngomong.
__ADS_1