Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*164


__ADS_3

"Babe emmph..."Zara tak bisa mengeluarkan kata-kata saat bibirnya terus di hujani ciuman oleh Andra.


Seakan ia akan melahap habis bibir sang istri yang kini sudah terasa semakin tebal karena perbuatanya.


Kruukk kruuuk.


Andra menghentikan aksinya saat terdengar suara perut Zara berdemo.


Kejam rasanya menuntut haknya saat sang istri malah sedang di landa rasa lapar.


"Kau lapar sayang?" tanya nya masih dengan tubuh di atas Zara.


Gadis yang sebentar lagi ternodai itu mengangguk pelan dengan wajah merona merah.


"Ayo kita makan setelah kau ganti baju dulu."


Zara bangun dan matanya mengedar ke kamar Andra.


Kamar luas dan nyaman khas seorang lelaki, tak banyak ornamen hiasan yang terpasang di dinding, untuk furnitur ranjang dan sofa panjang berwarna hitam, sedangkan dinding di biarkan putih polos.


Andra membuka satu lemarinya yang memang sudah di persiapkan untuk menyimpan baju Zara.


"Ambillah, ini semua Mommy yang pilih untukmu."


"Wahh, banyak sekali Babe? bagus dan cantik semuanya...sayang kalau di pakai untuk baju rumahan."


Zara berucap sambil memilih baju yang tergantung rapi, dari bahan yang halus dan lembut di pastikan baju-baju itu pastilah berharga mahal, batin Zara.


"Kenapa kau bengong sayang, heum" Andra berucap lirih sambil menaruh dagunya di pundak Zara.


Nafas pria itu terasa jelas menerpa pipi Zara yang mulai me manas.


Dengan gerakan cepat Zara mengambil satu baju yang ia pikir ber model paling sederhana lalu berlari ke kamar mandi.


Andra terkekeh, tingkah istrinya sangat menggemaskan, tak tahan rasanya ingin segera menikmati surga dunia.


Andra melihat Zara yang muncul dari kamar mandi dengan handuk kecil yang membungkus kepalanya.


"Sayang..kenapa kau keramas, kita kan belum.."Andra mengedikan alisnya berkali-kali sambil tersenyum mesum.


"Ish, aku gerah Babe, rambutku juga lepek."


"Hmm tapi kan nanti keramas lagi."


Zara mencubit pinggang Andra kesal, pikiran suaminya kini selalu menjurus ke hal mesum.


"Ha ha haa..sudahlah ayo kita makan."

__ADS_1


Andra merangkul sang istri, bukan..bukan untuk di bawa nya ke ruang makan tapi lagi-lagi untuk di lahapnya, bibir kenyal nan lembut sang istri pun lembali jadi pelampiasan hasratnya yang terasa sudah sampai di puncak ubun kepalanya.


Aroma mulut segar Zara sungguh sangat Andra sukai, cukup lama mereka saling memagut bibir, bahkan Andra dengan leluasa mengabsen mulut Zara hingga nyaris kehabisan oksigen.


"Empph..." Zara menepuk pundak Andra keras agar menyudahi ciumannya saat tangan Andra mulai berkelana di bawah sana.


"Huh haaahhh, kau gila babe, kau ingin aku mati ke habisan nafas" hardik Zara kesal sambil mengusap bibirnya yang terasa kebas.


Andra terkekeh puas, bibir Zara kini sudah seutuhnya menjadi miliknya, tentu ia bisa menikmatinya dengan puas kapan saja.


"Maaf, kau begitu me mabukkan" ujarnya santai.


Keduanya keluar dari kamar setelah Zara menyisir rapi rambutnya.


"Bi mana Mommy?" tanya Andra yang tak mendapati Maharani tak ada lagi di ruang makan.


"Nyonya baru berangkat ke rumah Nyonya Meri Den."


Andra manggut-manggut lalu mengambil piring dan menyiukan nasi dengan porsi besar beserta lauk pauknya untuk Zara.


"Babe, kau pikir aku tukang bangunan yang sedang kelaparan?" tanya nya kesal.


"Sst kau harus menyiapkan tenaga yang besar untuk pertempuran kita nanti sayang" bisik Andra.


"Astaga...kenapa kau menjadi begitu mesum Babe, tak ku sangka ..."


Makan sore akhirnya selesai dengan setengah porsi nasi masih tersisa di piring Zara.


"Sayang, kenapa tak kau habiskan?"


"Lihatlah perutku sangat penuh Babe, mau di tampung di mana lagi."


"Hmm baiklah, ayo..."Andra menarik tangan Zara menuju kamarnya.


"Kemana Babe?"


"Ya kita nikmati siang pertama lah" jawab Andra spontan.


Wajah Zara berubah merah bagai kepiting rebus, kenapa yang ada dalam otak sang suami hanya berisi kegiatan panas pengantin baru, pikir Zara kesal.


Namun Zara tak bisa menolak saat Andra terus menarik pinggang rampingnya untuk masuk kembali ke kamar.


Kembali Andra menyerangnya dengan ciuman, kali ini sasaran bukan hanya bibirnya yang menjadi pelampiasan, invasi ciuman Andra kini menjalar ke Leher jenjang nan putih sang istri.


Zara memejamkan matanya menikmati sentuhan hangat nan lembut yang kini menyapu ceruk lehernya.


Ciuman Andra begitu dalam, aroma wangi sabun mandi masih terasa begitu harum.

__ADS_1


Bibirnya terus mengabsen permukaan leher Zara dengan tangan terus bergerilya, tak jarang Andra menonton blue film, dan ini lah waktunya untuk mempraketkan semua imajinasinya.


Sekuat tenaga Zara mengunci rapat mulutnya agar tak mengeluarkan suara aneh yang tak dapat ia hentikan.


Namun usahanya gagal, desisah halus akhirnya lolos dari bibirnya, gerakan tangan Andra membuatnya lepas kendali.


Bahkan erangan lirih dari mulutnya terus terdengar, membuat Andra menyeringai puas, kancing baju yang terbuka di bagian dada, memperlihatkan pemandangan yang sangat indah.


Tangan Andra tak henti memainkan bulatan kecil nan kenyal di dada Zara, gerakan memilin dan meremas lembut, bagai mainan squishi yang sangat mengasikan, mungkin mulai saat ini kedua benda itu akan menjadi mainan favoritnya.


Erangan bibir Zara semakin memacu semangat Andra, kini puncak gunung berwarna pink itu semakin mengeras bahkan sudah di kelilingi dengan kissmark Andra, dada putih nan mulus kini berubah menjadi bagai macan tutul.


Zara semakin menggeliat saat tangan Andra mulai nakal memainkan bagian bawah tubuhnya.


Darahnya kian terasa panas saat jemari Andra bermain di lembah yang di tumbuhi hamparan rumput halus bak permadani.


"B a be ...aahhh hentikan tolong.." ucapan Zara terbata, nafasnya tersengal dengan wajah kian merona merah.


Tubuhnya menggeliat dan meliuk tak tentu arah, jemari Andra kini lolos masuk ke dalam inti tubuhnya, darahnya berdesir hebat, jemari Andra sungguh sangat ahli bermain di bawah sana.


"B babe tolong hentikan ahhhh" pekikan Zara lirih dengan sedikit memohon karena ia merasa ada sesuatu yang akan keluar dari bagian inti tubuhnya.


"Sst keluarkan saja sayang"bisik Andra lirih dengan jemari terus bermain nakal.


"A aku mau ke kamar kecil babe hentikan cepat aahhh...."Zara tak dapat lagi menahan saat bagian inti tubuhnya berdenyut hebat.


"Keluarkan sayang."


Zara menggelengkan kepalanya, ingin rasanya ia menghilang dari muka bumi saat itu juga, Andra menatap wajahnya yang penuh keringat dengan seringai puas.


Untuk beberapa saat Andra terdiam, memberikan kesempatan sang istri untuk merasakan pelepasannya.


Dengan selimut Andra mengusap kening Zara yang basah oleh keringat, wajahnya terlihat letih.


Andra mencium kening sang istri dengan lembut, bibir tipis yang setengah terbuka kembali di pagutnya lembut, setelah menikmati pelepasannya, Andra kembali memulai sentuhan-sentuhan tangannya ke daerah sensituf sang istri.


Dan tak membutuhkan waktu lama, erangan halus kembali terdengar pertanda ia kembali menghangat.


"Kita mulai bagian inti sayang" bisiknya lirih.


"A apa bagian inti?t tadi..." Zara bertanya heran.


"Tadi baru kau yang sampai ke puncak, sekarang giliranku, aku akan memulainya... rileks kan pikiranmu, akan terasa sakit awalnya ...tapi tak akan lama" terangnya bijak.


Zara menatap wajah Andra intens, debaran jantungnya kian terasa saat di bawah sana benda tumpul mulai mengarah ke bagian inti tubuhnya.


"B babe..."

__ADS_1


"Tahan sayang...aku akan lakukan dengan lembut"


__ADS_2