Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*193


__ADS_3

Andra hanya bisa pasrah saat Gunawan benar-benar menguasai istrinya.


Pria tegas itu bagai seorang bocah yang mendapat mainan baru, ia sama sekali tak membiarkan Zara jauh darinya.


"Nak apa sebaiknya untuk sementara kau tinggal di apartemen Ayah?" tanya Gunawan dengan wajah melas.


Zara menggeleng pelan " Maaf Yah, mungkin lain waktu" sesalnya.


Meski besar keinginannya untuk hidup bersama dengan sang putri tapi Gunawan tak bisa egois karena sekarang keadaan sudah berubah, ada yang lebih berhak atas kehidupan Zara, yaitu suaminya.


"Ayah, aku pasti akan sering datang ke tempat Ayah, jangan kau pasang muka se muram itu, aku tak sanggup melihatnya" ujar Zara lembut.


Apa lah dayaku, hanya seorang lelaki tua yang mempunyai seorang putri pun di rebut pria lain, Gunawan membatin haru.


Dengan berat hati, Zara melepas Gunawan pergi.


Kini Andra tersenyum lebar, senang rasa hatinya saat mertuanya meninggalkan mansion.


Kini Zara seutuhnya adalah miliknya.


Karena hari menjelang sore Zara pun menahan kantuk karena ia ingin membersihkan tubuhnya yang terasa gerah dan lengket setelah aktifitasnya seharian.


"Sayang, apa kau mau mandi?"


Zara mengangguk meng iya kan.


"Tunggu di sini, biar aku yang akan menyiapkan air hangat untukmu" ujar andra semangat lalu ke kamar mandi menyiapkan air hangat.


Zara akhirnya duduk kembali di tepi ranjang sambil membuka ponselnya.


"Ra, ijinkan untuk terakhir kalinya untuk menemuimu, sebelum aku berangkat ke KL, aku ingin meminta maaf padamu secara langsung" itulah pesan yang di kirim nomor tak di kenal, dari dari klimatnya ia tahu bahwa sang pengirim adalah Fitri.


Sebagai sesama wanita, Zara pun sedikit merasa bersalah karena Gunawan dan suaminya pasti akan melarangnya.


Tapi hati kecil Zara tak bisa berbohong, ia akan merasa lega dan tenang jika ia bisa bertatap muka dengan Fitri secara langsung.


"Sayang, airnya sudah aku siapkan, mandi lah sebelum air menjadi dingin."


Zara pun menutup ponselnya lalu menuju kamar mandi.


Berendam dalam bathub air hangat dan aromatherapy sungguh membuat lelah dan penat tubuh Zara seakan menghilang.


Andra tersenyum lebar melihat Zara terlihat segar karena sudah selesai mandi.


"Duduklah, aku akan melihat perban di keningmu, apakah perlu di ganti" ujar Andra.


"Tidak perlu Babe, masih bagus dan tak terkena air."


Namun Andra tetap merangkul tubuh ramping Zara lalu mendudukan di ranjang.


Dengan gerakan lembut, pria tampan itu mengusap betis dan memijitnya pelan.


Zara tersenyum sambil memejamkan matanya, sensasi pijatan di kakinya terasa sangat nyaman.


Dan tak butuh waktu lama untuk Zara akhirnya terbang ke alam mimpinya.


Andra tersenyum dan mengecup puncak kepala sang istri lalu merapikan posisi badan dan menyelimutinya.


Tidurlah bidadari surga ku, dan kau calon buah hati yang selama ini aku nanti, muaacch.


Di raihnya ponsel dan mulai Andra bukan laman pencarian.


Ia berencana merenovasi kamar untuk calon buah hatinya, berbagai desain dan model kamar bayi ia lihat, wajahnya selalu tampak senyuman bahagia dan semangat yang menyala.

__ADS_1


Semenjak ia tahu kehamilan Zara, Andra merasa harinya penuh warna, beribu harapan dan rencana kini ada di kepalanya.


Pukul dua belas malam Andra baru terlelap.


Dan lenguhan panjang pagi hari saat Andra bangun dan meregangkan otot tubuhnya.


Perlahan ia sibak selimut yang menutupi tubuh Zara, dengan lembut ia dekatkan wajahnya hingga kini perut rata Zara hanya berjarak beberapa centi.


Cup cup cup.


"Selamat pagi sayang, bagaimana tidurmu di sana, hangat dan nyenyak kan? Sehat-sehat kau di sana baby, kami akan menunggu hadirmu" Andra berucap lirih sambil tangan mengusap perut Zara.


"Kau sudah bangun Babe, sejak kapan kau di sana?" tanya Zara dengan suara berat.


"Hmm aku hanya menyapa baby kita sayang, bagaimana tidurmu?"


Zara mengangguk pasti, karena pijatan Andra ia tertidur dengan begitu lelap.


"Babe, hari ini aku mau ke apartement, aku kangen Dewi" mungkin hanya itulah satu-satunya cara untuknya bisa pergi tanpa harus bersama suaminya.


"Baiklah aku mandi dulu, kau tunggu sebentar" Andra bergegas ke kamar mandi sedangkan Zara hanya menelan ludah kasar.


"Babe aku hanya ingin berdua dengan Dewi...boleh?" Zara memasang wajah memelas membuat Andra menghentikan langkahnya.


"Tidak, kau tak boleh pergi sendiri, biar aku yang akan mengantarmu" Andra bersikeras menolak.


"Tapi nanti kau hanya antar saja kan?aku hanya main ke apartement sendiri Babe, dan aku kangen berdua dengan sahabatku, apa kau tak kasihan, aku terkadang meng inginkan me time" kali ini Zara memasang wakah super imutnya.


"Baiklah aku hanya akan mengantar saja, tapi ingat, kau tak boleh pergi jauh, dan kalau pulang segera hubungi aku" titah Andra tegas.


Zara tersenyum lebar lalu memeluk Andra erat.


"Terima kasih Babe, kau memang paling mengerti aku."


"Sudah sampai di sini saja Babe, kau langsung saja menyusul Mommy, aku nanti naik ke atas" ucap Zara setelah turun dari mobil dan melihat Andra yang juga hendak ikut turun.


"Hati-hati lah, dan hubungi aku jika kalian sudah selesai saling melepas rindu" pesan Andra dengan tangan mengusap pipi Zara.


"Siap Bos" Zara melambaikan tangannya lalu menutup pintu mobil.


Andra pun kembali memanaskan mobilnya, beberapa kali ia melihat ke belakang dan Zara masih melambai ke arahnya, ada rasa yang mengganjal di hatinya.


"Cepat naik" ucapnya dengan bahasa isyarat tangan.


Zara mengangguk dan melangkah ke arah lift.


Melihat bayangan mobil Andra sudah menghilang, Zara pun segera berbalik arah, ia mengedarkan pandangan ke ruangan lobi.


"Ra aku di sebelah selatan lobi" ucap Fitri lewat pesan yang ia kirim.


Zara pun memutar arah langkahnya menuju tempat di mana Fitri telah menunggunya.


Zara tertegun melihat beberapa langkah di hadapannya Fitri berdiri dengan jinjingan koper di sebelah kanannya.


Kedua matanya tampak berkaca-kaca,bibirnya pun gemetar saat memanggil namanya.


"Zara maafkan aku, entah seberapa besar salah yang ku lakukan padamu tapi aku mohon, maafkan aku hiks" Fitri berucap lirih.


Zara masih diam membeku di tempatnya berdiri, perlahan Fitri mendekati Zara dengan bunyi roda koper yang di tariknya memecah keheningan.


"Sebelum aku pergi dan mungkin ini terakhir kali kita bertatap muka, hanya satu pintaku, maaf..."kembali kata penyesalan terucap dari bibir Fitri.


Zara mengangguk dengan senyum tulus ke arah Fitri.

__ADS_1


Semakin deras air mata yang kini keluar dari sudut matanya, ia melangkahkan kaki mendekat untuk memeluk Zara.


Beberapa saat keduanya saling perpeluk erat, tubuh Fitri terguncang dalam dekapan Zara, tangis penuh penyesalan tak akan bisa merubah suratan takdir, ia harus menanggung akibat dari perbuatannnya.


"Terima kasih Ra, karena kau mau memaafkan aku, dan tidak menuntutku ke penjara, sekali lagi ...terima kasih hiks" Fitri menundukan wajahnya yang sendu.


Hilang sudah kesombongan dan ke angguhannya selama ini.


"Aku pamit Ra, jika Tuhan mengijinkan pasti kita akan bertemu lagi, dan andai saat itu tiba...maukah kau menjadi temanku?" tanya Fitri lirih.


"Tentu saja, kita bisa berteman baik, tapi kau mau ke mana?" tanya Zara heran.


Fitri tersenyum masam, tentu saja ia tak akan mengatakan yang sesungguhnya jika kepergiannya kali ini adalah perintah dari Tuan Gunawan, Ayah Zara.


"Aku akan pergi dan tinggal di KL, aku akan melahirkan dan membesarkan anaku di sana" terang Fitri.


"Apa kau tak akan kembali pulang?"


Fitri menggeleng pelan, ia tak mungkin pulang kembali.


"Aku pamit Ra..., jaga dirimu baik-baik."


Fitri melambaikan tangannya dan menarik koper miliknya, sudah saatnya ia harus pergi.


"Tunggu..." teriakan Zara membuat langkah Fitri terhenti.


Zara melangkah mendekati Fitri.


"Apa kau juga tak ingin mengucapkan selamat tinggal pada bayi dalam perutku" ujar Zara dengan senyum manis.


Fitri tertegun, matanya memandang perut Zara yang rata.


"Kau ....hamil?" tanya nya dengan mimik wajah terkejut namun ada rona bahagia di sana.


Zara mengangguk, lalu meraih tangan Fitri lalu menuntunnya untuk mengusap perutnya.


"Kita sama-sama akan menjadi seorang ibu...." ujarnya.


Kembali air mata Fitri mengalir membasahi pipinya, lalu ia membungkukan badannya.


"Hai baby...apa kabarmu di sana, maafkan aunty yang pernah jahat pada ibumu ya, tapi tenang saja...sekarang tante dan mommy mu sudah berteman, sehat-sehat kau di sana sayang...suatu saat kita akan bertemu kembali...Tante pamit ya muacch" Fitri mengecup perut rata Zara.


"Aku tunggu kau datang kembali ke sini, biar anak kita bermain bersama...." ujar Zara sambil memegang erat tangan Fitri.


"Hati-hati lah di jalan, dan jangan lupa hubungi aku" teriak Zara dan di sambut lambaian tangan dari fitri yang kian menjauh.


Zara masih berdiri diam saat beberapa orang berlari ke arahnya.


"Sayang ..kau tidak apa-apa?"tanya Andra panik sambil memindai tubuh sang istri.


"Nak apa dia melukaimu?"Begitupun Gunawan yang juga ikut me meriksa tubuh sang putri.


Zara tersenyum manis, ada rasa hangat di hatinya.


"Jika ada kalian yang selalu perhatian dan begitu tulus mencintaiku, maka apa artinya kebencian di luar sana."


Zara merangkul kedua pria yang sama-sama ia cintai.


Ia begitu bahagia di tengah orang-orang yang selalu memberinya perhatian dan cinta yang tulus.


💗💗💗💗💗💗💗💗


_________ TAMAT _____________

__ADS_1


__ADS_2