
Dari balik kaca pembatas, Revan hanya bisa memandang gadis yang amat di cintainya terbaring lemah, selang infus dan alat bantu pernafasan terpasang di hidungnya.
"Huuh haaahh, bagaimana keadaannya" tanya Dewi dengan wajah panik dan dada naik turun karena dari pintu masuk ia terus saja berlari menuju ruang IGD.
Revan segera menghubungi Dewi, begitu ia sampai di ruang IGD memberitahukan keadaan yang di alami Zara.
Revan menggeleng pelan, ia belum mengetahui kronologi kecelakaan, ia hanya tahu saat Roy mengabarkan kecelakaan yang di alami oleh Zara dari informasi anak buahnya.
"Van, apa yang terjadi?" tanya Dewi dengan mata berkaca-kaca.
Revan mengalihkan pandangan ke arah sang asisten karena pastilah anak buahnya sudah memberitahu semua kejadian padanya.
"Ini pasti salahku hiks" isak tangis Dewi.
Dewi terpaksa membangunkan Zara pukul empat pagi, memang Zara tak biasa bangun terlalu pagi hingga mungkin ia merasa kantuk yang begitu hebat saat di tengah perjalanan.
"Sudahlah Wi, semua sudah terjadi, kita hanya bisa berdo'a agar Zara bisa segera melewatinya, dan pulih kembali dengan cepat" Revan mencoba menenangkan Dewi, meski dadanya pun bergemuruh tak tenang.
Ingin rasanya ia pecahkan kaca pembatas ruang itu, agar bisa menemani Zara di sampingnya.
Satu jam lebih, akhirnya Zara mulai sadar, beberapa dokter dan perawat pun memeriksa organ vital Zara, apakah terjadi kerusakan ataupun luka yang mengenai organ vitalnya.
"Dokter bagaimana Dok" tanya Revan cepat menyongsong dokter yang keluar dari ruangan.
"Kesadaran Nona Zara sudah pulih dan sekarang ia sedang tidur, syukurlah organ penting dalam tubuhnya tak mengalami cedera, jika kondisi semakin stabil maka Nona Zara bisa di pindahkan ke ruang rawat" terang Dokter ramah.
"Dan untuk wali nya, tolong bisa ke ruang admisistrasi untuk mencatat semua data pasien, siapa yang akan jadi wali Nona Zara?"
"Saya Dok."
Revan mengajukan diri dengan spontan lalu menuju ruang administrasi.
"Wi, aku ke sana dulu, tolong jaga dia."
Dewi mengangguk pasrah, di saat genting seperti ini ia tak bisa memilih jalan lain, meski Zara nantinya akan sangat marah padanya karena telah membiarkan Revan yang menjadi wali nya, sedangkan hubungan mereka sedang tidak baik.
Sementara itu, Andra tampak gelisah di depan gadis cantik yang tengah menikmati makan malamnya dengan anggun.
Terpaksa Andra menyanggupi ajakan Fitri, sahabat lamanya untuk makan malam berdua sebagai perayaan hari pertemuan mereka setelah sekian lama berpisah.
Namun entah kenapa hatinya merasa tak tenang, rasa cemas dan gelisah membuat duduknya selalu bergerak tak beraturan.
"Ada apa Ndra?" tanya Fitri yang merasakan kegelisahan pria tampan di depannya.
__ADS_1
"Ehm tak apa Fit, apa kau makannya sudah selesai?kita pulang sekarang yuk" jawab Andra.
"Pulang?tapi masih sore Ndra, masa pulang" ujar Fitri dengan nada manja, ia memang putri satu-satu nya di keluarganya hingga ia selalu di manja, semua keinginanya selalu di turuti kedua orang tuanya.
Andra menghela nafas panjang, akan berat urusannya jika Fitri mulai merajuk, pikirnya.
Drrt drrrt.
Andra merogoh ponselnya yang bergetar.
"Ndra, Zara kecelakaan dan sekarang di Rumah Sakit X" pesan dari Diego membuat tubuh Andra terlonjak.
Diego mengetahui berita tersebut saat tak sengaja Revan menabraknya saat hendak keluar dari gedung perusahannya, untunglah Diego sempat menanyakan tujuan bosnya itu lalu mengabarkannya pada Andra.
"Fit, kita pulang sekarang aku ada urusan yang sangat penting."
"Ish urusan apa si Ndra?" tanya Fitri tak rela akhirnya makan berdua dengan Andra berakhir.
"Aku harus ke rumah sakit."
Andra tak mau lagi mendengar rengekan manja Fitri, ia bergegas melangkah ke parkiran, sementara Fitri ikut berlari di belakangnya.
Dengan nafas memburu Andra melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, Fitri memegang erat sandaran kursi di samping kiri dan kanan tubuhnya.
Andra tak menggubris permintaan Fitri, yang dia inginkan saat ini adalah segera sampai di rumah sakit segera.
Dengan langkah panjang Andra menyusuri koridor rumah sakit, dari keterangan resepsionis, Zara berada di lantai atas yang biasanya di khususkan untuk para pasien VIP.
"Wi mana Zara? Bagaimana kondisinya sekarang" tanya Andra cemas pada Dewi yang baru keluar membeli air minum.
Dewi menunjuk ke dalam ruang Zara yang sudah berpindah ke ruang rawat.
Dari balik kaca tiba-tiba dada Andra berdesir, seorang pria yang amat di kenalnya sedang duduk di samping ranjang Zara, dengan kedua tangan memegang erat tangannya.
Langkah Andra terhenti, tubuhnya seakan membeku di tempatnya berdiri.
"Tenanglah, mereka masih ada hubungan darah" terang Dewi yang melihat keraguan Andra.
Andra pun mengangguk pelan, Zara memang pernah bercerita padanya, bahwa ia dan Revan tak akan pernah bersatu, karena ternyata mereka memiliki satu Ayah.
Meski sedikit lega, namun ia masih tak dapat menutupi kekesalan hatinya.
Revan tampak masih begitu mencintai Zara, dari cara ia memandang gadis manis yang terbaring itu, Andra dapat merasakan di matanya masih ada rasa cinta yang begitu besar.
__ADS_1
Ceklek.
Bersamaan Andra, Dewi dan Fitri memasuki ruangan.
Revan memandang ke Andra yang kini tengah menatapnya tajam.
Cih, sama saudara kandung masih saja menyimpan rasa cinta, ucap batin Andra geram.
Sementara Revan tetap tak melepaskan genggamannya meski Andra menatapnya dengan tatapan membunuh.
Brengsek ni orang, kalau bukan berada di Rumah sakit, udah habis gue hajar, Andra terus merutuki Revan, meski hanya di dalam hati.
Perlahan Kedua kelopak mata Zara bergerak dan membuka.
Ia mengedarkan pandangan ke seisi ruangan.
"Ra, bagaimana keadaanmu? Mana yang sakit Ra?" pertanyaan beruntun Dewi menyadarkan Zara, ia kembali mengingat potongan kejadian yang membuat mulutnya berdesis.
Dewi segera me mencet tombol darurat yang tergantung di tembok di dekat kepala Zara.
"Kenapa Ra, sakit ya?" tanya Dewi lagi.
Sementara Andra masih menatap Revan yang menggenggam Zara erat, kedua matanya tampak me merah menahan panas di dadanya.
Kedua tangannya mengepal keras, Fitri yang mengetahui Andra tengah menahan geram di dadanya pun menarik tangan kekar pria itu lalu memeganggnya erat.
Perhatian Zara kini terpusat pada tangan gadis cantik anak menteri yang sedang memegangi tangan Andra.
Dada Zara tiba-tiba bergemuruh dan sesak nafasnya.
Apa jantungku terluka karena kecelakaan tadi?, ucap batin Zara.
"Ra, bagaimana kondisimu, mana badanmu yang sakit?" tanya Revan lirih sambil mengusap punggung tangannya.
Baru kini kesadaran Zara pulih seketika, rupanya tangannya yang terasa hangat karena Revan yang tengah memegangnya.
Ingin Zara mengurai tangan Revan, namun tenaganya serasa lemah dan hilang , bahkan untuk menggerakan mulutnya pun ia tak kuasa.
Dua orang perawat memasuki ruangan.
"Maaf, pasien akan kami periksa dulu" ucap salah satu perawat ramah.
Revan terpaksa melepaskan tangannya, lalu mundur sejajar dengan Andra, agar perawat bisa memeriksa Zara.
__ADS_1
Untuk beberapa menit tak ada yang berani mengeluarkan suara.