Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*175


__ADS_3

Pagi hari di ruang makan mansion Maharani, Zara memindai ke atas meja makan.


Sejak kemarin ibu mertuanya selalu menyediakan makanan lengkap, meski mereka berjumlah tiga orang tapi Maharani meminta pelayan untuk memasak berjenis-jenis makanan.


Sayuran hijau yang di sayur bening, tumis dan lalapan, ikan pepes atau pun pindang, tak lupa daging merah juga selalu tersedia. buah-buahan beraneka macam sebagai pencuci mulut tak ketinggalan.


Bahkan Maharani selalu minta pelayan untuk membuat bubur baik kacang hijau atau pun kacang merah khusus untuk menantunya.


Zara merasa hidupnya kini penuh kasih dan perhatian yang di dapat dari mertuanya.


"Joy, Zara...maaf pagi ini Mommy tak bisa menemani kalian makan, mommy harus ke butik."


"Iya Mom, tidak apa-apa, hati-hati di jalan mom"


Maharani tersenyum hangat lalu memeluk Zara dan mencium pipi menantunya.


"Joy..pastikan menantu mommy makan semua yang ada di meja, meski sedikit tak apa" ujar Maharani tegas.


"Siap Mom" Andra menaruh tangannya di pelipis dengan gaya hormat.


"Babe kau tidak sungguh-sungguh akan memaksaku memakan semua hidangan ini kan?" Zara bertanya panik, mana muat perutnya menampung semua makanan itu.


"Sayang..demi calon baby kita nanti, kata Mommy nggak perlu banyak, sedikit-sedikit nggak apa-apa" teeang Andra sambil melirik ke arah perut rata sang istri.


Zara membulatkan matanya tak percaya.


"Menurut penelitian para ahli, jika kita ingin calon anak kita sehat dan pintar maka calon ibu harus mengkonsumsi banyak makanan bergizi tinggi, bahkan seharusnya dari enam bulan sebelum merencanakan program kehamilan kau sudah harus mulai hidup sehat, tak ada lagi junk food apalagi makanan berminyak dari pinggir jalan."


"Pasti sebentar lagi berat badan aku naik...dan gaun pernikahan nanti tak akan muat Babe.." Zara mencoba protes.


"Ehm no no...aku sudah paham kondisi pencernaanmu, makan sebanyak apapun tak akan membuat tubuhmu mengembang bagai donat sayang...lagi pula apa salahnya istriku menjadi sedikit chuby, bahkan sepertinya akan semakin menggemaskan" ucap Andra sambil mengedikan kedua alisnya.


Bukan Zara namanya jika tak memiliki akal jitu agar makanan yang ada di meja bisa pindah semua ke perutnya.


Satu persatu Zara mengambil piring lauk dan sayur dan mengambilnya masing-masing satu sendok lalu menaruhnya di atas piring, senyumnya mengembang saat semua hidangan berpindah ke piring miliknya.


Andra tersenyum masam, istrinya ternyata tak hanya cantik tapi juga cerdik.


"Memang tak salah aku pilih istri" ucap Andra bangga sambil mencubit pipi Zara lembut.


Zara mengunyah dengan semangat, mulut mungilnya penuh dengan makanan.


Tak tok tak.


"Maaf Non, ada tamu yang ingin bertemu dengan Non Zara, namanya Non Dewi."


Mata Zara membulat lalu bangkit dari duduknya.


"Sstt, selesaikan dulu makanmu sayang, biar nanti pelayan yang panggilkan, Bi tolong suruh Dewi masuk langsung ke sini" titah Andra.


Zara tersenyum malu dan kembali duduk, biasa hidup cuek di apartement membuatnya terlalu santai, lupa bahwa sekarang ia sudah berada di mansion yang tentunya ada tata krama dan sopan santun yang harus ia lakukan.

__ADS_1


Dewi memindai ruangan mansion yang besar dan megah, dinding tembok yang tinggi dan banyaknya ruangan yang saling terhubung, mungkin akan sangat lelah kaki jika harus membersihkan mansion itu, pikiran Dewi menerawang jauh.


"Non Dewi di minta langsung ke ruang makan sama Non Zara."


"O i iya Bi, di mana ruang makannya ya..."tanya Dewi polos.


"Mari saya tunjukan Non."


Dewipun mengikuti pelayan sambil matanya tak henti memandang takjub rumah besar yang belum pernah ia lihat.


"Dew..."panggil Zara.


Mata Dewi berbinar lalu berlari ke arah Zara dan memeluknya erat, untuk beberapa lama kedua sahabat itu saling berpeluk erat melepas rindu.


Andra menarik kursi untuk Dewi duduk.


"Ayo Dew sekalian kita makan" tawarnya.


"Ah ti tidak usah, aku belum lapar" jawab Dewi salah tingkah, sebenarnya melihat berbagai hidangan lezat di meja makan, siapa yang tak tertarik.


"Aah nggak usah menolak rezeki, nggak baik...ayolah" Zara menimpali sambil mengambil piring kosong lalu menyiukan nasi dan lauk lalu di berikan pada sahabatnya.


Andra bangkit dari kursi dan menuju kamarnya.


"Wahh perbaikan gizi nih, bisa gemuk sekarang Lu Ra tinggal si sini."


Zara mengangguk meng iya kan.


"Heum..."Zara mengangguk meng iya kan.


"Dan ini jangan lupa minum vitaminmu" Andra menyodorkan botol kecil lalu membukanya.


"Iya nanti aku akan minum."


"Ehm no..kau selalu lupa, minumlah sekarang" titah Andra mengambil sebutir pil berwarna merah muda dan menyodorkan ke sang istri.


Zara menarik bibirnya, tubuhnya sudah merasa sehat jadi menurutnya tak perlu lagi harus minum vitamin mahal tersebur.


Andra tersenyum senang lalu mengecup puncak kepala sang istri dengan lembut sebelum pergi.


Dewi hanya bisa memandang adegan romantis tersebut dengan hati meleleh, hatinya merasa bahagia melihat Zara di perlakukan bak ratu oleh Andra.


"Hemm kalian membuatku iri, di mana lagi harus aku cari pria seperti Kak Andra" Dewi mencebikan bibirnya menangisi nasib dirinya yang masih sibuk men jomblo.


"Eh Wi kita nonton yuk?"ajak Zara antusias setelah Dewi menyelesaikan makannya.


"Hayook..." keduanya dengan semangat menuju lantai atas di mana Andra katakan.


Namun keduanya mencelos, ada banyak ruangan di lantai atas mana tahu ruang bioskop di bagian mana.


"Ayo Ra cepet gue pingin nonton banyak film di sini, pokoknya mumpung gratis."

__ADS_1


Dewi bersemangat berjalan di depan Zara tanpa tahu sahabatnya kini berdiri kebingungan karena ia pun belum pernah ke lantai atas.


"Ayo cept Ra, kenapa malah bengong."


"Gue nggak tahu di mana ruang home theater" ucapnya jujur.


"Ya salam.....Ra" Dewi menepuk jidat nya kesal.


"Bi...sini bentar" panggil Zara pada salah satu pelayan.


"Ya Non."


"Mana ruangan buat nonton?" tanya Zara kikuk.


"Di sebelah sini Non."


Zara dan Dewi mengikuti pelayan menuju ruang cinema.


Jika Zara dan Dewi menikmati hari dengan menonton maka Andra kini tengah berkumpul dengan Juned di cafe nya.


"Bagamana kabar bini Lu?" tanya Juned.


"Hm sudah membaik, tapi Gue masih harus tetap waspada, Fitri belum juga tertangkap."


"Kenapa hal itu bisa terjadi bro?"


"Mungkin karena memang kelalaian gue, tak gue sangka, Fitri bisa se nekad itu dan akalnya sangat licik."


"Sekarang di mana dia kau tinggalkan?"


"Di mansion, ada Dewi yang menemaninya, karena itu lah Gue berani ninggalin dia."


Juned mengangguk setuju.


"Oiya datang minggu besok ke mansion bareng Diego" ucap Andra.


"Mana surat undangannya?"


Andra menggeleng pelan.


"Nggak pake undangan resmi, Ayah Zara me minta untuk membatalkan pesta perayaan terlalu besar, ia me minta untuk hanya mengundang orang dekat dan keluarga inti saja, demi keselamatan istri Gue.."


Juned menggeleng takjub.


"Bener-bener gila ya fans Elu, bisa buat kalang kabut Tuan Awan, pengusaha besar dengan segala kekuatan dan pengaruhnya."


Andra hanya bisa tersenyum masam, lalu menceritakan penculikan yang hampir saja merenggut kehormatan istrinya itu, andai saja Manu datang tak tepat waktu, membayangkan saja sudah membuat darah Andra mendidih.


"Sampai kapan pun akan Gue cari dia, Gue harus buat perhitungan dengannya" ujar Andra dengan tatapan menyala tajam.


"Sabarlah, Gue akan bantu cari wanita yang telah membuat hidup Elu nggak tenang."

__ADS_1


__ADS_2