
Di sepanjang perjalanan Zara diam membisu, Andra bukan tak tahu, ia hanya ingin membiarkan gadis itu mengutarakan yang ada dalam hatinya tanpa ia harus memaksa.
Setelah mengantar mommy kembali ke mansion, Andra bergegas mengantar Zara karena di lihatnya, raut wajah yang mulai lelah.
Zara tak berani membuka pembicaraan karena Andra tampak sedang fokus pada kemudinya.
"Kak."
"Heum" Andra menjawab singkat.
"Boleh kah kita berhenti sebentar di toko mainan di depan?" ujar Zara.
"Oke."
Kembali suasana hening, sungguh Andra tak nyaman dengan suasana ini, apalagi sikap Revan tadi yang jelas-jelas masih mengharap Zara kembali padanya.
"Aku mau beli beberapa mainan untuk adik Dewi."
Zara menjelaskan tanpa di minta Andra.
Dan di sebuah pusat toko mainan, Andra menepikan mobilnya.
"K kenapa harus di sini kak, aku hanya beli beberapa mainan saja dan tidak banyak."
"Tidak apa-apa, kan di sini ada banyak pilihan, jadi kau bisa pilih yang paling menarik.
Andra menjelaskan dengan wajah datar.
"Oh, oke" Zara pun menurut dan memasuki toko grosir mainan tersebut.
Matanya berbinar ceria, masa kecil yang tak pernah mendapatkan mainan, ketika melihat begitu banyak mainan cantik dan menarik, dengan berbagai warna, teringat dirinya dengan memori masa kecilnya yang suram.
Masa kecil penuh kebahagiaan yang ia nikmati lengkap dengan ayah dan ibu hanya sebentar, karena telah di rampas oleh wanita jahat yang telah merebut keberadaan sang ayah.
Masa bahagia penuh dengan canda tawa, berganti dengan masa sedih penuh derai air mata.
Sepeninggal sang ayah karena godaan wanita sihir itu, membuat sang ibu sakit-sakitan hingga jangankan untuk membeli mainan, untuk menebus obat pun Zara harus bekerja mencuci piring di sebuah warung makan, barulah ia bisa membeli obat untuk ibunya.
Ibu yang hancur hatinya, menjadi sering sakit-sakitan, sekuat tenaga Zara bekerja untuk membiayai sekolahnya agar tidak sampai putus di tengah jalan.
Ibu yang hanya mengandalkan buruh cuci mana bisa membiayainya untuk membeli peralatan sekolah, bisa makan sehari tiga kali saja sudah sangat beruntung bagi mereka.
Sang nenek yang sudah tua pun berusaha ikut meringankan beban anak cucunya dengan menjadi tukang pijat panggilan.
Keluarga kecil itu hidup dalam penuh kesederhanaan.
Meski terkadang timbul rasa iri di hati Zara saat melihat teman sebaya nya bermain dengan teman- teman yang lain, sedangkan ia harus bekerja membanting tulang agar bisa bertahan hidup di tengah kejamnya dunia.
Andra melihat Zara yang diam termenung, kedua matanya tampak berkaca-kaca.
"Ra, apa kau sudah memilih mana yang kau beli?"
"A anu ehm, sebentar lagi kak." suara Zara tergagap, lalu ia pun kembali melilih mainan di ujung lain.
Apa yang sedang kau pikrkan Ra, apa pria itu masih ada di hatimu.
Empat puluh menit berlalu, akhirnya Zara menuju kasir untuk membayar mainan yang sudah di pilihnya.
"Pakai ini mba."
__ADS_1
Andra menyerahkan kartu kredit miliknya saat kasir mentotal jumlah mainan yang di ambil Zara.
"Kak jangan, pakai uangku aja" bisik Zara kikuk.
"Tidak apa-apa, toh aku tidak membelikannya setiap hari."
Zara pun diam menurut.
Ya kali, beli mainan setiap hari.
Zara membatin.
Keduanya pun melangkah ke mobil dengan jinjingan beberapa kantong plastik besar.
Drrt drrt.
Zara diam membeku dan menghentikan langkahnya.
"Ada apa Ra?"
"Mereka sudah pulang."
Zara menjawab dengan wajah lesu, bayangan melihat rona bahagia adik-adik Dewi kini sirna.
"Tidak apa-apa, kapan-kapan kita antar mainan ini ke rumah Dewi di kampung."
Binar mata bahagia terpancar dari mata indah Zara.
"Benar kah, oke kapan kak?" tak sabar rasanya Zara menyusul mereka.
"Ehm bagaimana kalau akhir minggu saja, sekalian jemput Dewi."
"Usul bagus kak."
"Ra.."
"Heum."
"Sudah ku bilang ya, kalau ada orang yang ngomong tuh lihat matanya, jangan acuh gitu aku paling nggak suka kamu acuhin."
Andra berucap sinis dan berlalu menuju mobilnya, Zara pun tersenyum gemas lalu mengejar langkah Andra.
"Dih marah, gitu doang."
Andra masih diam tak menjawab ucapan gadis di sampingnya.
Mobilpun melaju dengan lambat.
"Kak"
"Kak Andraa." Zara merengek bak seoramg anak kecil.
Nggak usah bikin aku senam jantung terus Ra.
Andra membatin, sungguh hatinya selalu berdebar semakin kencang jika Zara dalam mode gemas, ingin rasanya ia mendekap dan memeluknya erat.
Zara mengerucutkan bibirnya karena Andra masih saja acuh dan dingin..
"Kak Andra masih marah?"
__ADS_1
"Kak.."
"Ish nggak asik, marah mulu." Zara menggerutu lirih.
"Lebih nggak asik mana dari kamu yang selalu mengacuhkan aku Ra."
Jleb.
Zara terdiam mendengar kalimat yang meluncur dari bibir Andra.
"Kapan aku acuhin kak Andra" ujarnya polos, lucu rasanya melihat Andra yang masih memiliki sifat ke kanak-kanakan.
"Saat di toko tadi kau mengacuhkanku, saat di cafe dan ada mantanmu kau juga acuh padaku, apa yang harus aku lakukan agar dapat perhatianmu Ra, begitu tak pentingkah aku di hatimu."
Zara menaikan alisnya, kenapa jadi baper, pikirnya.
Bukan maksud hatinya untuk tak perduli pada pria di hadapannya.
Zara sekuat tenaga untuk menenangkan hatinya saat Revan yang ternyata masih berharap padanya, Zara hanya ingin menghargai mommy Andra yang saat itu berada di antara mereka.
Ingin rasanya Zara meninggalkan cafe saat mengetahui jika ternyata Revan juga berada di sana.
"Kak, tak ada maksudku untuk mengacuhkanmu apalagi tidak perduli padamu."
Zara tak bisa memungkiri hatinya, keberadaan Andra yang selalu berada di sampingnya saat ia membutuhkan sandaran membuat hatinya mulai ditumbuhi getaran-getaran halus saat berdua dengannya.
Andra menghentikan mobilnya di depan lobi apartemen zara.
"Kak."
"Heum."
"Lihat aku kak."
Andra dengan malas memutar matanya ke arah Zara.
"Apa" ucapnya dingin.
"Aku minta waktu."
Andra mengerutkan alisnya, entah kenapa jantungnya kini berdebar keras, mata indah itu menatapnya dengan intens.
"Beri aku waktu kak, apakah rasa yang ada di hatiku benar-benar murni karena aku menyukai kakak, ataukah hanya rasa simpatiku terhadap kakak."
Mata Andra membulat penuh, benarkah gadis di hadapannya sudah mulai menyukainya.
Senyum Andra terbit seketika, di raihnya jemari tangan Zara dan di ciumnya dengan lembut.
"Aku akan tunggu, aku akan sabar menunggu hingga kau datang ke pelukanku dengan rasa cinta yang membara."
Zara tersenyum penuh haru, memang Andra adalah satu-satunya pria yang dapat membuatnya merasa menjadi sahabat, menjadi seorang adik juga menjadi seorang pacar, bahkan Andra selalu memperlakukannya begitu lembut seperti seorang ayah pada putrinya.
"Aku turun dulu kak."
Zara mengurai genggaman tangan Andra, namun pemuda itu kembali menariknya.
"Tunggu, muaaacchh."
Andra meraih puncak kepala Zara dan menciumnya sepenuh hati.
__ADS_1
"Selamat tidur ..sayang."
Rasa gugup menjalar di hati Zara, wajahnya kini berwarna merah bak kepiting rebus, sematan nama 'sayang' yang Andra ucapkan membuat jantungnya berdetak kencang.