Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*178


__ADS_3

Maharani langsung pulang dari butik saat Andra mengirim pesan bahwa orang tua asuh Zara datang ke mansion.


Wanita itu meminta sang sopir untuk menambah laju kecepatan mobilnya.


Ia melangkah dengan tergesa menuju ruang tengah mansion, Maharani begitu penasaran dari cerita Andra waktu kecil di saat Zara hidup sebatang kara dengan ibu yang sudah tiada dan nenek pun meninggal, keluarga itulah yang telah menampung dan merawat Zara.


Keluarga yang telah merawat Zara dengan penuh cinta dan kelembutan hingga seperti apa yang tertanam pada diri Zara kini.


Ceklek.


Maharani melangkah perlahan menuju ruang tengah, tampak Zara dan kedua orang tua asuhnya sedang ber senda gurau.


"Eh Mom sudah pulang."


Maharani mengecup kening sang menantu dengan lembut lalu memandang kedua orang di hadapan Zara.


Keduanya berdiri dan menundukan kepala hormat.


"Mom, ini Om Ikhsan dan Bi Echa, orang tua keduaku" ucap Zara.


Maharani menyambut uluran tangan keduanya bergantian.


"Maharani."


"Ikhsan."


"Maharani."


"Echa."


"Maafkan kami Nyonya jika telah lancang datang ke istana ini tanpa di undang."


Maharani terkekeh mendengar kalimat polos Ikhsan.


"Ini bukan istana, dan jangan sungkan, kalian orang tua Zara, maka kalian juga adalah besanku" ujar Maharani bijak.


"Terima kasih Nyonya" Icha ikut menimpali.


"Jangan, jangan panggil aku 'Nyonya'."


"Baik B bu.."jawab Echa terbata.


"Jangan 'Ibu'juga, umur kita terpaut tak terlalu jauh, panggil saja aku 'Kak' atau 'Jeng'."


"Baik Kak."


"Nah begitu kan tidak kaku terdengarnya."


Echa tersenyum ragu, benarkah ada orang kaya seramah dan se hangat ini, ia membatin.


"Ra, mana Joy?"


"Ehm di kamar Mom."

__ADS_1


"Apa kalian sudah makan?"


"Belum Mom, tadi Ayah sudah membelikan makan untuk Om dan Bibi, katanya masih kenyang."


"Ehm ya udah, nanti kita makan malam bersama biar nanti Mommy suruh bibi menyiapkan kamar untuk Om dan Bibi mu."


"Baiklah, teruskan kalian mengobrol, mommy mau mandi dulu."


"Baik Mom."


"Kau sangat beruntung Ra, mertuamu sangat baik" bisik Ehca, ia sudah membayangkan jika pemilik rumah super besar itu pastilah akan sombong dan arogan, ternyata perkiraannya salah besar.


"Iya Bi aku pun merasa sangat bersyukur dapat mertua sebaik Mom Mahatani."


"Syukurlah Ra jika mereka menerima mu dengan baik."


"Iya Om, oiya apa kira-kira Dini mau meneruskan kuliah di sini ya Om?"


"Entahlah Ra, tadi nya Om sudah menyerah kalau masih harus membiayai Dini untuk kuliah, Om masih harus memikirkan biaya untuk Raka dan Adi" Ikhsan menunduk dengan wajah murung.


"Om untuk biaya kuliah semua akan di tanggung Ayah, dan untuk tempat tinggal Dini bisa tinggal di apartementku, sekarang aku tinggal dengan suamiku jadi apartementn hanya ada Dewi Om, jadi Om tak perlu cemas memikirkan biaya untuk Dini, Om hanya fokus pada Raka dan Adi."


Ikhsan masih tampak ragu, sebenarnya Dini sangat ingin meneruskan sekolahnya ke jenjang kuliah, namun ia anak bijaksana hingga sadar akan keadaannya.


"Dini pasti sangat senang mendengar berita ini" ujar Echa haru.


Zara pun mengangguk antusias, ia sangat paham Dini adalah anak yang cerdas dan penuh semangat.


Tak tok tak.


"Terima kasih, maaf kalau kami sudah merepotkan Kak."


Echa masih tampak kaku dan segan.


"Ah kalian baru pertama kali datang ke sini, mana mungkin merepotkan, ayo .." Maharani menggandeng Echa dengan hangat.


Hilang sudah rasa canggung di hati Echa.


"Ra tolong panggilin suamimu nak, suruh turun kita makan sekarang" ucap Maharani.


"Baik Mom."


Ceklek.


Zara membuka pintu kamar, rupanya suaminya sedang terlelap di sofa panjang di kamarnya.


"Babe, sst bangun ayo kita makan" bisik Zara sambil menepuk pipi Andra lembut.


Namun tak ada reaksi dari Andra, matanya tetap rapat terpejam.


"Babe ..ayo ki...."


"Emmpphh...." tiba-tiba dengan gerakan cepat Andra menyambar tubuh ramping Zara yang akhirnya membuat jatuh di atas tubuhnya, tak ingin membuang kesempatan, saat itu juga Andra ******* bibir sang istri dengan lembut.

__ADS_1


Zara yang tak menduga mendapat serangan tiba-tiba tentu saja sangat terkejut namun itu hanya sesaat, karena ia pun akhirnya ikut hanyut dalam lembutnya ******* sang suami.


Di tengah suasana kamar yang hening keduanya saling bertukar saliva penuh gairah.


"Aku merindukanmu sayang kenapa kalian lama sekali berbincang, aku bosan sendiri di kamar" ucap Andra dengan tatapan sayu.


"Kalau bosan di kamar kenapa kau tak ikut ngobrol bareng" protes Zara.


"Aku tak ingin menganggumu."


"Heum sekarang ayo kita makan."


"Sebentar lagi sayang aku ingin memelukmu, menciumu me..."


"Ish Babe, semua sudah menunggumu di ruang makan, nggak enak Babe" ujar Zara lirih sambil berusaha bangkit dari atas tubuh sang suami.


Namun Andra lebih dulu menyambar bibirnya lagi dan ********** dengan rakus, kali ini ciuman lebih panas dan dalam, lidah Andra dengan leluasa meng absen ronggga mulut Zara sesapan demi sesapan ia nikmati hingga saat cubitan kecil di pinggangnya menyadarkannya.


"Aakkhh geli sayang" Andra mengurai pagutannya saat pinggangnya menjadi sasaran kejahilan sang istri.


"Lagian mesum nggak tahu waktu kamu Babe, kasihan orang pada nungguin kita."


Zara berucap dengan sedikit sewot.


"Habis bibir kamu manis" ucap Andra santai.


Andra melangkah mengikuti Zara setelah merapikan bajunya yang terbuka karena tangan jahil Andra sempat bermain nakal di dadanya.


Zara hanya tersenyum masam saat tatapan ke tiga orang menyambutnya.


"Maaf Mom, Andra ketiduran susah di banguninnya."


"Y sudah ayo cepat, kita makan."


Maharani hanya bisa mengumpat dalam hati saat melihat ada sisa lipstik di bibir putranya.


"Ayo Echa, Ikhsan makanlah yang banyak jangan sungkan" ujar Maharani memecah rasa kaku.


Echa dan Ikhsan hanya bisa tersenyum bingung, semua hidangan tampak menggugah selera makan mereka.


Daging merah, olahan ikan , dan ayam pun ada, sungguh baru kali ini mereka lihat hidangan sangat lengkap ada di satu meja makan, Echa hanya bisa menelan ludah kasar, ia teringat anak-anaknya di rumah, mereka hanya ia tinggali telor dan mie instant.


"Bi ayo makanlah, besok kalau mau pulang aku akan bekali makanan seperti ini untuk adik-adiku" bisik Zara, ia tahu Echa pasti sedang memikirkan anak-anaknya yang ada di rumah.


Echa memandang Zara dengan haru, kedua matanya terasa berkabut, Zara ternyata masih sama seperti Zara yang dulu, sangat peka dan perhatian pada adik-adiknya, meski mereka bukan adik kandung.


Setelah makan malam selesai Zara pun mengantar Ikhsan dan Echa menuju kamar tamu.


Namun langkah Echa terhenti di ambang pintu.


"Ra, apa nggak ada kamar lain?" tanya nya lirih.


"Kenapa memang Bi, apa kurang luas, ada yang lebih besar letaknya di ujung."

__ADS_1


"Ah bukan, bukan kurang luas tapi sebaliknya, ini terlalu luas dan terlalu bagus, kalau ada yang lebih kecil saja Ra" ujar Echa polos.


Ada denyut nyeri di dada Zara saat mendengar penuturan Echa,


__ADS_2