
Masih dengan memori kejadian yang belum lengkap ia rangkai, Zara melihat ke arah Dewi dengan pandangan bingung.
Bagaimana mungkin di ruangan itu ada Revan yang kini terlihat semakin perhatian padanya, juga Andra dengan putri pak Menteri yang sejak tadi terus menggandeng tangannya, membuat matanya panas.
Zara merutuki kebodohannya yang masih merasa kesal atas kedekatan Andra dan gadis cantik itu, memang mereka selama ini selalu bersama karena secara tak sengaja telah menciptakan drama kasih, yang ternyata palsu.
Tapi kenapa perasaannya bertolak belakang dengan isi kepalanya.
Dadanya terasa sesak dan darahnya seakan mendidih saat Andra terlihat dekat dan akrab dengan putri pak Menteri itu.
Zara merasa kepalanya sedikit pusing dan ia pun ingin segera tidur, sementara di ruangan itu masih ada dua orang pria dan dua wanita.
Jika hanya ada Dewi, mungkin ia akan segera langsung terlelap, namun Revan masih selalu memberinya perhatian yang hangat.
"Ehm hmm" Dewi berdehem, saat di lihatnya Zara memberi isyarat agar yang lain meninggalakan ruangan.
"Kenapa Wi, Lu mau minum?" tanya Revan spontan.
Dewi menggelengkan kepalanya cepat.
"Ini sudah malam, mungkin Zara ingin segera istirahat" jelasnya.
"Oh, kalau begitu kamu pulang aja Wi, biar aku yang tunggu Zara di sini."
Dewi, Zara, dan Andra tentu saja membulatkan mata.
"Tidak, tidak boleh, mana boleh seorang wanita dan pria berada dalam satu ruang meski kalian mempunyai hubungan darah" ujar Andra tegas.
Revan tersenyum smirk.
Meski ia belum begitu yakin, tapi Revan merasa perkataan asistennya tujuh puluh lima persen benar, hanya tinggal mendapatkan data nyata, bahwa dirinya dan Zara tak memiliki hubungan darah apapun, semua hanyalah kesalah pahaman.
Meski merasa berat akhirnya Andra menerima keputusan yang Dewi buat, semuanya harus pulang, dan yang bertugas menjaga Zara hanyalah Dewi, titik.
Andra pun tak bisa menolak hal tersebut, dirinya berada di posisi yang sulit, meski hatinya berontak dan ingin selalu berada di dekat Zara, namun keberadaan Fitri yang tak sedetikpun membiarkan jauh darinya, membuat Andra tak bebas.
"Ra, aku pulang dulu, Wi tolong jaga dia, kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku."
"Baik Kak" Dewi mengangguk lirih sambil sudut matanya melihat Zara.
Meski tak mengeluarkan sepatah katapun ia tahu bahwa hati Zara saat ini sedang tidak baik-baik saja.
"Ra, Wi, aku juga harus pulang, tenang aku sudah suruh perawat untuk berjaga dua puluh empat jam, kau juga harus istirahat Wi" terang Revan, dengan kuasa yang ia punya tentu saja dengan mudah untuk meminta layanan ekstra di rumah sakit tersebut.
__ADS_1
Andra hanya bisa menghela nafas panjang, lalu keluar sambil tangan di gandeng oleh Fitri.
Di sepanjang perjalanan pria tampan itu tampak murung, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya, bahkan Fitri yang duduk di sampingnya ia anggap sebagai angin lalu.
"Siapa tadi Ndra?" tanya Fitri memecah kebisuan.
"Teman" ujar Andra singkat, ia tak bisa sembarang mengaku hak miliknya atas Zara, karena gadis itu belum menerima cintanya sampai saat ini.
"Kenapa orang tuanya tidak di kasih tahu" lanjut Fitri.
"Mereka sudah meninggal."
"Oohh" fitri ber 'oh' ria sedangkan dalam hati ia bersorak girang.
Hanya seorang anak yatim piatu, batin Fitri, dadanya serasa panas melihat Andra begitu perhatian pada gadis manis itu.
Fitri yang terbiasa menjadi pusat perhatian, tak ingin hati Andra terbagi perhatiannya pada gadis lain.
"Aku akan langsung antar kau pulang."
Ucapan Andra terasa dingin.
"Tapi aku ingin bertemu dengan Tante Ndra" rengek Fitri untuk mencari alasan hendak bertemu Maharani.
Senyum Fitri terbit, memang ini yang ia harapkan, Andra mengundangnya ke mansion, maka ia akan semakin dekat dengan Maharani dan jalan langkahnya akan semakin terbuka lebar untuk menjadikan Andra kekasih hatinya.
Sementara itu, di ruang rumah sakit, Dewi terus mengusap punggung tangan Zara.
"Ra, maafkan gue hiks, pastilah ini semua karena salahku, gue yang bikin elu ngantuk, gue bangunin elu terlalu pagi, hingga lu jadi nggak fokus waktu nyetir" air mata deras bercucuran dari sudut mata Dewi.
Zara hanya bisa tersenyum tipis.
"Aawwh, kenapa Ra" pekik Dewi yang keningnya di sentil Zara.
"Namanya musibah jangan suka nyalah-nyalahin ke orang lain, gue emang kurang hati-hati dan juga mungkin memang lagi apes, jagi nggak usah Lu ngerasa GeeR kalau Lu yang buat gue jadi begini" hardik Zara kesal.
"Eh Wi, Lu yang ngabarin Revan ke sini?" tanya Zara lagi.
Dewi menggeleng cepat.
"Malah gue yang tahu Elu kecelakaan dari dia."
Keduanya sejenak saling pandang.
__ADS_1
"Trus Kak Andra siapa yang ngasih tahu?" sambung Zara.
Dewi pun kembali menggelengkan kepalanya.
Jika Dewi dapat kabar dari Revan, maka dari mana pria itu mengetahui musibah yang menimpa Zara, pikir Dewi.
"Wi, gue tidur dulu kepala Gue berat banget" ucap Zara sambil meringis.
"Masih sakit Ra? Apa Gue panggilin suster ya?."
"Tidak, nggak usah, kasihan mereka mungkin sudah istirahat, lagian Gue cuma butuh istirahat, besok pasti hilang pusingnya."
Dewi pun menyelimuti Zara dengan kain yang di sediakan pihak rumah sakit, ia tak mau mengatakan pada sahabatnya bahwa ia mendapat layanan ekstra, bisa memanggil perawat untuk keperluan apapun karena Revan sudah memberi mereka wewenang.
Dewi pun merebahkan tubuhnya di sofa tunggal yang terletak di sebelah ranjang pasien.
Di saat bersamaan di tempat yang berbeda.
Andra yang baru sampai di mansion pun segera menuju kamarnya, dadanya masih begitu dongkol.
Perhatian Revan pada Zara membuat hatinya memanas, meski Zara berulang kali mengatakan bahwa ia dan Revan tak akan pernah bisa bersatu namun usaha pria itu sangat keras, Andra takut jika Zara akhirnya luluh dan ia merasa cemas jika Revan tetap nekad dan menginginkan Zara menjadi miliknya.
"Baru pulang kamu Joy?" tanya Maharani lembut.
Andra mengangguk lalu menyalami sang ibu dan memeluknya erat.
Maharani mengerutkan keningnya, tak biasanya anak kesayangan berbuat seperti itu.
"Kamu baik-baik saja Joy?"tanya wanita paruh baya itu, sebagai seorang ibu, instingnya sangat kuat, ia bisa merasakan bahwa saat ini Joy membutuhkan perhatiannya.
Joy mengurai pelukannya dan memandang sang ibu dengan tatapan muram.
Apakah cintanya akan kembali kandas, rasanya ia tak sanggup lagi jika hatinya akan merasakan sakit untuk kedua kalinya.
"Bu, ..." ucap Andra pilu, hatinya begitu perih, mengingat kebersamaan Revan dan Zara di rumah sakit.
Apakah ia akan benar-benar kehilangan cintanya lagi, benarkah Zara akan meninggalkannnya.
"Ada apa nak, kenapa kau bersedih, apa yang membuatmu begitu terluka heum?" tanya Maharani lembut.
Andra memeluk Maharani begitu erat, berharap bisa mengurangi kepedihan hatinya, tanpa bermaksud ingin membaginya dengan sang mommy.
Andra tak ingin Mom Maharani ikut bersedih melihat keadannya.
__ADS_1