Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU *29


__ADS_3

Garis lengkung di bibir Juned membentuk senyum manis saat Diego muncul dari balik pintu dengan membawa satu kantong plastik berisi penuh dengan camilan dan softdrink pesanan dua sahabatnya.


"Pesanan gue mana Go?"tanya Juned sambil menelisik ke dalam kantong plastik yang ternyata tak ada bubur pesanannya.


"Nggak ada, abangnya nggak jualan"jawab Diego datar.


"Kenapa nggak jualan ?" sambung Juned yang masih kesal karena gagal makan bubur kesukaannya.


"Bini nya lagi lahiran kali" Diego jawab ngasal.


"Gila lu, masa kakek-kakek punya bini mau lahiran, yang bener aja lu Go kalau bikin alesan, nggak sekalian aja nggak jualan karna lagi reuni sama malaikat maut"rutuk Juned kesal.


Diego mengerutkan kedua alisnya" Nah lagian, mene ke tehe kenapa tu abang tukang bubur kagak jualan, emang gue tetangganya".


Terang Diego tak mau kalah.


"Iisshh brisik aja sih elu pada"lerai Andra.


"Tau tuh, tinggal makan aja apa yang ada, rewel amat"ujar Diego yang makin kesal karena jerih payahnya bagai tak ada harga.


Juned mencibir kesal, bayangan menikmati hangatnya bubur kacang ijo kini hilang musnah.


Diego tampak tak perduli, ia mengambil satu cup mie instan lalu menuangkan air panas dari dispencer lalu kembali merekatkan kertas penutup cup tersebut agar uapnya terjaga.


Di lihatnya ponsel ditangannya, lalu Andra mengambil kunci mobil yang berada di atas meja dan berlalu meninggalkan apartemen.


Kedua temannya saling pandang dengan pertanyaan memenuhi isi kepala mereka masing-masing.


Pesan apa yang ia dapat hingga membuatnya begitu tergesa.


Diego mengedikan bahunya lalu mulai menyantap mie yang sudah mengembang sempurna.


Juned pun kini menyambar kontak motornya dan pergi meninggalkan Diego sendiri.


"Lu pada kenapa sih, kaya jaelangkung aja, datang tak di jemput, pulang tak di undang" umpat Diego kesal.


"Eh jaelangkung datang tak di jemput pulang tak di undang??,"


Diego bermonolog sendiri sambil garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Apa kalimatnya benar seperti itu kah" ucap Diego dengan kedua alis mengerut.


"Aasshh masa bodo, mau di jemput kek, di jorogin kek, bukan urusan gue"


Umpatnya kesal karena masih saja terganggu dengan ucapan kalimatnya sendiri.


Andra melajukan sedan hitamnya menuju mansion.

__ADS_1


Panggilan sang mommy agar Andra segera pulang membuat Andra bergegas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Entah kenapa Andra merasa tak tega mengetahui kecemasan sang mommy jika ia tak berada di mansion.


"Ada apa mom?"tanya Andra sesampainya di mansion.


Maharani menunjukan map berisi selembar berkas pada Andra.


Berkas berisi data pendapatan seluruh restoran yang di milikinya.


Banyaknya saingan yang makin banyak bermunculan membuat beberapa restoran milik Maharani tergoncang.


Bahkan keuntungan yang makin menurun membuat biaya operasional tak dapat lagi berputar dengan cepat.


Jangankan mendapat banyak keuntungan, untuk menutupi biaya produksi saja restoran itu sudah terseok-seok.


Beberapa karyawan bahkan mungkin terpaksa di liburkan.


Kesibukan Maharani yang harus mengurusi beberapa restoran dan butik sekaligus membuatnya seakan keteter.


Apalagi di usianya yang tak lagi muda, tenaga yang terkuras begitu pun otak yang di haruskan terus berputar agar semua bisnisnya berjalan sesuai prediksinya.


Namun terkadang realita tak seindah apa yang di impikan.


Andra terdiam dengan tatapan masih melekat pada kertas di tangannya.


Rasa sesal kini menggelayuti dadanya, perasaan bersalah pada wanita yang begitu menyayanginya.


Apa yang di banggakan dari seorang Joyandra Sabastian.


Seorang anak yang hanya bisa menghabiskan harta ibunya dengan tanpa rasa berdosa sedikit pun.


Sesak dada Andra kini, matanya berkabut memandang sang mommy yang tengah tertunduk dengan kedua tangan menutupi wajahnya.


Bagaimana mungkin ia begitu tega membiarkan wanita yang sudah mulai keriput itu selalu bekerja berangkat pagi dan pulang malam hanya untuk menjaga agar semua bisnis yang di rintisnya tetap berjalan.


Usaha yang di gadang-gadang akan di wariskan pada putra yang tak tahu balas budi ini, batin Andra berteriak geram.


Bibirnya kelu, andai ia dapat memutar waktu, Andra tak ingin menjadi sosok seperti saat ini, seorang anak tak berguna yang bahkan tega membiarkan ibunya banting tulang berjuang sendiri di tengah kerasnya dunia.


Andra meremas kepalanya.


"Mom tidurlah, istrirahat jangan sampai mommy sakit" ucap Andra lirih.


Maharani menengadahkan wajahnya, dengan senyum masam ia pun mengangguk.


Andra meraih tubuh ramping itu, lalu memapahnya menuju kamar.

__ADS_1


Di baringkannya tubuh yang kini terasa mengecil di genggaman tangan Andra.


Dadanya bagai tercacah sembilu, selama ini ia begitu egois hingga tak menyadari bahwa tubuh sang mommy kini semakin kurus dan layu.


Di baringkannya dengan perlahan lalu menutupnya dengan selimut halus hingga menutup tubuhnya.


Cup.


"Mommy istirahatlah" ucap Andra setelah mengecup kening sang mommy lembut, di matikannnya lampu kamar dan mengganti dengan lampu tidur.


Di tutupnya pintu kamar dengan perlahan.


Berkas yang ada di atas meja Andra bawa memasukii ruang kerja sang mommy.


Sudah saatnya ia menyudahi ke egoisannya, jika Juned sukses dengan bengkel dan restoran, dan Diego yang kini telah mulai merintis bisnis bengkel join dengan Juned alias Zain, maka kini saatnya iapun bangkit, saatnya ia melihat mommy Maharani tersenyum.


Membahagiakan mommy adalah tujuan hidup Andra, wanita yang telah melahirkan dan memberinya kasih sayang dan perhatian luar biasa, bahkan memberikan seluruh dunianya hanya untuk dirinya.


Istirahatlah mom, kini saatnya putramu bekerja, aku yang akan menggantikan keringatmu, dan aku yang kini akan membuatmu bangga memilikiku yang sesungguhnya.


Apa pun akan ku lakukan untuk membuatmu tersenyum mom, batin Andra berucap lirih.


Di ambilnya beberapa map besar dari dalam lemari dekat meja kerja Maharani.


Data, tabel, bahkan prosentase yang ada dalam buku membuat matanya kini tampak berkunang-kunang.


Beberapa kali ia mengerjapkan matanya.


Aisshhh, kenapa malah angkanya pada lari-lari, Andra mengumpat kesal.


Dengan gerakan perlahan, ia pijit batang hidungnya, berharap dapat menghilangkan kunang-kunang yang masih berterbangan.


Lalu di gelengkan kepalanya beberapa kali.


Ternyata dunia bisnis tak semudah apa yang di bayangkan, otaknya sungguh sulit untuk di ajak bekerja sama.


Di taruhnya kembali map besar ke dalam lemari.


Di putarnya leher ke kanan dan ke kiri lalu melangkah ke kamarnya.


Usaha tinggal nerusin aja susahnya minta ampun, apalagi baru di rintis, gumam Andra.


Entah kenapa tiba-tiba sekeping memorinya membayang di pelupuk mata.


Zara merintis usaha dari nol sendiri tanpa sosok seorang ayah ataupun ibu, tapi kini ia telah berhasil menjadi seorang model terkenal.


Andra menarik sudut bibirnya.

__ADS_1


Haisss kenapa malah wajah manisnya yang muncul, Andra kembali menggelengkan kepalanya berharap bayangan gadis manis itu menghilang dari otaknya.


Namun usahanya sia-sia, karena semakin keras ia berusaha semakin jelas bayangan itu muncul di kepalanya.


__ADS_2