Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*107


__ADS_3

Braakk.


Pintu berbahan kayu yang sudah cukup rapuh akhirnya hancur berkeping karena tendangan seorang pria bertubuh tegap yang berjalan sempoyongan memasuki ruangan.


Rumah tua yang terletak di sebuah pinggiran kota, tempat yang menjadi saksi bisu perjuangan antara hidup dan matinya.


"Sabarlah Gun, kau bisa menemuinya jika memang saatnya sudah tepat, kukira sekarang belum saatnya" ucap seorang pria yang bertubuh lebih kecil bernama Nardi.


"Sampai kapan aku harus bertahan Di, menyimpan dosa besarku selama ini, aku sudah tak tahan lagi, dadaku terasa sesak dosaku yang menggunung seakan menghimpit dadaku Di, aku berdosa padanya, aku sungguh berdosa..." racauan dan tangisan keluar dari mulut berbau alkohol Gunawan.


Nardi hanya bisa menghela nafas panjang, memang jalan hidup sahabatnya itu sungguh menyedihkan.


Dosa yang di buatnya kini berbalik menyerangnya, membuat hari-harinya selalu di dera siksa dan lara.


Keluarga kecil yang bahagia penuh dengan tawa dan cinta, ia hancur kan hingga tak berbentuk.


Rasa kasih yang tulus kini berubah menjadi titik hitam yang semakin lama semakin menggunung, itulah yang ia rasakan saat ini, putri satu-satunya sungguh sangat membencinya sedalam itu.


Ia tak lagi bermuka untuk menemui putri yang kini beranjak dewasa nan cantik jelita.


Meski rasa rindu telah membuncah di dadanya namun Gunawan tak bisa bertemu dan memeluk Zara.


Putri yang di lahirkan dari rahim Nita istrinya, kini telah beranjak dewasa namun tak bisa ia peluk dan cium.


Tok tok tok.


"Masuk" ujar Nardi.


Pintu yang hanya tinggal kerangka itu tentu saja bisa dengan mudah di lalui pemuda tampan yang baru datang, namun karena rasa hormat dan segan ia pun tetap mengetuk nya.


"Ada apa Nu?" tanya Nardi, mewakili Gunawan yang masih duduk menyandar di kursi rotan miliknya.


"Saya harus ke kantor, ada satu urusan yang tak dapat di tinggalkan, dan saya titip Tuan Gunawan di sini dulu, mungkin sore nanti akan saya jemput" ujar asisten Gunawan dengan hormat.

__ADS_1


Gunawan dan Nardi memang sudah bersahabat berpuluh tahun yang lalu, dan hanya padanya lah Manu mempercayakan keselamatan atasannya.


"Cih, kau pikir aku ini barang hah, bisa sesukamu kau titipkan, dasar anak buah kurang ajar" ucap Gunawan masih dengan mata terpejam namun indra pendengarannya masih berfungsi.


Ia pun bangun dengan sempoyongan hendak keluar, namun.


Brakkk.


Baru dua langkah tubuhnya jatuh kembali ke atas sofa.


"Sudahlah kau berangkat sana, biarkan dia di sini" ujar Nardi tegas pada Manu.


Pemuda tampan berparas setengah bule itu mengangguk hormat lalu melangkah menuju mobilnya yang terparkir di sisi jalan.


Ia yang sudah hapal dengan tingkah atasannya memang sudah paham, jika suasana hati sang bos sedang tidak baik-baik saja maka pastilah rumah sahabatnya ini yang jadi tempatnya singgah untuk berkeluh kesah.


Nardi memandang tubuh sahabatnya yang terbaring kini mulai terdengar dengkuran dari tubuh tegapnya.


Dini hari ia di kagetkan dengan kedatangannya dengan mulut berbau minuman kesayangan dan racauan seperti biasa.


Dapur sederhana yang hanya terdapat tungku tua dan perabot yang hampir tak layak pakai, namun itulah tempatnya sehari-hari untuk memasak memenuhi kebutuhan perutnya.


Meski entah sudah berpuluh kali Gunawan akan merenovasi rumahnya namun Nardi bersikeras menolaknya.


Ia tak ingin menghapus kenangan indah bersama istri tercinta yang telah tiada semasa hidup di rumah sederhana itu.


Tak berapa lama terdengar air mendidih dari panci di atas tungku, lalu ia tuangkan ke atas termos aluminium yang sudah tampak penyok di beberapa bagian.


Beberapa ruas jahe yang sudah di bakar ia masukan ke dalam gelas besar dan tiga sendok madu ia campurkan ke dalamnya.


"Hei minumlah, agar perutmu hangat" Nardi mengangkat tubuh lemah Gunawan lalu menyandarkannya agar memudahkannya meminum rebusan jahe yang telah ia buat.


Meski berat namun tubuh tegap Gunawan akhirnya bangun, beberapa teguk berhasil masuk membasahi kerongkongannya, iapun kembali membaringkan tubuh besarnya di kursi.

__ADS_1


"Kau tidurlah dulu, aku akan ke kebun samping, panggil kalau kau butuh apa-apa" ujar Nardi meski ia tak tahu apakah Gunawan menangkap dengan jelas semua ucapanya, ia membaringkan tubuh tegap sahabatnya lalu menyelimuti dengan selimut usang miliknya.


Rumah sederhana namun memiliki halaman samping yang cukup luas, Gunawan lah yang sengaja membeli tanah di samping rumah Nardi yang tadinya akan ia gunakan untuk memperbesar rumah itu namun di tolak mentah-mentah oleh Nardi.


Kini halaman itu penuh dengan tanaman berbagai sayuran maupun tanaman obat-obatan.


Manu yang baru sampai di kantor segera memeriksa setumpuk berkas milik atasannya.


Hari ini ia memiliki banyak tambahan tugas karena Gunawan terpaksa tak masuk.


Sebenarnya ada informasi penting yang ingin ia sampaikan namun kondisi Gunawan membuat ia mengurungkan niatnya.


Ia mengambil ponsel dan melihat apa yang telah anak buahnya dapatkan.


Dua tahun sudah ia menahan rasa di dalam dadanya, rasa yang begitu tulus dan dalam, pada gadis yang berada di layar ponselnya, gadis yang tak lain adalah putri dari atasannya sendiri.


Manu hanya bisa melihat dari jauh segala tingkah dan kabar terbaru putri atasannya itu dari anak buah kepercayannya yang sudah ia suruh untuk selalu memantau gerak langkah Zara.


Zara Zanita, model cantik terkenal yang sangat di gilai nya, yang ternyata adalah putri gunawan yang hilang.


Manu baru tahu bahwa Gunawan memiliki seorang putri setelah ia mendapat perintah untuk mengawasi bahkan selalu memantau keselamatan gadis itu.


Semua perintah Gunawan ia lakukan termasuk di saat Zara melakukan transaksi saat pembelian sebidang tanah yang di jual oleh Gunawan namun atas nama orang lain.


Gunawan sengaja membeli tanah tersebut untuk nantinya ia akan jual pada sang outri dengan harga di luar nalar tentu saja agar Zara tak mengetahui jejaknya.


Karena rasa dosa yang selalu menghantuinya, Gunawan tak bisa menampakan dirinya secara terang-terangan, ia masih menyembunyikan jati diri sang putri karena ia tak ingin para pesaing bisnisnya mengetahui bahwa Zara model terkenal itu adalah putri kandungnya.


Dunia bisnis yang Gunawan geluti setelah lebih dari sepuluh tahun membuatnya harus sangat hati-hati dengan kejamnya para pesaing yang ingin menggulingkan kedudukan maupun menghancurkannya.


Hanya pada Manu lah ia mempercayakan keselamatan Zara padanya.


Pemuda yang pertama kali ia temukan di jalanan dengan wajah babak belur karena telah kalah dari pertarungan antar pembalap, Gunawan menolong Manu dari kejaran polisi, tubuhnya yang penuh dengan luka sabetan senjata tajam dari lawannya ia bawa pulang, usia Manu yang tak beda jauh dengan putrinya membuat Gunawan iba, ia merawat pemuda itu dengan bantuan Nardi, dan setelah beberapa bulan pemuda tampan itu pulih seutuhnya dari luka yang mendera tubuh tegap miliknya.

__ADS_1


Manu yang menolak untuk di pulangkan dan memilih ikut hidup dengan Gunawan pun akhirnya menjadi asisten kepercayaannya.


__ADS_2