Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*90


__ADS_3

Perjalanan dari resto ke butik hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit, Zara merasa lega karena ia sudah berjanji akan mengerjakan endorse an dengan Dewi malam ini, agar pagi nya bisa mereka upload.


Andra memandang lurus ke depan, kekesalan hatinya masih tergambar jelas, bagaimaan mungkin ia tak menyadari gadisnya mengalami perundungan bahkan terjadi di butik miliknya, ada rasa sesal di hati Andra, ialah yang membawa Zara bekerja di butiknya namun malah Zara mendapat perlakuan tak menyenangkan dari karyawan senior.


Mobil telah sampai di parkiran, keduanya turun dari mobil dengan saling berpegangan tangan, bahkan saat gadis itu bermaksud mengurainya Andra tetap tak melepaskan.


"Kak, banyak orang liat, nggak enak" bisik Zara dengan melangkah namun wajah menunduk.


"Kenapa? Salah?" jawab Andra datar.


Tak ingin kembali berdebat akhirnya Zara pun diam.


Beruntung mereka masih bisa bertemu dengan Septi, karena memang sudah waktu ganti sift, biasanya Septi akan pulang lebih lambat dari karyawan lain.


"Septi tunggu jangan pulang dulu" perintah Andra saat melihat Septi hendak pergi dari butik.


Tatapan Septi tiba-tiba gugup saat sosok Zara berada di samping Andra.


"Ada apa Kak" ucap Septi dengan wajah yang ia buat se natural mungkin agar kegugupannya tak terbaca oleh Andra.


"Kita bicara di dalam saja, nggak enak di luar, banyak orang."


"Sebenarnya ada apa Kak, apa begitu penting?" ucap Septi jengah, keberadaan Zara yang selalu di genggam tangannya oleh Andra membuat dada Septi panas.


Andra menghela nafas kasar, andai saja ia tak kenal dekat dengan ibu dari Septi, malas rasanya ia harus tetap bersikap baik dengan gadis licik itu.


Andra masuk ke ruangan yang khusus untuknya di butik, di ikuti Septi dan Zara.


Sebuah laptop ia hadapkan ke arah Septi di mana rekaman CCVT tersimpan di dalamnya.


Rekaman tentang apa yang telah ia perbuat pada Zara dari hari pertama ia masuk kerja ke butik.


"Apa maksud kamu berbuat seperti itu pada Zara heum?" tanya Andra akhirnya, sungguh geram hatinya melihat ekspresi wajah Septi yang tanpa rasa dosa meski apa yang telah ia lakukan dapat melukai orang lain.


"Kenapa memangnya Kak, bukannya wajar jika karyawan memang seharusnya bekerja dengan benar dan disiplin?" tanya Septi datar.


"Tapi apakah wajar jika kau membuatnya berdiri sepanjang hari sedangkan banyak karyawan lain yang duduk santai" hardik Andra kesal, Zara mencoba menenangkan dengan mengusap lengan Andra lembut.


"Apakah kau memang sengaja ingin membuatnya celaka hah" nada bicara Andra kini semakin meninggi.


"Tidak, buat apa aku melakukan itu, dan apa untungnya untuku kalau dia celaka" nada ucapan Septi begitu tenang dan santai, mendidih rasanya darah Andra.

__ADS_1


"Aku hanya ingin karyawan yang bekerja di butik ini bekerja dengan benar agar nama baik butik ini tetap terjaga" bela Septi.


Cepat Andra kembali memutar rekaman lain dimana dengan sengaja Septi mencopot kancing baju lalu menyalahkan Zara.


"Lalu apa maksudnya ini? Kau menuduh Zara teledor memajang baju dengan salah satu kancing copot sedangkan kau sendiri yang sengaja mencopotnya" kali ini Septi tak dapat berkutik.


"Aku hanya lupa kalau belum memasang kancing itu kembali karena kulihat kancingnya tergores " jawaban santai Septi kembali memancing amarah Andra hingga memuncak.


Raut wajah Septi terlihat datar dan tenang, bahkan seakan tak terjadi apa-apa.


Andai ibu Septi bukan sahabat mommy Maharani sudah pasti Andra akan memprosesnya ke jalur hukum.


"Heh Denger ya, untuk kali ini aku bisa maafin kamu, tapi jika suatu saat kau mengulangi perbuatanmu pada dia, aku tak akan lagi perduli, jalur hukum akan ku tempuh, meski ibumu sahabat baik Mommyku" ancam Andra sungguh-sungguh.


Glek, Septi menelan ludah kasar.


"Sekarang kau harus minta maaf pada Zara atas apa yang telah kau perbuat padanya" ujar Andra pedas.


Septi menaikan kedua alisnya.


"Buat apa aku minta maaf, sudah ku bilang aku ingin menjaga nama baik butik Tante Maharani dengan mengajarkan karyawannya bekerja dengan disiplin, jadi apa yang kulakukan tidak salah kan?" tanya balik septi.


"Dan tentang gaun yang kancingnya terlepas, itupun aku sudah bilang kalau saat itu aku lupa, jadi di mana letak kesalahanku hingga harus meminta maaf padanya" Septi terap kekeuh membela diri dan merasa dirinya bebar.


"Sudah Kak, biarkan saja, sekarang kita pulang, sudah malam" bisik Zara pelan.


"Tapi Ra.."


"Aku harus cepat pulang Kak, Dewi sudah nunggu, ada tugas endorse yang harus segera di selesaikan" terang Zara.


Andra hanya bisa menatap gadis cantik itu dengan rasa sesak di dadanya, niat ingin membuat Septi meminta maaf ternyata gagal, bahkan gadis itu dengan penuh percaya diri beranggapan bahwa dirinya tak bersalah.


"Baiklah ayo kita pulang."


Keheningan menyelimuti Andra dan Zara selama di perjalanan, tak ingin mengganggu suasaha hati pria di sebelahnya, Zara pun tetap diam.


Langkah Zara cepat menuju lobi, dimana Dewi sedang duduk menunggunya.


"Hati-hati Ra" ucap Andra saat Zara berlari kecil keluar dari mobilnya, motor matic terpaksa ia tinggal di parkiran resto, besok pagi Andra sudah ijin akan menjemputnya.


"Ya ampun Raa, Elu dari mana aja, kenapa ponsel lu nggak aktif dan kenapa baru pulang sekarang, gue takut Lu kenapa-napa" tanya Dewi beruntun.

__ADS_1


"Sorry Wi tadi ada urusan sedikit."Zara menjawab dengan rasa bersalah.


Dewi melihat ruang di belakang Zara dimana Andra berjalan mengikutinya.


"Maaf Wi, tadi ada masalah yang harus di selesaikan di butik."


Dewi meliaht ke Andra.


"Masalah, Zara kena masalah apa Kak, jangan-jangan, ya ampun Raa..., Lu jangan malu-maluin gue Ra, pasti Lu ambil baju di butik ya."


"Aawwhh" Dewi mengusap keningnya yang kena sentilan Zara.


"Makanya mulut jaga tuh, jangan asal nyablak" hardik Zara kesal.


Andra tersenyum tipis melihat interaksi dua sahabat itu.


"Bukan gitu Wi, ada salah satu karyawan senior yang merundung Zara selama ini, dan aku baru tahu saat ada karyawan lain yang melapor tentang hal tersebut, kalau tak ada bukti rekaman kamera pengawas mana mungkin aku percaya apa yang terjadi selama Zara bekerja di sana.


"Wah Septi berulah lagi?"tanya Dewi.


Kedua mata Andra membulat tak percaya.


"Jadi kau juga tahu kejadian ini Wi, dan selama ini kalian menyembunyikannya dariku" tanya Andra dengan nada tinggi.


Hanya gelengan kepala tak percaya yang bisa Andra lakukan, kedua sahabat itu menutup rapat kejadian di butik.


"Nggak apa-apa kok Wi, semua sudah clear" jelas Zara.


"Hah, clear begitu saja?benarkah begitu Kak,?" tanya Dewi tak percaya.


"Iya Wi, Septi sangat pintar berkilah, dan aku nggak bisa berbuat apa-apa,karena alasannya memang masuk akal" ujar Andra tak ingin memperpanjang masalah.


"Udah Wi, nggak usah mikirin hal yang nggak penting, lebih baik sekarang kita kerjain sesuatu yang bisa menghasilkan cuan" ucap Zara dengan senyum manis.


"Oke, aku langsung pulang Ra, Wi" ucap Andra sambil mendekat ke Zara.


"Lain kali kalau ada hal apapun, tolong katakan padaku, oke?" kalimat Andra terdengar lembut seraya mengacak rambut Zara.


Dewi hanya bisa memandang ke uwuan sepasang sejoli itu.


Duhh jiwa jomblo ku meronta, batinnya.

__ADS_1


"Baik Kak, hati-hati di jalan"


__ADS_2