
"Kamu nggak apa-apa sayang?" tanya Andra memindai tubuh sang istri dan di balas dengan gelengan kepala.
Dengan hentakan keras Andra membuka seatbelt lalu turun dari mobil dengan tatapan tajam ke arah mobil yang memotong jalannya, ia tahu pengendara tersebut memang sengaja memotong jalan, entah apa yang di inginkan sang pengendara itu darinya.
"Turun ..." Andra berucap dengan jari telunjuk menunjuk ke arah sang sopir.
Namun bukan sang pengendara yang menuruti perintahnya.
Pintu penumpang terbuka dan perlahan muncul wajah pria paruh baya dengan tatapan penuh penyesalan.
Hati andra mencelos, meski amarahnya memuncak tapi melihat pria yang tak lain adalah Ayah Fitri tertunduk dengan wajah pias bahkan bibir tampak bergetar, rasa iba pun datang.
"Om..." ucap Andra tak percaya.
Dan ternyata bukan hanya Ayah Fitri, karena di belakangnya menyusul, istrinya yang berpenampilan berbeda dengan biasanya.
"T tante..."
Pak Menteri berjalan cepat menuju Andra dan mengembangkan kedua tangannya berniat memeluk Andra.
Namun perlahan Andra memundurkan langkah hingga Menteri itu sadar bahwa pemuda tersebut menolak pelukannya.
Menteri itu semakin gusar, pemuda yang biasanya selalu hormat dan hangat padanya kini telah berubah.
"Babe.." panggil Zara yang ternyata sudah turun dari mobil.
"Tetaplah di situ sayang..." perintah Andra membuat Zara mengerutkan alisnya, sikap penuh waspada tampak jelas di wajahnya.
Dada pria paruh baya tersebut berdenyut nyeri, Andra terang-terangan menolaknya, kedua mata sang istri yang di belakangnya tampak berkaca-kaca lalu dengan cepat wanita itu berlari menghambur ke arah Zara.
"Sayang awas...." teriakan keras Andra ia tujukan untuk memperingatkan sang istri, namun dugaannya salah, ibu Fitri bukan ingin melukai Zara tapi ia justru duduk bersimpuh di depannya.
"Nona Zara mohon maafkan kami hiks hiks..."
Zara memandang Andra bingung kenapa wanita yang kemarin dengan percaya diri menghinanya kini berubah seratus delapan puluh derajat.
Wanita itu bersimpuh memohon ampun padanya, sedangkan ia sendiri tak tahu kesalahan apa yang telah mereka perbuat padanya hingga mereka bahkan rela bersimpuh.
Pak menteri menghela nafas panjang dan memandang sang istri penuh iba.
"Nyonya..bangunlah, kenapa Nyonya seperti ini?" Zara berucap lembut dan memapah tubuh Bu Menteri agar bangkit.
__ADS_1
"Tidak, jangan memanggilku seperti itu, tolong jangan buat kami semakin merasa bersalah padamu Non."
"B baiklah, aku maaf kan apa pun itu, ku mohon ...bangun lah Tante.."
Pak Menteri tak dapat lagi menahan air mata yang mengembang di pelupuk matanya, sikap Zara memang begitu lembut, bahkan ia memaafkan orang yang telah menghinanya.
"Benarkah Non Zara memaafkan Tante? Benar kah Non" tanya Ibu Menteri tak percaya.
Zara mengangguk dengan tulus.
Wanita paruh baya itu pun bangkit lalu memeluk Zara dengan erat, isak sangisnya semakin keras, rasa sesal yang memenuhi dadanya kini sedikit berkurang, mungkin di kesempatan lain ia akan memohon maaf untuk putrinya.
Andra menarik tangan Zara lembut, ia tak suka jika kelembutan Zara akan menjadi bumerang baginya, kelicikan Fitri tentu saja berasal dari sifat kedua orang tersebut, jadi ia harus tetap waspada.
"Maaf Om, Tante..kami harus segera pulang, ada urusan lain yang mendesak" ucapnya hati-hati agar Zara tak menangkap isyarat kewaspadaannya.
"Ehm kapan acara pesta pernikahan kalian? Apakah kami boleh datang Non?" tanya Ibu Menteri dengan mimik wajah penuh harap, entahlah di dalam hatinya.
"Hm tentu saja Tante, Om...kalian boleh datang ke pesta kami" Zara menjawab tetap dengan ramah, ia masih tak tahu apa yang telah di perbuat oleh putri kedua orang tersebut padanya.
"Terima kasih...kami pasti datang."
"Ayo sayang, Mommy sudah menunggu kita" Andra merangkul pinggang Zara lalu menuntunnya ke kursi di samping kemudi.
Zara mengangguk ramah dan tersenyum tulus.
Andra semakin bingung, dari apakah hati sang istri terbuat, hingga orang yang sudah menghinanya masih ia maafkan bahkan ia perlakukan dengan baik.
Mungkin ada kalanya ia harus mengajarkan padanya cara untuk balas dendam dengan lembut, ini tak boleh di biarkan, mereka pasti mengira sudah mendapatkan hati Zara dan semua kesalahan putrinya pun akan termaafkan dengan begitu Fitri tak terjamah oleh tangan hukum, batin andra.
"Babe, kenapa kau begitu sinis pada mereka?bahkan rasa hormatmu seakan hilang berganti rasa benci yang begitu dalam, aku tak suka jika suamiku memiliki hati sehitam itu."
Jleb.
Dada Andra tiba-tiba berdenyut nyeri, tamparan kalimat Zara sungguh membuatnya tersudutkan, ia merasa bagai setitik noda di depan Zara.
"Bukan begitu sayang..aku hanya masih merasa jengkel pada wanita itu, saat ia menghinamu secara terang-terangan di depanku dan se...."
"Babe, apa penghinaan membuat tubuhku terluka..lihatlah tak ada luka di tubuhku karena penghinaan itu."
Andra menatap Zara sekilas, ingin rasanya ia menumpahkan kekesalannya, saat dirinya bagai berhenti bernafas kala Zara di culik dan di lecehkan, entah bagaimana nasibnya jika Manu tak datang tepat waktu kala itu.
__ADS_1
"Meski tubuhmu tak terluka tapi aku tahu hatimu pasti merasa sakit sayang."
"Lalu apa untungnya jika kita membalas keburukan dengan keburukan juga, bukankah itu berarti kita tak ada bedanya dengan mereka, dulu kau mengajarkan ku untuk memaafkan Ayah dan juga Ibu Revan yang telah menghancurkan keluargaku, tapi kenapa sekarang kau bahkan tak rela jika aku memaafkan Ibu dan Pak Menteri hanya karena mereka telah menghinaku."
Andra menghela nafas kasar, biar bagaimana pun ia tak mungkin mengatakan apa yang telah Fitri lakukan padanya, ia tak sanggup melihat wanita yang di cintainya menangis dan bersedih.
Di depan pintu mansion Maharani sudah berdiri dengan senyum mengembang menyambut kedatangan Andra dan Zara.
"Oh menantuku sayang muaachh muaach.." Maharani begitu antusias memeluk menantu kesayangannya.
Andra hanya berdecak, posisinya sebagai putra tunggal seakan tersisih oleh istrinya sendiri.
"Ayo kita makan, mommy sudah masak banyak buat kamu."
"Kenapa hanya dia yang di suruh makan Mom, aku putramu Mom" sungut Andra.
"Ish kau ini, lihatlah tubuh istrimu, begitu kecil sayang, rasanya Mommy ingin menyuapinya makan empat kali sehari" Zara tersenyum bahagia, Maharani memang tulus menyayanginya, ia merasa kasih sayang ibu yang telah tiada kembali hadir lewat sosok mertuanya.
Maharani mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi beserta lauk pauk dan di serahkan ke Zara, lalu piring Andra yang hanya ia isi nasi sedangkan lauk ia menyuruh sang putra untuk mengambilnya sendiri.
"Ck, mungkin ini yang di rasakan oleh seorang anak tiri" ucapnya sarkas.
Zara dan Maharani terkekeh.
Maharani merasa puas, sang menantu menghabiskan makannya dengan lahap.
Tentu saja Zara makan lahap, tinggal di apartement dengan sarapan bubur hambar sangat menyiksa perutnya.
"Minumlah dulu vitaminmu sayang, lalu istirahat" titah Andra, dan Zara mengangguk.
"Mom, aku akan mengantar Zara istirahat, Mommy jangan tidur dulu ada sesuatu yang harus kita bicarakan" terang Andra.
Maharani mengangguk setuju, perlakuan Andra yang aneh pada Zara ia pun ingin tahu alasannya.
Lebih dari satu jam Maharani tetap menunggu di ruang makan, masa iya lagi di tungguin orang, putranya malah asik nina ninu, pikirnya.
Namun Andra muncul setelah menutup pintu kamarnya dengan begitu perlahan menandakan Zara memang sudah terlelap.
"Heum apa yang terjadi dengan Zara Joy.."
"Zara kemarin habis di ulik Mom."
__ADS_1