Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*70


__ADS_3

Kedua sahabat itu saling tatap dengan wajah bingung, bagaimana mungkin seragam sebagus itu Andra larang untuk di pakai oleh Zara.


"Tapi kak, yang lain juga sama seperti ini modelnya" bisik Zara protes.


"Iya, tapi nanti aku minta mommy untuk membuat model rok di bawah lutut khusus untuk kamu, sekarang buka seragamnya, hari ini bakai baju bebas dulu" ucap Andra tanpa penolakan.


Dengan langkah gontai Zara kembali ke ruang ganti untuk mengganti kembali bajunya.


"Kamu, kenapa ganti lagi seragamnya?"


"Eh he he ...ukurannya kurang pas mba, jadi nanti kak Andra buatin yang seukuran dengan badan saya" jawab Zara kikuk.


"Ohh"


Zara menghela nafas dalam, dari raut wajahnya terlihat gadis itu tak suka padanya.


"Kenapa lu Ra?"Dewi yang melihat perubahan wajah Zara tampak bertanya-tanya.


"Ah nggak ada apa-apa Wi, ayo kita ke depan, sudah mulai banyak pengunjung" Zara tak ingin sahabatnya itu tahu kegundahannya.


Wajah masam dari gadis bernama Septi itu tampak jelas saat keduanya saling bersitatap.


Bahkan sesekali di tengah kesibukan Zara hilir mudik melayani pengunjung, Septi sengaja menabrakan bahunya hingga Zara terpental ke sisi tembok.


Meski tubuhnya tinggi namun jika di banding dengan badan Septi yang memiliki spare part jumbo tentu saja Zara akan kalah.


Hanya desisan kecil dari bibir Zara saat bahunya membentur tembok.


"Bahu lu kenapa Ra?" Dewi terlhat cemas kala Zara mengusap bahunya dengan wajah meringis menahan sakit.


"Ah tidak apa-apa Wi, mungkin salah gerak tadi saat melayani pengunjung" Dewi hanya menghela nafas berat, tinggal bersama satu atap membuatnya paham jika saat ini ada yang di sembunyikan oleh Zara darinya.


Andra sudah pergi ke restoran beberapa menit yang lalu, Źara harus bisa menyesuaikan diri di lingkungan tempatnya bekerja.


Meski baru tadi pagi Zara mulai bekerja namun ia sudah hapal beberapa item dan harga karena buku yang Andra berikan padanya kemarin sudah di hapalnya.


Istirahat siang sudah mulai, sebagian karyawan yang mendapat giliran istirahat pertama segera menuju ke ruang yang terpisah dan khusus untuk tempat mereka istirahat.


"Selamat siang semuanya."


Maharani bersama Andra dan satu karyawan resto membawa bungkusan makan siang lalu di bagikan ke para karyawan.


"Tante, sudah sembuh tan?" Zara terperanjat melihat kedatangan Maharani.


Andra tersenyum smirk.

__ADS_1


"Mommy penasaran ingin melihat karyawan barunya yang cantik" ujarnya.


"Ish" Zara mencebik kesal.


"Oiya tante, Dewi hari ini ikut menemaniku kerja, boleh kan tante?"


"Selamat siang tante" sapa Dewi hormat.


"Siang juga, tentu saja Ra, kau boleh mengajak Dewi, sekalian kerja kalau mau juga boleh?"


Dewi mengangguk pelan, sementara sepasang mata melihat dengan tatapan sinis ke arah mereka.


"Ayo kita makan sama-sama" ajak Maharani hangat, sengaja ia memesan lebih banyak beberapa bungkus, karena Andra sudah meng informasikan tentang kehadiran Zara dan Dewi.


"Ehm tante, aku belum bawain CV ku soalnya datanya belum lengkap."


"Heum, nggak apa-apa Ra, nyusul aja."


Andra tersenyum gemas.


"Momm nggak usah suruh dia bikin lamaran, ntar Putramu saja yang akan lamar dia."


Andra berbisik di telinga mommy namun suaranya masih terdengar jelas oleh mereka yang berada di dalam ruangan tersebut, sontak sorak-soray terdengar nyaring.


Wajah Zara pun merona merah membuat pipi putih itu semakin menggemaskan.


"Kalian terusin istirahatnya ya, tante mau langsung ke butik yang di jalan xx, kasihan makan siang mereka tertahan."


Andra pun kembali mengantar mommy ke butik lain miliknya.


"Babe aku tinggal dulu ya, nanti pulang aku jemput" ucap Andra nyaring sambil melambaikan tangan ke arah Zara.


Septi semakin panas melihat interaksi Zara dan sang putra pemilik butik.


Rencana yang sudah di rancang dengan penuh perhitungan terancam gagal karena hadirnya Zara.


Sejak kepulangan Andra dari negara X Septi sudah memiliki tujuan lain, yaitu untuk menggaet sang ahli waris butik terkenal tersebut.


Perlahan Septi mendekati Maharani dengan memberikan perhatian extra pada atasanya itu, berbagai cara ia lakukan agar Maharani tahu bahwa ia lebih rajin dari karyawan lain.


Tanpa sepengetahuan Septi, ternyata karyawan lain sudah membencinya, segala tipu muslihat dan cari muka ia lakukan di depan Maharani agar menjadi karyawan kesayangan desainer terkenal itu.


Di balik itu semua, mereka mencibir Septi sebagai srigala berbulu domba, kelihaiannya mengambil hati atasan sungguh licik.


Sudah beberapa karyawan menjadi korbannya dan terpaksa resign karena tak tahan dengan ulah srigala berbulu domba tersebut.

__ADS_1


Merasa kedudukan sebagai karyawan kesayangan akan terancam membuat Septi segera mengambil ancang-ancang, cara licik tentu sudah biasa ia tempuh.


Keberadaan Zara di anggap Septi akan mengancam posisinya, apalagi ia adalah seorang model yang berparas cantik, Septi sudah ketar ketir di tambah dengan hubungan gadis itu dengan putra atasannya terlihat begitu dekat.


Hati Lesti di bakar rasa cemburu saat Andra berucap lembut pada Zara, bahkan panggilan 'Babe' saat memanggil Zara membuat Septi bagai kebakaran jenggot.


Dewi yang menyadari tingkah aneh Septi tampak gusar, jiwa bar-bar nya seakan terusik.


Sebutan karyawan senior membuatnya terlihat jumawa, tanpa segan ia memerintah Zara untuk merapihkan baju setelah di pamerkan ke pengunjung, sedangkan itu adalah tugasnya.


"Ra, lu jangan diem aja, lu juga banyak kerjaan lain, itu tugas dia Ra" protes Dewi tak rela sahabatnya di perlakuakn sewenang-wenang oleh sesama karyawan lain.


"Sudahlah Wi, nggak apa-apa, itung-itung ini sebagai perkenalan gue di hari pertama kerja."


"Tapi gue lihat cuma ni orang yang nyari gara-gara sama elu, yang lain gue liat biasa-biasa aja."


Zara tersenyum masam, apalagi andai Dewi tahu bahwa Septi dengan sengaja menabrakan bahunya ke tembok dinding, pastilah sahabatnya itu akan mengamuk.


Dewi terus menatap Septi dengan tatapan garang, ia tak rela sahabatnya mendapat perlakuan seperti itu.


Awas aja kau ubur-ubur, berani lu bikin temen gue lecet, gue bakar lu hidup-hidup.


Hari sudah sore, tak seperti butik di pusat yang baru tutup jika sudah pukul sepuluh malam, butik cabang itu tutup pukul lima sore.


Para karyawan membereskan baju dan membersihkan ruangan, mereka bersenda gurau saling canda, begitupun Zara dan Dewi yang ikut membaur dengan mereka.


Kecuali Septi yang selalu menganggap dirinya memiliki jabatan paling tinggi di antara yang lain, Septi menganggap ia adalah karyawan kesayangan Maharani.


Tak pernah Septi ikut bergaul dengan karyawan lain yang menurutnya tak selevel dengannya, ia akan menghindar dan mencemooh jika mereka mendekatinya, seakan risih dengan keberadaan orang lain di dekatnya.


Setelah mengganti baju seragam, mereka pun saling melambai untuk berpisah, Zara dan Dewi tersenyum senang, sambutan karyawan lain begitu ramah dan hangat.


"Hai babe, pulang sekarang?" sapa Andra yang tiba-tiba sudah berada di hadapan mereka berdua.


"Iya kak, langsung pulang aja."


Jawab Zara dengan tangan mengusap bahunya yang kini masih terasa nyeri karena benturan dengan tembok tadi pagi.


"Kenapa bahu mu babe?" tanya Andra.


Dewi menatap Zara intens.


"Kenapa bahu lu Ra?" tatapan Dewi penuh curiga.


"Ahh cuma pegel dikit, wajah lu nggak usah panik gitu, biasa aja kali Wi" Zara berusaha menetralkan suasana, nggak enak rasanya jika Dewi mengeluarkan jurus bibir lemesnya yang akan mengeluarkan seluruh uneg-uneg di hatinya tanpa saringan.

__ADS_1


Andra mengusap lembut bahu Zara dan mengecup puncak kepala gadis itu, sepasang mata menatap adegan itu dengan hati panas membara.


__ADS_2