Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*166


__ADS_3

Keduanya baru menyudahi kegiatan panas mereka setelah lenguhan panjang Andra keluar dari mulutnya.


Zara yang memeluknya erat di atasnya pun terkulai lemas tak berdaya.


"I love you ..." Andra mencium puncak kepala sang istri berkali-kali.


Merasa kasihan dengan Zara yang sudah lemas tak bertenaga lagi, Andra segera membopongnya setelah mereka selesai membersihkan diri.


"Tidurlah, akan ku bawakan makan malam ke sini" ucap Andra lembut.


Zara mengangguk pasrah karena tenaganya seakan terkuras habis.


"Joy mana istrimu, ajak makan malam dulu" ujar Maharani yang baru datang dari rumah sahabatnya.


"Ehm dia nggak enak badan Mom, akan aku bawa saja ke kamar nasi nya."


Maharani mengerutkan alisnya lalu segera bangun hendak mengikuti Andra ke kamar.


"Sakit..sakit apa menantuku heum, ayo kita bawa ke rumah sakit sekarang" ucapnya panik.


"Mom, tidak mom tidak perlu ke rumah sakit, dia hanya ehm ..sakit.." Andra bingung harus beralasan apa, mana mungkin ia berkata jujur jika Zara sakit karena ulahnya.


Maharani menatap Andra intens, otaknya yang tadi loading kini mulai bisa membaca situasi.


"Apa kau yang telah membuatnya sakit heum, dasar kau tidak berperasaan sampai tega buat istri tak bisa jalan.." Maharani mencubit pinggang Andra kesal.


"A aduh Mom nati juga sembuh kok, lagian kenapa Mommy yang protes, istriku nggak nolak Mom, bahkan dia menikmatinya..."


Maharani membulatkan mulutnya, kenapa tiba-tiba putranya bisa berbicara se vulgar ini padanya.


"Ahhh sudah-sudah sana kau cepat bawa makan untuk istrimu sebelum ia pingsan"ujarnya.


Andra lalu ke kamar membawa nampan berisi makan malam untuk Zara.


Sementara itu di tempat lain di sebuah kamar hotel mewah.


Fitri terdiam dengan mata kosong menatap ponsel sedangkan pergelangan tangannya masih di balut perban karena hari ini ia pergi dari rumah sakit tanpa ada yang mengetahuinya.


Untung lah ponselnya masih sempat ia bawa.


Dan atas bantuan Sandy sahabatnya ia bisa menginap di hotel mewah milik pria itu.


Ceklek.


"Sudah makan kau honey..." sapa Sandy mesra.

__ADS_1


Mereka memang pernah menjalin cinta saat di negara S namun akhirnya kandas setelah Fitri memintanya putus.


Sandy yang menganggap Fitri adalah gadis sebagai obat kesepian merasa beruntung setelah di hubungi kembali olehnya.


Meski putus tapi keduanya masih berhubungan baik.


Sandy yang kesepian dan Fitri yang di landa rasa putus asa karena cinta bertepuk sebelah tangannya melampiaskan rasa sedihnya dengan kehangatan pelukan Sandy.


Fitri mengangguk lirih namun tatapan matanya tetap kosong ke layar ponsel.


"Katakanlah apa yang membuatmu risau honey ...aku akan lakukan apapun yang kau inginkan" ucap Sandy mesra.


Rasa rindu yang sudah membuncah di hati, namun pria itu terpaksa harus menahannya karena Fitri tampak tak bersemangat.


"Honey apa tanganmu masih terasa sakit heum" Sandy mencium pergelangan tangan Fitri mesra.


Gadis itu menggeleng acuh, selama ini ia bersikap manis pada Sandy karena memang ia butuh kehangatan pria itu, sikapnya sangat perhatian dan romantis memperlakukan Fitri bak seorang outri.


"Katakan apa yang ingin aku lakukan untukmu Honey, apapun asal kau bahagia" Sandy terus mencium mesra pipi halus Fitri.


Ia harus bersabar dan bersikap lembut agar mood Fitri membaik, dengan begitu ia bisa menikmati kehangatan tubuhnya.


Sandy begitu lihai merayu hingga sedikit-demi sedikit hasrat Fitri pun bangkit.


"San sshhh ahh..." bisik Fitri mengurai Sandy yang terus mencium ceruk leher jenjangnya.


Suara Sandy terdengar berat dan sayu, sedangkan di bawah sana senjatanya sudah tegak mengeras, sejak Fitri menghubunginya Sandy sudah di landa rindu dengan kemesraan yang kerap mereka lakukan saat kuliah dulu.


Sengaja Sandy menyiapkan suite room di hotel miliknya begitu Fitri menghubunginya lewat ponsel.


Kamar hotel yang langsung menghadap ke lautan luas dengan ranjang besar nan nyaman.


Fitri menghubungi Sandy setelah lari dari rumah sakit, ia ingin menyendiri, sakit dan hancur hatinya melihat berita yang beredar begitu memojokannya, bahkan kedua orang tuanya tak bisa berbuat banyak, entah apa yang membuat sang Ayah bisa tunduk pada pria yang mengaku sebagai ayah Zara.


Sandy terus melancarkan aksinya, ciuman di ceruk leher Fitri kini terus merambah ke dada besar Fitri.


Merasa belum juga ada respon membuat Sandy semakin penasaran.


Perlahan kancing baju gadis yang tengah galau itu di bukanya satu oersatu.


Dan dua gunung besar nan padat pun menyembul tampak begitu indah di pandang.


Glek.


Sandy menelan ludah kasar, Fitri sangat menaruh hati pada Andra teman satu fakultas dengan mereka, bahkan dengan semua harta yang di milikinya, cinta Fitri tak tergoyahkan.

__ADS_1


Memang sandy telah mendapatkan raga Fitri tapi tidak dengan hatinya.


Dengan sabar Sandi membelai wajah cantik Fitri, ciuman lembut di bibir tipisnya belum membuat gadis itu teralih perhatiannya.


Merasa ciumannya tak terbalaskan, Sandy merengkuh tengkuk Fitri untuk memperdalam ciumannya, Fitri yang terkejutpun akhirnya membuka mulutnya.


Dan Sandy tersenyum puas dalam hati, dengan mudah ia bisa meng aksen rongga mulut Fitri dengan leluasa.


Ciuman panas pun kini menjalar, tangan Sandy mulai bergerilya, remasan lembut di dua gundukan dadanya membuat tubuh Fitri menggelinjang.


Sungguh benteng pertahanan Fitri pun akhirnya luluh, tangan Sandy sangat terampil memainkan perannya.


Puncak gunung berwarna pink itu pun mulai mengeras.


Sandi membopong tubuh Fitri ke ranjang besar dan membaringkannya tanpa melepas pagutannya.


Darah Fitri yang mulai panas akhirnya pasrah saat kain yang melekat di tubuhnya terlepas satu persatu.


Seringai puas di wajah Sandy terbit, tubuh polos Fitri dengan dada besar menantang bagai melambai ke arahnya.


Tanah gersang yang lama tak tersiram hujan kini bagai terbalas oleh hujan satu malam.


Rintihan lirih Fitri terus bersahutan dengan ******* Sandy yang bersemangat mengayuh tubuhnya di atas Fitri.


"Honey do you like it baby ...heum?" bisik Sandy di tengah kayuhan kuat tubuhnya.


Fitri mengangguk dengan wajah terus mendesah, sungguh Sandy sangat lihay memanjakannya.


Kenikmatan surga dunia yang lama tak di rasakan kini bagai pengobat dahaganya.


"Ahh sshh .."lirih Fitri beradu dengan irama suara dua tubuh yang beradu, keringat membasahi kedua tubuh polos itu Sandy bagai kuda jantan yang terus memacu kencang di atas tubuh Fitri.


"Ahhh..Andra ohh aahh" rintihan lirih Fitri membuat darah Sandy berdesir.


Bahkan saat pergumulan panas pun Fitri selalu mengingat namanya.


Tak ingin suasana hati merusak moodnya, Sandy mempercepat irama kayuhannya.


Dan tubuh nya menegang sempurna saat larva hangat menyembur dari senjatanya.


Tubuh keduanya menyatu erat, saling merasakan denyut gairah yang penuh kenikmatan.


"Maafkan aku..." ucap Fitri lirih saat Sandy terkulai di sampingnya.


Ada rasa sesal di hatinya, ia yang tak sadar telah memanggil nama Andra di saat penyatuan mungkin telah membuat hati Sandy terluka.

__ADS_1


"Heum it's okay honey ..." jawab Sandy lirih.


__ADS_2