Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU* 57


__ADS_3

Masih dengan wajah Syock tingkat tinggi, Wanto memandang wajah Andra intens.


Wajah tampan rupawan kulit putih halus tanpa noda, dengan rahang tegas, hidung bak perosotan TK, alis tebal dan bulu mata yang begitu lentik.


Wanto menggelengkan kepalanya, "Sebegitu sempurnanya dikau kenapa masih insecure atuh den, lihatlah pria kayak saya ini yang hanya bagai se onggok upil nu ngagamblok di tembok, di sentil weh hiber."


Andra menatap Wanto bingung.


"Coba lu translate gih, gue cuma paham kata upil doang."


Andra berucap kesal.


"Sudah lah den, nggak penting."


"Makanye gunakan bahasa indonesia yang baik dan benar."Andra mencebik.


"Tapi den, kata saya mah, jangan gunting bulu matanya, udah bagus itu, seharusnya den Joy merasa bersyukur memiliki keistimewaan yang tak di miliki banyak pria ."


"Tapi kan jatuhnya mata gue jadi cantik bukan gagah." Andra masih protes.


"Kata siapa cantik? Den Joy gagah dan tampan, sungguh serasi dengan non Zara, jangan potong bulu matanya ya den, sumpah pamali tauk."


"Haiiss sudah lah , pergi sono terusin kerja lu, gua mau pulang."


Andra melangkah pergi meninggalkan restoran dengan langkah gontai.


Bayangan foto kedekatan Zara dan Revan yang tertangkap kamera sungguh mengusik hatinya.


Di lajukan kereta besinya meninggalkan area parkir.


Drrt drrt.


Panggilan dari Diego tak di gubris oleh Andra yang fokus dengan kemudinya.


Sampai beberapa kali nama Diego muncul di layar ponsel, namun tak membuatnya tertarik untuk menerima panggilan itu.


Ck, paling ngajak nongkrong, batin Andra.


Saat ini ia hanya ingin sendiri menenangkan fikirannya.


Drrtt drttt.


Juned kini memanggil.


Ishh, dasar jones sialan ganggu orang aja.


Kembali Andra mengacuhkan Juned yang sudah lebih dari empat kali memanggilnya.


Tatapan Andra tetap lurus ke jalan di depannya.

__ADS_1


Drrt drrt.


Kali ini Andra menggeser tombol hijau saat Zara memanggil.


"Halo kak, kak Andra di mana?" suara penuh kepanikan terdengar di telinga Andra.


"Ada apa Ra? aku lagi di jalan."


"Kak, tante pingsan."


Kalimat yang membuat Andra merasa bak tersambar kilat berkekuatan dahsyat.


Hatinya sontak berdebar kencang, laju mobil kini ia tambah kecepatannya berkali-kali lipat.


Pantas saja dua sahabatnya tak henti memanggilnya, dan mereka tahu kelemahan Andra yang tak akan menolak jika Zara yang melakukan panggilan.


Mobilnya berhenti di sebuah rumah sakit ternama di pusat kota ,yang sudah Zara bagikan lokasinya.


Langkahnya cepat menuju IGD.


Jantungnya seakan berhenti berdetak saat sosok wanita pemilik pintu surganya terbaring tak berdaya di atas brangkar.


Untuk beberapa saat, waktu seakan berhenti berputar, dari balik kaca ruangan Andra memandang lekat tubuh yang terbaring lemah tak berdaya.


Sesak rasa dadanya, dunianya seakan runtuh, mommy yang amat di cintainya kini terpejam rapat.


Andra ingin terus berada dalam dekapan hangat mommynya, mommy yang selalu menyayanginya tanpa syarat.


"Mom...bangun mom, ini Joy datang mom, mommy tunggu Joy kan? anakmu sudah datang jadi bangun lah mom."


Air mata mengalir deras membahasi pipinya, tak ada lagi rona wajah datar dan dingin yang biasanya terlihat, kini yang ada hanya wajah penuh kesedihan dan air mata.


Tangan halus tiba-tiba mengusap pundak Andra, belaian lembut yang membuat hati Andra tenang, wajahnya menoleh ke arah pemilik tangan yang berada di pundaknya.


"Tenang lah, mommy pasti sembuh."


Andra menatap Zara dengan wajah basah penuh air mata, di rengkuhnya tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.


Modus si babang Joy .


"Mommy kenapa Ra, kenapa mommy belum bangun juga hiks." isakan tangis Joy terdengar lirih di atas pundak Zara.


Sementara dua sahabatnya memutar bola mata mereka, andai saat ini mereka tak berada di rumah sakit, sudah sejak tadi Juned ingin menghadiahi Andra ciuman kepalan tangannya.


"Cihh modus amat dia, pengin gue racun rasanya" bisik Juned yang berada tak jauh dari Diego.


"Tunggu nanti setelah tante sadar, baru kita mutilasi bareng" sahut Diego santai, yang juga merasa begitu kesal.


Sembilan panggilan Diego tak di gubris Andra, begitupun Juned yang memanggil tujuh kali dan tak ada respon.

__ADS_1


Sedangkan Zara, cukup sekali panggil dan langsung di angkat oleh sahabat laknatnya itu.


Andra melerai pelukannya dari tubuh Zara, hatinya kini terasa jauh lebih tenang, terasa nyaman memeluk tubuh ramping itu.


"Kak, mommy jatuh pingsan setelah jatuh dari kamar mandi, tapi kata dokter semua organ vitalnya masih aman, tante hanya kaget saja."


Zara menjelaskan dengan bahasa yang di mengertinya karena keterangan dokter banyak menggunakan istilah yang asing di telinganya.


Andra menghela nafas panjang.


"Lalu kenapa mommy masih di ruang IGD, bukan di ruang rawat?" protes Andra karena ia ingin sekali memeluk sang mommy.


"Kata dokter tunggu setelah kondisinya stabil, baru akan di pindahkan."


"Ck cerewet" umpatan lirih dari Juned masih terdengar oleh Andra, namun ia mengacuhkannya, bagai kedua sahabatnya itu mahluk tak kasat mata.


Hari sudah malam, wajah Zara terlihat tak bersemangat.


"Ra ini makan dulu, jangan biarkan perutmu kosong" ujar Diego yang memberikan sekotak makanan fastfood yang di belinya di depan rumah sakit.


"Makan lu" Diego menyodorkan kotak makanan tersebut sedikit kasar ke Andra.


Andra tersenyum masam, meski sekesal apapun kedua sahabatnya, ternyata masih perhatian padanya.


"Thank's" ucapnya setelah meraih makanan dari tangan Diego.


Perutnya memang sudah berdemo dari sore tadi karena belum terisi.


"Ra sudah malam ayo ku antar pulang, biarlah tante, Andra yang nunggu sama Diego."


Juned menawarkan diri, karena malam sudah menunjukan pukul sebelas malam, dan dirinya pun harus berangkat pagi ke cafe nya.


"Iya Ra, biar mommy aku yang nunggu, kalian pulanglah."


Andra kini sudah lebih tenang dan dapat menguasai hatinya.


Ia harus menjadi seorang lelaki yang dewasa dan mandiri agar dapat melindungi orang-orang yang di sayanginya.


Dan kali ini ia terpaksa membiarkan Zara pulang berdua dengan Juned meski hati kecilnya menolak keras.


Andra tak dapat berbuat banyak, untuk saat i ni ia ingin melakukan yang terbaik untuk sang mommy, ia akan selalu berada di sampingnya.


Andra duduk di samping brangkar dengan kepala menunduk di sisi tubuh sang mommy.


Diego yang bersandar di sofa tunggal tampak trenyuh, Andra tak pernah pergi meninggalkan maminya walau sedetikpun.


Tangannya pun selalu memegang erat tangan Maharani.


Di balik sikap angkuh dan keras kepalanya, ia adalah seorang anak kesayangan mommy Maharani satu-satunya.

__ADS_1


__ADS_2