
"Oiya Ra, aku juga mau ngucapin terima kasih banyak atas transferan yang kamu kirim kemarin" ucap Andra.
Zara tersenyum masam, sadar jika pemberiannya mungkin tak ada arti apa-apa bagi pemuda tampan di hadapannya, mungkin bagai remahan gorengan di sudut etalase grobag abang-abang yang suka lewat.
"Maaf kak, mungkin itu tak ada artinya bagi kak Andra tapi itu adalah ucapan terima kasih dari kami karena kakak sudah mau bekerja sama dengan kita" jelas Shanum.
"Aku tidak mengharap jumlah yang banyak yang kau berikan, aku hanya merasa ini adalah uang spesial karena merupakan hasil dari keringatku sendiri" jelas Andra.
Zara tersenyum senang, hatinya sedikit lega karena putra suklan di hadapannya ternyata tak memandang rendah penghasilannya yang receh.
"Kak, aku juga ada berita bagus.'
Andra menatap Zara intens "Apaan."
"Ada endorse an lagi yang menginginkan kita couple an lagi."
Mata Andra berbinar, meski tak seberapa upah yang di dapat tapi ada rasa kebanggaan di dirinya karena mendapat hasil dari jerih payah sendiri apalagi dapat berdekatan dengan gadis yang selalu membuat debaran jantungnya bergerak cepat.
"Kak Andra mau jadi couple ku lagi?" tanya Zara ragu.
Andra adalah seorang putra dari desainer terkenal dengan berbagai bisnis yang di miliki sang ibu, dari restoran yang ada beberapa cabang juga butik megah dengan nama besar sang pemilik yaitu Maharani, mommy nya sendiri.
Tentu saja uang hasil dari endorse an yang tak seberapa itu mungkin tak berarti bagi Andra.
Dan Zara pun tak berharap terlalu banyak padanya.
"Tentu saja, aku selalu siap kapan pun kau hubungi aku."
"Sungguh?" binar kebahagiaan dari mata Zara terlihat jelas.
"Oke kak, besok kami akan hubungi kak Andra" ujarnya.
Zara sungguh senang, baru kali ini ia mendapat endorse an dengan bayaran lumayan, dan itu karena Andra tentunya.
Meski ia pun tak berani secara terang-terangan membuka identitas Andra sebenarnya, karena ia pun meminta syarat pada kliennya untuk tak meng ekspose wajah Andra.
"Aku pulang dulu kak, kasihan Dewi sudah nunggu mau di jemput."
"Kamu bawa mobil?" Tadinya Andra, karena ia berharap Zara akan ikut pulang bersamanya.
"Ehm ia aku bawa mobil kak" sahut Zara lalu melambai dan melangkah ke arah mobil kesayangannya, meski yang ia miliki adalah mobil sejuta umat namun Zara merasa bangga karena itu adalah hasil jerih payahnya selama ini.
Andra memandang kepergian gadis yang diam-diam membuat perasaan kagum kini tumbuh di hatinya.
Dengan kecepatan sedang, Andra melajukan kereta besinya menuju apartemen miliknya.
Malam ini ia sudah meminta ijin pada sang mommy untuk tidur di apartemen.
Bukan tanpa alasan Andra tidak pulang ke mansion, rekaman CCTV yang di dapatnya harus ia simpan baik-baik.
Suasana hening dan tenang terasa jelas, apartemen yang jarang Andra tempati, namun perabotan tetap tertata rapih dan bersih karena memang ia menugaskan orang untuk membersihkan apartemen secara rutin.
Drrt drrt.
"Kak apa besok kak Andra ada acara?"
__ADS_1
Pesan Zara lewat aplikasi hijau.
"Ehm besok aku kosong, ada apa Ra?"
Andra tersenyum senang setelah Zara memberi alamat di mana ia akan bertemu besok.
Suasana hening di apartemen membuat Andra terlelap dalam mimpi indahnya.
Bahkan dalam mata terpejam pun senyum manis masih terbit dari bibir bergelombangnya.
Entah bidadari mana yang berhasil di tariknya untuk masuk ke dalam mimpi nya.
Andra terjaga saat getaran ponsel membangunkannya.
"Kak, kami sudah sampai."
Bagai di sengat lebah, Andra sontak bangun dari ranjang empuknya, saat terdengar suara Zara yang memberitahukan bahwa saat ini mereka sudah sampai di lokasi.
Dengan kecepatan kilat ia membersihkan tubuhnya, meski mungkin hanya bisa di sebut sebagai cuci muka, karena memang ia hanya membasahi mukanya.
Tiga puluh menit waktu yang Andra minta agar Zara dan Dewi menunggunya.
Menyelesaikan sarapan pagi, itulah alasan yang ia katakan.
Untunglah wajah yang di wariskan kedua orang tuanya membuat Andra tak perlu membutuhkan waktu banyak untuk bersolek.
Hanya dengan modal air satu gayung pun wajah Andra tetap tampan maksimal.
Setelah mematutkan diri di depan cermin, ia pun melangkah dengan penuh percaya diri seperti biasanya.
Masih ada waktu sepuluh menit lagi yang harus ia tempus menurut layar monitor di mobilnya.
Lokasi yang tinggal berjarak kurang dari satu kilometer lagi, Andra memperlambat laju mobilnya.
Di tanah kosong yang berada di punggiran kota dan tak ada satu pun bangunan berdiri, Andra menyisir lokasi yang Zara kirimkan.
Matanya tertuju ke arah sebuah bangunan yang tampak tak terurus, terletak beberapa meter dari jalan utama.
Andra memarkirkan mobilnya tak jauh dari mobil Zara.
Mana tuh bocah, batin Andra bertanya-tanya.
Mobil yang Andra sentuh terasa dingin, menandakan itu sudah terparkir cukup lama.
Namun dua mahluk yang ia cari tak terlihat keberadaannya.
"Ra, kalian ada di mana?" tanya Andra.
"Oh kakak sudah sampai? Tunggu sebentar kak, kami sedang mencari bunga." jawab Zara di ujung telfon.
Bunga?? Ngapain nyari bunga, di florist banyak, pikir Andra.
Jangan bilang mereka nyari bunga tujuh rupa, gumamnya lagi.
Kruuukkkk.
__ADS_1
Andra celingak-celinguk saat suara perutnya terdengar nyaring.
Sialan pake demo segala ni perut, batinnya.
Sarapan pagi yang sudah terlewat lebih dari dua jam yang lalu membuat perutnya protes.
kreseekk kreseekk
Andra mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara yang terdengar tak jauh darinya.
Kreseeekkk
Suasana yang sepi di tambah tempat yang terpencil membuat Andra sedikit menciut nyalinya.
"Ra, Wi, apa itu kalian?" teriak Andra ke arah semak belukar tempat suara tadi berasal.
Hening tak ada jawaban, Andra mengusap tengkuknya yang terasa menebal.
Kraaakkkk
"Woyy siapa di situ, keluar lu br******." Andra mengumlat kesal, tak terbiasa berada di tanah kosong tak berpenghuni sungguh menguji adrenalinnya.
Namun masih tetap tak ada jawaban.
Braakkkh
"Whuaaaahhh pocooong" pekik Andra nyaring sambil berancang-ancang untuk mengambil langkah sejuta karena langkah seribu terasa kurang cepat baginya.
"Ha ha ha haaa"
"Kak Andra ha ha haa tunggu kak"
Tawa renyah dari Zara dan Dewi membuat Andra menghentikan larinya.
Nafasnya memburu dan jantung pun terasa lepas landas dari dadanya.
"Dasar semprul, kalian kenapa muncul dari situ? Bikin orang jantungan aja, kaget tau huuff hah hufff" nafas Andra panjang pendek.
"Kita habis nyari ranting kering dan bunga-bunga liar kak, di tanah sebelah sana ada banyak" jelas Zara sambil masih menahan senyum.
"Kak Andra lucu, ganteng tapi penakut" ujar Dewi.
"Ye ganteng juga masih manusia Wi, masih memiliki rasa takut dan kaget" jawab Andra masih tetap penuh percaya diri.
"Emang kak Andra takut apa? siang-siang begini mana ada pocong nongol, apalagi kunti, mereka kalau siang pada tidur kak, baru keluar hiling habis maghrib sampai subuh" terang Dewi ngasal.
"Aku nggak takut pocong, atau kuntil apalagi genderuwo, cuma kaget aja, kali aja itu binatang buas."
"Mana ada binatang buas masuk kota kak, yaaa kalau buasnya sebangsa buaya sii pasti banyak" timpal Dewi sambil melirik ke arah Zara.
Sialan lu Wi, mentang-mentang mantan gue buaya semua.
Andra duduk setelah menenangkan diri.
Tikar lebar sudah di bawa Zara dan Dewi, keduanya lalu menata beberapa ranting dan bunga-bunga liar untuk di jadikan background tempat poto nanti.
__ADS_1