Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*105


__ADS_3

Zara diam membeku, jantungnya seakan berhenti berdetak, tatapannya tertuju pada wanita paruh baya yang masih berdiri di depan pintu.


"Bolehkah Tante masuk?" tanya wanita paruh baya yang tak lain adalah Reni, ibu Revan.


"B boleh Tan, silahkan masuk" Dewi yang merasa tak enak karena Zara tak juga membalas sapaan wanita yang ia tahu itu adalah ibu Revan.


Mulut Zara terkatup rapat, jantungnya berdebar kencang, pucuk tangan dan kakinya terasa dingin bahkan keringat kini keluar dari pori-pori keningnya, sedangkan ruangan itu terpasang AC.


Reni perlahan melangkah dan duduk di kursi samping ranjang.


"Ra, maafkan Tante, maafkan atas segala yang pernah Tante perbuat sama kalian, karena ke egoisan Tante yang telah menghancurkan keluarga bahagia kalian, tolong beri Tante kesempatan Ra, Tante merasa orang yang paling berdosa di muka bumi ini" kedua mata Reni kini mulai berkaca-kaca, ia meraih tangan Zara yang dingin lalu memegangnya lembut.


Pucuk jemari lentik Zara tampak memucat, Reni terus menggenggam erat tangan kecil itu


"Sungguh Tante tak tahu bahwa kehidupan kalian akan hancur karena Tante, Tante yang berharap jika hidup bersama pria cinta pertama tante akan bahagia setelah kematian suami Tante sebelumnya, ternyata itu salah besar.Hati Tante tak pernah merasa tenang, hidup Tante selalu di bayang-bayangi rasa bersalah pada wanita yang telah Tante buat hancur hatinya, Tante sangat berdosa pada ibumu, maafkan Tante Ra, Tante dan ayahmu memutuskan berpisah setelah hidup bersama selama satu Tahun, Tante kira Ayahmu telah kembali pada keluarganya dan kembali hidup bahagia, tapi ternyata Ayahmu bahkan menghilang tak ada kabar berita, sekali lagi maafkan Tante Ra, hiks" Reni tak bisa lagi membendung tangisnya, air matanya bercucuran membasahi pipinya yang mulai keriput.


"Ra, tolong katakan sesuatu apa yang harus Tante lakukan agar kau memaafkan Tante nak, jangan buat Tante seperti ini Raa huuu huu huu" isak Tangis Reni semakin kencang.


Dewi yang meras tak tega, mengambil tisu dan menyerahkannya pada Reni.


Kedua mata Zara menatap kosong ke depan, wajahnya tampak pucat.


"Pergi...pergi dari sini!" teriaknya keras.


Dewi tercekat, ia tak percaya melihatnya, Zara yang selalu lembut dan hangat pada siapapun, kini seakan hilang kelembutan hatinya bahkan mengusir wanita paruh baya itu.


"Ra, sabar Ra" ucap Dewi pelan berusaha menenangkan Zara.


"Cepat pergi dari sini hiks hiks" tangan Zara menghentak keras genggaman Reni, tangisnya pecah, ia menutupi wajah dengan kedua tangannya.


Reni kini mundur beberapa langkah, hatinya begitu hancur, gadis cantik itu pastilah sangat terluka karenanya.

__ADS_1


"Pergi huu huu huuu" tangis dan teriakan Zara semakin keras membuat Dewi panik.


"Tante maaf Tante, mungkin saat ini Zara belum bisa menerimanya tolong Tante pukang dulu biar dia tenang."


Reni mengangguk sambil mengusap air mata yang terus mengucur deras dari sudut matanya.


"Cepat pergi dari sini cepaaatt" tubuh Zara bergetar dengan tangis yang kian kencang.


Reni pun berlari meninggalkan ruangan menahan hancur hatinya.


Tubuh Zara bergetar hebat dan tiba-tiba luruh dan pingsan.


"Ra Araa" teriak Dewi panik lalu memencet tombol darurat.


Tak berapa lama datang dokter Wisnu dan dua orang perawat.


Dokter Wisnu yang kebetulan akan pulang setelah jam prakteknya selesai, mendapat berita darurat dan betapa kaget saat pasien itu teenyata Zara.


"Kenapa Wi?" tanya Dokter tampan itu sambil memeriksa denyut nadi Zara.


Andai tahu akan seperti ini, ia tak akan pernah mengijinkan wanita itu menemui dan berbicara dengan Zara, sesalnya dalam hati.


Dokter Wisnu tampak terkejut, jika tadi ia memeriksa Zara dengan kondisi organ vital yang tak bermasalah dan luka luar pun sudah mulai mengering, namun entah kenapa sekarang Zara ia temui dalam kondisi yang cukup menyedihkan.


Tekanan darahnya begitu rendah, wajah yang memucat, juga detak jantung yang sedikit lemah.


Bahkan kini ia tak sadarkan diri, jika di lihat dari hasil pemeriksaan, Zara telah mengalami Shock yang cukup hebat.


Wisnu memandang Dewi tajam.


"Siapa yang baru kalian temui di sini?" tanya nya penuh selidik.

__ADS_1


Dewi hanya terdiam, ia tak berani mengatakan yang sejujurnya karena Revan lah yang telah membawa Zara dan meminta ruang VIP untuknya.


"Baiklah, kalau kau tidak mau jujur Wi, tapi tolong panggil saya jika Zara sadar kembali, sekarang ia sudah di beri suntik penenang, kau istirahlah, mungkin besok pagi Zara akan bangun" titah Dokter Wisnu tegas lalu melangkah meninggalkan ruangan.


Dari ruangannya ia sempat melihat bayangan keluar dari ruangan Zara, sosok wanita yang sudah lama di kenalnya, Nyonya Reni, benarkah dia yang telah membuat Zara seperti ini, batin Wisnu.


Benaknya di liputi berbagai pertanyaan, apakah ia harus melaporkan yang terjadi pada Zara dan mengatakan pada Revan sedangakan pelakunya adalah ibunya sendiri.


Wisnu melangakah meninggalakan ruangan setelah memeriksa kondisi Zara dan memberinya vitamin dan penenang.


Dewi yang biasanya selalu terpesoan pada ketampanan Dokter Wisnu, kini ia sama sekali tak berniat untuk menikmati ke indahan dunia yang tengah berada di dekatnya.


Hati Dewi diliputih kecemasan tentang keadaan Zara saat ini.


Ia duduk di samping Zara yang tertidur, dengan lembut Dewi terus mengusap punggung tangannya, meski tak mengalami namun hatinya ikut merasa sedih, wanita yang telah menghancurkan keluarganya kini memohon ampun setelah bertahun-tahun tak berperasaan menghilang, wanita yang telah membuat hati sang ibu Zara hancur hingga jiwa dan raganya, bahkan akhirnya meninggal karena menahan beban yang harus di tanggung karena sang suami yang meninggalkan keluarga demi wanita lain.


Dewi menitikan air matanya, ia pun merasa sesak, seorang diri Zara hidup berjuang dalam kerasnya dunia, susah payah ia bangun pertahanan diri agar bisa hidup layak, bahkan ia pertaruhkan masa remaja hingga sekarang ini yang selalu ia isi dengan bekerja banting tulang, apapun ia lakukan agar ia bisa mewujudkan cita dan cintanya.


Kini saat ia ia berhasil bertahan dan mencoba berdamai dengan luka hatinya, tiba-tiba wanita penghancur itu datang dengan sesal yang mungkin sudah terlambat.


Luka hati Zara begitu dalam hingga ia bahkan tak lagi mempercayai cinta seorang lelaki secara tulus, dan entah sudah berapa puluh hati yang telah ia patahkan karena rasa tak percayanya akan cinta sejati.


Dan di saat hatinya mulai mencoba untuk menumbuhkan benih-benih cinta pada seorang pria, kini ingatannya kembali berputar pada memori kelam di masa lalu.


Tok tok tok.


Dewi menatap pintu masuk.


Ceklek.


Mulut Dewi terkatup rapat, matanya tajam ke arah sosok yang menyembul dari balik pintu.

__ADS_1


Pria tampan yang rona wajah yang terlihat penuh ketegangan dan rasa cemas.


"Bagaimana Zara Wi?"


__ADS_2