Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*137


__ADS_3

Andra berdandan ala kadarnya, celana jeans yang ia padukan dengan kemeja lengan panjang yang ia lipat sebatas siku karena Fitri mengatakan bahwa acaranya non formal jadi tak harus memakai baju resmi.


"Bi, kalau mommy nyariin, bilang kalau saya ke luar sama temen" ucap Andra pada pelayan.


"Baik Den."


Dengan mobil sedan hitam miliknya Andra membelah jalanan kota dengan kecepatan sedang.


Rumah Fitri yang memang berada tak jauh dari kediamannya hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit.


Dengan senyum bahagia Fitri menyambut Andra, dres berwarna nude sebatas betis dengan belahan leher rendah memperlihatkan leher putih dan dada yang setengah menyembul.


Andra memandang jengah pemandangan tersebut, Fitri kini sangat berbeda dengan yang dulu.


Kecerdasan otaknya kini terkontaminasi oleh pergaulan bebas yang mungkin telah mencemarinya.


Dengan gelayutan tangan manja Fitri terus menempelkan dadanya di lengan Andra.


Sedikit merasa lega Andra saat ini karena tak ada satupun awak media yang terlihat di rumah mewah itu, hanya ada satu itu pun tukang foto keluarga.


Hidangan lezat nan mewah tak membuat selera Andra tergugah, bahkan obrolan Pak Menteri ia sahut dengan singkat, Fitri tampak begitu antusias dan wajahnya terlihat sangat bahagia.


Begitupun Ibu fitri, ia bahkan meminta juru kamera untuk membidik mereka ber empat beberapa kali untuk di pamerkan di akun sosmed nya.


Mereka semua tertawa di atas penderitaan Andra, karena hanya dia lah yang wajahnya tampak tertekan.


Akhirnya Andra pamit mohon diri, dengan alasan malam sudah cukup larut.


Fitri terpaksa melepasnya dengan rengekan manja.


Andra melihat layar ponselnya, pesan belum di jawab begitu juga panggilan pun tak di angkat oleh Zara.


Di lihatnya jam sudah menunjuk pukul sepuluh malam, rasa rindu yang membuncah di dadanya membuat tangannya tak sadar melajukan kemudi mobil menuju gedung apartement Zara.


Tak perduli selarut apa saat ini, yang Andra ingin hanyalah bertemu dengan wajah yang sudah membuat dunianya dua hari ini begitu tersiksa karena rasa rindu.


Dan di area parkir apartement kini Andra berada, memandang lantai di mana apartement Zara, dan berharap rasa rindunya sedikit terobati meski hanya melihat lantai gedung kediamannya walau lampu kamar terlihat gelap.


Rupanya keberuntungan sedang menjauh dari Andra, gerimis tiba-tiba turun membuatnya segera melajukan kembali mobilnya menuju mansion, dan tak lebih dari lima menit sebuah taxi yang membawa Zara dan Dewi berhenti di depan lobi apartement.


Keduanya langsung menaiki lift dengan wajah lelah.


Zara menghempaskan tubuhnya di atas kasur, sungguh tempat ternyaman baginya saat ini.


Suasana hening karena keduanya langsung jatuh tertidur tanpa sempat membersihkan tubuh mereka.


Dewi bangun langsung melakukan aktifitasnya, memasak untuk sarapan dan bekal yang akan di bawa kerja.


"Ra Gue berangkat, Lu cepetan bangun gih, udah siang, sarapan udah Gue siapin di meja" ucap Dewi dari balik pintu.


"Iya Wi" suara Zara terdengar serak.


"Lu sakit tenggorokan Ra?" tanya Dewi.


"Heum."

__ADS_1


Dewi lalu sigap mengambil lemon dari dalam kulkas lalu mengirisnya tipis kemudian menaruh ke gelas, dan mencampurnya dengan madu dan air hangat.


"Minum ini Ra" ucapnya sambil mengetuk pintu kamar Zara.


"Taruh ada di atas meja Wi, terima kasih" ujar Zara lirih.


"Oke Gue berangkat ya, hubungi Gue kalau ada apa-apa" ucapnya sambil berlalu meninggalkan apartement.


Gunawan berdecih geram.


"Cih kau bersenang-senang dengan gadis lain saat putriku tak ada" ucapnya dengan meremat benda persegi panjang tipis di genggamannya.


Rupanya leluarga Menteri sengaja memberi foto kebersamaanya saat makan malam ke salah seorang wartawan kepercayaanya.


Gunawan yang melihat hal tersebut geram bukan main, semakin besar hasratnya untuk memisahkan hubungan putrinya dengan putra Desainer tersebut.


Jika Gunawan sedang merasa kesal maka Andra tengah di landa rindu yang amat menyiksa.


Hari ini pun Zara ijin pada pihak resto dengan alasan kurang enak badan.


"Ra..angkat telponku dong" ucapnya lirih.


Cemas dan rindu menjadi satu, kesibukan di resto membuat Andra harus bersikap profesional.


Beberapa tamu penting di jadwalkan datang hari ini ke restorannya.


layar ponsel tetap tak ada notifikasi yang di harapnya.


Untunglah pejabat negri yang mampir tidak terlalu lama, hingga Andra pun segera bergegas menuju ke mobil yang terparkir, lalu melajukan kereta besinya dengan kecepatan tinggi.


Dengan singkat akhirnya ia sampai di gedung apartement Zara.


Langkahnya panjang memasuki panel lift yang terbuka.


Ting.


Tak ada jawaban bahkan apartement tampak hening.


"Paket" ucap konyol Andra dengan nada keras agar sang penghuni kamar membuka pintunya.


Ceklek.


Andra berdiri terpaku di depan pintu, wajah cantik yang sudah memporak porandakan harinya kini berdiri di hadapannya dengan wajah sedikit pucat.


"Kak Andra..ada.."


Greepp.


Andra merengkuh tubuh ramping Zara masuk ke dalam pelukan dalam dada bidangnya membuat kalimat Zara menggantung.


"Aku kangen ..."ucap Andra lirih dengan tak melepas dekapannya.


Untuk beberapa saat keduanya menyatu dalam pelukan hangat, tak di pungkiri Zara pun begitu merindukan pria nya.


"Kenapa begitu sulit menghubungimu, tahukah kau aku begitu tersiksa sayang" ucap Andra setelah mengurai pelukannya.

__ADS_1


"Apa hanya aku yang begitu merindukanmu heum" tanya nya lagi dengan netra menatap tajam ke arah Zara.


Zara menarik sudut bibirnya tipis.


"Aku juga Kak" ujarnya lirih lalu tertunduk malu.


Andra meraih dagu wajah yang tampak pucat itu, keduanya saling memandang dengan rasa rindu yang jelas tersirat.


Perlahan Andra mengikis jarak hingga akhirnya dengan lembut ia mendaratkan ciuman hangatnya.


Begitu lembut dan penuh perasaan, ciuman yang semula hangat kini berubah semakin panas saat Andra mulai memainkan lidahnya di dalam sana.


Keduanya begitu terlena melepas rindu hingga ciuman itu usai setelah cukup lama, membuat Zara bagai kehabisan oksigen.


Senyum bahagia terbit dari bibir Andra saat rona wajah Zara kini berubah merah muda.


Namun senyumnya langsung sirna saat ia merasa tangannya hangat kala meraba kening sang kekasih.


"Kau sakit sayang?" tanyanya panik.


Zara mengangguk kecil " Aku sedikit pusing Kak, maaf aku ijin lagi hari ini" sesalnya.


"Ish, ayo kita ke rumah sakit" ujar Andra lalu menarik tangan kecil Zara, namun dengan kuat gadis itu menahan.


"Tidak, aku hanya perlu istirahat sebentar, pasti pusingnya akan sembuh."


Zara duduk di sofa dengan sedikit paksaan oleh Andra.


"Kau pasti belum makan, aku buatkan sup dulu, kau tidurlah" ucap Andra sigap.


"T tapi Kak, aku tidak ingin makan, aku sudah sarapan tadi" cegah Zara.


"Sarapan yang hanya kau sentuh satu sendok itu tak akan memulihkan tenagamu sayang, sudah kau diamlah, kekasihmu yang tampan ini akan membuat makanan lezat untukmu" ujar Andra penuh percaya diri.


Zara hanya tersenyum masam.


Dengan cekatan Andra membuka kulkas, Dewi yang selalu belanja lengkap untuk persediaan satu minggu membuat pria tampan itu dengan mudah menemukan bahan yang ia butuhkan.


Bau harum semerbak memenuhi ruangan dapur minimalis itu, dan semangkuk sop ayam hangat sudah selesai Andra buat.


Andra melangkah perlahan ke sofa di mana Zara membaringkan tubuhnya.


Ting.


Seorang satpam mengantarkan pesanan Andra yaitu obat penurun panas dan beberapa vitamin yang ia pesan lewat aplikasi online.


"Sayang..bangunlah, makan dulu sop ini, lalu kau minum obat" ujar Andra lembut sambil mengusap pipi halus sang kekasih.


Mata Zara mengerjap perlahan, tubuhnya entah mengapa terasa begitu kaku dan kepala pusing mambuatnya enggan bangun


Andra memandang gemas wajah Zara yang sedikit pucat namun tetap terlihat sangat cantik.


"Sayang cepatlah bangun sebelum sop ini menjadi dingin, atau ...mau ku cium dulu biar lebih semangat" kalimat Andra membuat Zara langsung terlonjak bangkit.


"Kau sungguh mesum Kak, aku sakit begini masih saja kau goda" cibir Zara kesal.

__ADS_1


"Salah siapa kenapa kau begitu menggemaskan" balas Andra sambil mengacak puncak rambut Zara.


__ADS_2